Jakarta, 17 April 2011

SECANGKIR KOPI PAGI DENGAN BAPAK
( Untuk mu kawan ku, yang sedang begitu rindu pulang ke rumah )

Selalu begini, setiap Senin pagi, karena secangkir kopi.
Menjadi mahasiswa membuat ku mengambil pilihan sulit. Rutinitas kampus membuat ku sering tidak dapat pulang ke rumah, atau setidaknya tidak pulang ke rumah “tepat waktu”. Saat pulang kerumah, dikala semua urusan kekampusan telah rampung, biasanya adalah tengah malam, seperti malam tadi. Sebenarnya sih, aku jadi pulang malam begitu, kalau tidak karena sedang apel ke pacar ku, ya sehabis mengajar bimbel.

Tapi, memang semenjak semester pertama saja, aku sudah tidak bisa sering pulang ke rumah, aku memilih hidup mengekos, kalau benar sebutannya begitu. Alasan ku saat itu, karena kegiatan penerimaan mahasiswa baru, dan tetek-bengek pernak-pernik kegiatannya, membuat ku harus sering pulang malam. Belum lagi jika menghitung berapa lama waktu yang ku habiskan untuk bermacet ria di jalan pergi maupun pulang, rasanya malas sekali pulang ke rumah.

Awalnya, satu bulan pertama waktu mahasiswa baru aku kuat, kemudian setelah itu rasa lelah, bosan, dan penat yang menang. Aku ajukan permohonan izin untuk hidup mengekos saja ke orang tua. Awalnya mereka menolak, awalnya terkait biaya, lalu soal rumah yang bakal jadi makin sepi kalau aku mengekos. Maklum keempat kakak ku sudah hidup mandiri, praktis kalau aku bermukim di Depok, di rumah tinggal tiga orang.

Rumah orang tua ku sebenarnya tidak terlalu jauh dari kampus. Kawasan Mampang Prapatan, Buncit Raya, Jakarta Selatan, bisa ditempuh selama paling lama satu jam. Itu sudah dengan macet kelas biasa. Kalau macet kelas luar biasa, aku pernah sampai rumah setelah tiga jam di jalan raya. Selalu begitu, setiap pagi dan sore. Huff…

advertisement

Kasihan melihat ku selalu pulang ke rumah dengan fisik yang remuk redam dan semangat belajar yang meredup, akhirnya permohonan hidup mengekos ku diterima Bapak Ibu. Resmilah sejak bulan kedua aku jadi mahasiswa di Universitas Indonesia, aku hidup mengekos.

Aku sewa kamar kos yang selayak mungkin dan semurah mungkin. Ku dapatkan kamar kos yang cukup jauh, di jalan Ahmad Kahfi sana, di jalan belakang kantor kelurahan Kukusan, di sebelah peternakan sapi. Lokasi yang sangat sepi sebenarnya, tapi ini yang terbaik yang bisa ku dapatkan.

Setahun, dua tahun, sampai akhirnya tahun ketiga, aku habiskan di kosan. Senin sampai Jumat, terkadang sampai Sabtu aku habiskan di tanah rantau kota Depok. Akhir minggu aku pulang, seharian di rumah bersama Bapak Ibu dan ade ku.
Hidup di kosan sebenarnya membuat aku sering kesepian, biasanya bersama Bapak Ibu dan Adik Kakak, sekarang sendiri. Apa-apa sendiri, makan-makan sendiri, cuci baju sendiri, tidur juga aku masih sendiri, belum ada pasangan hidup.

Seringkali memang banyak teman batang berkunjung kekosan, menjadi satu penghiburan. Pacar juga, sering datang berkunjung, membwa satu dua makanan, atau menemaniku bermain musik di teras, atau menonton DVD. Tapi, tetap saja aku merasa kesepian, kawan ku. Biar bagaimana pun, siapa sih yang bisa menggantikan peran keluarga ?

