Artikel ini ditulis oleh guest writer Jonni Gani, co-founder TheCrowdVoice dan Harga Murah.

Setiap tahunnya sumber daya manusia dari Indonesia diburu oleh pihak luar negeri, baik dengan menawarkan pekerjaan atau beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Bisa meraih prestasi tinggi di dalam negeri tentu sangat mengagumkan, tetapi tidak menjamin sukses di luar negeri. Agar berhasil di luar negeri kecerdasan dan ketrampilan semata tidak cukup. Kemampuan untuk mengerti dan berbaur dengan budaya setempat merupakan faktor yang sangat penting.

Saya cukup beruntung mendapatkan beasiswa dari RMIT University, Australia, dan selanjutnya berkarir sebagai programmer di Melbourne. Artikel ini berbagi tips dalam menyesuaikan diri dengan budaya barat (Australia).

Persamaan Derajat

Di Australia seseorang yang lebih tua atau senior tidak otomatis mendapatkan rasa hormat. Contohnya, di kantor memanggil bos cukup dengan menggunakan nama depannya. Jika nama bos Jack Stevenson, cukup panggil Jack, bukan Mr Jack atau Mr Stevenson. Sama halnya di kampus saat memanggil dosen.

Pernahkah kamu dengar pepatah Respect is earned, not given? Rasa hormat datang dari kontribusi positif, bukan dari pangkat atau umur semata.

Hubungan antara para dosen dan mahasiswa di Australia adalah sejajar. Jika seorang dosen ingin dihormati, dia harus mengajar dengan baik. Dosen yang mengajar ogah-ogahan tidak bisa memaksa para mahasiswa untuk menghormatinya. Prinsip yang sama juga berlaku untuk arah sebaliknya. Jika seorang mahasiswa belajar dengan serius and aktif berpartisipasi di dalam kelas, dosen yang sangat senior pun tanpa ragu akan memperlakukannya dengan penuh rasa hormat.

advertisement

Beberapa tahun lalu saya menyeret bos dan bosnya bos ke ruang meeting. Di sana saya menentang keputusan mereka yang memilih cara tes software yang boros. Saya membuktikan lewat sebuah perhitungan bahwa cara tes yang lebih canggih bisa meraup penghematan besar. Di dalam meeting itu kata-kata saya selalu sopan, tetapi keesokan harinya saya minta maaf kepada bos karena takut telah lancang berani menentangnya. Tanggapannya cukup mengejutkan, “Malah saya senang kamu lakukan itu.” Bagi bos saya, bawahan yang teliti justru meringankan tugasnya. Saat membentuk tim baru, bos ini menunjuk saya jadi pemimpinnya padahal masih ada programmer lain yang lebih senior.

Pelajaran: jika ada pertanyaan atau masalah jangan malu untuk menyampaikannya walaupun kamu masih muda atau junior. Yang senior tidak akan merasa terancam oleh sikap proaktif, malah menghargainya.

Berani Mengaku Tidak Tahu

Satu lagi kebiasaan barat yang awalnya mengejutkan saya adalah keberanian dalam menuturkan jawaban “Saya tidak tahu”. Bahkan orang-orang bereputasi tinggi pun dengan jujurnya mengakui keterbatasan mereka tanpa rasa ragu atau malu. Pertama kali saya melihat dosen menjawab ini di depan ratusan murid, saya merasa sedikit aneh tetapi juga sangat kagum. Dia menjawab “Saya tidak tahu. Coba nanti saya gali informasi dulu, minggu depan saya akan berikan jawabannya.”

Setelah terjun ke dunia kerja, saya mengamati bahwa mayoritas kolega saya juga memiliki keberanian yang sama. Saya selalu kagum dengan kolega yang jelas-jelas sangat cerdas tapi tidak takut “kehilangan muka”. Sebaliknya, kolega yang memberikan jawaban asal tembak justru terlihat tidak jujur dan sok pintar.

Pelajaran: kejujuran tentang keterbatasan sendiri justru dikagumi orang. Jika tidak punya jawaban, tanggapi dengan “Saya tidak tahu. Saya akan cari jawabannya untukmu.” Atau saat ragu, jawablah “Saya terka alasannya adalah begini, tapi ini semua hanyalah spekulasi saya semata.”

Penutup

Di antara beragam budaya yang ada di dunia tidak ada budaya yang mutlak lebih baik dari yang lain. Ketika tinggal di negeri orang, bukalah wawasan dengan mempelajari budaya setempat, lalu  terapkan bagian positifnya. Jangan lupa untuk pertahankan juga budaya positif Indonesia.

advertisement



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😒 (100%)
  • 😭 (0%)
  • 😡 (0%)
  • 😮 (0%)
  • 😍 (0%)
  • 😆 (0%)
  • 😊 (0%)