Buat Kaum Rebahan Selama Liburan, Ini Bahayanya dan Cara Atasinya! #SehatUI

Ga jarang pasti diantara kalian juga lebih milih menikmati hidup kayak jalan-jalan, ngelakuin hobi atau bahkan dirumah aja rebahan terus maraton nonton drakor. Buat sahabat anakui yang termasuk kaum rebahan selama liburan semester, kali ini aku bakal ngasih artikel yang ngebahas tentang bahaya plus tips cara mengatasinya.


1
1 point

Liburan semester memang jadi salah satu momen-momen paling ditunggu sama mahasiswa. Apalagi aku ngerasanya semester kemaren tuh stres banget karena sistem belajarnya baru, kuliah sama praktikum daring. Momen liburan emang pas banget dijadiin waktu santai, leha-leha setelah kurang lebih 3 bulan stres sama tugas kuliah yang numpuk. Ga jarang pasti diantara kalian juga lebih milih menikmati hidup kayak jalan-jalan, ngelakuin hobi atau bahkan dirumah aja rebahan terus maraton nonton drakor. Buat sahabat anakui yang termasuk kaum rebahan selama liburan semester, kali ini aku bakal ngasih artikel yang ngebahas tentang bahaya plus tips cara mengatasinya.

Sebelum bahas tentang bahaya rebahan, kalian udah pada tau belum tentang istilah “sedentary life” ? Jadi, sedentary life atau kehidupan sedentari itu adalah gaya hidup tidak sehat karena kurangnya aktivitas fisik yang melibatkan gerakan tubuh. Parameter kehidupan sedentari yaitu melakukan aktivitas ringan dengan pengeluaran energi expenditure kurang dari sama dengan 1,5 metabolic equivalent (METs) (Lavie, Ozemek, Carbone, Katzmarzyk, & Blair, 2019). Di masa pandemi yang membuat kita ga boleh keluar rumah membuat kita rentan untuk mengalami kehidupan sedentari. Aktivitas minim gerak seperti rebahan merupakan salah satu contoh dari kehidupan sedentari ini. Rebahan di kasur sambil  main gadget atau nonton film seharian emang jadi aktivitas yang ga bisa dipisahkan dari liburan ga si? Tapi perlu disadari nih, ada bahaya kesehatan dari rebahan aja  beberapa ada yang ringan ada juga yang berat loh.

1. Rebahan Berbahaya Bagi Kesehatan Jantung

Sumber: https://www.emc.id/

Salah satu bahaya dari rebahan yaitu menyangkut masalah kardiovaskular. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa aktivitas statis seperti rebahan atau duduk selama lebih dari 10 jam per minggu meningkatkan resiko terjadinya gangguan kardiovaskular sampai 82% lebih tinggi daripada yang melakukan aktivitas statis dibawah 4 jam per minggu (González, Fuentes, & Márquez, 2017).

Sejalan dengan penelitian sebelumnya menurut  Nurse’s Health Study, aktivitas fisik pada wanita dapat mengurangi terjadinya serangan jantung sampai 50%. Sedangkan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Aerobics Research Center di Amerika menyatakan bahwa aktivitas fisik mempengaruhi resiko terjadinya stroke. Pada pria, aktivitas fisik mampu mengurangi resiko stroke mencapai 60%.

2. Rebahan Meningkatkan Risiko Obesitas

Sumber: https://www.brilio.net/

Rebahan menjadi salah satu faktor risiko obesitas karena berkaitan dengan aktivitas fisik yang minim. Obesitas terjadi karena pengeluaran energisangat kurang dan tidak sebanding dengan asupan energi  sehingga lemak tertimbun dalam tubuh. Aktivitas fisik mengambil peranan yang penting untuk pengeluaran energi karena 20-50% energi dikeluarkan selama aktivitas fisik (Puspasari, Sulchan, & Widyastuti, 2017). Kurangnya aktivitas fisik juga secara tidak langsung mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh. Menurut penelitian yang dilakukan oleh canadian sleep journal, orang yang tidur lebih dari sembilan jam mengalami penambahan berat badan secara signifikan. Bukan hanya obesitas, rebahan juga bisa meningkatkan kadar gula sehingga resiko mengalami diabetes juga semakin besar. Apalagi kalau rebahannya sambil ngemil makanan ringan atau yang manis-manis.

3. Rebahan Menyebabkan Gangguan Muskuloskeletal

Sumber: https://republika.co.id/

Gangguan muskuloskeletal yang diakibatkan oleh rebahan seperti persendian terasa kaku, nyeri punggung bagian bawah, pegel-pegel dan lain lain. Selain ga nyaman, gangguan muskuloskeletal juga bisa berbahaya. Tubuh bisa terasa kaku, kehilangan kekuatan dan fleksibilitas otot. Rebahan seharian dapat membuat tubuh kehilangan satu persen dari kekuatan ototnya setiap hari. Kalau dilakukan terus menerus selama seminggu, tubuh bisa kehilangan 20-30% kekuatan ototnya (Anggraini, 2019). Kebanyakan rebahan juga bisa membuat nyeri punggung yang membuat kita sulit bangun ataupun melakukan aktivitas sehari-hari.

