Belakangan ini, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda di dalam bis kuning kita. Ada dua carik kertas berukuran A4 dan setengah A4 yang menempel di keempat jendela sisi bikun, sisi kanan depan, kiri depan, kanan belakang dan kiri belakang.

Mata saya menjurus mencari siapa oknum di balik kertas – kertas kecil itu. Entah BEM fakultas mana, organisasi keagamanan apa, atau jangan-jangan kampanye terselubung dari calon punggawa sebuah badan eksekutif? Ternyata nihil.

Hanya ada dua figure (yang mengaku) bernama “Vito” dan “Mora”. Namun entah siapapun Vito dan Mora itu, saya yakin, kepentingannya hanya satu: membuat anak UI menjadi penumpang bikun yang lebih tertib, peduli, dan humanis. Memangnya selama ini belum? Atau malah tidak?

Vito dan Mora dan kritik mereka untuk penumpang bikun

Pesan Vito dalam kertas yang pertama merupakan sungguh sebuah kritik yang tajam. Kekesalannya dengan kondisi bikun yang “depan belakang penuh… tengahnya kosong -_____-“ membuat dia berkata dengan tegas, “GESER KE TENGAH, KAWAN..‼”. Belum cukup sampai di situ, dia menambahkan lagi, “bikun gak perlu kondektur, buat bikin kita semua teratur..! 🙂”.

Pesan Mora dalam kertas yang kedua tidak setajam Vito. Sang gadis berpesan agar jangan lupa berdoa dan mengucapkan terima kasih kepada sang supir ketika kita hendak turun dari bikun. Sebuah pesan yang sangat manis, namun juga menyindir.

advertisement

Mungkin selama ini “seorang” Vito mengamati betapa mahasiswa UI sangat tidak teratur ketika menumpang bis kuning sehingga dia berani melontarkan kritik seperti itu. Mungkin juga “seorang” Mora melihat bahwa sudah tak banyak lagi mahasiswa UI yang mengucapkan terima kasih sebagai bentuk apresiasi kerja sang supir bis kuning.

Kritik yang disampaikan Vito dan Mora amat berhasil menjustifikasikan kegelisahan saya (dan juga Emier dalam opininya yang berjudul “Susahnya Naik Bikun, Gara-gara Mahasiswa Egois yang Berdiri Di Dekat Pintu“, dan juga mahasiswa lainnya -saya yakin).

Apa yang saya lihat selama ini terhadap kondisi penumpang bis kuning ternyata sebelas-dua belas dengan apa yang mereka utarakan. Makin hari, saya amati makin sedikit mahasiswa yang mengucapkan terima kasih kepada supir bikun ketika mereka turun di halte tujuan.

Masih lekat di ingatan saya, pengalaman pertama saya menumpang bis kuning. Kala itu, bis kuning masih seperti kaleng berjalan. Tidak ada AC, tidak ada tempat duduk, bahkan tidak ada pegangan di saat harus berdiri. Namun betapapun menggiriskannya kondisi bis kuning, seluruh penumpang yang turun dari bikun, seraya tersenyum, mereka serempak berkata, “Terima kasih ya pak..!”. Saya sangat terimpresi dengan budaya itu, betapa ternyata mahasiswa Universitas Indonesia sangat menghargai eksistensi orang lain walaupun “hanyalah” seorang supir bis kuning.

Kondisi itu berlangsung dua tahun berikutnya, dan entah mengapa, di awal tahun ajaran 2010 hingga saat ini, semuanya seakan menghilang. Telah jarang saya temui mahasiswa yang dengan spontan berterima kasih kepada supir bis kuning ketika mereka sampai di halte tujuan.

Kealpaan ucapan “Terima kasih ya pak..!” itu membuat saya merenung. Apa pasal budaya luhur itu menghilang? Apakah ini merupakan sebuah bentuk protes mahasiswa karena bis kuning sering datang terlambat? Atau memang semata karena mahasiswa sudah lupa cara menghargai jasa orang lain?

advertisement

Hati – hati, ketidakmampuan untuk berterima kasih, bisa menjadi lampu kuning hadirnya sifat ignoransi. Ketika ketidakacuhan itu sudah muncul, semua eksistensi orang lain bisa berharga nihil di mata kita. Dan apalah artinya makhluk sosial ketika seorang manusia tidak bisa memaknai manusia lain yang hadir dalam lingkup sosialnya? Namun seperti terminologi yang saya pakai: “lupa” dan “tidak mampu”, keadaan ini bisa diubah menjadi “ingat” dan “mampu”.

