“Choral Potpourri”: A Pre-Competition Concert PSM UI PARAGITA


0

PRESS RELEASE

Setelah sukses menggelar konser ”Enchanted Evening” pada 7 Mei 2009, konser ”Classical Masterpiece for Winds and Voices” sebuah konser kolaborasi dengan Nusantara Symphony Orchestra (NSO) pada 16 Mei 2009, dan ”Konser Peringatan 25 Tahun Paragita” pada 23 Mei 2009, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia PARAGITA (PSM UI PARAGITA) kembali unjuk gigi. Kegiatan Unit Kegiatan Mahasiwa UI ini memang terbilang padat, berbagai rangkaian kegiatan yang diikuti PARAGITA ini sepertinya tak terlepas dengan rencana keberangkatan mereka menuju Austria pada 6 Juli 2009.

PSM UI PARAGITA tahun ini diundang untuk berpartisipasi dalam “46th Internationaler Chorwettbewerb” (46th International Competition of Choral Singing 2009) 9th-12th Juli 2009 di Castle of Porcia, Spittal An der Drau, Carinthia, Austria. Kompetisi ini merupakan kompetisi bertaraf unggul dimana hanya satu paduan suara yang akan terpilih dari tiap negara. Tahun ini kompetisi ini diikuti sebelas paduan suara terpilih dari sebelas negara berbeda dan  tentunya PARAGITA tampil sebagai representasi bangsa Indonesia. PARAGITA akan berkompetisi dengan paduan suara dari Jerman, Latvia, Rumania, Rusia, Slovenia, Afrika Selatan, Ceko, Hungaria, Amerika Serikat & Filipina.

Konser bertajuk ”Choral Potpourri” bertempat di Goethe Haus Institute, Jl. Sam Ratulangi No. 9, Menteng, Jakarta Pusat ini layaknya konser paduan suara pada umumnya. Yang membuat konser pada Jumat, 19 Juni 2009 ini berbeda adalah tujuan daripada konser ini yaitu sebagai konser pamit atau bisa juga dikategorikan juga sebagai uji panggung sebelum penampilan PARAGITA pada kompetisi Spittal-Austria.

Pada konser kali ini PARAGITA menampilkan lagu-lagu yang akan mereka pertandingkan. Internationaler Chorwettbewerb memperlombakan dua kategori, yaitu kategori lagu klasik dan lagu daerah (folksong). Lagu klasik itu sendiri dipecah lagi menjadi dua yaitu lagu klasik wajib dan lagu klasik bebas

Lagu – lagu wajib yang akan diperlombakan merupakan komposisi karya Hans Leo Hassler (1564-1612) ”Ecce Quam Bonum, Robert Pearsall (1795-1856) ”Lay A Garland”, dan Bruno Strobl (*2008) ”Nach Soviel Nebel”. Khusus untuk lagu terakhir, karya ini sengaja diciptakan untuk kompetisi 46th Internationaler Chorwettbewerb. Jadi lagu tersebut bisa dikatakan sebagai debut pertama diperdengarkan kepada khalayak. Sementara untuk lagu pilihan, PARAGITA memilih lagu ”Vineta” karya Johannes Brahms (1833-1897), ”Salve Regina” karya Francis Poulenc, dan ”O’ve, Lass, Ill be Viso?” karya Morten Lauridsen.

Pada kategori folklore, PARAGITA akan membawakan lagu ”Mande-Mande” lagu tradisional asal Maluku aransemen oleh Farman Purnama, ”Ma Rencong-Rencong” lagu tradisional asal Bugis aransemen Budi Susanto Yohanes dan Agustinus Bambang Jusana, dan terakhir adalah ”Pangkur Mocopat” lagu tradisional asal Jawa Tengah. Selain sejumlah lagu yang telah disebutkan, pada konser ini PARAGITA juga mempersembahkan beragam lagu lainnya untuk menghibur para pecinta musik di Jakarta. Diantaranya ”Penny Lane” karya the Beatles, ”Jaglied” karya Felix Mandelssohn Bartholdy, ”Wanita” karya Ismail Marsuki aransemen Martin Yohanes Tupano, ”Bengawan Solo” karya Gesang aransemen Beny F. Manumpil, ”Ikaw Lamang” dan ”Sakura” arr Toru Takemitsu.

