Mahasiswa jurusan sastra itu bisa dibilang golongan mahasiswa yang unik. Kuliahnya santai, outfit­-nya bebas, lingkungan belajarnya pun nggak formal-formal banget. Selain itu, kegiatan mereka juga nggak jauh dari hal-hal estetik, seperti musikalisasi puisi, bermain drama, dan menulis quote dengan bahasa yang mereka ajari di jurusan mereka.

Salah satu jurusan sastra yang unik tetapi sering dipandang sebelah mata adalah Sastra Indonesia (Sasindo). Orang awam pasti masih skeptis mengenai jurusan tersebut. Pertanyaan seperti “Kenapa ambil jurusan Sasindo? Kan setiap hari juga pakai bahasa Indonesia?” sering kali dilayangkan pada mahasiswa Sasindo. Padahal, secara nggak sadar masyarakat luas masih membutuhkan mereka loh. Apalagi, beberapa label juga ditempelkan pada mahasiswa Sasindo.

Nah, kalau kalian mahasiswa Sasindo, pasti bisa relate dengan stigma berikut ini.

advertisement

Kamus Berjalan

Sumber: pixabay.com

“Eh, bahasa Indonesia-nya ‘literally’ itu apa, sih? Kok gue nggak tau artinya?”

Siapa yang pernah ditanyai tentang bahasa Indonesia dari istilah asing yang sering diucapkan oleh anak-anak gaul masa kini? Yap, pengaruh bahasa asing pada penggunaan bahasa sehari-hari sering kali membuat orang-orang lupa atau nggak tahu artinya dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut karena mereka lebih akrab dengan bahasa asing, baik karena pengaruh lingkungan keluarga, pertemanan, maupun media hiburan dari luar negeri yang sering mereka nikmati. Nggak jarang juga mereka mencampur-adukkan bahasa Indonesia dan bahasa asing, seperti yang terjadi pada anak-anak Jaksel.

Selain ditanyai soal arti dari bahasa asing, mahasiswa Sasindo juga sering banget dianggap hafal seluruh isi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kalau sudah seperti itu, mereka pasti hanya bisa ngomong gini sambil tertawa pahit, “Ya kali hafal seluruh kosakata di KBBI, Bro! Kita kuliah buat belajar tentang bahasa Indonesia, bukan menghafal kata-kata dalam bahasa Indonesia.” Habis berapa SKS kira-kira kalau harus menghafal seluruh kosakata dalam KBBI, ya?

advertisement

BACA JUGA: Mengenal Lebih Dekat 3 Peminatan di Sastra Indonesia UI

Penyunting Andalan

Sumber: pixabay.com

“Eh, lu anak Sasindo, kan? Tolong cekin tugas gue dong. Sekalian benerin kalau ada yang salah, ya?”

Hayo ngaku, siapa kalian yang pernah minta tolong seperti itu ke teman kalian yang anak Sasindo? Bukan rahasia umum lagi kalau mahasiswa Sasindo itu memang dianggap sebagai penyunting teks andalan. Pasti banyak teman mereka yang minta tolong untuk mengecek hasil tulisan mereka, mulai dari tanda baca, struktur kalimat, sampai pemilihan kata atau typo-nya.

advertisement

Namun, orang-orang yang minta tolong tersebut hanya menganggap bahwa jasa mereka hanya sebagai bantuan teman saja. Padahal, menyunting teks itu nggak gampang loh, guys! Dibutuhkan ketelitian dan konsentrasi agar seluruh teks dapat tersunting dengan sempurna. Jadi, kalau kalian mau minta tolong ke mahasiswa Sasindo, tolong deh seenggaknya kasih sesuatu sebagai imbalan jasa mereka. Kalau mereka memang sudah mematok harga, jangan minta harga teman, ya! Menyunting itu ada ilmunya dan nggak semua orang bisa. Jadi, belajarlah untuk menghargai anak Sasindo, ya.

Joki Tulis-Menulis

Sumber: pixabay.com

“Eh, gue ada tugas bikin esai, nih. Bantuin, dong? Kan lu jago nulis, hehe”

Mayoritas mahasiswa Sasindo memang suka nulis, baik nulis fiksi maupun nonfiksi. Kesukaannya ini bisa karena hobi atau pun karena sudah terbiasa menulis aja semenjak jadi mahasiswa Sasindo. Jadi, nggak heran kalau mereka jadi sasaran untuk dijadikan joki tugas menulis bagi mahasiswa jurusan lain.

advertisement

Mahasiswa Sasindo mungkin nggak bakal menolak sih kalau ada bayarannya. Apalagi, sebagian dari mereka memang ada yang membuka jasa menulis selama itu nggak dibutuhkan untuk keperluan lomba dan tulisannya pun nggak ribet. Namun, kalau disuruh cuma-cuma, jangan kecewa kalau ditolak mentah-mentah, ya.

BACA JUGA: Sekilas Mengenai Sastra Indonesia UI dan Kegiatan Mahasiswanya

Puitis dan Suka Galau

Sumber: pixabay.com

Caption lu puitis banget sih! Lagi galau, ya?”

Namanya juga anak sastra, pasti mereka punya kemampuan untuk mengolah kata-kata menjadi sesuatu yang bermakna, dong? Nggak jarang juga mereka membagikan tulisan tersebut, baik dalam bentuk caption, puisi, cerpen, atau sekadar quote yang mereka tulis di Instastory, bio media sosial, atau status mereka. Namun, masih aja ada yang salah sangka bahwa anak sastra itu tukang galau akut saking puitisnya tulisan mereka.

Selain itu, nggak jarang juga ada yang minta ke mahasiswa Sasindo untuk menuliskan puisi atau quote yang akan mereka gunakan untuk caption mereka atau dikasih ke gebetan. Sah-sah aja sih sebenarnya, tapi akan lebih baik lagi kalau kalian menyertakan siapa nama penulisnya, kan? Anggap aja sebagai bentuk penghargaan karena mereka sudah bantu kalian.

***

Itulah empat poin yang melekat di diri mahasiswa Sasindo. Buat kalian mahasiswa Sasindo, secara nggak langsung kalian hebat karena bisa dipandang sepositif itu walaupun orang mungkin belum kenal kalian. Buat kalian yang bukan mahasiswa Sasindo, masih mau memandang mereka sebelah mata? Kalau nggak ada mereka, urusan tulisan, ejaan, dan kata-kata puitis kalian nggak bakal beres loh, hehe.

BACA JUGA: Inilah Profesi yang Bisa Ditekuni Setelah Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia