Life is a journey that must be traveled no matter how bad the roads and accommodations.”(Hidup adalah perjalanan yang harus dilalui tak peduli betapa buruk jalan dan akomodasi-Oliver Goldensmith)

Tanpa kita sadari, tiba-tiba kita sudah berada dalam fase kehidupan sekarang dimana dulu menyebutnya sebagai masa depan. Apakah masa sekarang merupakan masa depan yang kita inginkan atau masa depan yang kita tidak pernah menyangka bahwa kita akan seperti sekarang ini. Waktu yang terus berputar, berjalan, tidak pernah berhenti, apalagi kembali kepada masa yang lalu.

Impian. Bagaimana cara kita meraihnya? Dalam perjalanan hidup ini, terkadang kita sedih, terkadang kita senang. Kita bisa jatuh atau bangkit. Bahkan dalam sedih dan senang bisa terjadi secara bersamaan. Gagal atau sukses. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita pilih. Sederhananya adalah yang baik atau yang buruk yang akan kita pilih. Pilihan apa yang yang akan kita jalankan?

Tidak selalu kita bisa berhasil, terkadang kita jatuh. Yang terasa adalah sakit. Terkadang kita dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit, kita benar-benar tidak tau bagaimana menyelesaikannya. Tapi, kita tetap berjalan menuruti Sang waktu yang terus berputar. Tidak peduli meskipun kita diam, kita tetap berjalan diatas Sang Waktu yang menuntut kita untuk terus berjalan. Tanpa kita sadari semuanya berubah. Kita bukan lagi kita yang dulu, kita menjadi baru. Berbeda.

Bagaimana caranya? Bagaimana agar bisa survive di perjalanan yang berbatu tajam ini? Percaya bahwa semua akan berakhir dengan baik. Semua ini sudah ada Yang mengatur. Bukankah selama ini setelah kesusahan akan datang kemudahan. Lalu, bagaimana caranya agar kebaikan yang datang adalah kebaikan yang kita inginkan? Tentu saja kita semua tahu jawabannya, berusaha. Lalu apa yang harus kita lakukan? Berjuang mencapai tujuan yang kita impikan dengan baik dan percaya bahwa semua akan berakhir dengan baik.

Sedikit curhat : Waktu dulu SMP tidak pernah menyangka bakal seperti sekarang ini menjadi mahasiswa UI. Dari kecil sudah cita-cita masuk UI, tapi pas udah mulai gede, apalagi pas SMA dimana labil2nya, masuk ke UI seperti sebuah cita-cita atau angan-angan yang begitu besar. Akhirnya, Alhamdulillah bisa kuliah juga di UI. Seneng dan bersyukur banget bahkan ga nyangka bakal jadi mahasiswa UI dan punya jakunnya.

advertisement

Ketika awal2 semester, cobaan dimulai. Sebagai mahasiswa yang statusnya bukan berasal dari jalur masuk reguler, merasa sedikit rendah diri dan agak di diskriminasi. Syukur ternyata sekarang semuanya baik dan berjalan lancar dan diskriminasi hanya sedikit bisa dibilang ga ada. Tapi, yang jadi masalah atau cobaan yang besar bagi gw justru adalah sikap gw sendiri yang kurang memaknai apa yang udah didapetin. Jurusan yang gw jalanin sekarang ini bukanlah jurusan yang gw pengenin. Waktu itu gw milih jurusan ini biar keterima di UI termasuk jurusan paling bagus diantara pilihan yang ada. Sekian lama gw jalanin semua ini dengan kebimbangan buat coba2 ikutan SIMAK lagi, akhirnya gw putusin inilah tempat gw. Gw emang labil dan ga konsisten dengan cita-cita. Setelah 2 tahun sampai sekarang menjalani apa yang ada ini, ternyata banyak batu sandungan. Dan apa yang dijalani sekarang, gw rasakan klo gw masih belum maksimal dengan ini.

Akhirnya gw mencoba merenung dan gw sadar dengan apa yang udah gw jalanin selama ini. Gw kurang bersyukur. Gw ga sadar klo ternyata walau terseok-seok diantara kebimbangan ini bisa tetap disini dan tetep dapet yang baik, walau ga semuanya gw lakukan dengan baik. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang memberikan begitu banyak rezeki dan kenikmatan sampai sekarang. banyak pengalaman dimana gw ngerasa gagal dan stuck untuk meraih cita-cita, tiba-tiba aja kesempatan datang. Selama ini selalu begitu, Alhamdulillah Allah memberi banyak kesempatan. Dan sekarang gw sadar klo yang harus dilakukan adalah brsyukur dan selalu percaya.



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😭 (0%)
  • 😡 (0%)
  • 😒 (0%)
  • 😮 (0%)
  • 😍 (0%)
  • 😆 (0%)
  • 😊 (0%)