7.534 anggota | 2.049 tulisan | 12.309 komentar | daftar sekarang!

Login

Setelah login, halaman posting tulisan akan terbuka.
Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Login

Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Saya Hanya Penjual Roti…Tapi saya Akan Masuk Akuntansi UI..!!

 

Lokasi: area Rektorat UI, 14 April 2009 jam 09.30 WIB

Penampilan lelaki muda itu menarik. Umurnya 24 tahun. Dengan potongan baju yang cukup rapi dan kesopanan tingkat tinggi, takkan ada yang menyangka dia seorang tukang roti keliling.

“Nama saya Muhammad Mubin..,” dia memperkenalkan diri padaku. Aku pun menjabat tangannya.

“Mas mahasiswa di sini?” tanya dia. Aku mengangguk.

Matanya berbinar. Lalu, 60 menit kemudian waktuku terisi dengan diskusi-diskusi hangat dengannya -atau lebih tepatnya panas memiriskan.

Dia mengatakan bahwa dirinya merantau dari Pemalang (bukan Pamulang, saya berkali-kali salah dalam penyebutan nama kota ini). Tinggal di Depok sendiri, tanpa saudara, dia bertekad untuk masuk Akuntansi UI.

“Saya punya semangat yang tinggi..,” kata pemuda itu. Semangatnya terasa menjalari punggungku hingga kalimat selanjutnya membuatku pucat.

“Tapi…saya dengar biaya masuk ke UI sangat mahal. Jutaan kan? Biaya dari mana?” lelaki itu terpuruk.

Aku terdiam. Berpikir. Realita yang pahit. Di satu sisi, ada seorang mahasiswa yang menggebu-gebu ingin kuliah, tapi karena tak punya biaya, ia sampai harus menjalani kehidupan seperti ini. Sementara di sisi lain, ada anak-anak kaya yang menghambur-hamburkan uangnya demi hal tak berguna -kuliah pun tak dipedulikan.

“Ada satu solusi..,” akhirnya aku beralih menjadi pembicara setelah beberapa puluh menit sebelumnya menjadi pendengar yang baik.

“Apa?” matanya kembali berbinar. Itu pandangan mata keteguhan dan harapan -aku tahu itu.

“Keringanan biaya…,” kataku.

“Jadi,” lanjutku. “Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah lulus ujian masuk di Akuntansi UI dulu. Itu bukan pekerjaan mudah. Persaingan di Akuntansi UI adalah salah satu yang terberat di Indonesia. Setelah
lulus, hal yang harus kamu lakukan adalah menghubungi Kadept.Adkesma fakultas -dalam hal ini adalah FE…”

“Adkesma?” tampaknya ia tak paham.

“Semacam lembaga yang mengurusi masalah keringanan biaya…,” lanjutku. “Hubungi kepala departemennya langsung”.

Dia mencerna perkataanku.

“Tapi, siapa? Siapa orang yang harus saya hubungi?”

Aku mengutuk. Aku memang mempunyai 13 nama Kepala Departemen Adkesma beserta nomor Handphone mereka dari seluruh fakultas di UI -plus 1 Kadept Adkesma BEM UI-, tapi seluruh data itu ada di internet! Yang satu ada di Facebook dan yang lain ada di Multiply. Sementara ia bilang bahwa ia “tak mengerti apa-apa tentang internet”.

Seharunya aku mencatat ketiga belas no.HP Kadept Adkesma itu di HP-ku sendiri! Untuk saat-saat seperti inilah semboyanku bahwa “information is power” menemukan jawabannya, sekaligus aku pun menemukan kebodohanku sendiri yang tidak mengoptimalkan semboyan itu. Sekarang, di rektorat UI ini, di universitas terbaik se-Indonesia ini,
di pusat pengambilan keputusan-keputusan maha penting di dunia pendidikan ini, ada lagi seekor tikus yang hampir mati di lumbung padi.
Dan aku tak mampu melakukan apa-apa. Terkutuk.

Apa yang harus aku lakukan supaya nasibnya tak seperti Lintang?

