8.889 anggota | 2.809 tulisan | 13.142 komentar | daftar sekarang!

Login

Setelah login, halaman posting tulisan akan terbuka.
Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Login

Register   |   Lupa Password?
tekan ESC atau klik luar form ini untuk kembali

Menjadi Mahasiswa Non Reguler

 

Sudah menjadi rahasia yang umum klo selama ini ada diskriminasi atau rasa perendahan (merendahkan) kepada para mahasiswa yang masuk ke universitas negeri melalui Jalur Khusus atau Jalur Mandiri atau yang lebih dikenal Non Reguler di kampus kita tercinta ini.

Sebagian orang berpikir bahwa kemampuan anak yang masuk melalui jalur khusus memiliki kemampuan akademik (baca :kepandaian) dibawah anak yang masuk karena lulus dari UMB atau SNMPTN. Selain itu, anak-anak non reguler terkenal secara umum sebagai anak yang berasal dari kaum menengah ke atas (memiliki rezeki yang berlebih).

Kemudian, anak-anak Non Reg atau anak-anak dari jalur mandiri akan dibicarakan dengan suara-suara atau opini yang mengatasnamakan keadilan bagi pendidikan, kepiintaran (kompetensi), dan hal-hal lainnya yang mencirikan bahwa anak Non Reg adalah kaum yang didiskriminasikan.

Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana seharusnya menyikapinya? Tentu saja, sebagai anak Non Reg saya akan membela mengenai anak Non Reg. Mungkin jika saja, saya sekarang bukanlah mahasiswa non reg atau mahasiswa yang kuliah karena lulus SNMPTN, mungkin pikiran saya tidaklah sama atau mungkin saya juga akan ikut-ikutan mendiskreditkan anak-anak Non Reg.

Tulisan saya ini memang terdengar berlebihan. Tapi, saya menulis ini karena sesuai dengan kenyataan-kenyataan di lapangan. Jujur, sejak masuk di jurusan yang sekarang ini, saya agak sedikit kecewa karena ternyata menjadi mahasiswa non reg di FISIP banyak hal-hal atau fasilitas yang kurang saya dapatkan karena status ini.

Dulu sebelum masuk ke UI, saya diterima SNMPTN di FISIP juga dan saya lebih memilih jurusan yang sekarang ini dengan keputusan bahwa jurusan yang saya jalani sekarang ini akan lebih luas untuk ke depannya.

Sewaktu menjadi maba, saat masa-masa orientasi, sudah terasa diskriminasi. Kelas administrasi di FISIP dipisah antara Reguler dan Non Reguler. Kelas kami kadang disebut Kelas Paralel. Saat kami sedang berjalan entah dari mana ada suara yang berasal dari kerumunan “wah bau duit”.

Lalu, saya pernah iseng-iseng mengoogling tentang anak non reg di internet. Saya buka google, klo tidak salah dengan kata kunci “Anak Non Reg”. Tiba-tiba, saya mendapatkan sebuah postingan dari blog yang isinya menyatakan kebencian terhadap anak non reg. Penulis blog itu ternyata adalah seorang mahasiswa maba reguler yang jurusannya sama dengan saya.

Waktu itu, saya belum mengenal siapa dia, sekarang seiring berjalannya waktu saya tahu siapa dia. Dalam postingannya itu dia menyatakan pendapatnya mengenai anak non reg yang bisa masuk ui karena tes nya yang termudah lebih gampang dibanding anak reguler dengan SNMPTN atau UMB nya.

Selain itu, kembali ke masalah ekonomi, anak non reg yang bayarannya lebih mahal dibanding anak reguler. Tulisannya menyakitkan dan mendiskreditkan anak non reg. Seiring waktu berlalu, hal tersebut tidaklah menjadi masalah. Sampai sekarang hubungan kami antara anak non reg dan anak reguler sangat baik, malah kami saling membantu untuk tugas-tugas dan ujian.

Waktu pun berlalu hingga sekarang, saya sudah menjadi mahasiswa tua di administrasi dan status sebagai angkatan pertama non reg. Selama ini banyak fasilitas-fasilitas yang kurang yang kami dapatkan sebagai anak non reg. Kelas saya terdiri dari 50 mahasiswa. Saya tidak tahu berapa jumlah seluruh mahasiswa jurusan saya.

Kelas reguler dibagi menjadi 2 kelas yaitu, Kelas A dan B yang masing-masing kelas terdiri dari 30an anak. Sedangkan, kelas paralel tidak ada pembagian digabung menjadi satu. Bisa bayangkan bagaimana ramenya klo belajar? Tadinya, saya tidak menyadari hal ini, sampai banyak dosen yang mengajar di kelas kami menanyakan berapa jumlah mahasiswa yang ada di kelas paralel ini dan mereka berkata, seharusnya jumlah yang efektif dalam satu kelas itu adalah 30an anak.

Sudah banyak dosen yang berkata seperti ini sejak semester awal hingga sekarang. Pada semester ini, seorang dosen suatu mata kuliah akhirnya berinisiatif memindhakan sebagaian anak pada kelas saya untuk mengikuti kuliah tersebut pada jadwal yang lain, dimana kelas tersebut hanya terisi sedikit mahasiswa. Dosen saya tersebut tidak ingin jika, terlalu banyak mahasiswa maka pembelajaran yang terjadi tidak efektif. Kelas dimana tempat sebagian teman saya dipindahkan itu, klo saya tidak salah dengar hanya berisi sekitar 15-19 mahasiswa.

Hal yang cukup penting bagi seorang mahasiswa, salah satunya adalah mengenai kelulusan. Kita pasti ingin cepat lulus dan menjadi seorang sarjana. Program studi yang saya ambil terkenal sebagai program studi dimana sulit untuk lulus dalam 4 tahun dan baru sedikit orang yang berhasil lulus dalam 4 tahun. Dimana program studi yang lain yang berada dalam satu jurusan dengan program studi saya, mahasiswanya dapat lulus selama 3,5 tahun. Jadi, untuk lulus dalam waktu 3,5 tahun seperti sebuah mimpi tinggi dan ambisi hebat yang tersendiri.

Oleh karena itu, banyak mahasiswa program studi yang saya jalani ini mengambil mata kuliah lebih dulu, saya akan mengatakannya dengan isitilah “menyodok”. Ternyata, sebagai angkatan pertama kelas paralel, kami tidak bisa lulus untuk lulus dalam waktu 3,5 tahun. Hal ini dikarenakan sebagai angkatan pertama kami mendapat mata kuliah yang telah terpaket selama 4 tahun dan tidak ada senior di atas kami dimana jika, kami memiliki senior, kami bisa saja belajar dan sekelas dengan mereka. Dengan kata lain, bangku kosong yang mungkin ada di kelas senoir hanya untuk mahasiswa reguler.

Apakah ini memang adil? Saat pertama kali  hingga sekarang, tidak sedikit dosen yang mengatakan bahwa kami sama saja halnya dengan anak reguler. Yang membedakan hanyalah soal bayaran, dimana kami tidak bisa mendaptkan diskon dan membayar lebih tinggi. Selain itu, mereka bilang klo lulus pun nanti ijazah kami tidak akan tertulis sebagai seorang Sarjana Paralel.

Tetapi, kenyataan berkata lain. Selain alasan-alasan diatas, saya cukup kecewa dengan kenyataan bahwa kami mendapatkan surat pengantar magang dimana disitu tertera status kami sebagai mahasiswa Sarjana Paralel.

Saya tidak bermaksud memprovokasi. Saya hanya tidak suka dengan anggapan remeh dari kebanyakan orang yang menganggap kami masuk ke UI karena bayaran kami yang lebih tinggi. Padahal, sistem di UI tidak sama seperti jalur mandiri yang dimiliki oleh universitas negeri lain pada tahun-tahun lalu. Mahasiswa paralel memiliki jumlah bayaran masuk atau uang pendafataran yang telah ditetapkan atau tidak ada nego untuk pembayaran uang masuk. Seharusnya, orang-orang melihat secara keseluruhan, bukan secara garis besar yang intinya itu menomorduakan kami. Padahal, baik mahasiswa SI reguler maupun paralel sama-sama mendapatkan subsidi dari pemerintah.

Waktu itu, saya sedang mengikuti suatu mata kuliah Kebijakan Publik. Dosen daya berkata bahwa biaya seorang mahasiswa untuk kuliah di UI dengan fasilitas-fasilitas yang ada, seperti contohnya papan tulis, spidol, pendingin ruangan, gaji dosen, gedung, dll sebesar 12 juta rupiah satu semester. Tidak jelas apakah itu secara keseluruhan fakultas atau hanya di FISIP saja.

Yaa kita semua memang disubsidi, karena biaya saya sebagai seorang mahasiswa paralel biaya 1 semester sebesar 7,6 juta rupiah. Dosen saya berkata jika, subsidi berasal dari kelas pascasarjana. Saya tidak mau menyebutkan siapa nama dosen itu, yang pasti dia adalah seorang profesor.

Akhir kata, saya ingin meminta maaf jika, tulisan saya ini terasa tidak menyenangkan untuk dibaca. Ini hanyalah opini atau curahan hati saya selama ini. Sebenarnya, saya cukup mengerti bagaimana perasaan anak-anak reguler lainnya. Saya hanya ingin agar kebanyakan orang tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dibalik semua hal terdapat suatu alasan.

