Menjadi sarjana dan memeroleh gelar adalah hal yang tentunya didambakan oleh banyak mahasiswa. Walaupun nggak semua, namun terbilang banyak yang mengharapkan akan mendapatkan pekerjaan setelah lulus. Dengan harapan akan hal tersebut, banyak mahasiswa yang mulai mempersiapkan banyak hal yang dibutuhkan untuk menghadapi kehidupan pasca lulus nanti: ada yang mulai join banyak organisasi baik untuk melatih kemampuan komunikasi, memperluas relasi, maupun sekadar memperindah CV, ada yang mulai ningkatin IPK-nya, dan juga ada yang mulai nyari koneksi ke senior.

Hal-hal tersebut sah-sah saja tentunya, toh semuanya baik. Namun, dalam upaya mempersiapkan diri memasuki dunia kerja, terdapat beberapa kekeliruan yang ternyata malah kontraproduktif. Yuk mari kita bahas beberapa kekeliruan itu di sini:

Wadah untuk Mengembangkan Kemampuan Komunikasi

Komunikasi di dunia kerja (via fosterandbridgeindonesia)

Sebagaimana sudah diketahui, dalam beberapa pekerjaan, dibutuhkan kemampuan komunikasi. Bahkan, dalam sesi wawancara pekerjaan pun kemampuan itu mutlak dibutuhkan. Kekeliruan yang sering terjadi di sini adalah kekeliruan dalam memilih wadah dalam melatih kemampuan tersebut, misalnya: ingin mengembangkan kemampuan komunikasi dengan ikut organisasi/kepanitiaan, namun malah masuk bidang/biro/bagian/divisi yang tidak mendorong untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, atau mengikuti banyak organisasi/kepanitiaan sekaligus di luar batas dengan tujuan bisa mengembangkan kemampuan komunikasi, namun yang ada malah nggak kepegang sehingga manfaat yang dituju nggak kesampean.

Maka dari itu, yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah cermati betul pilihan wadah dalam melatih kemampuan komunikasi. Kalo cocok di suatu bidang di suatu organisasi buat ngembangin kemampuan tersebut, bagus. Namun, kalo ternyata nggak cocok ya nggak usah dipaksakan. Ada banyak wadah lain, seperti mengajar secara voluntary, mengajar privat, bahkan latihan di depan cerminpun bisa jadi alternatif.

 

Cara Melatih Kemampuan Bahasa Asing

Belajar bahasa asing itu perlu! (via naz.edu)

Beberapa lowongan pekerjaan juga mensyaratkan kemampuan berbahasa asing, tentunya biasanya bahasa Inggris. Ada beberapa mahasiswa yang memulai start yang bagus dengan mengambil les bahasa asing. Ada juga yang belajar secara otodidak. Namun, yang perlu diperhatikan di sini adalah tidak semua orang bisa cocok dengan suatu cara. Apabila ada teman yang bisa langsung jago dengan les, bukan berarti kamu juga harus les, juga apabila ada teman yang bisa langsung jago dengan main game dan menonton film, bukan berarti kamu juga harus main game dan menonton film begitu saja. Coba evaluasi cara belajarmu, apabila memang benar-benar tidak memberikan pengaruh terhadap kemampuanmu dan tidak ada peningkatan sama sekali, baru kamu perlu mempertimbangkan dan menengok cara lain untuk kamu coba. Jadi, tidak sekadar ikut-ikut orang lain yang memang cocok dengan suatu metode.

advertisement

 

BACA JUGA: Endless Question: Mendingan Kuliah 4 apa 3,5 Tahun Ya?

Soal IPK

Eta terangkanlah! (via townsonsam)

Terdapat perdebatan mengenai urgensi IPK. Ada yang billang bahwa IPK itu nggak penting-penting amat, lebih penting kemampuan organisasi dan komunikasi, ada juga yang bilang IPK adalah kunci. Bagaimanapun, ketika melamar pekerjaan nanti, yang pertama dilihat adalah IPK, apabila di bawah batas minimum yang dipersyaratkan, kemungkinan lolos ke tahap berikutnya akan sangat kecil. Soal IPK, tentunya apabila bisa mencapai angka yang tinggi jelas bagus karena tentunya akan menjadi nilai lebih dibanding pelamar lain yang IPK-nya biasa-biasa saja, namun apabila tidak tercapai, setidaknya pertahankan pada angka yang dipersyaratkan perekrut kerja atau pemberi beasiswa. Apabila masih belum bisa juga, berarti harus bekerja lebih keras pada hal-hal lain yang bisa menarik perhatian perekrut pekerjaan.

 

Ilmu yang Dipelajari Selama Kuliah

Kuliah pake jakun ni (via humas.ui)

Jangan pernah meremehkan yang satu ini. Apabila kamu melamar kerja di posisi yang sejalur dengan jurusan kuliah yang kamu ambil, itu berarti kamu harus benar-benar menguasai ilmu yang kamu pelajari di jurusanmu itu betul-betul. Sebab nantinya, yang dominan dapat membuatmu survive di pekerjaanmu (apabila sesuai dengan jurusan kuliah) kelak adalah kemampuanmu dalam menyelesaikan pekerjaan yang diberikan yang mana dibutuhkan pengetahuan yang bersumber dari keilmuanmu mengenai hal tersebut. Maka dari itu, perlu untuk memantapkan kembali ilmu yang sudah dipelajari selama kuliah, bahkan kalo perlu ulang-ulang lagi pelajaran dari semester 1 sampe semester 8.

 

advertisement

Manajemen Emosi

Salah satu kunci sukses adalah manajemen emosi (via positivepsycologhyprogram)

Ada tiga hal yang paling penting pada poin yang terakhir ini: pertama, menjaga kepercayaan diri. Kedua, mengusir segala ekspektasi, namun tetap mengokohkan tujuan. Ketiga, menyuburkan terus semangat untuk melakukan anjuran yang sebenarnya klasik, namun sangat-sangat berguna: kerja keras. Ketiga hal itu harus di-cek terus secara berkala agar tetap konsisten dalam melakukan hal-hal produktif pada saat proses melamar dan menjalankan pekerjaan.

 

BACA JUGA: Katanya Anak UI Kaya-kaya, Pintar dari Lahir, Kuliahnya Enak, Abis Lulus Pasti Sukses. Bener Nggak Sih?

 

Kelima hal itu dianjurkan untuk kamu pikirkan lagi apabila kamu memang ingin mencari pekerjaan yang mensyaratkan pengalaman akademis selepas lulus nanti. Mungkin kebutuhannya akan berbeda apabila kamu ingin membuka usaha sendiri atau ingin meneruskan bisnis keluargamu. Juga mungkin akan berbeda apabila kamu berpikir untuk bekerja secara freelance.



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😍 (100%)
  • 😭 (0%)
  • 😡 (0%)
  • 😒 (0%)
  • 😮 (0%)
  • 😆 (0%)
  • 😊 (0%)