Januari 2015.

Dear Diary.

Di lembar baru ini, aku ingin mencurahkan semuanya kepadamu, betapa merananya hati ini. Mentari pun seakan enggan menghapus pilu yang mendalam, begitu mendengar untaian kata kosong yang menyayat dada, meski tak niat untuk kudengar. Merasuk memaksa masuk ke dalam sukma batin, mengoyaknya lebar-lebar, dan meninggalkannya menjadi lara tak terbendung. Bagaimana tidak? Tawa yang terselubung makian di antara mereka, membuatku semakin kecil. Mengecil…. dan mengecil….

Duh, bohong banget kalo gue ngaku mengecil. Kalo duduk, kursi satu aja masih berasa kurang.


 

Nah, kalau tebak cuplikan di atas, pasti mayoritas orang akan menerka bahwa tokoh “penulis” merupakan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Budaya.

advertisement

 

YUP BENAR!

*tebar confetti*

*dan kemudian hening, hanya ditemani kumpulan jangkrik*

 

Tapi sekarang gue tanya, kenapa kalian nebaknya begitu? Karena FIB itu… identik dengan sastra… yang kalo berkomunikasi semua serba puitis – saking puitisnya sampe bingung sendiri karena nggak ngerti intinya apa – gitu? Unik juga, ya. Ternyata cukup banyak “pandangan umum” tentang anak FIB, sampai-sampai ada beberapa yang “sedikit” menjadi perhatian. Yuk mariiii kita coba lihat beberapa diantaranya.

advertisement

1. Udah buang-buang waktu, terus nanti jadi apa?

Gw ga bakal bingung nanti kerja apa. Anak FIB fleksibel cuy!

Gw ga bakal bingung nanti kerja apa. Anak FIB fleksibel cuy! (Rev. Xanatos Satanicos Bombasticos (ClintJCL) via Compfight cc)

Nah ini nih, ini. Ini pernyataan mainstream yang sering orang ucapkan.

Eh sebelumnya dulu nih, FIB terdiri dari 15 program studi, yang terbagi menjadi dua bidang: bidang sastra yang terdiri atas 11 prodi, dan 4 prodi lainnya adalah non sastra (Ilmu Perpustakaan, Arkeolog, Sejarah, dan Filsafat). Kalau masuk di bidang sastra, pasti orang bakal bilang, “Yahelah lo tinggal kursus aja juga kelar, kan?”. Sedangkan kalau menjadi bagian dari mahasiswa di bidang non-sastra… orang bakal bilang, “Lo mau jadi orang gila tanpa arah? Atau lo mau, gitu, masa depan lo cuma berakhir jadi abang-abang tukang jagain buku?”

Padahal tidak sesepele dan separah itu. Gue merasa bahwa pekerjaan atau profesi tidak ditentukan oleh di fakultas mana ia dulu pernah menimba ilmu. Jaman sekarang, justru banyak orang yang kuliah di prodi X misalnya, eh kerjanya malah melenceng jauh dari apa yang sudah ia pelajari selama 4-6 tahun. Mungkin karena faktor jumlah penduduk yang semakin membludak tetapi tidak seiring dengan meluasnya lapangan pekerjaan. Tapi, itu justru salah satu keuntungan jadi anak FIB yang menurut gue cukup fleksibel dalam mencari pekerjaan. Ke mana aja bisa kok, asalkan bisa mencari peluang dengan cerdas dan memanfaatkan peluang dengan optimal dan benar.

 

2. Masa sih lo sibuk? Kan lo anak FIB…

Kansas yang baru

Kansas yang baru. Tetep selalu penuh! (Twitter @FaldoMaldini)

Hasemeleh banget dah ah. Emang sih, Kansas (Kantin Sastra) selalu rame. Nggak pernah sepi. Bahkan, untuk beberapa kalangan, Kansas sering disebut dengan “Kompor-nya FIB”: panas pengap parah kalo udah masuk situ, saking banyaknya orang.

Tapi bukan berarti jadwal kuliah kita longgar. Bukan berarti kita nggak pernah ngalamin tugas setumpuk. Mulai dari ngurusin Subjek-Predikat-Objek sampai cara melafalkan huruf konsonan dan huruf vokal dengan baik dan benar aja pun kita pelajarin sampai direla-relain bergadang demi itu. Atau kalau belajar Manajemen Rekod yang ampun-ampunan, atau baca-baca materi Metodologi Penelitian Epigrafi…

Ada kamera nggak ya, buat minta nyawa tambahan?

 

3. Lo milih FIB UI karena.. *dan kemudian memasang tampang penuh selidik*

Yang penting pake jakun?

Yang penting pake jakun? (got-blogger.com)

Nape lo? Nape? Karena ngincer nama “UI”-nya aja, gitu? Memang sih, gue pernah melihat sebuah kasus yang “menarik” di Facebook dua tahun silam. Ada seorang siswa kelas 3 SMA, cowok, bertanya di sebuah page pendidikan yang spontan saja, mengundang “perhatian” hingga dikomen sebanyak seratus lebih. Dia bertanya,

“Kak, passing grade paling rendah di UI tuh, apa ya? Soalnya saya pengen banget nih kak, masuk UI”.

Yaa tak dipungkiri, passing grade terendah dipegang oleh salah satu prodi di FIB. Tetapi, bukan berarti kita masuk FIB demi UI-nya aja. Kita masuk FIB karena tekad yang kuat dan kesadaran penuh atas minat-bakat dan keinginan ke depannya mau jadi apa. Ada juga sih memang, orang-orang yang menjadikan FIB sebagai “tempat terpaksa”-nya. Tapi kan itu semua ada “balesannya”. Percaya dong, kalo semua itu berawal dari niat?

 

4. Hai sayang~ gombali aku dong

Gombalin aku dong..

Gombalin aku dong.. (mhonpoo via Compfight cc)

 

Duh! Gue aja paling nggak bisa kalo udah urusan puisi, ngegombal, berpantun ria… Nggak semua anak FIB jago ngegombal! Dan itu tandanya, nggak semua anak FIB punya pacar *langsung showeran*.

Di FIB, nggak cuma mempelajari bagaimana caranya menguntai kata-kata demi menarik lawan jenis. Ada kalanya anak FIB pun mau nggak mau mempelajari itung-itungan layaknya anak eksak, meskipun dengan konteks yang tak sama.

Anak FIB bukan pula berarti seorang mahasiswa yang demen ngelamun di pinggir danau, menikmati semilir angin dan berlarian sendiri di tengah imajinasinya. Ada kalanya anak FIB meneliti. Masalahnya, objek penelitian anak FIB itu “bergerak”, tidak “diam” seperti ranah eksaskta. Justru kita sebagai peneliti yang “diam”, karena kalau kita “gerak”, penelitian kita bisa-bisa nggak objektif. Nahlo!

 

5. Lo cowok? Masuk FIB? Gak salah tuh?

Bondan Prakoso adalah alumni FIB UI

Kak Bondan Prakoso tuh alumni FIB UI loh. D3 Sastra Belanda (gustav4rt.blogspot.com)

Duuuh salah nih, ngebiarin cowok-cowok berkeliaran di tengah wilayah kami? Lumayan kan, buat seger-seger mata? Sama seperti yang udah ditulis di nomor 3, gue yakin mereka – kaum pria yang berani membuat keputusan – memilih FIB karena mereka tahu kedepannya mau jadi apa dan mau ngapain, sehingga untuk mencapai itu semua, salah satu step-nya adalah menjadi bagian dari mahasiswa FIB. Lagian bagus, kan, cowok kayak gitu? Untuk dirinya sendiri aja bisa bertahan dan berani ambil risiko tanpa peduli apa yang orang lain pikirkan, apalagi untuk ngeperjuangin kita buat jadi pendamping hidupnya? #savecowokcowokFIB :’)

 

Naaaah gimana? Gimana gimana gimana? Intinya sih, fakultas itu hanya perkara pilihan, suara hati. Bukan tempat pembeda ini-itu, apalagi tempat pelarian. Nggak salah dong, kalau seandainya nanti nggak sengaja ketemu anak FIB yang ngomongin statistik dengan semangat ’45, atau nemuin anak FMIPA yang lagi berpantun-pantun ria di pinggir danau.

Karena “fakultas” hanyalah “sebuah tempat” untuk kita belajar dan berkreasi di dalamnya 🙂

Gimana menurut lo?

 

Header image by Azhari Fauzan



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😍 (91%)
  • 😡 (3%)
  • 😭 (3%)
  • 😒 (1%)
  • 😆 (1%)
  • 😮 (0%)
  • 😊 (0%)