 

Tags:

 
 

Tulisan Lainnya

27 Comments

 
  1. ilmanakbar says:

    satu lagi yg lupa disebutkan oleh penulis:
    kelas non-reguler/paralel ini diadakan oleh UI, untuk mengakomodasi orang-orang yang ingin kuliah sarjana, tapi terbentur dengan syarat umur..

    misalnya karyawan atau orang2 tua yang ingin kuliah lagi, tapi belum sempet D3..

    untuk ikut SNMPTN dan yg sejenisnya, kalo ga salah (ini kalo ga salah ya) ada syarat maksimal 3 tahun lulus SMA. jadilah kelas paralel/non-reg ini ditujukan utamanya untuk mereka-mereka itu.

    sumber: pak rektor dan pak emil budianto (ketua penerimaan UI), dari berbagai kesempatan beberapa tahun lalu

    yang saya jadi penasaran, mau nanya ke Siti Hanifa Azanda (ini panggilannya siapa sih :P), rata2 mahasiswa kelas paralel di sana itu mayoritas umurnya apakah setara dengan umur seangkatannya, atau lebih tua/sudah bekerja, seperti target utamanya waktu dibuat dulu?

    • hanifa.siti says:

      hehe panggilannya hanifa :D. Kelas paralel mayoritas seumuran, seangkatan gitu. Cuma, ada beberapa orang yang angkatan tua.
      Oo gitu yaa baru tau klo Rektor pernah ngomong gitu. Makasii atas infonya, semoga anak ui yang lain bisa lebih mengerti :).

    • muhammad.al says:

      Saya anak paralel, dan di jurusan saya, semua anak paralel gak ada yang umurnya lebih dari 25 tahun,dengan artian mereka memang lulus smu langsung masuk kelas paralel, terkadang memang agak lucu juga, dengan ujian kelas paralel semenjak tahun 2009, kelas paralel masuk jalur simak ui yang memakai soal yang sama dengan anak reguler, kalau tesnya seperti itu akan sangat jarang sekali akan ada calon mahasiswa yang sudah lebih dari 3 tahun lulus smu untuk ikut simak ui kelas paralel, seharusnya tes yang diujikan adalah Tes Potensi Akademik, karena siapa yang bakal ingat materi-materi smu kalau sudah lebih dari tiga tahun tidak mempelajarinya?

  2. finda says:

    Saya juga anak non reg, di jurusan fisika angkatan 2009. Alhamdulillah di fisika sejauh ini gak ada diskriminasi separah yang ada di fisip. Jumlah resmi mahasiswa non reg fisika 2009 itu 47 org dan reguler sekitar 80an, tapi kelas reguler fisika gak dipisah, justru tetep digabung, makanya kebayang kan gmn ramenya kelas fisika reguler? Beda sama di fisip, mgkn karena pihak dekanatnya jg kali ya. Nah itu kalo di fisika. Alhamdulillah selama ini baik2 aja. Tapiiii kalo misalnya nih saya lagi ketemu temen2 saya yg beda fakultas dan dia anak reg, kadang emg suka ngerasa sih agak di remehin gitu. Udah gitu pernah daleeem bgt waktu itu ketemu tetangga yg anak sosiologi 2006, dia kan gatau saya anak non reg, terus tau2 nanya, “emg bener ya anak non reg tuh katanya bego2?” Astagaaaa sumpah saya disitu gatau mau nangis apa ketawa :D. Miris bgt dengernya ternyata informasi gak disebar dengan baik jadinya diserapnya juga setengah2. Dan ngebaca post yang kamu tulis ini saya jadi mikir, apa iya di fisip segitu diskriminan-nya antara paralel dan reguler? Mudah2an aja gak sampe parah bgt ya :).

    • hanifa.siti says:

      Di FISIP jurusan saya ga diskriminasi dalam pergaulan sebenarnya. Saya ga tau bagaimana keadaan di jurusan lain di FISIP. Cuma aja saya merasa di diskriminasi dalam hal fasilitas dan administrasi di jurusan saya ini, soalnya buat angkatan bawah saya masih tetap kelasnya dipisahin. Mungkin karena FISIP lahannya sempit dan kekurangan kelas dan dosen. Saya berharap FISIP bisa memperbaiki keadaan ini buat ke depannya.

      Yaa dulu waktu awal2 saya juga ngerasa begitu, rada di remehin. Ayoo buktikan klo kita juga bisa bahkan lebih hebat. Semua itu sebenarnya tergantung dari individunya masing-masing bukan dari jalur masuknya. Klo misalnya, seseorang lulus masuk UI dari jalur reguler, tapi akhirnya dia kurang mensyukuri itu dan menyia-nyiakannya dengan males-malesan yaa dampaknya ke dia sendiri kan hehe :)

  3. wah ternyata ada gunung es ya di program non reguler. Hal-hal kayak ini kayaknya penting juga untuk ditelusuri lagi..

    terus menulis ya..semangat!