Aku berpikir keras. menegok kanan-kiri. Mencari solusi. Aku berusaha mencari bahan material untuk merancang sebuah jembatan emas informasi.

Dan tiba-tiba saja terpikir satu pemecahan sederhana. Alangkah bodohnya! Aku berada di rektorat UI..! Salah satu area hotspot paling kencang dengan berpuluh komputer yang terkoneksi internet gratis.

“Ikut aku..”

Kunyalakan sebuah komputer yang disediakan pihak rektorat di pojok PPMT. Kubuka internet explorer dan kumasukkan ID-ku di weblogin.ui.edu,
kubuka halaman http://terbangkelangit.multiply.com/journal/item/557/Advokasi_Keringanan_Biaya_Untuk_Mahasiswa_Universitas_Indonesia_tahun_2009″

Ah, berhasil…Hatiku lega. Sangat lega. Jembatan emas informasi itu telah selesai kubangun!

“Catat nama-nama berikut,,” pintaku kepada Mubin. “Ini…Abay (KaDept Adkesma BEM FE UI) dan Yuli (Kadept Adkesma BEM UI). Kan kamu di FE, berarti kamu harus hubungi Abay. Tanya-tanya segala hal tentang keringanan biaya sama dia. Tenang, bidangnya memang di situ..”

Mubin bengong. Dia tampak kesulitan mengetik di HP. Tampaknya ia tak terbiasa memegang HP.

“Tulis di kertas saja…”, saranku. Aku merobek secarik kertas dari bukuku dan kuserahkan kepadanya.

Dia menulis dengan cepat. Mimik mukanya serius. Kuperhatikan dengan miris. Aku hanya mampu sebatas ini. Sebatas merancang jembatan emas informasi untuk calon mahasiswa baru seperti Mubin ini. Calon mahasiswa bermutu, menggebu-gebu, tapi tak mampu. Aku hanya mampu memberi nomor kontak mereka yang memang mempunyai pengetahuan lebih tentang keringanan biaya. Tak ada lagi yang mampu kulakukan.

Maka, pada saat itu, pemikiranku tentang pendidikan menjadi satu garis lurus dengan Andrea Hirata, ketika ia membenci dirinya sendiri yang tak mampu membantu Lintang.

“Terima kasih ya, mas!!! Terima kasih…” tapi, dia begitu senang. Begitu bahagia. Mana aku tahan melihatnya!

Aku tersenyum kecil. Tersenyum dalam kepahitan. Saat itu pula, aku bermimpi. Bermimpi tentang Indonesia yang mampu mengkuliahkan semua pemuda-pemudi dengan gratis dengan kualitas pendidikan terbaik.

Sambil menatap Mubin yang berjalan menjauh dariku setelah meminta izin untuk berjualan roti lagi, aku bertekad akan memulai mimpi itu dengan satu tindakan: bisnis. Menghimpun kekayaan di tanganku untuk kemudian
sebagiannya kusalurkan lagi dalam bentuk beasiswa.

Ada yang bermimpi sama?

 

Tags:

 
 

Tulisan Lainnya

31 Comments

 
  1. ryan says:

    klo umurnya 24 tahun berarti ga bisa masuk s1 reguler yg bisa mengajukan BOP-B??

  2. doni says:

    @ penulis:
    salut buat lw bro, terlepas si tukang roti udah lumayan telat juga, umurnya itu lho…
    tapi menanggapi 2 kalimat terakhir, gw juga punya mimpi yang sama, sedang membangun karir bisnis gw di berbagai lini… sebisa gw…

  3. iseng says:

    keren…..!!!!
    teruslah bermimpi
    teruslah membara.

    bagimana kalau,
    bermimpi untuk menjadi seorang rektor,
    yang berani membebaskan biaya kuliah untuk setiap orang yang lulus masuk UI.

    atau para eksekutif (presiden, gubernur, walikota) yang berani membebaskan biaya pendidikan untuk sd, smp, sma dan universitas di wilayahnya.

    semoga mimpi kita semua terkabul…. amin

  4. gk jelas says:

    saya mao jualan bakso ah!

  5. paperbag says:

    aku juga punya mimpi. sayangnya gak tercapai juga. coba aku dulu punya semangat seperti Mubin itu ya! pasti aku bisa selesai kuliah gak DO gak da bea

  6. Nuri says:

    HPnya gk bisa disetting GPRS yah? klo bisa kan bisa langsung online dan liat email nomor2 telp kadep adkesmanya gitu…

  7. toni says:

    Waah cerita yang keren,,,,

    Kenapa yah orang ga tau kota pemalang? Mungkin ga terkenal kali yah? Padahal deket sama kota tegal,,,,

    Soalnya gw orang pemalang sih Razz

  8. Harri says:

    salut buat semangat calon maba yang tukang roti keliling. dan sungguh salut sama penulis yg mau membagi informasi yang sangat berharga.

    salut buat kalian berdua

    jabat erat.
    iluni d3 fib, s1 pe fisip ui

  9. Wiwied says:

    Artikel yg bagus. Semoga biaya pendidikan bisa lebih terjangkau, terutama bagi mereka yang kurang mampu secara finansial.

  10. de'i says:

    artikel yang menarik banget

    dy hanya 1 dari ratusan bahkan jutaan pemuda yang mw masuk UI dan
    dy juga 1 dari ribuan yang bilang UI MAHAL..

  11. Thankz semua atas komennya…

    ^_^

  12. Anzhe says:

    nice gan..

    Live your dream.

    I wish u luck.

  13. @1: ya,,,dia bilang bahwa umurnya 24 tahun…mungkin dia harus lewat jalur D3. Berabrti Mubin perlu beasiswa…

  14. @2: Yaaah, kita sama dooong, haha…!

    yuk berjuang!

  15. @3: Hehehe, setiap orang ada perannya sendiri-sendiri..kebetulan kayaknya peran saya bukan sebagai politikus atau rektor…Mungkin sebagai penulis atau pebisnis..

    Gimana kalau Anda saja yang bermimpi seperti itu?

  16. @4: Yuk ah! oke juga jualan bakso..

  17. @5: Nggak ada yang terlambat, sobat…

  18. @6: Udah gw kasih no teleponnya Adkesma kok ke Mubin…kan di rektorat (gedung PPMT kalo g salah namanya yah???) komputer berjejer…

  19. @7: hahaha, maap…lidah gw keseleo…

  20. @8: salut untukmu, sobat…yang sudah mau repot-repot membuka artikel ini dan membacanya..

  21. @9: aamiin,,,,itu yang kita semua harapkan…

  22. @10: Dan,,,apa yang bisa kita lakukan?

    ^_^

  23. erlangga says:

    sebuah cerita yang menginspirasi banget……kata-kata terakhir juga sama dengan mimpi-mimpi saya,jadi orang kaya lalu membantu orang-orang sebanyak-banyaknya.

    semoga mimpi kita semua tercapai

  24. @#23: Yeah,,,tugasku lah untuk menginspirasi. Setelah itu,,,yuk, bergerak!

  25. jaket_kuning says:

    bahagia gue bacanya…..

  26. maula says:

    menginspirasi! makasih kang Smile

  27. Wahyu Awaludin says:

    Makasih atas komennya. Teruslah terinspirasi, lalu beraksi, hehe…

  28. ara says:

    Nice!!!
    bener2 menyejukkan hati
    jd semangat mo blajar lagi buat snmptn…hhehe
    doakan ya kaka2 smua..Grin

  29. ara says:

    oiya
    *lupa identitas
    -D3 akuntansi 2009 & calon Manajemen 2009(amin)

  30. aktivis gila says:

    bergerak kemana bung??

  31. Wahyu Awaludin says:

    yah, bergerak maju tentunya..

    Grin

 

Leave a Comment

 

Gunakan Gravatar untuk menampilkan avatar.

Silakan login dulu supaya bisa ngasih komentar.