Pada suatu percakapan syahdu dengan seseorang alumni mantan Wakabem FISIP  yang penulis lupa di mana terjadinya, entah kenapa di situ muncul sebuah pertanyaan yang cukup menarique, ‘’Fakultas apa sih yang paling tinggi rasa solidaritasnya di UI?’’. Tanpa basa-basi, doi langsung menjawab, ‘’TEKNIK!’’ (padahal doi anak FISIP (Fakultas Sip dah Pokoknya). Dengan jawaban yang sama, penulis menanyakan hal yang serupa kepada para mahasiswa dari yang semester awal, tengah, sampai yang nggak tau dah udah semester berapa saking banyaknya. Mungkin, jika ditanya kenapa? Ya jawabannya simpel karena Teknik adalah fakultas dengan sarang laki-laki terbanyak. Akan tetapi, nggak semuanya pria selalu berkutat dengan hal-hal yang berbau eksakta. Dia yang suka dengan kata-kata dan seni menjadikan FIB sebagai rumah keduanya atau dia yang paham banget mengenai kepribadian manusia menjadikan F.Psi sebagai taman surgawinya untuk menuntut ilmu dan begitu pun dengan pria-pria lainnya yang bertebaran di 14 fakultas di UI.

Lalu, persoalannya ialah para kaum adam itu harus ngampus di tengah mayoritas kaum hawa. Bukan bermaksud mempersoalkan gender, tetapi berbagai dilema-dilema kehidupan harus dijalani oleh para kaum adam (yang sebenarnya sih nggak seharusnya dirasain). Uniknya, meskipun tiap-tiap fakultas punya culture yang berbeda-beda, dilema-dilema yang mereka rasakan hampir sama! Sebagai pria yang hidup di zaman gorengan udah dua ribu cuman dapet satu kalau jajan di kantin MUI, nggak bisa dipungkiri lagi, penulis merasa semakin ke sini kayaknya emang cuman Fakultas Teknik aja yang cowonya paling banyak. Itu artinya, makin sedikit fakultas yang dihuni oleh mereka ‘Si calon kepala rumah tangga’. Lalu, emangnya dilema-dilema apa aja sih yang katanya hampir semua dirasain oleh mereka yang harus ngampus di tengah banyaknya ladies?

 

Bakal Duduk di Mana Nih Gua?

“Bakal duduk dimana nih gua?”

Buat yang ngampus di fakultas dengan mayoritas pria, mungkin hal ini ga kepikiran di kepala atau lebih singkatnya, ini masalah sangat sepele. Masalah tar lo duduk di mana, sepele banget nggak sih? Well, inilah yang mereka rasain. Saat si cowok masuk ke dalam kelas yang dipenuhi wewangian parfum dari A-Z, mendadak penyakit KUPER pun menyerang (apalagi hari pertama). Kalau datang telat, nggak ada pilihan lain buat duduk di area terdepan deket komuk si dosen. Seketika rasa paranoid menyelubungi kepala, rasa paranoid yang berisi ketakutan bakal ditanya-tanya dengan pertanyaan yang mencekam, ‘’Eh kamu yang cowo sendirian di depan, sudah sampai mana pelajaran kita minggu lalu?

Duaarr…

Makanya, mereka akan sekuat tenaga biar datang nggak telat-telat amat. Cuman buat satu tujuan, apalagi kalau bukan ke kantin terlebih dahulu buat nyari temen biar bisa masuk berjamaaah untuk nyari spot buat  tidur belajar di kelas yang paling belakang dekat AC. Dengan begini, mereka akan sama-sama saling bergantung satu sama lain.

advertisement

Tapi, tetap aja…

‘’Eh itu cowok-cowok yang di belakang! Sudah sampai mana pelajaran kita minngu lalu?’’

Seenggaknya, mereka akan lebih kalem sebab bakal nengok satu sama lain dengan komuk pucet kayak nahan B.A.B.

‘’Eh bro, udah ampe mana bro?’’

‘’Lah, Minggu lalu gue kan nggak kelas bro.’’

Duaaarr….

advertisement

Mungkin karena memang kalah jumlah, entah kenapa  di mata dosen, mereka kayak diamond yang pualing bersinar di antara diamond-diamond lain (padahal diamond-diamond lain lebih syahdu buat ngejawab). Hanya si dosen dan Tuhanlah yang tahu kenapa kaum minoritas adam selalu jadi sasaran empuk buat dilempari pertanyaan-pertanyaan. Penulis sih cuman bisa berkata, ‘’Yah, saya juga prihatin’’.