Maka jadilah kesempatan pulang ke rumah jadi hal yang begitu istimewa buatku. Tidak pernah aku mau ikut kegiatan, yang tidak amat-amat penting, apalagi cuma jalan-jalan iseng, di akhir minggu. Terserah teman atau organisasi mau bilang apa, yang jelas aku ingin pulang dan lalu di rumah saja seharian.

Sudah aku ceritakan, aku pulang ke rumah saat malam sudah larut. Jadi biasanya aku tidur saja, jarang sempat melakukan apa-apa. Terbangun dini hari menonton bola, itu juga kalau Barcelona yang sedang main. Saat subuh, jarang memang aku solat di masjid, aku solat di rumah, untuk kemudian, kalau tidak mengerjakan sesuatu, ya tidur lagi saja.

advertisement

Setelah bangun tidur, ritual itu aku lakukan dengan bapak. Biasanya bapak yang sudah mulai duluan. Di ruang tamu, sekaligus ruang keluarga, kalau tidak sedang ada tamu. Sambil membaca koran pagi hari.

Diatas meja, diantara tumpukan koran, seperti biasa, sudah ada secangkir kopi buatan ibu. Hanya secangkir kopi, untuk aku berdua bapak. Tidak pernah ibu buatkan dua cangkir kopi. Entah sejak kapan aku menyadarinya, tapi ini sudah lama sekali. Ritual berbagi secangkir kopi dengan bapak.

Uap kopi panas masih mengepul keluar dari gelas, beradu dengan udara pagi yang masuk dari celah jendela dan pintu yang terbuka. Pagi itu baru saja dimulai, diantara sela tembok rumah-rumah yang didirikan sembarangan saja, sinar matahari masuk mengintip menyapa dunia yang sedang bangun malas-malas. Udara pagi Jakarta ini memang tidak lagi sebaik dulu, kalau pernah memang ia baik. Namun setidaknya, keramahannya masih sama.

Bapak masih membaca korannya.Diluar, di pohon melati yang 20 tahun lalu ditanam ibu, bunga-bunganya sedang merekah terkena embun. Semerbak mewangi Jasminum sambac, begitu melati dinamakan secara ilmiah, ikut menghias udara pagi, bercampur uap panas kopi Jawa. Aku menunggu, terus menunggu. Menunggu seruputan pertama gelas kopi oleh Bapak.

Tidak lama, setelah kopi dirasa sudah cukup hangat untuk dapat diminum, bapak sisihkan koran yang sedang dibaca ke atas meja. Diangkatnya cangkir kopi dekat-dekat, dihirupnya uap kopi itu perlahan, lalu terjadilah seruputan pertama yang sejenak itu. Seruputan pertama itu biasa diiringi dengan helaan puas dan ucapan syukur oleh bapak untuk Allah. Penanda dimulainya ritual pagi ini seperti biasa.

Seruputan kedua aku yang melakukan, di sisi seberang cangkir yang bapak seruput tadi adalah bagian ku. Setelah itu, seruputan-seruputan selanjutnya kami lakukan bergantian, hingga kopi didalam cangkir tandas. Diringi serangkaian tukar cerita dan saling tanya kabar.

“ Bagaimana kabar kuliah mu “ tanya bapak suatu kali.

“ Oh iya, Pak. Saya sedang masuk tahapan Kerja Praktek semester ini” jawab ku.

“ Berarti setelah ini kamu menyusun skripsi, begitu ya?” tanya bapak lagi.

” mmm, iya sih, tapi tidak langsung begitu, Pa’e. habis ini ada tahapan Usulan Penelitian, baru setelah itu seminar, skripsi, dan sidang “ kata ku menjelaskan.

Oiya, selain bapak, aku memanggil beliau dengan sebutan Pa’e, karena aku dari suku Jawa. Kebanyakan percakapan yang kami lakukan juga berlangsung dengan bahasa Jawa. Bapak berbicara bahasa Jawa, aku menanggapinya dengan bahasa Indonesia, karena sudah lama sekali banyak kosa kata dan dialek Jawa yang aku pelajari hilang dari ingatan, mungkin karena pergaulan.

“ oh begitu ya ? berarti bisa lulus empat tahun ya ? “ tanya bapak penuh minat. Baru saja bapak menyeruput lagi kopi di cangkir.

“ Insya Allah, mohon doanya ya Pak “.

Aku tahu maksud pertanyaan itu lebih menekankan kepada seberapa besar biaya yang akan dikeluarkan keluarga untuk menanggungku. Serta harapan Bapak-Ibu aku menjadi sesuatu di kampus, tidak perlu yang amat-amat hebat, setidaknya aku tidak macam-macam di kampus, selalu lulus mata kuliah, IPK yang normal, serta bisa berfoto dengan bapak rektor waktu wisuda nanti, keluarga sudah sangat bangga. Aku nya yang malah jadi merasa tidak berguna, sudah dibayari mahal-nahal kuliah, tidak jadi sesuatu yang “ besar “ untuk keluarga. Sering aku iru dengan teman-teman yang jadi mapres misalnya, atau dikirim keluar negeri untuk ikut lomba, atau menjuarai kompetisi robot. Paling banter, Alhamdulillah, aku bisa ke Bali dengan beasiswa akibat tulisan ku bersama teman-teman di posterkan untuk seminar Internasional bidang Biologi. Waktu itu, Bapak-Ibu sampai menangis dengar kabarnya. Semenjak itu, aku berjanji akan berbuat sebesar mungkin dikampus ini sebelum akhirnya lulus nanti. Amin.

“ oiya, perpustakaan pusatnya bagaimana? Sudah jadi ya?” tanya bapak ku lagi menanyai kondisi pembangunan perpustakaan megah kampus ku.

“ belum Pa’e, tapi sudah jadi gedungnya, tinggal diisi saja “

“ katanya itu perpustakaan kampus terbesar se Asia ya ?”

“ saya kurang jelas tuh, Pa’e infonya, mungkin se-Asia atau cuma se-Asia Tenggara “ kataku tidak yakin juga. Yang aku tahu, perpustakaan pusat Universitas Indonesia yang sedang dibangun ini memang begitu megah. Pernah sekali waku aku hendak berangkat solat Jumat di Masjid Ukhuwah Islamiya (MUI), aku mencuri kesempatan masuk ke perpustakaan ini, sampai diusir pekerja yang sedang sibuk disitu. Memang begitu megah. Aku dengar malah dari desas-desus teman di BEM, kalau nanti akan ada fasilitas Gymnasium, perbelanjaan, sinema, dan lain-lain. Entah benar entah tidak, tapi kalau benar, waah, ini luar biasa sekali. Aku kira cuma anggota Dewan di Senayan sana yang doyan, maksa-maksa pula, untuk membangun gedung dengan fasilitas serba mewah, ternyata di kampus ku juga ada yang begituan.

Secara objektif sih, aku setuju tidak setuju. Setuju karena memang kita perlu pada saatnya punya fasilitas-fasilitas seperti itu. Yang jadi masalah adalah, sekarang kah saatnya? Kalau aku lihat dari kondisi fakultas ku dan tenaga pengajarnya saja misal, rasanya tidak sekarang waktu yang tepat itu. Eh, ini aku jujur dan terbuka lho, kawan ku.

Aku dengar juga, dari teman di BEM peresmian perpustakaan pusat itu sedang diatur agar bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei nanti. “ pasti untuk pencitraan ‘ begitu cibir teman ku. Tapi, kalau momentum itu dijadikan ajang peresmian perpustakaan nanti, aku akui dampaknya memang pasti dahsyat secara nasional, baik untuk Universitas secara institusi, atau untuk bapak Rektor secara personal.

Ibu datang membawa sarapan sekedarnya untuk kami berdua. Goreng pisang atau nasi goreng, yang kami habiskan juga dengan ditemani secangkir kopi itu.