    :)

  4. zanti09 says:

    buaknkah anak non reg kelasnya mewah?

    • hanifa.siti says:

      Hmm klo dibilang mewah, saya akui memang gedung saya kuliah Alhamdulillah ada liftnya, jadi ga cape naik tangga lagi. Tapi, ga selalu pekuliahan saya di gedung yang baru ini, kadang di gedung lain yang lama yang belom ada liftnya. Gedung baru yang ada liftnya itu juga bukan diisi mahasiswa non reg aja, mahasiswa lain juga kelasnya ada disitu.

  5. hanifa.siti says:

    wah tulisan saya jadi headlines. Senangnyaaa :D. Alhamdulillah. Makasiii ya anakui.com, terharu jadinya hehe

    • ndarys says:

      Hallo Ka Hanifa! :) Saya kagum dengan penulisan artikel kakak ini loh yang sudah berani untuk terbuka dan sharing mengenai “menjadi anak non reg”. Saya juga sebenarnya sempat kesal ketika waktu isi IRS awal semester 2 di FIB (entah jurusan saya sendiri atau jurusan lain juga karena saya tidak mengetahui informasi mengenai jurusan yang lainnya, saya hanya mengalami pengalaman ini sendiri dengan teman sejurusan yang juga seangkatan dengan saya). Saat itu ketika masa pengisian IRS berlangsung, IRS anak pararel mata kuliah pilihan belum dimunculkan di IRS sedangkan IRS anak reguler sudah dimunculkan beberapa mata kuliah pilihan yang sudah dibuka. Sehingga saya berinisiatif sendiri harus rela untuk bolak-balik ke subag memohon dengan karyawan subag untuk dapat dibukakan mata kuliah pilihan. Itu pun juga mata kuliah pilihannya (istilah kasarnya: “sisa”) dari anak reguler. Jika masih ada kelas yang kosong, bisa deh itu kelas yang kosong dimunculkan di IRS pararel. Otomatis saya beserta teman sejurusan saya yang lainnya tidak bisa memilih kelas yang diinginkan jika kelas tersebut sudah penuh dengan anak reguler. Bahkan pernah sempat ada teman saya yang kebingungan karena jumlah sks yang dia ambil masih sedikit. Mau ambil mata kuliah pilihan yang muncul pun sering suka ada yang bentrok jadwalnya dengan jadwal mata kuliah wajib ><. Dengan ikhlas dan dan bismillah dah tuh saya dan beberapa teman saya itu ambil mata kuliah pilihan yang mungkin kurang kami minati atau (istilah halusnya: "kurang sreg"). hehehe. Untuk mata kuliah pilihan lintas fakultas pun juga tidak semua nya muncul. Harapan saya untuk masalah ini semoga untuk semester selanjutnya anak pararel IRS nya bisa disama-ratakan jadwal dibukanya mata kuliah pilihan baik lintas fakultas maupun lintas jurusan tanpa harus menunggu tersisanya kelas kosong dari anak reguler. Mungkin hal ini bisa dijalankan dengan cara penambahan kelas. Sehingga anak pararel pun juga mendapatkan hak yang sama dengan anak reguler. Hal ini pun menjadi lebih adil kan? ;)

      Nah saya juga mau menanggapi beberapa komen yang ada diatas kan ada yang menyebutkan bahwa rata-rata anak pararel ini adalah anak yang lulusan SMA dengan skala 3 tahun setelah lulus dari SMA. Contoh saya lulusan SMA tahun 2009 nah saya ikut yang ujian tahun 2010. Jika lewat SNMPTN atau UMB seharusnya saya masih bisa ikut sampai jatah 2011. Akan tetapi waktu tahun 2010 simak jadwal ujiannya lebih dulu ketimbang SNMPTN maupun UMB jadinya saya ikut deh tuh yang simak dan ternyata saya diterima pada pilihan keempat yang jalur pararel dari 6 pilihan yang terdiri dari 2 reguler, 2 pararel, dan 2 vokasi. #curhat. Setahu saya kebanyakan nih yang anak pararel yaaa cuma beda 1-2 tahun dari kita loh. Meski ada beberapa teman saya yang anak pararel adalah lulusan D3 sih. Jadi kalo diambil secara besarnya kita semua anak reguler dan pararel nih sama-sama belum kerja dan belum punya penghasilan sendiri kok kecuali yang beberapa lulusan D3 itu mungkin sudah kerja kali ya? Nah kenapa sudah biaya semesternya lebih besar dari anak reguler terus kita anak pararel ga bisa dapet beasiswa atau BOPB seperti anak reguler? Anak vokasi aja yang biaya semesternya lebih gede bisa mengajukan beasiswa yang tersedia di UI. Masa anak pararel ga bisa? (Saya lupa untuk masalah BOPB itu buat anak reguler juga atau vokasi juga bisa) Pokoknya dari salah satu atau kedua cara ini anak vokasi bisa mengajukannya.Sebenernya pengen banget loh mengeluarkan suara hati ini langsung supaya pendapat atau saran ini dapat di denger oleh pak Rektor. Tapi gimana caranya? :(