Berbicara mengenai persiapan keberangkatan PARAGITA menuju Austria, pihak panitia mengakui perjalanan dan usaha yang ditempuh tidaklah mudah dan ekstra keras. “Selain bernyanyi, kami juga dituntut mencari dana secara mandiri. Pihak Universitas memang memberikan bantuan, tapi panitia harus berusaha ekstra untuk menutupi kekurangan yang ada karena kebutuhan kita memang sangat besar,” tutur Erichson Sihotang, Ketua Pelaksana PARAGITA goes to Spittal-Austria.

Dari segi teknis, Erichson mengakui kendala yang dihadapi tidak sebesar kendala non-teknis seperti misalkan dana, pengaturan keberangkatan rombongan dan lain sebagainya. ”Hampir 98% anggota PARAGITA yang akan berangkat ini belum pernah merasakan iklim kompetisi diluar negeri, bahkan mengatur atau mengurus persiapan keberangkatan di luar negeri.  Malah ada anggota yang baru resmi menjadi anggota PARAGITA,” kata Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi 2005 ini.

Meskipun sulitnya memenuhi kebutuhan dana, apalagi ditengah iklim pemilihan umum dan kondisi keuangan perusahaan yang serba sulit, panitia mau tidak mau dan tetap optimis tentang rencana keberangkatan kali ini. ”Kita sudah mempersiapakan segalanya dari bulan Februari, meskipun perencanaan kita mungkin kurang sempurna. Apabila gagal, bukan hanya PARAGITA saja yang malu. Kita sudah membuat konser galang dana, konser pamit, konser ini dan itu, semuanya bisa jadi sia-sia. Kita juga tentu harus mempertanggungjawabkan segala dana yang telah kita pakai. Downpayment pesawat misalnya, tidak akan mungkin dikembalikan. Tapi bagaimanapun caranya saya yakin semuanya berjalan sebagaimana mestinya,” tegas Erichson penuh semangat.

PARAGITA memang sudah lama absen mengikuti festival ataupun kompetisi internasional. Terakhir kalinya PARAGITA berangkat keluar negeri pada The 2nd Choir Olympics di Busan, Korea Selatan. Saat itu PARAGITA meraih Medali Perak untuk kategori Folklore with instrument accompaniment dan Mixed Chamber Choir dan medali perunggu untuk kategori Musica Sacra a capella.

Meskipun PARAGITA sempat vakum dari hiruk pikuk paduan suara tanah air selama dua tahun (2004-2006), pada tahun 2007 PARAGITA kembali mendapatkan energi baru setelah Aning Katamsi, soprano Indonesia, kembali bergabung. Sebelumnya Aning pernah menjadi konduktor PARAGITA pada rentang tahun 1990-2000. Kali ini ”mbak Aning”, panggilan akrabnya, tidak sendirian namun dibantu para alumni PARAGITA lainnya, yaitu Teresia Ramona CU, Ignatia Rozana Fasinta, Barkah Kasyono Adji, dan Agus Yuwono.

Bersama Aning Katamsi, PARAGITA berhasil meraih prestasi internasional pertama mereka pada NETHERLAND INTERNASIONAL CHOIR FESTIVAL, di Arnhem pada tahun 1995. Paragita mendapat peringkat lima dari tiga puluh dua peserta kategori Small Mixed Choir. Diikuti dengan prestasi di tahun berikutnya, sebagai Juara Pertama untuk kategori Folk Song, dan Juara Ketiga untuk kategori Choir Composition dalam INTERNATIONALLER CHORWETTBEWERB di Miltenberg, Jerman. Kompetisi 46th Internationaler Chorwettbewerb ini menjadi debut pertama bagi Aning Katamsi setelah bergabung kembali dan juga bisa menjadi ajang pembuktikan kepada publik, terutama pecinta paduan suara di tanah air bahwa PARAGITA dapat menunjukkan eksistensinya kembali.

INFORMASI LEBIH LANJUT :

  • Dinda Sarasannisa              0817 815 929
  • Erichson Sihotang               021 9450 6344
  • Email:                           paragita.choir@yahoo.com

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
ilmanakbar

suka menulis dan berbagi. sudah lulus dari kampus. sudah tidak jomblo lagi, yeay! \^_^/

3 Comments

Leave a Reply