Akhir-akhir ini saya beberapa kali naik bikun biru dan merah. suasana bikun yang sejuk dan nyaman emang pas banget buat ngadem siang-siang di bulan puasa gini, hehehehe. bikun siang maupun sore juga masih tetep rame karena yang naek sepeda juga mulai jarang (di bulan puasa), mungkin karena bikun nya adem juga jadi bikun menjadi pilihan transportasi utama ataupun hanya sekedar ngadem keliling2 UI sambil ngabuburit.

Namun, saya merasa heran dengan penumpang bikun sekarang, yaitu ada sesuatu yang mulai hilang yaitu kebiasaan mengucapkan rasa terima kasih kepada Bapak Supir bikunnya. Iyah budaya itu kini mulai pudar, entah kenapa semakin jarang mahasiswa yang mengucapkan rasa terima kasihnya karena sudah diantarkan bikun tersebut. Padahal hanya untuk sekedar mengucapkan “Terima kasih Pak”.

Coba kalo kita renungkan, bagaimana jadinya kalo supir bikunnya gak ada yaahh? kasihan yang nge kos di kutek, kukel, anak asrama, ataupun yang mau kuliah di FE, MIPA, atau FT (karena jaraknya agak jauh dengan jalan raya margonda). Memang sih supir bikun itu sudah mendapatkan apresiasi (gaji) dari rektorat tapi kita sebagai mahasiswa hendaklah juga memberikan apresiasi terbaik kepada para supir tersebut yaitu salah satunya dengan mengucapkan rasa terima kasih kepada mereka.

Semoga dengan adanya tulisan ini kita bisa sadar akan hal tersebut. Dan juga semoga dengan adanya tulisan ini ada tindakan nyata dari kita. Mungkin dari pihak ANAKUI.COM mau buatkan stiker atau poster gituh buat di tempel di dalem bikun nya sekalian promosiin anakui.com juga =) yaaa bisa berupa tulisan atau gambar ajakan untuk mengucapkan terima kasih kepada supir bikun. Semoga simbiosis mutualisme kita dengan Supir bikun bisa terus berjalan dengan baik.

“Terima Kasih PaK”



advertisement