Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) yang telah dibangun beberapa bulan lalu secara intens menjelma menjadi jembatan aborsi UI dan saat ini, ketenarannya sudah diakui banyak mahasiswa. Jembatan aborsi ini menjadi nama yang sangat familiar dibandingkan dengan nama JPO itu sendiri.

Kehadiran JPO sudah membawakan perubahan bagi penyebrang jalan Barel dan Stasiun Universitas Indonesia (UI). Sejak beberapa bulan yang lalu, ketika JPO ini resmi digunakan, maka beban jarak, waktu, dan tenaga menjadi keluar berlipat-lipat ganda. Jarak antara jalan Barel dan Stasiun UI menjadi sepuluh kali lipat lebih jauh. Begitupun dengan tingkat kelelahannya. Para penggunanya pasti setuju dengan pernyataan ini.

Setelah beberapa kali melakukan survei, penulis pun akhirnya mengetahui dan dapat menuliskan beberapa hal unik dari jembatan aborsi ini. Pertama, kenapa, sih jembatan aborsi ini harus dibangun? Kedua, kok bisa, ya dinamakan jembatan aborsi? Ketiga, kenapa jembatan aborsi ini bisa sangat menguras tenaga, gak seperti jembatan-jembatan penyebrangan lainnya? Poin-poin tersebut akan dibahas dalam tulisan ini.

BACA JUGA: Hal-Hal Berikut Bisa Kamu Lakukan Sambil Melewati Jembatan Barel UI

 

Kenapa Jembatan Ini Harus Dibangun?

Jembatan ini merupakan sarana untuk mengantisipasi kecelakaan kereta via skyscrapercity

Jembatan ini merupakan sarana untuk mengantisipasi kecelakaan kereta via skyscrapercity

Pertama, mungkin para pengguna jembatan aborsi ini akan mengutuk, melaknat, dan mencaci maki alasan di balik pembangunan jembatan aborsi. “Kenapa harus dibangun ketika saya belum lulus?” begitu umpat para penggunanya.

advertisement

Sebetulnya jembatan ini adalah proyek yang seharusnya dikerjakan dari beberapa tahun silam, tapi baru terlaksana tahun ini. Harusnya kamu bersyukur aja! Layaknya JPO lainnya, JPO UI pun memiliki fungsi dan tujuan yang sama. Jembatan ini merupakan sarana untuk mengantisipasi kecelakaan kereta. Kalau ditelaah kembali, sebetulnya baik juga ada jembatan aborsi ini karena mahasiswa UI yang nge-kost di kawasan Barel, Kober, dan sekitarnya, kan banyak banget. Udah gitu, banyak juga yang sering pulang malam karena kepanitiaan atau apalah. Makanya, keselamatan mahasiswa akan lebih terjamin kalau melewati rel keretanya via jembatan. Kalau via rel kereta langsung, kan, kita tidak pernah tahu saat menyeberang kita dalam kondisi yang seperti apa. Betul, gak?

 

Kenapa Dinamakan Jembatan Aborsi?

Saking panjang dan tingginya, wajar aja ibu hamil rasanya mau langsung lahirin via skyscrapercity

Saking panjang dan tingginya, wajar aja ibu hamil rasanya mau langsung lahirin via skyscrapercity

Kedua, transformasi nama JPO menjadi jembatan aborsi berlangsung sangat cepat—percaya gak percaya begitulah kenyataannya. Penamaan ini cukup unik karena bisa disepakati oleh kebanyakan mahasiswa. Jadi, kalau ngaku anak UI, terutama masuk dalam geng Barel dan Kober pasti sepakat sama nama jembatan aborsi.

Konon katanya, asal-usul penamaan ini berasal dari kisah nyata. Jadi, waktu awal-awal jembatan aborsi ini mulai dipakai, ada ibu hamil yang nyeberang lewat tangga itu. Sampai di seberang, napasnya terengah-engah sambil memegang perutnya yang sudah keliahatan besar. Untungnya, sih bayi dan ibunya gak kenapa-kenapa karena sampai sekarang, gak ada ceritanya kalau si ibu itu betul-betul sakit atau apalah. Dari peristiwa itu, jembatan aborsi dianggap sebagai nama yang tepat karena setelah naik tangga, bisa—seperti mengaborsi orang.

 

Kenapa Jembatan Ini Nguras Tenaga Banget?

Konong, ukuran dan jumlah  tiap anak tangga pun beda via skyscrapercity

Konong, ukuran dan jumlah tiap anak tangga pun beda via skyscrapercity

Ketiga, tentang sepuluh kali lipat tenaga yang harus kamu keluarkan demi menyeberang jalan. Ya ampun, capeknya terasa sampai ubun-ubun, ya. Jembatan aborsi ini memang bikin capek pake banget. Jadi wajar aja kalau ibu hamil yang naik jembatan, rasanya kayak aborsi saking capeknya.

advertisement

Setelah melakukan penelitian kecil-kecilan, anak tangga dari jembatan aborsi ini ternyata memiiki jumlah yang berbeda antara naik dan turun. Bukan itu aja, kalau kamu naik tangga bareng teman, cobalah suruh dia untuk menghitung anak tangga di dalam hati, terus kamu juga hitung, pasti hasilnya akan beda. Aneh, deh pokoknya! Kayak ada gaib-gaibnya, gitu. Ukuran tiap anak tangga pun beda, panjang kali lebar, serta ketinggiannya, semuanya beda. Apalagi anak tangga yang terakhir ketika kamu naik, itu tingginya bisa selutut anak balita, loh!

Itulah beberapa hal tentang jembatan aborsi yang akan fenomenal sepanjang masa. Mungkin kalau jembatannya dibangun dengan baik, anak tangganya ukurannya dikecilin dan jumlahnya dikurangin dikit, pengguna akan santai-santai aja, iya gak? Menurut kamu, adakah hal lain yang bikin jembatan aborsi ini begitu menyebalkan?



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😆 (30%)
  • 😭 (20%)
  • 😮 (18%)
  • 😡 (14%)
  • 😒 (9%)
  • 😍 (5%)
  • 😊 (4%)