      Ohya ada teman sejurusan yang juga seangkatan sama saya dia berasal dari keluarga yang sederhana tidak berhasil mendapatkan BOPB. Jadi ia harus membayar uang masuk dan semester dengan FULL biaya. Lagipula ada juga kok anak reguler yang berkecukupan bisa dapat keringanan. Nah kenapa anak pararel tidak bisa mendapatkan hak itu? Kami semua toh anak pararel menjalankan ujian mulai dari materi, tingkat kesuliatan soal, waktu pengerjaan soal dan sistem mekanisme yang sama kan dengan anak reguler. Jadi kenapa masalah beasiswa atau BOPB ini mesti dibedakan haknya? :) Saya harap opini saya ini bisa dipertimbangkan dan maaf bila ada kesalahan kata. Saya hanya ingin menyalurkan isi hati saya yang terpendam yang semoga saja ungkapan saya ini bisa didengar dan diterima :)

      Terus untuk masalah sarjana, ketika akan di wisuda nanti kan misah tuh ya program sarjana reguler dan program sarjana pararel + vokasi? Nah apa berarti pas wisuda itu kita yang anak pararel disandang sebagai sarjan pararel makanya pake dipisah segala tuh acara wisuda antara anak reguler dengan anak pararel? Jadi yang anak pararel wisudaannya bareng sama anak vokasi? Oke mungkin posting a.k.a positive thinking nya balairung ga muat kalo sampe anak reguler dan pararel disatukan saat wisuda. Tapi seandainya ada anak pararel yang lulus barengan sama anak reguler apakah dia mesti barengan sama anak pararel? Contoh di jurusan saya anak pararel angkatan saya itu cuma 20 orang ketimbang dengan anak reguler yang berkisar +/- 40 orang. Nah masa iya nanti pas wisuda satu jurusan cuma dikit kalo misal emang pararel wisudanya dipisah dengan reguler? Masa wisuda kan adalah moment yang paling berkesan disaat detik terakhir sebelum mendapatkan gelar sarjana. Saya pengen banget kumpul bareng anak reguler ketika wisuda nanti. But it's maybe possible or not? :(

      • hanifa.siti says:

        Halo ndarys, Salam Kenal :D. Makasii yaa hehe :D. Iyaa emang klo anak paralel sepertinya memang masih kurang di bagian administrasinya. Mungkin karena Paralel itu masih baru di UI, jadi kayaknya ada fakultas-fakultas tertentu masi belum siap buat administrasinya, apalagi sistem sekarang yang bisa Lintas Fakultas. Klo berhubungan sama Mata Kuliah, coba bilang ke dosen Sekretariatnya yaa curhat aja ke dia. Jurusan saya juga suka kayak gitu klo lagi masa-masa add IRS di SIAK, biasanya kita suka bilang ke dosen Sekretariat Jurusan yang dosen sendiri juga :). Pasti Sekretariat bakal bantu :).
        Pas Wisuda nanti sepertinya tidak akan dipisah (moga-moga aja), soalnya di UI kan selain yang reguler, banyak Mahasiswa dari jalur yang lain kayak Kelas Internasional gitu. Jadi, kayaknya digabung gitu semua jadi satu jurusan atau faklutas. Apalagi, sekarang Paralel kan udah ada di tiap fakultas. :)
        Sebenarnya saya menulis ini bukan hanya karena fasilitas yang kurang yang didapat, tapi dari teman sekesal saya sendiri. Sejak awal masuk menjadi Maba, teman-teman sekelas saya ada yang bilang atau yaa komen klo kita ini hanya anak non reg dan semua embel-embel yang berhubungan dengannya. Sumpah, waktu itu merasa kayak pecundang bgt (maaf agak lebay :) ). Yaa udah sih terima aja, lagian emang diterima di sini mau di mana lagi, jangan jelek-jelekkin diri sendiri gitu dong. Mau non reg mau apa kek, kan kedepannya juga kita ga tau bakal jadi apa, lagian masuk non reg itu bayarannya disamaratain ga beda-beda kayak jalur mandiri di Unversitas yang lain. Sejak saat itu, kata-kata teman saya yang rendah diri itu membakar hati ini sampe sekarang waktu liat Surat Pengantar Magang yang bertuliskan Sarjana Paralel dan teman saya jugalah yang kembali berkicau klo kita dibeda-bedain. hehe
        Ayooo mau non reg atau reguler pokoknya sama aja, yang penting kita menuntut ilmu dan menjadikannya bekal untuk mengaplikasikan di dunia luar agar berguna bagi orang banyak. :)