 

BACA JUGA: Kamu Cowok Teknik? Berbahagialah karena Kamu Istimewa Di Mata Kami

 

Dilema Focus Group

Hayo gimana (via pt.linkedin)

Temenan bagi anak cowok merupakan salah satu hal yang paling simpel. Tinggal say Hei!, nongkrong di kantin, ngobrolin hal-hal dari hasil pengamatan yang nggak penting sampe ngomongin dosen, salah satu ada yang nraktir Ind*eskrim, Jebret! Langsung deh, channel pertemanan kamu bertambah. Kalau mau  naik level ke tingkat sohib? Gampang! Nginep di kostannya dan mulailah transaksi hutang-piutang. Yep, bener sesimpel itu! Tapi, gimana kalau kasusnya harus ngebaur di kelas yang tingkat minimum frekuensi cowonya ekstrem, contoh di FIK atau di FIB (antara 2—4 cowo dari kisaran 35 mahasiswa perkelas!) Pasti! Pada saat itu juga langsung deh nyebur ke lagunya Raisa—”Serba Salah”.

Saat mereka sudah mulai masuk ke dalam dunia perkuliahan yang diisi dengan laporan bacaan, beserta presentasi yang dipadu dengan focus group dan colaborative learning, tanpa disadari bumbu-bumbu cipika-cipiki selama diskusi pun lahir. Biasanya, kalau disuruh bikin kelompok, mereka si kaum mayoritas akan berkoloni dengan sejenisnya. Kebalikannya, mereka si kaum minoritas cuman bisa pasrah ditempatkan di mana saja. Apalagi, kebanyakan selera si dosen yang harus banget minimal ada satu cowok dalam setiap kelompok. Jadinya, yang tadinya udah klop banget sekolompok cowok semua, mau nggak mau disebar kayak bar-bar. Well, seperti yang sudah dibilangin barusan, diskusi aja rasanya kurang syahdu kalau nggak dilengkapin cipika cipiki. Biasanya, waktu yang diberikan diskusi tuh lama banget dan kayaknya lebih banyak waktu buat cipika-cipiki daripada ngebahas tema diskusi. Kalau udah gini, si cewek akan ngomong dengan teman-teman sampingnya. Ngomongin hal-hal dari yang penting sampai yang penting banget.

‘’Eh lihat berita di Line Today pagi ini nggak?’’

‘’Wah, apatuh?’’

‘’Itu lho, si Syahnaz adeknya  Raffi Ahmad!’’

‘’Oh iya? Kenapa kenapa, dia hamil?’’

‘’Hush, bukan itu!’’

‘’Doi sekarang udah bisa masak TELOR MATA SAPI!’’

Hingga pada detik ini, si cowok cuman bisa tersenyum maksa sambil bertopang dagu untuk ngerespon (itupun juga kalau diajak) atau kegiatan lainnya ngebuka HP buat chatting sama Sim-Simi menunggu hingga tibanya suara, ‘’Baik, kita lanjutkan kuliah Minggu Depan’’

‘’Minggu depan kan tanggal merah Pak’’.

‘’Oke, kalau begitu kelas pengganti.’’

Dan, seketika hening.

 

Suka Terseret Arus Ombak Drama

Bener nggak sih cewek-cewek suka drama? (via arynews.tv)

Well, dari judulnya aja kamu udah bisa nebak bakal ngebahas apa bagian yang satu ini. Bukan bermaksud langsung memvonis ataupun bersubjektif, melainkan me-review atas realita yang ada. Ngampus bukan sekadar menuntut nilai akademis aja, ada hal penting lain apalagi kalau bukan sosialisasi. Nyaur di kantin, ikut kepanitian, gabung BEM, semua hal ini yang serunya nggak bakal keulang dua kali. Akan tetapi, bersosialisasi bagi kaum minoritas adam di tengah banyaknya perempuan sepertinya nggak semudah ngebalikin Krabby Patty.  Banyaknya hal-hal seputar drama mulai dari asmara sampai ngomongin sesama ngebuat para kaum adam agak minder dan kurang nyaman. Kalau ngomongin soal asmara, apabila nggak ekstra hati-hati, bisa-bisa si cowok dijadiin kambing hitam pemutus hubungan orang. Lalu, kalau udah terjerumus dalam ngegossip ala si kaum hawa, bisa-bisa nanti kamu keseruan dan bikin kamu nggak kaya pria pada umumnya lagi So, kalau kamu ngelihat temen cowomu yang temen-temnnya di fakultas bisa diitung pake jari, jangan kaget. Mungkin ini udah jadi jalan ninjanya.

 

Tantangan Seberat-Beratnya Adalah Tantangan Menjadi Ketua

Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2017 (via bem.ui.ac.id)

Akan menjadi pertanyan buat kamu kalau salah satu fakultas di UI meskipun udah banyak banget ceweknya, tetapi kalau udah urusan memilih pemimpin, masih aja rata-rata cowok yang megang, Bukan bermaksud mau ngomongin tentang emansipasi, tetapi usut punya usut kenapa hal ini terjadi, ternyata fakta lapangan menyebutkan bahwa cowoklah yang paling sanggup bersifat netral dan nggak berpihak pada kader kepentingan partai manapun (waduh, jadi serius gini).

Yap, sebenarya bagian ini punya kaitanya banget dengan bagian sebelumnya tentang kaum hawa yang selalu identik dengan hal-hal berbau drama. Menjadi penengah atas suatu kasus masalah dan menjadi penenang saat konflik bergejolak merupakan salah satu tugas berat ngelebihin tugas bapak-bapak dewan terhornat yang ada di Senayan.

