Mungkin tak sedikit yang mengira bahwa menjadi mahasiswa UI itu enak. Fasilitas terjamin, punya teman sekelas cerdas-cerdas, dan selalu bisa diandalkan, bahkan tak sedikit yang mengait-ngaitkan kami, para mahasiswa dengan alumni-alumi UI yang sudah sukses.

Mungkin memang itu yang dibayangkan oleh orang-orang, terutama orang tua. Atau mungkin, itukah yang kamu bayangkan?

Maka ketahuilah, beberapa mitos seputar mahasiswa UI di bawah ini sengaja kami tujukan kepada kamu yang selalu menganggap bahwa kami, mahasiswa/i UI berbeda dengan mahasiswa lain. Bukan untuk menyombongkan diri, bukan, sama sekali bukan. Namun, justru untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa kami, mahasiswa/i Universitas Indonesia tidak jauh berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa di kampus lain. Bahwa kami, tidak begitu istimewa.

Anak UI Sudah Pintar dari Sananya

Katanya anak UI pinter-pinter. (Sumber: bempsikologi)

Katanya anak UI pinter-pinter. (Sumber: bempsikologi)

Memang benar bahwa kami yang diterima di Universitas Indonesia, telah melewati tahapan seleksi yang tidak mudah yang bahkan menurut kami, hal ini pun terjadi di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia. Namun, ketahuilah tidak ada yang namanya mahasiswa “sudah pintar dari sananya”. Kita semua, mahasiswa, melewati proses yang sama. Derita tugas tiada akhir. Bagaimana reaksi dan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantanganlah yang membuatnya berbeda.

Karena talenta setiap manusia berbeda, cara belajarnya pun berbeda. Ada orang yang perlu menyetel musik untuk membuatnya rileks dalam menyerap suatu pengetahuan. Ada juga yang membutuhkan situasi rileks saat menjelang ujian, sehingga ia harus menonton film terfavoritnya terlebih dahulu sebelum ujian, atau bisa juga dia berlibur ke suatu tempat untuk membuatnya rileks. Ada juga yang memang kutu buku, yang sedari awal semester sampai saat pesta ulang tahun sahabatnya bacabuku teruuus.

Namun, akankah selalu si kutu buku yang mendapatkan nilai A setelah ujian berakhir? Belum tentu. Tergantung kemana tangan dosen menentukan takdir mahasiswanya. Ketika si kutu buku sudah belajar setengah mampus, lalu tiba-tiba dosen kasih C, dia bisa apa?

advertisement

Sekarang coba tukar posisi. Kamu belajar mati-matian lalu tiba-tiba dapat nilai D hanya karena dosen nggak suka sama kamu? Lalu teman kamu di kampus sebelah seenaknya bilang “Kamu kan anak UI! Sudah pintar dari sananya.” Nah, gimana perasaan kamu? Enak? Selamat menikmati.

 

Anak UI Kaya-Kaya, ke Kampus Bawa Mobil

Anak UI suka bawa mobil, katanya. (Sumber: edorusyanto)

Anak UI suka bawa mobil, katanya. (Sumber: edorusyanto)

Well, memang tak sedikit mahasiswa UI yang membawa kendaraan pribadi. Namun, ketahuilah, tidak serta-merta kendaraan tersebut membuat kami kaya. Lho, kenapa?

Karena, meski ke kampus bawa mobil, sungguh menyakitkan jika harus menghemat makan siang di warteg dengan harga tidak boleh lebih dari Rp 7.000 dan mengingat-ingat bahwa kredit mobilnya belum lunas meskipun sudah bekerja di luar kuliah mencari tambahaan untuk melunasinya, khawatir hilang, atau tergores karena mobilnya bukan punya pribadi, melainkan pinjaman.