        • ndarys says:

          Dosen kesekretariatan maksudnya itu sekretariat yang mana ya ka, dosen ketua jurusan atau siapa? (masih awam sih.hehe) :D

          Hemmmm sepertinya latar belakang kakak menulis artikel ini ga jauh beda jauh seperti ketika saya membuat tulisan di anakui.com ini yang sampe headline news tanpa saya pernah menyangka sebelumnya. Jadi saat itu ada hubungannya nih sama administrasi awalnya. Sedikit random sih, waktu pas saya bersama beberapa teman saya yang mau mengajukan diri untuk ambil mata kuliah lintas fakultas di FISIP ada salah satu bapak” gitu entah dia termasuk salah satu karyawan di bagian staff akademik fisip itu atau bukan, pokoknya saat ingin mengajuka mata kuliah lintas fakultas di FISIP di mata kuliah akutansi, bapak itu bilang ke kita kaya gini “anak FIB kok mau ambil akutansi, ya mana bisa!”. Beliau berbicara seperti itu setelah kami hendak ingin menuju pintu keluar ruangan itu. Uh saya geram banget deh pokoknya karena bukan hanya pas di FISIP, pas di FT pun juga kaya gitu cuma lebih menohok hati yang di FISIP ini. Nah mungkin darisini bisa diambil kesimpulan menurut saya sendiri (maaf kalo kurang enak bacanya) bahwa staff FISIP kebanyakan kurang ramah kali ya sama mahasiswanya? bener ga? hehehe :D
          Yah lagian juga waktu itu kita mau ngajuin surat permohonan aja dilempar kesana-kemari mulu. Pertama bilang suruh ke A abis itu pas udah ke A dibilang suruh ke B atau C. Sesudah di B atau C dibalikin lagi suruh ke A eh aps udah ke A bilang katanya ke D terus ujung-ujungnya malah ga dapet deh. Capcai dah! huhu -__________-

          Ohya yang wisuda itu emang kayanya dipisah kok ka, kan soalnya pas jaman saya masih maba itu anak yang reguler dan pararel jadwal pengisi paduan suara untuk wisudaannya beda. Jadi anak yang reguler ngisi acara wisuda sarjana reguler dan KKI sedangkan anak yang pararel dan vokasi barengan ngisi acara wisuda sarjana pararel dan vokasi. Eh tapi kalo yang KKI itu saya lupa juga sih itu dia barengan sama anak reguler atau pararelnya pas itu. hehe. Nah loh kalo kaya gitu beneran digabung dong? hemmm :’(

          Saya setuju banget tuh dengan argumen “Ayooo mau non reg atau reguler pokoknya sama aja, yang penting kita menuntut ilmu dan menjadikannya bekal untuk mengaplikasikan di dunia luar agar berguna bagi orang banyak.”

          Nah tapi harapan saya sih untuk fasilitas dan pelayanan administrasi atau pun yang lainnya sih saya masih harap mempunyai hak yang sama. :) Saya sendiri malah lebih nyaman loh bergaul sama anak reguler karena mereka kebanyakan beberapa dari mereka mempunyai semangat yang tinggi untuk mencapai suatu tujuan dan mereka juga lebih “humble”+sederhana. Mereka juga pun orangnya jauh lebih baik daripada anak pararel yang lain. Malah saya sempat pernah berpikir untuk pindah ke kelas reguler kalo bisa. Meski ga semuanya kaya gitu sih. Sebenarnya melihat status saya yang merupakan anak pararel dengan kewajiban harus membayar biaya kuliah per semester yang FULL tanpa adanya keringanan dan tidak bisa mendapatkan hak mengajukan beasiswa di UI terkadang membuat saya kepikiran juga nih dengan orang tua saya jadi ditambah lagi dengan beban yang harus saya tanggung di jurusan saya kalau sampe ga lulus mata kuliah bahasa maka harus mengulang tahun depan bareng maba atau pun mata kuliah wajib lainnya yang bisa mengulang di semester berikutnya atau dengan cara ikut SP. Waduh malah biaya SP 1 sks 250rb mahal banget. Ya ampun agak desperated ka! #lebaytapinyata. Tapi yah saya mencoba berusaha melakukan yang terbaik dan tidak memikirkan hal itu semua. Kalau ada niat, usaha, dan tawakal pasti semua akan berjalan lancar kan? Insya Allah.

