Bagaimana Meraih Impian Walau Kamu Salah Jurusan


0

Seorang kawan mengeluh bahwa ia salah jurusan. Inginnya ia ke fakultas X, sekarang malah ada di fakultas Y. Ia selalu berkata bahwa ia tak berminat di fakultas yang sekarang. Ogah-ogahan belajar. Tak ada pemantik. Tak ada gairah.

Saya selalu percaya bahwa pekerjaan terbaik adalah pekerjaan yang sesuai dengan minat kita. Tak peduli serendah apa pekerjaan itu di mata orang lain, tak peduli betapa tak populernya ia, tetaplah itu yang terbaik bagi diri kita. Karena bekerja tidak hanya mencari uang. Ia adalah salah satu sumber kebahagiaan. Pekerjaan juga adalah ibadah. Apa bagusnya ibadah yang dilakukan dengan terpaksa?

Dan lalu, apa yang harus kita lakukan?

Langkah pertama, jika memungkinkan, pindahlah ke jurusan yang menjadi minatmu. Renda hidupmu dari awal lagi. Menyakitkan memang, tapi toh kadang obat yang pahit harus diminum demi kesembuhan.

Namun, ini bukanlah surga. Ini dunia yang tidak sempurna. Selalu ada keterbatasan. Ada teman yang tak bisa pindah jurusan karena berbagai kendala seperti umur, biaya, tidak diizinkan orangtua, dan lain-lain. Apa yang bisa kita lakukan?

Mudah saja, belajar otodidak. Itulah langkah kedua.

Seorang sahabat mengalaminya. Ia ingin kuliah di jurusan X karena menggemari sebuah ilmu yang ia katakan menjadi “bagian hidupnya”. Namun, nasib berkata lain. Sekarang ia di jurusan Y yang sama sekali tak ada di benaknya. Toh ia tidak menyerah. Dengan kemampuannya akan ilmu itu yang tergolong langka di jurusannya, jadilah ia terkenal. Dari situ, tak peduli dengan titelnya sebagai mahasiswa Y, ia belajar mati-matian ilmu X langsung dari para pakar. Malah, konon ia sedang mempersiapkan sebuah teori baru. Tidak ada alasan mengapa ia harus repot-repot melakukan itu selain karena cinta. Ya, ia cinta ilmu itu. Dan tidak ada yang bisa menghalanginya, sekalipun itu sistem.

Kedua langkah itu bisa dilakukan dengan hati yang mantap dengan satu syarat: kamu mengetahui apa tujuanmu. Kamu tahu apa mimpimu sehingga kamu bangkit lagi setelah terjatuh berkali-kali di sana. Kamu tahu apa yang kamu mau, sehingga kamu rela merajut dari nol lagi. Kamu paham hal apa yang paling penting bagimu, karena itulah kamu berani mengambil keputusan untuk hidup ini. Inilah yang jarang dimiliki generasi muda sekarang: keberanian menemukan mimpi dan keberanian mengambil keputusan untuk meraih mimpi itu.

Referensi

Pengalaman, pengamatan, dan renungan.


Data Penulis

Wahyu Awaludin adalah seorang mahasiswa jurusan Sastra Indonesia FIB UI angkatan 2008. Seorang penulis dan blogger. Hobinya adalah membaca, menulis, berselancar di internet, dan berorganisasi. Pernah menjadi juara I lomba esai Simposium Internasional 3: Pendidikan Untuk Palestina, juara I lomba esai bertema Korupsi dan Pemuda dari BEM FH UI, juara II Wajah Muslim Indonesia Chapter III: Pahlawan di Mata Kita, juara III FUKI FAIR 2009 dengan tema Dakwah di Internet, juara III lomba esai UI Islamic Book Fair, dan lain-lain. Pendiri Forum Anak UI dan Indonesian Dreams Community ini foto-fotonya pernah dimuat di Republika dan esai-esainya juga pernah dimuat di Koran SINDO. Ia bisa dihubungi di email wahyu.awaludin[at]gmail.com, di http://facebook.com/wahyu.awaludin1, atau di http://twitter.com/wahyuawaludin.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
1
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Wahyu Awaludin
Penulis, blogger, pemimpi, dan pebisnis. Seorang mahasiswa Sastra Indonesia FIB UI angkatan 2008. Mempunyai mimpi ingin mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media online. Kini sedang diamanahi sebagai salah satu peserta PPSDMS angkatan V Regional I Jakarta