 

Anak UI Kaya-Kaya, Tinggalnya di Apartemen

Katanya Anak UI tinggal di apartemen. (Sumber: globalrealtyindonesia)

Katanya Anak UI tinggal di apartemen. (Sumber: globalrealtyindonesia)

Ketahuilah, harga kosan di area sekitar Universitas Indonesia jauuuuuuuuuuuuuh lebih mahal dari apartemen tempat sebagian dari mahasiswa UI menetap. Dan ketahuilah, meski harga sewa apartemen kami Rp 2.000.000-an, faktanya, kami tidak menyewa 1 kamar apartemen untuk 1 mahasiswa, melainkan untuk 5 orang atau bahkan ber-10 (jika nggak ketahuan).

advertisement

Itu pun, ketika hari Minggu atau libur nasional tiba, kami bisa bernafas lega atau bahkan bersujud syukur. Kenapa? Karena kami berterimakasih pada situs-situs yang membantu kami untuk menyewakan kamar di apartemen kami. Ya, kamarnya kita sewakan secara online. Karena di saat libur tiba, tidak ada orang yang menempati. Ada yang pulang kampung, ada yang naik gunung, dll. Sehingga kami pun mendapat penghasilan tambahan yang cukup untuk memenuhi stok makanan bulanan kami.

 

Anak UI Kuliahnya Enak, Fasilitasnya Lengkap

Fasilitas anak UI lengkap.

Memang betul fasilitas di Universitas Indonesia bisa dikatakan memenuhi standar perguruan tinggi pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak membuat perkuliahan kami terasa enak-enak saja.

Ketahuilah, penambahan fasilitas seperti perpustakaan atau laboratorium, membuat kami pingsan setengah mati. Kenapa? Ya, karena TUGAS! Oh my… Semakin susah cari alasan untuk tidak mengerjakan tugas, semakin susah untuk menarik nafas dan menikmati hidup. Tidak seperti kamu yang kalau sore nggak ada kelas masih bisa tidur siang dan bermalas-malasan. Ketahuilah, bahwa istilah “tidur siang” adalah suatu kemewahan tersendiri bagi kami yang berkuliah di kampus perjuangan ini.

 

Anak UI Kuliahnya Enak, Abis Lulus Koneksi Alumninya Banyak

Pengusaha-UI-Chairul-Tanjung

Memang betul bahwa tak sedikit alumni Universitas Indonesia yang meraih puncak kesuksesan.Lalu, apakah hal tersebut memiliki relevansi tertentu terhadap kesuksesan kami yang baru lulus kuliah?

Ketahuilah, bagi kami yang baru lulus kuliah, kami tidak serta-merta bisa seenaknya datang ke Nicholas Saputra dan berkata “Hai kak, aku alumni UI loh, bagi kerjaan dong.” lalu berharap bisa sukses cepat. Ketahuilah, bahwa untuk ketemu alumni yang sukses itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kalaupun ketemu, tidak akan terjadi hal yang istimewa.

“Oh, jadi kamu lulusan UI juga? Aku juga, lho. Angkatan berapa? Jurusan apa?”

“Iya, kak. Angkatan sekian, Kak. Jurusan anu, Kak.”

“Oh, gitu. Wah, seru ya. Bla bla bla… Oke, bye.”

Begitulah.

Sebenarnya masih banyak mitos lain yang rasanya perlu kami ceritakan, namun, kami harap dengan sekelumit mitos yang ada di atas, kamu bisa sadar. Sadar, bahwa kami tak jauh berbeda dengan kamu. Mahasiswa biasa dan tidak teristimewa.

Kenapa kami menulis ini? Karena kami menganggap keistimewaan itu TIDAK terletak pada kampus mana kamu menuntut ilmu. Namun, cara kamu beradaptasi terhadap tantangan hiduplah yang mampu membuat kamu, dan setiap mahasiswa, menjadi istimewa. Jika kamu setuju, maka jangan sungkan untuk membagi tulisan ini melalui Facebook, Twitter, dan LINE kamu. Sekedar bekomentar pun tidak masalah, karena dengan berdiskusilah kita bisa mengasah tidak hanya kecerdasan intelektual, namun juga kecerdasan sosial.

 



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😍 (46%)
  • 😭 (15%)
  • 😊 (11%)
  • 😒 (9%)
  • 😆 (7%)
  • 😮 (6%)
  • 😡 (5%)