8.884 anggota | 2.797 tulisan | 13.142 komentar | daftar sekarang!

Login

Setelah login, halaman posting tulisan akan terbuka.
Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Login

Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Mahasiswa Ilmu Keperawatan Memperjuangkan RUU demi Profesi Perawat

 
Perawat (Ilustrasi ditambahkan Admin)

Perawat (Ilustrasi ditambahkan Admin)

Perawat Indonesia dikejutkan dengan hasil Rapat Paripurna DPR RI pada 12 Oktober 2010. Hasil rapat tersebut menunjukkan RUU Keperawatan yang seharusnya berada dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) ‘menghilang’ dan digantikan dengan RUU Tenaga Kesehatan yang muncul begitu saja. Senin, 6 Desember 2010 insan perawat Indonesia kembali turun ke jalan memperjuangan RUU Keperawatan agar tetap berada dalam jajaran prolegnas.

Perawat terkadang dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum. Kesan yang ditangkap oleh masyarakat ketika mendengar profesi perawat tidak pernah jauh dari kesan judes, tidak peduli dan suka ngerumpi. Hal ini semakin diperburuk dengan ulah media dan produsen film yang menampilkan kesan perawat buruk melalui gelar tambahan seperti ngesot atau keramas. Citra perawat ini seharusnya segera dihapus dengan ditegakkannya sebuah legislasi yang bersifat formal dan mengikat yaitu UU Keperawatan.

Pertanyaan besar selanjutnya adalah kenapa harus ada UU Keperawatan? Hal mendasar yang akan didapat adalah adanya kepastian dan jaminan hukum bagi tenaga perawat yang bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan keperawatan.

UU ini akan memperjelas batasan pelayanan yang dapat perawat berikan kepada klien yang membutuhkan asuhan keperawatan. Masalah yang sering timbul seperti adanya perawat yang memberikan tindakan lebih dari kewajibannya demi menyelamatkan jiwa seseorang akan jelas dengan adanya payung hukum terhadap profesi perawat.

Kepastian dan jaminan hukum ini tidak hanya bagi profesi perawat tetapi juga bagi masyarakat yang akan memanfaatkan pelayanan keperawatan. Masyarakat akan menerima asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi keperawatan dan dijamin hak-haknya melalui regulasi keperawatan ini.

Citra perawat akan meningkat dengan standar professional yang ditetapkan UU Keperawatan dan masyarakat akan terpenuhi hak-haknya atas asuhan keperawatan yang holistik. Setidak alasan tersebutlah yang menjadi latar belakang perlunya UU Keperawatan di Indonesia.

Profesi perawat sejatinya merupakan profesi yang lazim di dunia internasional dengan UU tersendiri seperti halnya dokter, dokter gigi, apoteker dan/atau bidan. Mutual Recognation Agreement (MRA) 10 negara ASEAN telah menyepakati sistem untuk Perawat. Namun, hanya Indonesia dan Laos yang belum memiliki sistem pengaturan dalam bentuk UU Keperawatan yang melahirkan Konsil (Auto Regulatory Body).

RUU Keperawatan sebenarnya sudah digagas cukup lama. Gagasan materi dan substansinya sudah dibawa pada peraturan yang lebih tinggi sekitar tahun 1990. Namun, tahun 2000 baru terbit Keputusan Menteri Kesehatan (Kemenkes) No. 647/ 2000 tentang registrasi dan praktek perawat. Setahun berikutnya aturan tersebut diperbaharui oleh Kepmenkes no 1239/2001 karena adanya otonomi daerah. Perubahan yang dilakukan hanya terkait tentang tugas dan fungsinya lembaga di daerah.

Perjuangan berlanjut dengan diusulkannya RUU Keperawatan ke DPR RI. RUU Keperawatan sudah masuk prolegnas urutan 160 di tahun 2004. Perjuangangan RUU Keperawatan ini diusulkan menjadi inisiatif DPR melalui komisi 9 dengan pengawalan yang terus menerus dari perawat Indonesia. Target yang ditetapkan saat itu adalah minimal RUU Keperawatan secara eksplisit akan dikeluarkan dalam RUU Kesehatan dan target maksimalnya RUU Keperawatan akan menjadi UU pada tahun 2009. Tahun 2009 RUU Keperawatan berada di urutan 26 dan mengalami peningkatan di tahun 2010 yaitu berada di urutan 18.

