Maaf sebelumnya jika tulisan ini cukup membuat hatimu tersinggung. Bukan tujuan utama saya menyakiti hatimu maupun hati kalian semua yang membaca tulisan ini. Tapi bagaimanapun, sepahit apapun kebenaran, dia harus diperjuangkan. Minimal dikatakan dalam gagasan-gagasan umum. Apalah artinya kebenaran jika terkunci dalam mulut.

Hari ini saya cukup kecewa melihat pemandangan disekitar. Langsung saja saya katakan “memuakkan”. Cukup, tidak perlu merasa siapa yang mengecewakan dan “memuakkan” disini. Perlu diketahui, tulisan ini saya tulis setelah ujian tengah semester mata kuliah kebudayaan. Saya bukan orang terbaik diantara kalian, maupun orang yang paling pintar sehingga berani dan “sembrono” menulis tulisan macam ini. Bukan, samasekali bukan. Saya bahkan lebih buruk dari kalian. Nilai saya pas-pasan dan cenderung dibawah rata-rata, bahkan bisa dikatakan bahwa saya adalah “perwujudan mahasiswa yang berada dalam titik nadir kebodohan”. Saya sendiri, bahkan tak lulus mata kuliah karena menolak untuk mencontek. Ini resiko, saya tidak malu karena memperjuangkan nilai itu bukan dengan cara-cara kotor sebagaimana yang baru saja saya saksikan pada ujian tengah semester ini.

Bisa dikatakan, mengecewakan sekali apa yang saya lihat. Bukankah sudah seharusnya kita menyadari bahwa semester tiga itu samasekali berbeda dengan semester satu?

Ah, bahkan bisa dikatakan semester tiga itu bukan pula sebanding dengan taraf anak-anak SD/SMP yang ‘melegalkan’ contek sana-contek sini ketika ujian berlangsung. Bukan, kita sudah seharusnya sadar bahwa usia kita bukan usia anak-anak yang masih belum lugas memahami logika, etika praktis, maupun prinsip-prinsip idealisme. Saya yakin, diantara kita tadi sekian banyak sudah memahami teori-teori dan teorama kejujuran. Tapi apa hasilnya? Diametral ! Berbanding terbalik dan bahkan secara enteng mungkin pembaca akan tersenyum sinis dan simpul ketika membaca tulisan ini sembari melengos jijik “sok suci lo !

aih, apa-apaan ini. Terlalu bermuluk-muluk jika saya berbicara didepan manusia-manusia pragmatis. Saya bukan hendak menceramahi masing-masing kita secara personal maupun general. Introspeksi diri sendiri sajalah. Kebetulan, ujian hari ini saya duduk di kursi paling belakang, sehingga nampak jelas siapa yang benar-benar jujur dan siapa yang benar benar dusta. Saya pikir ujian merupakan indikator dan alat sederhana penguji kejujuran. Kita berbicara ini itu, masalah problematika dan moralitas bangsa, tapi secara tak sadar kerapkali kita mengkhianati diri kita sendiri. Mencontek dalam ujian itu cukup sebagai dalil bahwa anda telah mengkhianati diri anda sendiri, minimal terhadap nurani kejujuran anda. Apa jadinya jika terhadap nurani sendiri saja berkhianat, maka apa yang harus dilakukan ketika menghadapi masalah-masalah bangsa?

Kita seringkali tidak sadar bahwa diluar sana, masyarakat luas menunggu perubahan bangsa yang lebih baik. Mereka menggantungkan harapannya pada kita. Tapi apa yang kita lakukan ? Mencontek? Memalukan sekali. Bahkan yang lebih memalukan secara terang-terangan dan tanpa beban menawarkan contekkannya pada teman disamping. Banyak dari sekian mahasiswa, teman yang saya lihat sendiri merupakan mahasiswa dengan nilai IP tinggi di jurusannya. Mereka merupakan mahasiswa yang cerdas.

advertisement

Bahkan diantara mereka adapula yang menjadi delegasi jurusan untuk mewakili prodi dan universitas di perlombaan Nasional.

Sayang, sayang sekali ternyata saya tahu bahwa nilai mereka ‘fiktif’. Meski tak sepenuhnya, saya cukup prihatin melihat pemandangan macam ini. Kalian adalah Mahasiswa. Terlebih Mahasiswa Universitas Indonesia, kampus paling top di tanah air. Saya tidak tahu siapakah yang seharusnya malu. Apakah para pecontek itu, saya karena tulisan saya, ataupun mahasiswa UI lain yang sudah berpeluh-peluh berjuang meniti jalan kejujuran. Pikirkan sendiri karena kita sudah dewasa, dan sudah seharusnya kita MALU !



Apa pendapatmu tentang tulisan ini? BARU!
  • 😍 (100%)
  • 😭 (0%)
  • 😡 (0%)
  • 😒 (0%)
  • 😮 (0%)
  • 😆 (0%)
  • 😊 (0%)