14 Comments

Leave a Reply

  1. hihihihi, saya salah satu makhluk yang kayak begini nih… beda yang dipelajarin di kampus, beda pula dengan yang dijalankan sekarang di dunia kerja (Alhamdulillah kerjanya sesuai dengan passion InsyaAllah)…
    tapi bener kata wahyu, kadang sebagai mahasiswa ada kepentingan lain selain kepentingan perasaan/passion pribadi… di situ ada peran orang tua.. dan beliau2 merasa selagi belum tamat kuliah, kita masih menjadi tanggungan mereka dan biasanya mereka ingin yg terbaik buat kita dalam versi mereka yang gak jarang juga berlainan dengan passion kita sendiri…

  2. Saya pun tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan masuk hukum. Terlebih profesi hukum yang identik dengan pengacara dipandang agak tidak baik oleh keluarga besar saya..

    Saya sendiri sangat suka menulis, dan lebih berharap untuk masuk ke jurusan komunikasi, untuk mengambil komunikasi massa.

    Namun karena sudah ‘nasib’nya saya masuk hukum, yasudah. saya belajar apa yang harus dan bisa dipelajari, menemukan dunia yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. dan saya bisa bilang bahwa saya tetap menemukan passion walaupun di bidang yang tidak saya harapkan sebelumnya.

    Bahkan, apa yang saya dapatkan ketika belajar hukum menjadi dasar dari lifeplan saya.

    Soal impian? tanpa disangka akhirnya tercapai juga,,

    Saat ini saya bekerja di Hukumonline.com, suatu media yang memuat berita tentang hukum. What a great combination..

    Setiap hari saya bertemu banyak orang, belajar banyak tentang kehidupan, dan pastinya saya MENULIS setiap hari,,

    #Pada dasarnya saya prcaya bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini. Pun ‘nasib’ yang membawa saya untuk masuk fakultas hukum. Semua adalah rencana Allah, dan Allah punya rencana indah untuk hamba-Nya..

    dan satu lagi tambahan, kalau kita ga nemuin passion sama yang kita jalanin, kita bisa menciptakannya kok,,semua tergantung pada gimana kita kita memaknai hidup 🙂

  3. alhamdulillah kalo saya nggak salah jurusan..
    dari dulu emang pengen masuk Fasilkom.. walaupun akhirnya merintis jalan jadi pengusaha, sedikit banyak ilmu2 yg dipelajari di sana kepake..

    kampus itu buat saya yg utama bukan tempat buat belajar ilmu kuliah, melainkan belajar untuk persiapan hidup 🙂

  4. saya lebih berpandangan bahwasanya mungkin apa yang kita inginkan sebenarnya bukan apa yang menjadi takdir kita, tapi itu semua lebih kepada proses adaptasi.

    kalau merasa salah jurusan, mungkin benar adanya untuk pindah jurusan, tetapi pindah jurusan juga berarti pindah lingkungan dan atmosfer kuliah.

    intinya sih semua harus dipertimbangkan. 🙂

  5. saya juga sepertinya salah jurusan. tapi saya jadi nyaman di jurusan ini karena banyak temen2 yang membuat saya betah disini sampai lulus nanti (insyaAlloh)..

    satu jempol lagi buat tulisan wahyu awaludin!

  6. Alhamdulillah dan Insya Allah saya tidak salah jurusan di FASILKOM,…walaupun masih sedikit ilmunya tapi saya harus tetap punya semangat yang tinggi untuk belajar dan sharing berbagi ilmu dimana saja. Untuk teman-teman yang merasa salah jurusan, segera ikuti kata hatimu jika masih memungkinkan. Jika sudah terlanjur terlalu jauh, ya nikmatin aja, gitu aja kok repot. Terima kasih untuk tulisannya Wahyu Awaludin.

  7. mmm….
    tulisan yg sangat berarti…

    saya pernah merasakan hal yang sama..
    dimana dibutuhkan mental, nyali dan keberanian untuk mengambil tindakan strategis guna mencapai cita2 yang lebih baik..

    alhamdulillah,,
    di kampus saya sekarang, banyak sekali prestasi yang membanggakan,,
    jadi, jangan takut ambil keputusan strategis!

  8. gw selalu mikir salah jurusan adalah
    “blessing in disguise” buat gw.

    gw juga dulu salah jurusan, masuk akuntansi, padahal minatnya ke bidang IT. kuliah ekonomi makro, mikro pusing pala gw. mungkin ga susah tapi udah ga ada minat.

    sebaliknya, gw copy tuh semua bahan2 IT dari temen gw di jurusan IT mulai dari logaritma, jaringan, database dan semuanya. terus gw praktekin semuanya sampe begadang tiap hari. itu karena gw suka IT jadi ga ada beban.

    alhasil sekarang gw di bidang yang menggabungkan ilmu IT dan accounting. jadi kesimpulannya, tetep fokus ke kuliah lu sekarang dan tetap pelajari ilmu yang lu suka.
    Someday, it will be a great combination, believe it!

  9. gw sich simpel2 aja kawan untuk menanggapi ini.
    Gw juga senasib untuk apa yang diutarakan oleh penulis.

    Bagi gw,ilmu yang paling penting bukan dari bidang2 keilmuannya saja.
    Tapi sebenernya ilmu kehidupan yang meliputi seluruh aspek hidup kita yang patut dipelajari.

    Dulu gw selalu ngeluh untuk masalah jurusan yang gw rasa bener2 salah gw berada disana.
    Tp tetap aja,kalo gw ga keluar dari kotaknya,mungkin gw ga ada inisiatif buat membuat suatu perubahan.
    Makannya gw terima aja sepenuh hati,gw coba ikhlas dan serap semua ilmu yang telah gw pelajari.
    Ilmu yang gw cinta mulai gw pelajari demi menambah wawasan dan kenikmatan ilmu yang sebenernya sudah terbiaskan krn salah jurusan.
    Tp intinya kita cuman memilih,salah ato benar itu tergantung seberapa bijak kita menanggapi itu guys. Bagi gw,pasti ada hal positif dibalik itu. Karena allah memberikan sesuatu tidak untuk sia-sia dan disia2kan.

    Kuliah itu kan layaknya batu loncatan. Tp sebenernya yang menjadi dasar keberhasilan itu dari diri kita sendiri berdasarkan skill,pengalaman,wawasan.

    Yang cuma SMA aja bisa berhasil,kita juga pasti bisa karena keyakinan dan kemampuan kita. 🙂
    Salam Mahasiswa,Hidup Mahasiswa

  10. trimakasih buat apa yg sya bca. Saya sprti diberi hrapn bru stlh liat blog dri anda.
    Saya adlh mhsswa PTN, tp sya mrasa sya tdk mampu menjalani perkuliahn, sya mrasa sya salh jurusn..(kslhn sy krn dlu sy kurng ngrti ttg jur yg sy ambl,) .skrg sya ingn pndah.,tp temn2 sy blang surh nrusin aj, dah nyebur soalnya. Tp sya mrasa brat ngjalaninya, . Tolng ksh masukan..

  11. orang tua memang ingin yg terbaik buat anaknya…..tetapi anaknya lah sendiri yg bnr2 menghadapi medan kuliahnya, sehingga anaknya lebih tahu kl jurusan itu lebih cocok atw gk buat dirinya, bkn orang tuanya yg lbh tw….tp anaknya jg harus bisa menjaga kepercayaan dari ortunya kl dia bnr2 maksimal brusaha belajar di bidangnya…..bkn malas-malasan