Prolegnas bisa jadi bukan sebuah jaminan akan diundangkannya RUU Keperawatan menjadi UU . Pada Prolegnas 2010, target legislasi dari 70 RUU, 6 RUU telah disahkan menjadi undang-undang (kemungkinan bertambah dua RUU hingga masa persidangan sekarang berakhir), 8 RUU dari daftar RUU Kumulatif Terbuka telah disahkan menjadi UU, 16 RUU dalam proses Pembicaraan Tingkat I dan akan dilanjutkan pembahasannya pada tahun 2011.

Sedangkan 5 (lima) RUU telah diharmonisasi oleh Badan Legislasi dan 41 RUU masih dalam tahap penyusunan (16 RUU dari DPR dan 25 RUU dari Pemerintah). Rapat Paripurna DPR RI tanggal 6 Desember 2010 memutuskan RUU Keperawatan berada diurutan ke-19 dari Prolegnas.

Perjuangan regulasi profesi perawat tidak berhenti dengan masuknya RUU Keperawatan di Prolegnas 2011. Setiap insan keperawatan memiliki tangung jawab dalam mengawal proses regulasi tersebut. Seminggu setelah keputusan RUU Keperawatan di urutan 18 Prolegnas, perawat Indonesia telah menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan regulasi profesi mereka ini.

Selasa, 14 Desember 2010 mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) melakukan aksi turun ke jalan di Bundaran Hotel Indonesia untuk menuntut komitmen Pemerintah dan DPR untuk mengesahkan RUU Keperawatan pada tahun 2011.

Mahasiswa Keperawatan tidak terlepas dari kewajiban memperjuangan RUU Keperawatan. Status mahasiswa yang masih dalam tahap akademis bukan berarti terlepas dari perjuangan profesi. Mahasiswa yang memiliki peran sebagai agent of change dan pressure group justru memiliki peran yang cukup penting.

Masa depan mahasiswa keperawatan yang tidak terlepas dari profesi perawat menjadi alasan terbesar atas keterlibatan mahasiswa ini. Terlepas menjadi apa pun di masa depan mahasiswa kelak, profesi perawat akan menjadi major dalam pilihannya.

Kedudukan mahasiswa yang berada di middle class dalam masyarakat menjadikan mahasiswa menjadi penghubung antara kaum alit dan kaum elit. Mahasiswa dapat menjadi kelompok penekan disamping posisinya sebagai yang terdekat dengan masyarakat yang merasakan langsung pelayanan kesehatan. Belum adanya kewajiban menjalankan kewajiban profesi menjadikan mahasiswa lebih mobile untuk melakukan berbagai bentuk perjuangan mengesahkan RUU Keperawatan.

Bentuk perjuangan yang dapat dilakukan mahasiswa dapat memiliki banyak alternatif. Turun ke jalan untuk memberikan tekanan ke pengambil kebijankan dan memblow-up isu ke media menjadi salah satu alternatifnya. Jumlah mahasiswa yang banyak dan dapat dikerahkan pada waktu tertentu akan menyumbang massa yang sangat berarti untuk menggandakan pengaruh yang hasilkan sebuah aksi massa.

Selain aksi massa, blow up isu juga dapat dilakukan dengan menulis artikel dan mempublikasikannya ke mass media baik media online maupun cetak. Pencerdasan ke masyarakat luas akan lebih masif dengan sinergisasi kedua bentuk gerakan tersebut.

 

Tags:

 
 

Tulisan Lainnya

4 Comments

 
  1. [...] This post was mentioned on Twitter by Ria Ulina, Anwar Parojai, sopi puji astuti, wahidin, rizkiyani istifada and others. rizkiyani istifada said: RT @anakuidotcom: Mahasiswa Ilmu Keperawatan Memperjuangkan RUU demi Profesi Perawat http://bit.ly/idmRQs [...]

  2. gw spakat banget, walaupun banyak kalangan (baca : menkes, dkk) UU keperawatan akan membuat profesi lain menginginkan UU, gw kira itu sah2 aja. cos emang DPR kan tugasnya bikin legislasi.

    so, semangat aja buat mahasiswa FIK. terus berjuang buat masyarakat sebagai konsumen pelayanan keperawatan sebagai profesi dengan tenaga terbesar(60%).

  3. Setuju sekali dengan tulisan anda. :)
    Tidak semua orang melihat perawat dengan sudut pandang negatif kok. Bagi saya secara pribadi, perawat juga memiliki peran penting dalam dunia kesehatan.
    Semangat untuk teman-teman FIK!

  4. alexandriogalung says:

    kami semua ada di belakang kaliaan

 

Leave a Comment

 

Gunakan Gravatar untuk menampilkan avatar.

Silakan login dulu supaya bisa ngasih komentar.