Katakanlah Si Baharuddin, ketua Himpunan Mahasiwa sastra Italia yang punya mimpi buat jadi aktor B*skuat. Doi sadar kalau keheterogenan di prodinya ngebuat dia harus pandai bersikap netral dan sesuai dengan lawan-lawan bicaranya. Sekarang, dia lagi mimpin rapat untuk nentuin kostum apa yang harus dipakai oleh MABA prodi Italia 2017 pas ospek jurusan yang satu semester lamanya. Kubu A yang diisi oleh para perempuan-perempuan gahoel, kubu B yang diisi oleh para perempuan yang hobinya baca jurnal ilmiah, dan kubu C lelaki sisaan yang isinya paling cuman empat orang. Kubu A pengen kostum dengan motif polkadot ala Gal Gadot, Kubu B pengen kostum yang ada tulisan ‘’Jauhi Rokok’’, dan terakhir kubu C yang ga ada ide apa-apa dan pada akhirnya nurut aja apa kata hasil.

Akhirnya setelah perdebatan yang panjang hingga ada yang left group Line sampe-sampe dibujuk buat masuk lagi, Baharuddin yang udah kucing tujuh keliling berusaha sabar menahan emosi menetapkan hasil dengan melakukan sintesa atas ide dari kedua kubu itu. Alhasil, untuk kostum maba sastra Italia 2017 yang bakalan dipake satu semester penuh adalah kostum dengan tulisan ‘’Jauhi Rokok’’ bermotif polkadot hitam putih ala Gal Gadot. Seketika ucapan terima kasih ngalir deras bukan melalui grup Line, melainkan lewat personal contact, ‘’Makasih Udin panutanqu’’.

Dan,dalam hati Baharuddin cuman bisa bilang, ‘’Huft…’’ .

 

 

Saat Serius Malah Jadi Bahan Candaan

Aku tuh mau serius, tapi kenapa… (via themodernape)

Well, fakta untuk bagian yang terakhir ini, penulis dapatkan nggak sengaja dari suara-suara curhatan empat mahasiswa sastra Jerman yang tidak diketahui namanya saat penulis lagi berduaan sama Lepy di payung FIB. Sebagai mahasiswa yang notabene udah ngerasain bahwa ilmu harus dicari sendiri dan nggak lagi disuapin, pertanyaan-pertanyaan saat proses belajar bersama dosen berlangsung di kelas udah jadi salah satu sarana saling bertukar ilmu. Pertanyaan-pertanyaan yang serius apabila dijawab dengan jawaban yang bagus seketika sanggup buat bikin moodbooster si dosen. Malang, kayanya hal itu nggak berlaku bagi empat sejoli mahasiswa sastra Jerman itu. Yah, gimana nggak, entah kenapa setiap mereka ngelontarin pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya serius eh malah jadi bahan candaan untuk ngidupin susana yang tadi krik… krik… Mungkin berbeda jika pertanyaannya sama tapi yang nanya perempuan. Oleh karena, kalau udah kaya begini, mereka akan jadi minder buat nanya langsung ke dosen padahal mereka pengen banget nanya karena memang nggak tahu dan rada ketinggalan sama temen-temen perempuan lain yang udah pada pinter banget. Alhasil, kaum adam seperti ini akan hanya jadi tim hore di kelas dan merubah ekspektasi yang tadinya, ‘’Yaelah minimal A nih gua matkul ini’’ jadi, ‘’Ah bodo amat dah, yang penting lulus’’.

 

BACA JUGA: Ini Dia 3 Dilema Cowok yang Berkuliah di Psikologi UI

 

Sampai pada akhirnya tulisan ini di-publish, sebenarnya masih banyak curhatan-curhatan lain yang sekali lagi penulis ingetin bukan bersifat prediktif bin fiktif namun ini dari curcolan saat ngobrol-ngobrol di kampus. Sebagian cowok mungkin bakalan seneng karena ngerasa uneg-unegnya udah dikeluarin lewat tulisan ini dan sebagian lagi mungkin bakal ngerasa B-aja. Apapun itu, actually, dari sisi kacamata positif, bagi kaum adam yang harus ngampus di tengah mayoritas kaum hawa bisa menjadikan ini semua sebagai sarana softskills dalam bersosialisasi sebelum masuk ke dalam dunia kerja nanti. Semakin heterogen kampusnya, semakin gokil buat jadi  mahasiswa yang asyik buat nongkrong di mana aja. Terlebih, buat kamu wahai para calon kepala rumah tangga yang masih merasa kuper, mulailah mencoba melebur ke dalam lingkungan fakultasmu itu. Banyak hal-hal unik yang bisa kamu dapatin dan ngebuat duniamu semakin berwarna because some people are meant to be with other people and you are no exception 😉



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😭 (50%)
  • 😆 (38%)
  • 😒 (13%)
  • 😡 (0%)
  • 😮 (0%)
  • 😍 (0%)
  • 😊 (0%)