Backpacking, traveling, hingga hiking kini tengah menjadi suatu trend tersendiri di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa UI. Bagi kamu yang sudah biasa naik gunung atau berkelana ala backpack, tentunya hal ini menjadi berita yang belum tentu baik. Karena hal ini berpotensi membuat banyak pemula berfikir bahwa bacpacking dan naik gunung adalah hal yang mudah, sehingga dengan mudah pula untuk tidak berhati-hati dan mengabaikan standar keselamatan yang berlaku. Tapi sudahlah, biarkanlah hal ini menjadi catatan tersendiri bagi kita bersama.

Nah, ngomong-ngomong seputar naik – turun gunung, tahukah kamu? Jauh sebelum kegiatan naik gunung sengetrend sekarang, Mapala UI sudah memiliki sejarahnya tersendiri dalam menaklukkan puncak-puncak tertinggi.

Sekedar untuk pengetahuan tambahan, ‘Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia’ atau juga dikenal dengan ‘Mapala UI’ merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat universitas di Universitas Indonesia. Mapala UI dikenal luas sebagai pionir berdirinya mapala di Indonesia.

Ialah Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa yang mencetuskan kelahiran organisasi pelopor pecinta alam di tingkat kampus ini. Kini, hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia memiliki mapala baik di tingkat universitas maupun fakultas hingga jurusan. Hal ini terjadi karena Mapala UI dianggap berhasil memupuk patriotisme yang sehat di kalangan anggotanya, mendidik angggotanya baik mental maupun fisik. Tak hanya itu, Mapala UI juga sering dianggap berhasil menumbuhkembangkan semangat gotong-royong dan kesadaran sosial dalam jiwa setiap anggotanya.

Sebagai pionir, Mapala UI telah menjejakkan sejarahnya pada puncak-puncak tinggi dunia. Berikut di antaranya:

Pegunungan Jayawijaya

puncak trikora. (sumber: kompas)

puncak trikora. (sumber: kompas)

Adalah pegunungan di Papua yang terdiri dari Puncak Mandala (4.760 M.dpl), Puncak Trikora (4.730 M.dpl), Puncak Idenberg (4.673 M.dpl), Puncak Yamin (4.535 M.dpl), dan puncak Carstenz Timur (4.400 M.dpl).

advertisement

Pada Desember 1971 – April 1972 Mapala UI berhasil merealisasikan kegiatan pendakian dan bakti sosial di Pegunungan Jayawijaya. Diikuti 13 orang anggota dan berhasil mencapai Puncak Jaya dan Puncak timur Cartenz. Pada September-Oktober 1972, Mapala UI kembali ke Jayawijaya untuk membantu penelitian dan pendokumentasian Cartenz Glacier Expedition. Dalam ekspedisi tersebut, Mapala UI berhasil mencapai puncak Cartenz Pyramid, Puncak Sumantri, Puncak Jaya, dan Puncak Tengah.

 

Everest Base Camp

Hadijoyo dan Don Hasman, anggota Mapala UI pernah menaklukan Everest Bace Camp. (Sumber: backpackerindonesi)

Hadijoyo dan Don Hasman, anggota Mapala UI pernah menaklukan Everest Bace Camp. (Sumber: backpackerindonesi)

“Everest Base Camp” adalah 2 perkemahan yang terletak pada dua sisi yang berbeda dari Gunung Everest—gunung tertinggi di dunia (jika diukur dari paras laut) yang rabung puncaknya menandakan perbatasan antara Nepal dan Tibet.

“Everest Base Camp” terdiri dari Camp Selatan dan Camp Utara. Camp Selatan terletak di sisi Nepal, dengan koordinat 28°0′26″N 86°51′34″E. Camp Utara terletak di sisi Tibet, dengan koordinat 28°8′29″N 86°51′5″E.

Pada tahun 1978, Mapala UI berhasil menjajaki “Everest Base Camp”. Penjajakan ini dilakukan oleh mahasiswa bernama Hadijoyo dan Don Hasman.

 

advertisement

Pegunungan Andes

Pada tahun 1988, Mapala UI berhasil menaklukan Pegunungan Andes. (Sumber:)

Pada tahun 1988, Mapala UI berhasil menaklukan Pegunungan Andes. (Sumber: our-wondergeographic)

Pegunungan Andes adalah pegunungan terpanjang di dunia yang membentuk rangkaian dataran tinggi sepanjang pantai barat Amerika Selatan. Pegunungan ini panjangnya lebih dari 7.000 km, lebarnya mencapai 500 km pada beberapa tempat (terlebar pada 18° sampai 20° LS), dan memiliki ketinggian rata-rata sekitar 4.000 m. Pegunungan ini membentang melalui tujuh negara: Argentina, Bolivia, Chili, Kolombia, Ekuador, Peru, dan Venezuela, yang kadang disebut “Negara-Negara Andean” (Andean States).

Pada Juli – Agustus 1988, Mapala UI berhasil merealisasikan ekspedisi pendakian “Gunung Salju Katulistiwa” yang membuat mereka menjejakkan sejarah di Pegunungan Andes.

Meski telah menjejakkan sejarah di puncak-puncak dunia, Mapala UI tidak lantas menaikkan dagu dan betingkah sombong. Organisasi  yang berdiri sejak 12 Desember 1964 ini hingga sekarang tetap dengan teguh berpegang pada prinsip dan kode etik mereka, yakni.

  1. Bersifat hemat, bahkan pelit. Ini muncul mengingat keadaan keuangan organisasi dalam keadaan “vivere periscoloso”
  2. Harus berani jorok, dalam arti tidak ragu makan apa saja, asal bukan makanan membahayakan.
  3. Harus bermuka tebal. Tidak malu ngompreng, bertanya jalan kepada siapa saja, dan memanfaatkan koneksi untuk tujuan-tujuan tertentu yang penting halal.

Tiga prinsip ini pulalah yang kemudian melahirkan pemuda-pemuda yang berjiwa pemimpin dari mahasiswa.

Ingin tahu, apa saja kisah sejarah seputar kelahiran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Indonesia? Bagikan tulisan ini ke teman kamu melalui Facebook, Twitter, dan LINE kamu, dan nantikan ulasan menarik lainnya seputar kehidupan seru kamu di UI!

 



[reaction_buttons]