Banyak orang yang berhasil bukan karena bakatnya, tetapi karena kemauannya bekerja keras dan nyalinya yang kuat untuk mengambil kesempatan yang ada. Sebagai pejuang beasiswa S2, kamu pun harus memiliki mentalitas yang sama! Untuk melengkapi amunisi persiapan pendaftaran beasiswa S2, kamu sebaiknya mempersiapkan beasiswa S2 sejak kuliah S1!

“Ga kelamaan ya?” mungkin begitu pertanyaan kamu, tetapi rata-rata proses seleksi pendaftaran hingga penerimaan beasiswa di negara-negara berkembang itu mencapai satu tahun sendiri loh! Kalau kamu ga mulai mempersiapkan beasiswa S2 sejak sekarang, bisa-bisa kelamaan nganggur atau malah terpaksa menjalani aktivitas lain yang sebenarnya tidak begitu kamu suka.

 

1. Mulai mencari informasi beasiswa incaranmu sedini mungkin

Dengan maraknya penyebaran informasi melalui media sosial, apa sih yang ga bisa kamu cari tahu di dunia ini sekarang? Begitupun informasi beasiswa S2. Buat daftar institusi penyedia beasiswa sebanyak-banyaknya beserta persyaratan dan kemungkinan deadlinenya.

Dengan memanfaatkan daftar itu, kamu bisa merancang rencana persiapan ke depannya dan mulai menandai kalender dengan deadline yang kamu tetapkan sendiri.

Kebanyakan beasiswa di negara-negara Eropa dan Amerika sudah menutup pendaftaran bahkan satu tahun lebih sebelum tahun ajaran yang kamu inginkan dimulai. Ini berarti, jika kamu ingin langsung melanjutkan S2 setelah lulus kuliah, selambat-lambatnya kamu sudah harus mempersiapkan semua persyaratan sejak tingkat tiga dan segera mengirimkannya bahkan sebelum semester ganjil di tingkat empat dimulai.

advertisement

 

2. Isi resumemu sebaik-baiknya

Percuma desain resume seatraktif apapun kalau isinya tak lebih dari sekedar biodata. Dengan mempersiapkan sejak jauh-jauh hari, kamu memiliki lebih banyak waktu untuk menambah koleksi pengalaman kamu. Mengisi resume memang menjadi alasan yang sangat dangkal untuk mengikuti berbagai aktivitas yang menarik, namun tak bisa disangkal satu-satunya cara bagi mereka di luar sana, yang tidak mengenalmu, untuk mengakui kemampuanmu adalah melalui resume.

Kampus-kampus di Eropa sana sudah bersahabat dekat dengan budaya relawan. Untuk menjadi sejajar dengan pendaftar dari negara sana, kamu harus menunjukkan kalau kamu setidaknya selevel dengan mereka dari segi pengalaman relawan.

Bahkan tak sedikit beasiswa yang diberikan dengan tajuk future leaders. Beasiswa-beasiswa seperti ini biasanya mensyaratkan keaktifan di organisasi-organisasi sosial, selain tentunya kekuatan di bidang akademis.

 

3. “Dekati” dosen yang sesuai dengan minatmu

Dosen-dosen kamu tentunya sudah membangun relasi profesional dengan dosen-dosen lain di luar sana dan hal ini harus bisa kamu manfaatkan. Dengan mendekati dosen yang sesuai dengan minatmu, kamu bisa mendapatkan info orang dalam tentang penelitian yang sedang hangat di bidang tersebut. Pengetahuan akan hal baru ini bisa digunakan untuk menulis rancangan penelitian nantinya. Jika rancangan penelitian kita meliputi hal-hal yang baru, tentu saja banyak calon pembimbing yang akan tertarik dan memudahkan perjalananmu menuju beasiswa.

advertisement

Selain itu, coba bergabunglah dengan grup penelitian dosenmu. Mungkin kamu akan merasa seperti anak bawang pada awalnya, tetapi bekerja keraslah dan tunjukkan potensimu. Jika hasil penelitianmu memuaskan, bukan tidak mungkin sang dosen akan mengajakmu pergi ke konferensi tertentu. Selain itu tentunya penelitian ini akan memudahkan perjalanan skripsi dan memperindah resumemu.

Memiliki relasi yang baik dengan dosen juga akan memberikan kemudahan saat kamu membutuhkan surat rekomendasi untuk pendaftaran beasiswa S2 nantinya.

 

4. Baca jurnal yang sesuai dengan minatmu

Membaca jurnal memang bisa mengembangkan wawasanmu di bidang yang ingin kamu tekuni kelak. Tetapi, dengan membaca jurnal, kamu juga memperkaya wawasan tentang orang-orang berpengaruh di bidang tersebut. Lakukan riset ekstra untuk mengetahui siapa orang-orang itu, bagaimana latar belakangnya, sebesar apakah grup penelitian mereka, dan mungkin saja di website personal mereka kamu akan menemukan lowongan menjadi asisten peneliti sekaligus beasiswa S2.

Jika kamu sudah mempelajari dengan baik tentang mereka dan jurnal yang mereka publikasikan, tak ada salahnya jika kamu langsung mengirimkan email kepada mereka menyatakan ketertarikan kamu untuk bergabung dengan grup penelitian mereka. Biasanya, mereka akan membalas email tersebut. Jangan langsung mengirimkan email lagi jika mereka belum membalas emailmu. Menunggu satu sampai dua bulan adalah hal yang wajar, mengingat betapa sibuknya mereka. Jika sudah lebih dari dua bulan, cobalah untuk follow up lagi.

Jika kamu beruntung, dosen-dosen ini akan membuka pintu-pintu beasiswa yang biasanya tidak tersedia informasinya di domain publik. Jangan malu-malu atau takut salah, selama kamu menjaga kesopanan dan etika, hajar saja setiap kesempatan yang ada!

 

5. Kembangkan koneksi

Jika tadi kita sudah membahas koneksi dengan dosen dan “calon dosen pembimbing” maka kali ini, kembangkanlah koneksi kamu dengan siapa saja karena rejeki sering datang dari arah yang tidak diduga.

Mungkin kamu bisa mengikuti forum online yang sesuai dengan bidangmu dan aktif di sana. Atau dengan mengikuti organisasi yang lingkupannya luas melebihi sekedar kampus. Kamu juga bisa mulai menjalin pertemanan dengan orang-orang yang sedang menempuh pendidikan di kampus yang kamu inginkan. Buang gengsimu! Gunakan strategi jemput bola, ajak mereka kenalan duluan dan kembangkan koneksimu seluas-luasnya.

 

6. Siapkan Plan B, Plan C, …

Kenapa? Karena selain menyiapkan untuk kesuksesan, kita juga harus bersiap menghadapi kegagalan. Jika rencana besar kamu gagal, jangan langsung terduduk dan terdiam. Segeralah bangkit dan lakukan Plan B, Plan C, dan seterusnya.

Menurut kami, mempersiapkan beasiswa S2 mutlak dilakukan sejak masih kuliah S1. Waktu yang lenggang membuat persiapan kita matang dan melindungi kita dari tindakan ceroboh akibat keterburu-buruan. Ayo persiapkan mulai dari sekarang!


Photo Credit: inACtion via Compfight cc



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😊 (62%)
  • 😍 (14%)
  • 😮 (11%)
  • 😆 (5%)
  • 😒 (5%)
  • 😭 (3%)
  • 😡 (0%)