Belajar Ilmu Deduksi Untuk Menjadi Detektif (Bagian 1)

Tahukah kamu, setiap barang-barang sebenarnya selalu meninggalkan jejak pribadi, tidak mungkin benda yang dipakai suatu subjek tidak meninggalkan jejak pribadi. Kemampuan mengungkapkan jejak pribadi yang dimiliki suatu benda yang digunakan oleh subjek adalah contoh kemampuan dasar dari ilmu deduksi. Penasaran?


0

Ilmu detektif sebenarnya tidak lebih dari ilmu deduksi semata, dimana kita mengasumsikan adanya fakta-fakta selalu berhubungan dengan fakta-fakta lainnya. Dunia ini sebenarnya seperti mata rantai yang saling terhubung, setiap satu fakta serta pengamatan yang kita temukan sebenarnya berimplikasi pada fakta lainnya dan hal inilah yang dilakukan oleh seorang detektif yaitu mengungkapkan fakta yang implisit berdasarkan fakta eksplisit. Setiap barang-barang sebenarnya selalu meninggalkan jejak pribadi, tidak mungkin benda yang dipakai suatu subjek tidak meninggalkan jejak pribadi. Kemampuan mengungkapkan jejak pribadi yang dimiliki suatu benda yang digunakan oleh subjek adalah contoh kemampuan dasar dari ilmu deduksi.

Tetapi pengetahuan deduksi sangat sulit dan butuh waktu serta pengalaman yang lama untuk mempelajarinya, sayangnya usia setiap manusia sangatlah singkat sehingga tidak ada manusia yang mencapai tingkat kesempurnaan dalam bidang pengamatan deduksi termasuk penulis sendiri masih mempelajarinya.

BACA JUGA: Anak Harusnya Dididik dengan Pertanyaan dan Kritisisme

Jika kita bisa menguasai ilmu deduksi, kita akan menyadari ternyata ilmu ini sangat bermanfaat di dunia nyata yang konkret terutama untuk seorang detektif, wartawan, polisi, kriminolog, hacker, dan lain-lain. Saya hanya akan memberikan pengantar supaya para pembaca setidaknya mempunyai dasar untuk ilmu deduksi ini.

Detektif (sumber: kompasiana.com)

Sebenarnya sebelum anda mempelajari ilmu deduksi  anda harus terlebih dahulu mempelajari ilmu logika sebagai basis dan dasar untuk berfikir. Walaupun sebenarnya di dalam diri setiap manusia sudah terdapat kaidah dasar logika tanpa perlu mempelajari ilmu logika tetapi jika anda ingin mengembangkan kemampuan deduksi ke tingkat yang lebih tinggi maka anda perlu mempelajari ilmu logika.

Dasar dari ilmu deduksi adalah logika, tetapi bukan hanya logika saja dasar dari deduksi, ilmu observasi juga diperlukan sebagai data primer atau premis untuk menarik kesimpulan. Misalnya coba anda praktikan hasil gabungan dari observasi dan logika anda untuk menarik kesimpulan secara deduksi seperti menebak pekerjaan orang ataupun melihat jejak pribadi yang terdapat pada benda. Contoh:

Misalnya saya pernah naik kereta dari stasiun Citayam menuju stasiun Depok, ketika saya duduk teryata di depan saya ada seorang bapak-bapak mungkin umurnya sekitar 40 tahun, bapak itu sedang tertidur.

Saya mulai mengobservasinya, saya perhatikan bapak itu memakai seragam kerja suatu perusahaan tetapi lumayan lecek, dari observasi seragam lecek apa yang bisa saya simpulkan? Saya bisa menyimpulkan bahwa dia adalah seorang duda, mengapa? Karena jika dia punya istri maka tidak mungkin seorang istri akan membiarkan seragam suaminya lecek kecuali jika istrinya tidak mencintainya lagi.

Tapi mungkin anda berkata bahwa bisa saja bapak itu seorang bujangan? Kemungkinan ini bisa jadi tetapi sangat kecil, ingat umur bapak tersebut cukup tua sekitar 40 tahun jadi kemungkinannya bapak tersebut duda. Seandainya seragamnya lecek karena dia telat bangun pagi untuk kerja, ini juga mengindikasikan dia tidak punya seorang istri yang bisa membangunkan dia di pagi hari.

Kemudian saya observasi lagi ternyata tangannya cukup berotot dan permukaan telapak tangannya cukup kasar, dari observasi ini apa yang bisa saya simpulkan? Saya bisa menyimpulkan bahwa bapak ini adalah seorang pekerja kasar, mengapa? karena dia memiki otot yang cukup kuat yang berarti dia lebih terbiasa menggunakan ototnya. Tetapi mungkin anda berkata bahwa bisa saja bapak tersebut fitness di tempat olahraga? Bisa saja tetapi kemungkinan ini kecil dan ingat permukaan telapak tangan bapak tersebut cukup kasar, seorang yang memiliki otot besar karena fitness tidaklah memiliki telapak tangan yang kasar.

Jadi kemungkinan bapak tersebut adalah seorang pekerja kasar mungkin buruh. Saya sebenarnya bisa memberikan serangkaian deduksi lagi mengenai bapak yang saya observasi tersebut tetapi saya rasa jika saya melakunnya pembaca akan dapat mengungkapkan identitas bapak tersebut, jadi saya batasi contoh deduksi saya sampai disini.

Jadi dari contoh yang saya berikan diatas memperlihatkan penggabungan dari observasi dan logika sederhana yang menghasilkan deduksi. Kemampuan ini penting terutama jika anda ingin menjadi seorang detektif, wartawan, polisi, intelegen ataupun anda ingin terhindar dari bahaya orang-orang jahat maka ilmu deduksi dapat digunakan untuk mengenali orang jahat atau mengungkapkan metode kejahatan.

BACA JUGA: Hati-hati, Sosiopat Ada Di Sekitar Kita

Jadi cobalah anda melakukan hal-hal kecil seperti menebak pekerjaan seseorang ataupun serangkaian deduksi lainnya untuk melatih kemapuan deduksi anda. Ilmu deduksi yang digunakan detektif bukanlah ilmu yang fiksi seperti terdapat di dalam novel melainkan ilmu deduksi adalah ilmu yang nyata dan merupakan hasil penggabungan dari logika serta observasi. Penulis bahkan telah menerapkan ilmu deduksi dan melihat ke praktisan dari ilmu ini. Jadi coba pelajari ilmu deduksi dengan mempraktikan secara sederhana seperti menebak pekerjaan seseorang ataupun deduksi sederhana lainnya.

Penulis akan memberikan kuliah ilmu deduksi di part selanjutnya ^_^

ini hanyalah part satu yaitu sekedar tahap awal pengenalan ilmu deduksi.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Mohan

Seekor kucing yang suka makan dan bermain.

0 Comments

Leave a Reply