“ wah, kampus mu hebat ya “ kata bapak ku kagum. Bapak memang begitu bangga aku bisa jadi masuk UI, yang pertama di trah keluarga. Sering bapak ceritakan kegiatan-kegiatan ku dikampus di tempat kerjanya dan diantara saudara-saudara. Ibu juga begitu, saat sedang berdagang batik, diantara koleganya beliau ceritakan aku sedang apa, naik gunung lah, pergi ke laut lah, seminar lah, semester pendek lah, padahal belum yakin aku Ibu mengerti apa itu semester pendek.

“ Ah, namanya juga Universitas Indonesia, Pak. Hehe “ kataku berkelakar, sambil menyeruput bagian kopi ku. Aku sih tidak terlalu bangga bisa kuliah di UI pada awalnya, namun karena Bapak-Ibu begitu bangga seperti itu, ya aku jadi tertular. Biar bagaimanapun, hidup dan matiku dikampus juga kan ditangan Bapak-Ibu. Kuliah di UI, adalah salah satu nikmat Allah SWT yang paling ku syukuri dalam tiga tahun ini.

“ Oiya, rektor mu itu ternyata penggemar ikan hias lho “ kata Bapak riang.

“ hah? Iya Pak? Saya malah ngga tahu lho “ aku terperanjat.

“ Iya, ini ada liputannya di Trubus “ kata Bapak sambil menunjuk satu edisi majalah agribisnis dan hobiis. Dibukanya halaman berisi liputan tentang bapak Rektor penggemer ikan hias itu. Bapak pun bercerita dengan semangat tentang rubrik itu, juga tentang keinginannya memiliki penangkaran ikan sendiri dan pembibitan bunga. Bapak pernah memulai beberapa bisnis terkait hal-hal seperti itu, memang belum ada yang berhasil sejauh ini, hingga akhirnya Bapak seperti menyerah oleh usia.

Mungkin ini lah nanti bakti ku untuk Bapak, meneruskan apa yang sudah dia mulai selama ini. Aku bisa berangkat dari tempe dan batik saja, seperti yang bapak-ibu lakukan sewaktu pertama menginjak tanah Jakarta pada dahulu kala itu dari kampung Pekalongan. Dari tempe dan batik kami semua, delapan orang anak-beranak dapat hidup dengan baik di tengah Jakarta yang keras ini. Kalau nanti aku mentok, aku jadi pengusaha tempe dan batik Pekalongan saja, atau bisa juga jadi penulis, siapa tahu aku selama ini tidak sadar kalau tulisan ku banyak yang suka, ya kawan ku? Apakah begitu juga menurutmu?

Oiya, tentang bapak rektor UI sekarang ini, yang nama dan gelar berderetnya saja sudah sedap didengar, Prof. Dr. der soz. Gumilar Rusliwa Sumantri, aku juga baru tahu kalau beliau adalah penggemar ikan hias. Secara spesifik di majalah itu disebutkan tentang kegemarannya terhadap ikan badut, si Nemo clown fish itu. Unik juga mengetahui informasi tentang rektor ini, ternyata di balik sosok yang dikenal mahasiswa UI, bapak Rektor senang dengan si lucu Nemo.

Aku malah lebih tahu, kalau bapak Rektor ku itu senang memelihara domba varietas Tasik. Tahukah kalian domba Tasik itu? Itu lho, domba yang tanduknya melengkung besar dan indah, yang secara adat saling diadu domba pada suatu ritual upacara. Ya iyalah adu domba, kan namanya saja domba ya?. Tapi bapak Rektor ku ini tidak mengadu domba dombanya itu. Informasi yang aku dapatkan dari dosen Ekologi Restorasi ku yang sarat pengalaman, Jatna Supriatna, PhD. bapak rektor mengadu kecantikan dombanya dengan koleganya sesama penggemar domba Tasik itu. Koleganya tidak lain dan tidak bukan adalah bapak dosen ku itu. Dosen mantan ketua NGO Conservation International, yang sedang dipanggil almamaternya untuk menjadi ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Indonesia. Kalau tidak salah begitu namanya. Jadi bapak Rektor dan bapak dosen ku, saling menatapi domba tasik mereka yang gagah itu. Domba siapa yang lebih gagah? Aku juga tidak tahu kawan.

“ terus nanti kamu lulus akan kerja dimana ?” tanya Bapak lagi. Pertanyaan maut ini akhirnya keluar. Aku seringkali mati kutu menjawabnya. Karena sejujurnya, lambat laun aku paham, lulusan dari program studi seperti yang aku tempuh ini, Biolodi dan sekutarnya. Sekitarnya maksudku departemen-departemen di FMIPA, lulusannya tidak terlalu punya banyak pilihan. Setidaknya di negeri ini, apalagi kalau kita ingin memelihara ideology dari disiplin ilmu yang kita pelajari.

Aku misalnya, kalau di Biologi, secara spesifik bidang Ekologi, kemana aku akan bekerja? Tidak pernah aku lihat suatu instansi yang memasang iklan di koran mencari tenaga kerja utamanya lulusan Biologi. Di bursa kerja juga sama. Begitulah kondisi yang aku hadapi nanti, setidaknya di negeri ini.

Mungkin aku akan keluar negeri saja, mencari suaka disana karena di negeri ku kami bukan jadi apa-apa. Di luar negeri sana, kata banyak senior dan dosen ku, lulusan bidang ilmu kami justru begitu di idam-idamkan. Malaysia malahan sudah begitu. Aku pernah dengar di bidang pekerjaan seperti yang digeluti lulusan kami, di negeri jiran sana dihargai dengan nominal yang tidak sedikit, Rp. 40.000.000 belum termasuk berbagai tunjangan. Wah, senang ya? Tidak salah dan jangan disalahkan kalau nanti banyak lulusan kami tidak balik-balik ke tanah air. Aku sejujurnya, ingin sekali ke luar negeri, studi di Inggris atau Jepang sana, tapi nanti kembali lagi ke tanah air untuk mengabdi, dengan harapan ekspektasi pemerintah terhadap kami-kami ini sudah berubah. Semoga saja. Amin ya Allah….

Aku jelaskan sebisa ku kondisi itu, seperti biasa ke bapak ku. Bapak setuju dengan pendapatku itu. Beliau juga aku rasa membaca liputan-liputan itu di koran. Bapak malah mendukung keinginan besarku untuk keluar negeri saja. Tidak lupa bapak berpesan, kalau suatu saat mampir ke Saudi Arabia,

“ bapak ibu diajak ya ? bapak sudah rindu sekali ingin ke tanah suci lagi…” kata Bapak lirih.

“ Iya,Bapak… Insya Allah… Insya Allah… nanti kita ke sana sama-sama ya… Pa’e… Ma’e… saya dan istri saya nanti…“ jawab ku haru.

Jam dinding di ruang tamu sekaligus ruang keluarga itu sudah menunjuk pukul 06.30. Kopi di cangkir telah tandas. Sinar mentari sudah jadi merona jingga. Aktivitas manusia pun mulain menggeliat, bapak yang berniaga, ibu yang pergi kepasar, anak-anak yang pergi ke sekolah. Aku pamit dengan Bapak untuk mandi lalu berangkat ke kampus, bersama dengan mengantar adik ku sekolah.

Aku salim dan kecup tangan bapak –ibu sewaktu berangkat ke kampus. Sering aku bercanda dengan mereka dengan memeluk mereka lama-lama. Ibu aku angkat dengan pelukan ku, yang dibalas dengan pukulan-pukulan kecil di sekujur tubuh ku.

Sampai ketemu minggu depan ya, Bapak… Ibu… mohon doanya ya. Aku ingin senantiasa berbakti untuk kalian berdua.

WALAU HANYA SECANGKIR KOPI, INI BISA MENJADI SEGALA HAL TENTANG MU DAN BAPAK MU

Nanti, waktu aku di wisuda, aku akan minta bapak Rektor foto bersama dengan keluarga kita ya?



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😆 (100%)
  • 😭 (0%)
  • 😡 (0%)
  • 😒 (0%)
  • 😮 (0%)
  • 😍 (0%)
  • 😊 (0%)