Mungkin ini keadaan inilah yang ingin dicapai oleh Mora, mengembalikan ingatan dan kemampuan mahasiswa UI dalam menghargai eksistensi manusia lainnya dengan aplikasi yang sangat sederhana dan dekat dengan kesehariannya: berterima kasih kepada supir bis kuning.

Selain perkara terima kasih tadi, seringpula saya amati betapa banyak mahasiswa yang tidak mau memenuhi bagian tengah bis kuning dengan alasan yang amat individualis: “Sebentar lagi turun kok..”. Akibatnya, banyak mahasiswa yang terpaksa tertahan dan berdesakan di bagian dekat pintu bikun.

Tak jarang sang supir mengeluhkan terhalanginya pandangan ke kaca spion oleh tubuh dan tas mahasiswa, sebuah kondisi yang tentu saja amat membahayakan keselamatan seisi bis kuning. Belum lagi resiko terjepit pintu hidraulik bikun karena ruang yang sangat sempit di bagian tangga.

Fenomena tak-mau-geser-ke-tengah itu sontak mengajak saya kembali merenung, “Apakah efisiensi gerak individu lebih penting daripada efisiensi ruang untuk orang lain? Apakah kenyamanan individu harus dibayar dengan ketidaknyamanan orang lain? Apakah seegois inikah mahasiswa Universitas Indonesia sehingga tidak mau memberikan ruang, bahkan ke temannya sendiri? Apakah ini sebuah contoh kecil ironi sekelompok pemuda yang digadang-gadang akan menjadi Messiah bagi bangsa Indonesia, namun menyelamatkan golongannya sendiri saja tak sudi?”

Misi dalam dua carik kertas kecil itu sebenarnya sederhana, sesederhana modal fotocopy hitam putihnya yang seharga dua ratus rupiah saja. Vito dan Mora semata “hanya” menginginkan keteraturan dan penghargaan dalam bis kuning UI. Namun tak ada salahnya kedua hal itu menjadi bahan refleksi atas fenomena yang terjadi pada kita saat ini. Pasti ada alasan psikologis yang mendasari seluruh fenomena itu, dan itu yang patut untuk diwaspadai agar tidak berkembang ke lingkup yang lebih luas lagi.

Mungkin Vito dan Mora seakan ingin berkata, “Mau jadi apa mahasiswa UI kalo di bikun aja mereka egois dan gak ngehargain kerja supir bikun? Apa bener mereka bisa Agent of Change kalo hal sama temen sendiri aja mereka gak mau ngasih tempat?” Perilaku mahasiswa Universitas Indonesia di kehidupan bermasyarakatnya bisa dilihat ketika mereka menumpang bis kuning? Percayalah, hal besar selalu tercermin dari hal yang sederhana.

Semoga pesan-pesan yang disampaikan Vito dan Mora bisa tercapai. Mengingatkan mahasiswa UI untuk selalu geser ke tengah, berdoa, dan mengucapkan terima kasih kepada supir bis kuning; mengingatkan kita untuk mau berbagi ruang kepada sesama dan menghargai jasa orang lain; dan yang terpenting, mengingatkan kita  untuk menjadi mahasiswa yang tidak individualis dan makin humanis, agar kelak kita benar – benar bisa menjadi agent of change dan penyelamat bagi bangsa Indonesia.

Tapi yang paling mendasar, semoga mahasiswa universitas Indonesia sendiri masih mempunyai telinga untuk mendengar kritik, memiliki hati untuk menerima kritik secara legawa, dan memiliki nurani untuk mau berubah menjadi individu yang lebih baik. Niscara dua carik kertas itu bisa lebih bermakna daripada dua lembar kertas seharga dua ratus rupiah saja.