Catatan Akhir Road Show PEMIRA IKM UI 09: (Bukan) Curhat Sang Humas


0

Sabtu, 21 November 2009, di kostan seorang sahabat FE, pukul 23.15, memandang bintang dan teringat
Mataku masih terus tertumbuk pada rangkaian kata-kata itu, yang bagai katalis dalam sebuah reaksi kimia, menekan darah dalam pipa-pipa turbuler tubuhku untuk mengalir beberapa kali lebih cepat. Sebuah novel dengan judul “Menara Langit”, karangan Izzatul Jannah ini tadinya hanya ingin kujadikan teman bercengkrama sambil menjemput kantuk, tak dinyana aku malah terjaga hingga menjelang tengah malam, tersihir oleh kisahnya. Aku membayangkan andai aku menjadi Giri, aktivis pergerakan kiri yang mengutuki kaum fundamentalis muslim sebagai mereka yang mengkerdilkan nilai-nilai perjuangan dalam bait-bait ayat yang tiada pernah ia paham artinya, sebelum arus takdir menyeretnya dalam pertempuran yang begitu mulia bersama mereka yang dikutuknya, demi menggulingkan rezim orde baru.

Aku berkhayal andai aku adalah Femy, seorang vokalis band yang akhirnya menemukan kedamaian di tempat yang tak pernah ia bayangkan, dalam arus dunia gerakan. Andai aku adalah thariq, sang aktivis muslim yang masgyul, karena rekan-rekannya tak kunjung sanggup memaknai arti dakwah yang sejati, hingga ia memahami segalanya setelah bertemu giri. Sungguh sebuah kisah yang luar biasa, yang menyadarkanku bahwa sungguh, berbeda tidaklah salah, selama niatan yang bersemi dalam hati adalah demi sesuatu yang baik dan membawa kebaikan, baik bukan hanya bagi diri atau apa yang dipilihnya, tapi bagi semua. Seperti pelangi yang indah karena guratan perbedaan warnanya, maka sungguh terlalu kecil artinya nomer yang akan kita contreng pada PEMIRA IKM UI 2009 nanti, untuk kemudian merenggangkan barisan perjuangan kita demi rakyat Indonesia. Berapa jumlah kita? SATU!

Jumat, 20 November, kanlam F. Psi, entah jam berapa
Tak diduga, road show PEMIRA IKM UI di fakultas psikologi berlangsung begitu lama, walapun kurang begitu jelas kini jam berapa, tapi aku yakin, bahwa pagi akan segera menjelang. Sambil menyumpalkan roti ke dalam mulutku, aku terhempas pada kesadaran yang begitu dalam, bahwa sebuah kisah cinta sedang ditulis di sini, keajaibannya membuat semua yang hadir mampu melihat apa yang tak terlihat. Melihat saran-saran yang konstruktif dalam setiap kritik, bahkan yang paling menyudutkankan sekalipun, melihat dirinya yang ksatria, mampu mengakui salah diri yang kinerjanya kurang optimal di masa lalu, di tengah ego yang membuncah, melihat harapan, di tengah begitu banyak ketidakpastian, di kampus dan di negeri kita ini.

“kami tidaklah lebih baik dari kalian, ini hanyalah bentuk kecintaan kami pada BEM UI, pada UI”, demikian pungkas sang moderator, bersamaan dengan langit yang kian biru, seperti makara fakultas psikologi.Maka jelaslah sudah, seperti juga telah tertoreh dengan indah di 12 fakultas lain, bahwa apapun yang diterima oleh para kandidat, ujian baik fisik maupun mental, hina dina, caci maki serta puja puji, semuanya adalah sebuah pengingat, bahwa siapapun yang menang kelak, baik sebagai BEM UI 1 dan 2, MWA unsur mahasiswa ataupun Angota independen DPM, mereka haruslah hidup untuk kampus perjuangan ini dengan segenap potensi dirinya. Mereka harus mengabdi dengan sepenuh hati, bagi seluruh warga ui, bukan hanya konstituennya, mengabdi, untuk UI, generasi muda, dan bangsa Indonesia yang lebih baik.

Sabtu, 21 November 2009,Sebuah tempat persewaan komik di kober,pukul 09.19
“Bintang yang tidak bersinar di Tokyo, bisa bersinar terang di tempat lain”, begitu kutipan dialog komik yang kubaca, antara 2 tokoh yang aku lupa namanya ketika sedang menulis catatan ini, dalam sebuah pagi yang sepi sembari bersiap menuju balairung untuk menyaksikan bedah kampus. Dan lagi-lagi, sebuah harap terlantun dari hatiku, bahwa jika memang PEMIRA IKM UI ini bukanlah tempat bagi mereka yang kalah untuk bersinar, maka sejatinya ada tempat-tempat lain yang tengah menanti cahaya mereka, asalkan mereka tetap teguh untuk berkontribusi dengan ikhlas demi kebermanfaatan yang seluas-luasnya bagi sesama.

Minggu, 22 November 2009, Pusgiwa, menjelang maghrib

2 buah tugas sudah menanti, selain melipat ribuan kertas suara, penulis juga harus segera membuat berita di blog resmi PEMIRA tentang catatan akhir proses road show. Jujur, penulis memang sangat menyukai menulis, begitu cintanya pada menulis, penulis sering mengabadikan apa yang dianalisa dalam pikirnya, serta dirasa dalam hatinya dalam catatan-catatannya (blog penulis hingga saat ini masih dimatikan karena sebuah kejadian yang belum terlupakan). Jadilah tulisan di atas dijiplak dari catatan itu-semoga menjelaskan, mengapa kata ganti aku yang digunakan- tanpa diedit. Dari, begitu banyak catatan penulis, dipilihlah 3 di atas, bukan tanpa alasan, dalam catatan-catatan itu, terkandung pesan yang dirasa paling bermakna, bagi kita semua para konstituen, bagi mereka yang akan menang dan bagi mereka yang akan kalah. Semoga, tersentuhlah hati kita oleh satu mimpi yang sama, satu irama jiwa yang senada dan satu harap bersama, untuk pemira yang bermanfaat bagi semua.

_Haryo wisanggeni, untuk ui, dari sedalam-dalam lubuk hati_


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
menunggu_hujan_selamanya
just an ordinary star seeker searching for the star of his life

One Comment

Leave a Reply