Mahasiswa FIB duduk di lantai

Mahasiswa FIB duduk di lantai (Gambar ditambahkan Admin) (sumber: Twitter @ireunaaa)

Saya teringat. Setiap hari senin, setiap mata kuliah Kritik Sastra di gedung IV FIB UI. Kami harus berbagi LCD dengan kelas sebelah. Kami memulai kelas pada pukul 10.00, sedangkan kelas sebelah pukul 11.00. Kami sama-sama membutuhkan LCD untuk presentasi, tetapi yang ada hanya ucapan, “LCD habis. Semuanya terpakai. Kalau mau gantian.”

Baiklah. Berbagi LCD. Mungkin, istilahnya terlalu romantis. Tapi, jujur ini miris. Bagaimana mungkin, kami harus memotong presentasi kami pada pukul 11.00 karena kelas sebelah harus memulai presentasinya juga. Sementara, pembahasan belum selesai.

Mau takmau. Kami pun harus merelakannya. Berbagi LCD. Meski harus mengelus dada. Enthlah. Universitas yang (katanya) berkelas internasional tidak memiliki LCD sejumlah kelas. Mungkin, kami harus merakyat. Menggunakan papan tulis dan spidol. Kembali pada zaman antahberantah.

advertisement

Takhanya itu. Hampir setiap hari. Kami pun harus berbagi bangku. Lagi-lagi kami diajari untuk berbagi dengan sesama. Ya. Berbagi bangku. Lebih romantis bukan kedengarannya?

Setiap pagi. Ada saja pemindahan bangku dari satu kelas ke kelas yang lain. Bangku diseret-seret. Diangkat-angkat. Mengganggu! Kelas takpunya bangku sejumlah mahasiswanya. Parahnya, berbagi bangku ini terjadi antarlantai. Mahasiswa harus naik atau turun untuk mengambil bangku di kelas yang kosong.

Baiklah. Masih beruntung bisa kebagian. Yang datang terlalu telat dapat dipastikan akan duduk lesehan. Atau tidak perlu masuk kelas karena tidak ada bangku.

advertisement

Suatu saat, kami harus terheran-heran kembali. Pasalnya, bangku yang ada adalah bangku seminar (tanpa ada meja). Well, ini lucu. Kami tidak boleh menulis karena tidak ada sandaran untuk menulis. Terpaksa lagi. Kami harus menerima keadaan itu dengan lapang dada.

Itu masih belum seberapa. Hari Rabu, 9 Mei 2012, kami harus kuliah di ruang 4309. Kelas kosong. Hanya ada papan tulis, meja dan kursi dosen, serta meja LCD. Taksatu pun bangku untuk mahasiswa di sana. Kami harus lesehan. Duduk di bawah. Seperti akan pengajian. Bangku di gedung itu sudah terpakai semuanya. Tidak mungkin kami mengambil bangku di gedung lainnya.

Lantas, bagaimana dengan gembar-gembor World Class University? Ataukah kami harus diajari merakyat agar takketahuan kalau melarat? Entah. Berbagi LCD dan berbagi bangku. Miris. Lalu, berbagi apa lagi nanti? Mungkin berbagi kelas. Sebab mahasiswa yang diterima melebihi kuota.

advertisement