Belakangan ini, Indonesia selalu disuguhkan dengan berita-berita panas mengenai isu toleransi antar suku, ras, etnis, dan umat beragama. Hal itu tentu membuat telinga kita jadi makin panas tiap hari. Berbagai macam hashtag dan slogan-slogan lain makin dijeritkan, merindukan NKRI yang utuh dan bersatu kembali. Nah, tahukah kamu? Ternyata Universitas Indonesia telah menunjukan bukti konkrit kepeduliannya terhadap kesatuan NKRI yang plural dan majemuk itu dengan pojokkan satu ini!

Pojokkan itu adalah Abdurrahman Wahid Center for Inter-Faith Dialogue and Peace Universitas Indonesia (AWC-UI). AWC-UI yang diresmikan tahun 2012 ini terinspirasi oleh tokoh pluralisme dan multikulturalisme Indonesia yaitu Bapak Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu sendiri.  Terletak di lantai 3 Perpustakaan Pusat UI, AWC ini dulunya diremiskan oleh Sinta Nuriyah (istri Gus Dur), Gumilar Rusliwa Somantri (Rektor Universitas Indonesia 2007-2012), dan Said Aqil Siradj (Ketua Majelis Wali Amanat UI pada saat itu).

Apabila berkunjung ke sana, bersiaplah untuk disambut oleh poster-poster besar dari potret sang Gus Dur itu sendiri. Di dalam sana juga terdapat berbagai arsip surat kabar, video, rekaman suara, hingga cerita dan kisah yang hanya tersimpan pada sahabat Gus Dur mengenai segala pemikiran beliau tentang pluralisme dan multikulturalisme. Keberadaan AWC ini diharapkan mampu membuka pikiran setiap kita mengenai kehidupan damai dalam kemajemukan yang selalu dicetuskan oleh Gus Dur dulu. Sebab, tujuan dari AWC sendiri adalah sebagai pusat berkembangnya dialog dan mediasi perdamaian nasional dan dunia serta sarana menangkis isu laten intoleransi yang bisa saja bersumber dari kampus.

“Gitu aja kok repot.” (via pinterest)

Selain itu, ada berbagai kegiatan yang tentunya dapat kita lakukan di pojokkan satu ini. Pertama, kita dapat membaca bacaan yang tersedia yaitu seputar konflik, perdamaian, budaya, serta agama dan kepercayaan. Kedua, kita juga dapat menyelenggarakan forum diskusi, dialog, serta kuliah-kuliah umum, dan publikasi terkait isu perdamaian, pluralism, dan multikultural. Kita juga dapat menyelenggarkaan berbagai kajian, riset, dan pengajaran mengenai isu tersebut. Selain itu, kita juga dapat memfasilitasi dialog dan mediasi perdamaian pada berbagai level yang dimungkinkan.

 

BACA JUGA: Selamat Jalan, K.H. Abdurrahman Wahid, Guru Bangsa!

 

advertisement

Nah, gimana? Sudah adem bacanya? Mungkin lain waktu ketika telinga dan hati mulai panas karena mendengar isu-isu intoleran, boleh lah silahkan mengunjungi pojokkan ini sambil mengajak teman-teman lain berdiskusi di dalamnya. Tempat ini selalu terbuka untukmu selama office hour Perpusat UI, kok! Selamat berkunjung!



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😡 (67%)
  • 😒 (33%)
  • 😭 (0%)
  • 😮 (0%)
  • 😍 (0%)
  • 😆 (0%)
  • 😊 (0%)