          Jadi TETAP SEMANGAT untuk mahasiswa pararel mungkin ini batu loncatan buat kita menuju kesuksesan!!! :D

  6. bpc says:

    hmmmm masalah diskriminasi bukan hanya di fisip atau mipa namun saya yang kebetulan kuliah di salah satu program sarjana di UI juga mengalaminya.

    waktu itu saya masih maba,saya kul di program sarjana ekstensi FE UI, jurusan manajemen.di FE ada labkom yang biasa di gunakan untuk ngenet gratis,cari bahan,donlot,sampe ngeprint tugas.suatu ketika saya harus ngeprint disana,pas selesai ngeprint di tanya berapa banyak dan disuruh bayar 500/lembar.Tentu saja saya kaget,masalahnya adalah di ruangan itu tertulis PRINT GRATIS,saya emosi dan blg kenapa harus bayar? ini kan fasilitas dan tertulis gratis,si mas penjaga (yg akhirnya jadi teman baik) bilang ekstensi bayar,reguler gratis.

    saya bilang kalo buat aturan yang jelas,mana saya tau harus bayar krn yang tertulis tidak seperti itu.bukan masalah nominalnya namun diskriminasinya.

    Selain itu tahun lalu saya iseng2 mendaftar pengawas SIMAK ke dekanat namun jawaban yg di dapat sangat mengecewakan “yang boleh ngawas simak cuma anak reguler ” wTf peraturan dari mana itu? akhirnya h-2 saya datang ke balairung yang saat itu ada brifing pengawas jabodetabek,saya daftar pengawas WL dan dapat.

    “Semua itu sebenarnya tergantung dari individunya masing-masing bukan dari jalur masuknya” setuju ma yg disebutkan di atas karena saya pernah menangkap tangan anak Kelas internasional yang menyontek,sama saja tidak bersyukur. siapa bilang anak program vokasi,paralel,ekstensi di dunia kerja nanti akan jadi bawahan anak reguler.
    Siapa yang sangka ada mentri yang berasal dari program ekstensi? Jero wacik salah satu contohnya.

    jadi apapun program pendidikan anda,anda tetaplah bagian dari civitas akademika UI..

    • hanifa.siti says:

      wah, begitu ya. Ternyata di UI setiap fakultasnya beda-beda ya dalam aturannya. Iyaa kita semua adalah anak ui :)

  7. jaya says:

    di fib mau pararel maupun reguler gk bisa nyodok maupun SP.jangan mewek

  8. pharzone says:

    Kalo dijurusan gw, sejauh ini yang gw tau tidak ada perbedaan dalam hal fasilitas
    Tpi ada beberapa dosen yaang underestimate dengan paralel
    Trus pernah dengar omongan yg demikian juga dari yang reg
    Selebihnya damai damai saja

    • hanifa.siti says:

      Di jurusn saya ada sedikit dosen yang kayaknya mengunderestimate, tapi sedikit bahkan saya lupa. Tapi, ada dosen saya yang menjadi orang yang selalu mengurus mengenai mahasiswanya. Dosen itu adalah seketaris jurusan klo tidak salah. Dia bilang klo untuk masuk ke jurusan paralel ini saja susah. “Kalian untuk masuk dan duduk di kelas ini dengan mengalahkan 15 anak. Waktu itu tesnya perbandingan 1:15. Jadi, kalian yang sudah masuk jangan berleha-leha, nanti kalian didoakan yang jelek sama orang2 yang dulu tidak masuk karena menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dimiliki.” Intinya dosen saya ini, bahwa antara non reg dan paralel itu sama saja dan masuknya pun juga susah. Oleh karena itu, sebaiknya kita sungguh-sungguh sekarang karena sudah berhasil menjadi bagian dari civitas akademi UI :)

  9. jay de nurse says:

    seharusnya memng tidak ada diskrimiinasi dalam hal apapun, kita kan satu UI

  10. Emang sih benar2 terasa anak paralel didiskriminasi banget. contohnya kalo di fisip anak paralel gak dibolehin sama sekali buat akses beasiswa.yang dibolehin cuma anak reguler..
    Sebenarnya tujuan UI mengadakan kelas non-reguler untuk apa sih konkretnya?? Kenapa tidak ditiadakan saja agar tidak terjadi diskriminasi seperti apa yang dialami penulis.. Saya menanggapi sendiri pernyataan Kak ilman Akbar yang bilang kelas non-reguler/paralel ini diadakan oleh UI, untuk mengakomodasi orang-orang yang ingin kuliah sarjana, tapi terbentur dengan syarat umur..

    misalnya karyawan atau orang2 tua yang ingin kuliah lagi, tapi belum sempet D3.., koq terasa kurang kena banget yah.. teman paralel jurusan saya sendiri pun jarak umurnya tidak terlalu jauh dengan saya, malah hampir semuanya satu angkatan dan tidak ada yang orang2 tua/karyawan.. setau saya yang kuliahnya orang2 tua atau karyawan itu program s1 ekstensi yang pindahan d3 dari universitas lain atau pun UI sendiri..

