Tanya sama yang udah lulus kuliah ataupun sama yang masih berusaha lulus kuliah, mereka bakal bilang gini, Kuliah itu banyak suka dukanya, sama aja kaya hidup itu sendiri. Mau jurusan apa pun, mau anak teknik, anak hukum, anak politik, kedokteran sampai tata boga sekalipun, kuliahnya nggak jauh-jauh dari stereotip mata dari luar, dan gegap-gempita perjuangan meraih toga di dalam. Sama aja buat anak sastra, meskipun tiap jurusan pasti punya suka duka benefit-defisitnya masing-masing yang unik. Nah, berikut ini cuma mereka yang anak sastra yang bisa merasakannya.

 

Underestimated

"Lulus, mau jadi apa, ya?" (Sumber:)

“Lulus, mau jadi apa, ya?” (Sumber:Photo Credit: andrewrennie via Compfight cc

“Sastra? Ngapain kuliah sastra? Mau jadi apa?”

Kalau kamu emang anak sastra, bohong banget kalo kamu nggak pernah denger yang kaya begitu. Yap, jadi anak sastra, kadang suka dipandang sebelah mata sama orang awam yang nggak ngerti apa gunanya kuliah sastra. Malah kadang nggak dipandang sama sekali.

Kalo mau belajar bahasa mending les aja.”

Mungkin udah kodratnya disepelein, tapi bukan berarti hal-hal itu bener. Ketika kamu yang anak sastra berpikir pada semester awal kalau ternyata kuliahnya emang mirip sama les, semua kemudian berubah ketika kamu dihajar sama linguistik, dari fonetik sampai semantik, terus diajak ‘main’ kritik sastra, gaul sama ‘penerjemahan’ sampai ke telaah teks-teks berita, belum lagi budayanya dan pranata negara. Dilematis. Yang diluar nganggep enteng, kamu yang di dalam setengah mati berusaha keluar.

advertisement

 

Jadi Anak Sastra In a Nutshell

"Coba dong ngomong bahasa Prancis." (Sumber:)

“Coba dong ngomong bahasa Prancis.” (Sumber:Photo Credit: jophan via Compfight cc)

Ini salah satu hal yang paling sering terjadi selain dipandang sebelah mata sama orang-orang. Kamu pasti punya satu atau dua orang dari keluarga kamu yang agak sedikit suka basa-basi. A fan of small talk. Formality. Ini yang terjadi ketika kamu kumpul bareng keluarga kamu dan si penggemar basa-basi.

*lagi kumpul di ruang keluarga bareng keluarga besar*

“Oh, iya, kamu anak sastra ‘kan?”

“Iya, Om. Jurusan Prancis.” *mikir* *bukannya gue udah pernah bilang ya?*

“Wah, udah bisa bahasa Prancis dong?” *yang lain mulai noleh*

advertisement

“Sedikit…”

“Coba ngomong.” *yang lain nungguin gue ngomong*

Oke. Satu, ya iyalah udah bisa, dari semester dua harus udah bisa; dua, manners yang tepat adalah untuk jawab sedikit, biar nggak dikatain sombong; tiga, ngomong salah atau bener pun, nggak ada artinya karena dalam radius 100m nggak ada yang bakal ngerti juga; empat, dikata boneka kali ya, dipencet langsung ngomong. Kan pasti bingung, mau ngomong apa. Perkenalan terlalu cliché, selain perkenalan, bingung milih topik. Akhirnya diem aja, awkward.

 

Rumpi ala Sastra

Ngobrol ala Sastra. (Sumber:)

Ngobrol ala Sastra. (Sumber:Photo Credit: khowaga1 via Compfight cc)

Ini yang pasti sebagian anak sastra juga pernah ngelakuin. Salah satu benefit, bisa dibilang. Ketika kamu berada di suatu tempat yang ramai bersama temen-temen sejurusan, terus kamu mau ngomongin orang yang barusan aja lewat meja kamu. Bisik-bisik biasa bisa ketauan, ngomong pake bahasa Inggris, kemungkinan itu orang ngerti juga (I mean, who doesn’t? Unless you guys would speak like a pretentious snob so they wouldn’t exactly understand you.). Terus akhirnya kamu dan temen-temen ngomongin itu orang pake bahasa Jerman, Cina, atau malah bahasa Italia.

Terus kalian ketawa, terus orang yang diomongin nggak ngerti, terus kalian berasa keren dan berasa sastra banget.

 

Math? Oh, do you mean ‘meth’?

Matematika? Apa itu?

Matematika? Apa itu? (Sumber:Photo Credit: Bill Selak via Compfight cc)

Jujur-jujuran, pasti ada sebagian anak sastra yang dulunya masuk sastra hanya supaya nggak ketemu sama yang namanya matematika. Bung, pilihan tepat. Matematika adalah musuh abadi yang sudah lama tak bersua. Terakhir liat soal matematika, mungkin ketika SBMPTN atau SIMAK. Atau malah pas UN SMA. Udah lama nggak liat angka, ‘kan? Perkalian nggak selancar dulu, gegara angka yang diliat kalo nggak nomor halaman ya tahun dan tanggal. Eits, kalo duit beda cerita ya.

Mungkin nanti akan kelabakan ketika lihat soal ujian masuk S2 yang ada matematika dasar atau TPA yang pake itung-itungan, tapi setidaknya selama kuliah S1 nggak perlu berurusan sama sincostan dari trigonometri dan nggak perlu kenalan lebih lanjut sama yang namanya kalkulus.

 

Novel

Kami nggak sembarang baca buku. (Sumber:)

Kami nggak sembarang baca buku. (Sumber:Photo Credit: Kemm 2 via Compfight cc)

Mungkin dulunya nggak pernah nyangka kalau ternyata novel itu cuma untuk dibaca. Anak sastra harus menghadapi novel-novel klasik, berbahasa asing, dan harus dibaca karena itu novel bakal dijadiin bahan UTS atau UAS. Perkara lebih runyam lagi ketika itu novel harus dianalisis lewat mata kuliah kritik sastra, dan harus membuahkan makalah. Entah karena terlalu runyam, anak sastra pun akhirnya bersotoy-sotoy ria menganalisis itu novel yang penting jadi 10 lembar dan dikumpulkan. Isinya bisa analisis, bisa juga curhat, atau cuma jadi retelling, karena kamu berjiwa storyteller alias pendongeng.

Terus tetiba nilai di SIAK C+, entah dari mana juntrungannya, dan kamu hanya bisa menengadah, mengingat-ingat kamu nulis apa di makalah.

Nah klo tadi kamu udah baca tentang curhatan mahasiswa dari sastra UI. Ini ada dari tetangga belakang fakultas FIB yaitu Fasilkom. Yuk simak tulisan tentang curhatan mereka di sini.

Kalo kamu anak sastra, kamu pasti pernah atau akan mengalami hal-hal di atas. Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter, dan Line supaya teman-teman sejawat yang juga anak sastra menyadari hal ini dan mereka yang bukan sastra juga ngerti, gimana ribetnya jadi anak sastra.

 



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😍 (65%)
  • 😆 (22%)
  • 😊 (4%)
  • 😒 (3%)
  • 😮 (3%)
  • 😭 (2%)
  • 😡 (0%)