Sebagai mahasiswa kita selalu dituntut untuk sering membaca. Lebih-lebih sebagai anak UI yang kalau setiap dikasih tugas pasti diminta mencantumkan referensi serta sumbernya yang terpercaya. Mau tidak mau minimal kita perlu punya satu buku untuk satu bidang keilmuan. Bahkan kadang kalau ingin dibilang keren ala anak kuliahan yang sesungguhnya, kita mesti jinjing beberapa buku terhits ketika sedang berseliweran di sekitaran kampus. Bangga rasanya kalau buku yang sedang ada di tangan kita adalah milik sendiri walaupun statusnya adalah alih pinjam, atau hak milik paksaan.

Sebenarnya buku diperlukan tidak hanya saat mengerjakan tugas saja. Sebagai mahasiswa kita harus mempunyai wawasan yang luas, sehingga kita tidak terbatas hanya membaca buku yang berkaitan dengan studi kita saja. Namun tuntutan bertahan hidup sebagai mahasiswa ternyata lebih kuat dibanding tuntutan untuk membaca buku.  Maksudnya, sebagai mahasiswa kita cenderung lebih memilih menggunakan uang yang ada untuk jajan, ongkos jalan ataupun makan dibanding untuk membeli buku. Memang sih agar bisa membaca kita tidak harus beli buku karena bisa pergi ke perpustakaan. Namun, bagaimanapun juga rasanya agak malas kalau kita mesti wara wiri ke perpustakan dulu untuk pinjam buku, sehingga akhirnya buku pun tidak selesai dibaca.

Berbeda jika kita memiliki buku itu sepenuhnya. Kita bisa baca kapanpun kita sempat dan dimanapun kita mau. Namun balik lagi ke masalah utama mahasiswa, kantong kiri dan kanan yang selalu terasa pas-pasan. Apalagi buku makin kesini makin mahal. Nah alasan inilah yang mendasari 3 orang mahasiswa UI asal Fakultas Kesehatan Masyarakat yang bernama Bagus Pramudito, Ulfathny Pertiwi dan Ulfa Izzatunisa membuat sebuah platform digital berbasis website untuk berbagi buku antar sesama. Platform yang mereka namakan “Bagibook” ini memungkinkan seorang  menghibahkan bukunya kepada orang lain, bisa kepada teman, saudara, adik kelas bahkan orang yang tidak dikenalnya sekalipun.

 

BACA JUGA: 7 Aplikasi Ponsel Pintar yang Maba Harus Punya!

 

advertisement

“Dengan platform Bagibook, seorang kakak tingkat yang sudah mau lulus bisa hibahkan bukunya ke adik tingkatnya, itu akan lebih worth it dan mengurangi beban bawaan juga kalau dia mau pindahan kos atau tempat tinggal”, ujar Ulfathny salah satu co-founder Bagibook.

Ia juga menambahkan bagi mahasiswa yang jadwal kuliahnya padat tidak perlu khawatir untuk memikirkan transportasi bukunya, karena Bagibook bisa membantu urus antar-jemput pengirimannya melalui mitra mereka, tentunya dengan biaya yang sangat terjangkau.

 

Founder Bagibook

Saat ini Bagibook sudah siap meluncurkan platform berbagi bukunya secara publik. Bahkan menurut founder-nya Bagus Pramudito, sudah ada beberapa orang yang tergabung menjadi member dan telah mencoba fitur yang ada. Fitur-fitur yang sedang fokus dikembangkan Bagibook saat ini adalah fitur hibah buku dan barter buku. Nantinya akan ada sistem poin yang diberlakukan untuk setiap transaksi.
“Jadi para giver (istilah bagi penghibah buku) akan dapat poin setiap upload buku nya untuk dihibahkan dan selanjutnya bisa ditukar reward menarik. Selain itu setiap 10 buku berhasil tersalurkan, Giver akan mendapatkan 1 buah buku baru atau voucher belanja di toko buku”, sambung Ulfa Izzatunissa (co-founder). Sistem ini dibuat untuk menarik minat member agar lebih sering berbagi buku.

Tampilan Homepage Bagibook

Tentu saja sistem berbagi buku seperti ini akan memudahkan kita untuk bisa mempunyai buku bacaan. Disisi pemilik buku, platform ini juga dapat jadi media yang baik untuk menambah nilai buku dan menambah pahala juga. Dari pada buku kita yang sudah tidak dibaca numpuk bersama barang bekas berdebu, akan lebih baik dan bernilai jika kita salurkan kepada orang lain yang membutuhkan.  Nah buat teman-teman yang penasaran dan ingin mencoba bisa kunjungi bagibook.com atau follow fanpage bagibook untuk dapat update terbaru.

 

BACA JUGA: TemanJalan, Saat Sebuah Aplikasi Buatan Mahasiswa UI Menjadi ‘’Penyambung Nyawa’’

advertisement



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😍 (83%)
  • 😒 (17%)
  • 😭 (0%)
  • 😡 (0%)
  • 😮 (0%)
  • 😆 (0%)
  • 😊 (0%)