    • hanifa.siti says:

      Soal beasiswa anak paralel juga boleh. Cuma ga boleh mendapat yang dari UI, setahu saya anak paralel ga boleh mendapat diskon dari pembayaran iuran tiap semester. Klo kamu mau dapet beasiswa dari pihak lain, misalnya Beasiswa dari Beswan Djarum itu boleh2 aja. Dulu ada temen saya yang mengusahakan untuk dapet beasiswa dari walikota, dia bisa mengusahainnya dan minta surat-surat berkasnya ke bagian administrasi.

  11. kunderemp says:

    Saya alumni UI, mahasiswa non-reguler alias kelas internasional Fasilkom 2002.

    Awalnya, saya merasakan diskriminasi itu tetapi tahun kedua dan selanjutnya sudah tidak pernah. Mungkin karena saya dan kawan2 saya akrab dengan kawan-kawan reguler di Fasilkom, ikut kegiatan bersama-sama.

    Ilman, yang komentar paling awal tahu siapa saya.

    Perasaan minder tentu saja ada. Saya sendiri, pernah ikut UMPTN dan diterima di PTN di kota lain dan jujur aja, alasan saya ikut Kelas Internasional di UI karena saya malas ikut SPMB lagi dan toh orang tua saya saat itu mampu. Dan sebenarnya keinginan saya malah pengen kuliah di IKJ tetapi orang tua gak memperbolehkan. Mereka pengen aku di UI, dan syaratku ya itu.. malas ikut UMPTN/SPMB.

    Benar, anak UI itu seharusnya kuliah lebih mahal. Jadi keberadaan non-reguler itu sebenarnya membantu anak reguler. Hanya saja memang ada kekhawatiran kalau kursi non-reguler mengurangi jatah kursi reguler. Jadi pahami saja kebencian mereka.

    Yang penting dari pihak UI adalah tidak ada pembedaan perlakuan. Jangan mentang2 anak non-reguler bayar lebih tinggi lalu nilai buat mereka dipermudah.

    Alhamdulillah, dosen-dosen Fasilkom UI tergolong cukup adil di masa saya. Mereka sama kerasnya baik di kelas reguler maupun non-reguler.

    Junior2 gue di Kelas Internasional Fasilkom UI sepanjang gue masih di UI juga cukup menyatu dengan yang reguler.

    So, gue merasa diri gue bagian dari UI. Ilman Akbar, dan kawan-kawan Univind yang bikin situs ini adalah kawan-kawan gue juga sesama UI.

    So, kalau kau merasa diremehkan, aktif lah di kegiatan yang diikuti reguler. Tunjukkan bahwa kau perduli dengan kampusmu, bukan cuma bayar.

    Tunjukkan juga bahwa kau memang layak kuliah di UI.

    Kalau setelah itu masih ada yang meremehkan. Biarkan saja. Mereka tak tahu apa-apa tentang dirimu.

    Lagipula, dunia kerja kelak hanya akan mengenalmu sebagai anak UI, gak perduli reguler atau non-reguler.

  12. hana fahmi says:

    Santai aja kaleee… gitu aja kok repot cuy!! coba aja tes kepinteran!!

  13. yara says:

    haha gimana kalo di farmasi ya. Justru kebalikannya. Jumlah muridnya 1kelas paralel < reguler karena ga dibagi2. Bayangin yg reg sekelas 60an, kalo praktikum dibagi 2 jadinya jadwal full sampe sore mulu. Sedangkan anak paralel praktikumnya cukup 1 kelas jd waktu kosongnya lebih banyak.
    Aneh memang -_- ga ngerti klo di farmasi lebih enak jadi anak non reg..

  14. Beginilah kalau uang berbicara. Seharusnya tidak ada perbedaan antara reguler, paralel ataupun status lainnya (siapa tahu dibikin ada istilah yang berbeda, demiiiiii mendapatkan uang lebih banyak bukan?). Hal ini seperti yang terjadi pada sekolah-sekolah negeri menuju taraf internasional, yang ada diskriminasi fasilitas… tapi hasilnya? selalu kembali ke individunya. Bagi mahasiswa non reguler yang merasa didzolimi, tetaplah semangat! Tidak ada manusia yang bodoh, yang ada hanya PEMALAS. Nantinya dapat dibuktikan pada saat Anda semua (reguler & non reguler) di dunia kerja.

  15. tonny says:

    gw anak paralel, tapi biasa aja ah, yg bikin threadnya lebay nih

 

Leave a Comment

 

Gunakan Gravatar untuk menampilkan avatar.

Silakan login dulu supaya bisa ngasih komentar.