4. Rebahan Juga Bahaya untuk Kesehatan Mental

Sumber: https://www.hipwee.com/

Selain menyebabkan dampak negatif bagi tubuh, kehidupan sedentari juga memiliki efek negatif pada kesehatan mental. Hal ini karena kehidupan sedentari membuat gaya hidup pasif alias males-malesan yang dapat meningkatkan stres dan kecemasan. Rebahan sambil mainan gadget selama lebih dari 2-3 jam perhari ternyata dapat menyebabkan harga diri rendah khususnya pada remaja (Hoare, Milton, Foster, & Allender, 2016). Penelitian yang dilakukan pada remaja Kanada juga menunjukkan bahwa mereka mengalami tekanan psikologis lebih tinggi karena kehidupan sedentari dalam hal ini bermain gadget selama lebih dari 2 jam.

5. Yuk Lakukan Senam Peregangan Biar Nggak Kena Dampak Negatif Rebahan

Sumber: https://dinkes.slemankab.go.id/

Senam peregangan merupakan salah satu cara mudah yang bisa dilakukan buat kaum rebahan selama liburan semesteran. Senam ini punya banyak manfaat diantaranya melancarkan peredaran darah, mengurangi ketegangan otot, mengurangi resiko cedera punggung, mengurangi stres dan meningkatkan produktivitas (Prihantama, 2018). Kapan sih kita perlu melakukan senam ini? Senam peregangan ini idealnya dilakukan setelah melakukan aktivitas statis seperti rebahan atau duduk selama dua jam. Tujuan senam ini yaitu untuk melenturkan kembali bagian tubuh yang kaku seperti pada kepala, leher, bahu pinggang, kaki dan pernapasan. Senam peregangan minimal dilakukan selama 15-30 menit dengan melakukan gerakan-gerakan tertentu. Nah, untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari gambar di atas ya.

“Kita ini agent of change, bukan agent of rebahan without change”

Kamu yang masih mahasiswa, tentunya selagi muda, sering-sering rebahan itu tidak baik guys. Terlebih di masa pandemi, self quarantine mungkin membuat kamu memanfaatkan banyak waktu luang dengan rebahan. Apalagi kita sebagai agent of change, rebahan bukan image mahasiswa produktif lho.  Rebahan yang biasa diisi dengan tidur enak di kasur kesayangan sambil menanti balasan chat si dia atau menjelajahi dunia maya. Bukanya lebih baik mengganti rebahan dengan aktivitas yang produktif seperti ikut webinar, dengerin podcast online kayak TEDx, baca  jurnal ilmiah atau artikel (kek artikel di AnakUI.com, yaa kan), ikut lomba dan lain-lain. Lumayan kan, rebahan aja tapi juga bisa menambah wawasan plus pengalaman baru.

Sumber: https://www.brilio.net/

“Hal paling menarik dari rebahan adalah ketika bangkit. Apa yang akan kita lakukan tatkala bangkit, rebahan kembali? Saya harap tidak. Menjadi mahasiswa rebahan itu boleh saja, namun jangan sampai berakar kuadrat.” – Wisnu, 2020

Sumber: https://www.brilio.net/

Begitulah teman-teman artikel tentang rebahan, bahayanya dan tips buat ngatasinnya. Buat kaum rebahan mungkin bisa relate nih dengan salah satu dampak yang sudah disebutin diatas. Aku pun nulis artikel ini buat motivasi pribadi biar ga jadi kaum rebahan. Dengan nulis artikel ini jadi lebih tau deh bahaya dan cara ngatasinnya jadi sekalian di share aja deh untuk sahabat AnakUI.

Semoga artikelnya bermanfaat ya! kalo kamu ngerasa artikelnya berfaedah bisa banget di share lewat social media pribadimu dan tag akun anakui.com 🙂

Daftar Pustaka

Anggraini, A. P. (2019). Ramai Tagar #MasihRebahan, Ini 5 Efek Negatif Rebahan bagi Tubuh. Tren Article, p. 1. Retrieved from https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/26/161547765/ramai-tagar-masihrebahan-ini-5-efek-negatif-rebahan-bagi-tubuh?page=all

González, K., Fuentes, J., & Márquez, J. L. (2017). Physical Inactivity, Sedentary Behavior and Chronic Diseases. Korean Journal Of Family Medicine, 111-115. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5451443/

Hoare, E., Milton, K., Foster, C., & Allender, S. (2016). The associations between sedentary behavior and mental health among adolescents: a systematic review. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 13, p. 108. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5055671/

Lavie, C. J., Ozemek, C., Carbone, S., Katzmarzyk, P. T., & Blair, S. N. (2019). Sedentary Behavior, Exercise, and Cardiovascular Health. Circulation Research, 799-815. Retrieved from https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/CIRCRESAHA.118.312669

Prihantama. (2018). Senam Peregangan GERMAS. Dinas Kesehatan Sleman, 1. Retrieved from https://dinkes.slemankab.go.id/senam-peregangan-germas.html

Puspasari, I., Sulchan, M., & Widyastuti, N. (2017). SEDENTARY LIFESTYLE SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERHADAP KEJADIAN OBESITAS. Journal of Nutrition College, 307-312. Retrieved from http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jnc

Wisnu. (2020). Stop Perdebatan Receh Tentang Mahasiswa Rebahan. Opini poros. Retrieved from https://persmaporos.com/mahasiswa-agent-of-rebahan/


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Aisyah Syarofina
Hai! It's me, Aisyah. For get to know me better, hit me on LINE: aisyarofina IG: aissyarofina or visit my website: aisyarofina.wixsite.com/website

0 Comments

Leave a Reply

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals