Debat Memang Membingungkan


0

Penyelenggaraan OIM (Olimpiade Ilmiah Mahasiswa) Universitas Indonesia 2008 sudah berlalu. Torehan prestasi, kekecewaan, kegembiraan, semangat tanding, dan haru biru kompetisi telah terlewatkan. Tim MIPA sukses merebut piala juara umum, memupuskan harapan tim dari fakultas lain yang juga memborong beberapa gelar juara seperti FKM, FIB, FISIP dan FE. Dari, sebegitu banyaknya, aksi ilmiah mahasiswa yang terekam dalam kamera OIM, saya ingin berbagi pendapat pengalaman saya seaktu menjadi tim debat Bahasa Indonesia mewakili fakultas saya. Sebelumnya yang saya ingin saya tekankan adalah, tulisan ini adalah murni subjetif berdasarkan objek yang terekam dalam pikiran saya pribadi selama mengikuti even tersebut. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk memojokkan suatu pihak manapun, karena sayapun sangat menghargai kerja keras panitia terutama Debat Bahasa Indonesia sehingga bisa lomba ini bisa berjalan dengan lancar.

Debat memang membingungkan…itu mungkin yang akan muncul dalam pemikiran orang yang melihat debat. Terlebih lagi bagi para juri, yang seharusnya profesional dalam menilai dan sesuai dengan standar debat-yang seharusnya ada, tentu lebih membingungkan. Kredibilitas dan independensi juri seringkali dan selalu menjadi masalah strategis yang sering “diributkan” oleh peserta. Ada banyak aspek yang sering menjadi acuan apakah seorang bisa dipercaya menjadi juri debat atau tidak yakni aspek independensi, dan aspek pengalaman. Hal ini mungkin yang sulit saya lihat dalam penyelenggaraan debat yang saya ikuti. Marilah kita telaah:

  • Aspek independensi

Independensi berarti suatu kondisi yang membuat seorang juri mampu membuat keputusan yang tepat tanpa bias dan pengaruh dari orang lain atau kondisi lain. Sejatinya dalam suatu debat apabila ada tim dari institusi A yang sedang bertanding, maka juri dalam debat tersebut tidak boleh berasal dari institusi yang sama/institusi A. Mungkin ini terjadi di beberapa babak dalam debat OIM beberapa saat yang lalu. Jelas, jika berasal dari institusi yang sama maka akan sangat rawan terhadap konflik kepentingan. Hal ini juga yang biasa dipraktekkan dalam debat bahasa Inggris di Indonesia. Kebetulan saya adalah anggota dan pengurus English Debating Society Universitas Indonesia, dan kebetulan pernah beberapa kali menjadi juri ajang debat baik tingkat SMA maupun universitas/perguruan tinggi. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa organisasi dimana saya bernaung merupakan organisasi superpower dalam debat, namun dari banyak kegiatan yang saya ikuti, yang tentunya berhubungan dengan debat, banyak pengetahuan yang saya dapat terkait bagaimana mengorganisasikan debat dengan baik dan benar.

Dalam debat yang ada, juri harus selalu berasal dari institusi yang berbeda dengan dua tim yang sedang berdebat. Apabila juri berasal dari institusi yang sama, juga akan sangat rawan terhadap “intervensi” para suporter tim tertentu. Maaf, kadang juri yang tidak kredibel selalu mengasosiasikan tim yang mendapatkan sambutan gemuruh penonton terheboh, dengan kualitas tersebut. Padahal debat bukan ajang adu dukungan, tapi adu penyajian pendapat dengan alasan yang masuk akal, contoh yang relevan dan pembangunan tim yang solid.

Terkait dengan jumlah, dalam suatu debat selalu diharuskan jumlah juri adalah ganjil. Kenapa? Apabila jumlah juri genap, maka independensi juga akan terancam. Misalnya saja, juri pertama memberikan kemenangan kepada tim pro, sedangkan juri kedua memberikan kemenangan pada tim kontra. Secara otomatis, mereka HARUS BEREMBUG untuk menentukan siapa yang menang. Dalam perembugan ini, bisa saja juri yang lebih senior mungkin, atau juri yang lebih dihormati bisa “mempengaruhi” juri lainnya untuk mendukung keputusannya. Hal ini tidak akan terjadi jika juri berumlah ganjil. Sama yang terjadi dalam babak final, hanya ada dua juri yang bercokol di depan panggung. Lantas ketika, saya bertanya pada panitia, dengan santainya panitia tersebut menjawab….juri satunya lagi tidak bisa datang, jadi yang ada hanya dua orang. Hm, dari situ sudah bisa tercium aspek independensi akan menjadi taruhan….terlebih jika juri bersal dari fakultas yang sama dengan salah satu finalis. Yang muncul dalam pertanyaan saya adalah :Memangnya panitia tidak punya rencana kontingensi/cadangan untuk mengatasi situasi seperti ini, sehingga nantinya tidak akan merugikan para finalis. Entahlah? Toh, debat juga akhirnya berjalan dengan juri berjumlah genap

Aspek independensi juga bisa terancam jika juri “sudah memihak” terlebih dahulu mosi yang akan dipertandingkan sebelum dimulai. Misalnya saja mosi debat adalah bahwa pemerintah setuju mengesahkan UU aborsi, maka seorang juri yang konservatif akan cenderung tim kontra karena yang bersangkutan juga secara personal tidak setuju dengan praktek aborsi. Ada beberapa mosi dalam Debat Bahasa Indonesia OIM yang (maaf) menurut saya kurang berkualitas karena mengundang keambiguan serta mengancam independensi juri.

  • Aspek Kompetensi

Debat bukanlah suatu mata kuliah yang mana apa yang ada dalam text book selalu menjadi suatu yang benar dan teoritis. Jadi dalam debat, yang sewajarnya menjadi juri adalah para praktisi debat (orang yang sudah pernah berdebat atau menjadi juri debat), bukan seorang akademisi murni. Coba kita lihat, juri-juri debat dalam pemilihan kepala daerah dan sebagainya, walaupun ada akademisi di situ, namun keberadaan praktisi tetap menjadi mayoritas penyusun dewan juri. Sekali lagi debat memang membingungkan, karena sesuatu yang salah (dalam pandangan orang awam), bisa menjadi sesuatu yang benar karena telah dibingkai dengan argument-argumen yang logis dan beralasan. Juri-juri yang kurang kompeten biasanya akan jauh berbeda dalam memberikan penilaian terkait matter (kualitas argument), manner (aspek etika dalam debat) dan methode (strategi debat). Kontes debat adalah kontes “jual beli” argument, beradu argument bukan kontes jual kecap yang asal kemasannya bagus, namun isinya belum berkualitas, bisa menang begitu saja. Oleh karena itu aspek matter memperoleh porsi penilaian yang JAUH lebih besar dari aspek lainya.

Juri yang kompeten dan tidak mengerti standar, akan mencampur adukkan aspek peniliaian tergantung dari preferensi masing-masing. Misalnya saja mereka cenderung lebih SUKA pada “anak-anak baik” yang sopan santun walaupun argumen yang disajikan hanya tong kosong

Ada banyak kuotasi yang bisa saya ambil dari penilaian/penjelasan yang disajikan juri (yang selanjutnya disebut adjudicator’ assessment) selama saya megikuti debat OIM:

  1. “Ini adalah pengalaman pertama saya jadi juri debat”. Waduh, walaupun sepintar apapun juri tersebut, namun kalau tidak pernah terlibat dalam debat bahkan melihat debat, maka akan sulit bagi yang bersangkutan untuk melakukan penilaian yang independen
  2. “Namunya juga kompetisi, sikap menggebrak-gebrak meja hal yang biasa”. Walah….kalo menggebraknya benar-benar sampai membuat seluruh ruang bergetar…apa masih tergolong lumrah
  3. “Kalian terlalu emosional……” Dengan alasan bahwa tim melakukan berkali-kali interupsi (padah juga gak pernah diterima interupsi tersebut). Coba bandingkan dengan kuotasi kedua…..terlihat JAUH perbendaannya….ada juri yang AMAT SANGAT mentoleransi emosional, di sisi lain bahkan INTERUPSI PUN dianggap suatu sikap EMOSIONAL yang TIDAK PERLU dan justru menjadi bumerang bagi timnya sendiri. Halo, namanya juga debat pasti isinya adalah “jual beli” argumen, saling serang argumen
  4. “Tim kamu sangat menjiwai debat ini……” Padahal tim yang bersangkutan lebih banyak menyerang ke arah personel lawannya. Dalam debat yang diserang adalah argumenbukan pribadi orang per orang. Penyerangan personal bukanlah suatu yang relevan
  5. “Ada banyak penggunaan kata-kata dimana, yang mana dan sebagainya….yang berkali-kali diucapkan dan jumlahnya sampai sebelas”. Saya secara pribadi tidak habis pikir dengan juri-juri semacam ini, karena ketika orang berbicara dan salah dalam emngucapkan EYD (yang sangat diagung-agungkan oleh yang bersangkutan) adalah sesuatu yang WAJAR. Dalam debat bahasa inggris pun demikian. Namun, sepertinya juri semacam ini memang lebih menitik beratkan ke arah EYD dan sebagianya, tanpa melihat kualitas argumen yang ada…sungguh menyedihkan. Memang EYD juga merupakan salah satu aspek manner, tapi jika bobot penilaian lebih ke aspek ini jadinya juga kurang relevan.
  6. “Argumen Anda kok berganti-ganti ya”. Dalam berdebat terdapat kesinambungan argument (flow of argument) antara pembicara satu, dua, ketiga dan reply speech. Juri yang kompeten akan melihat debat secara utuh, bukan PARSIAL. Juri yang tidak kompeten akan cenderung melihat debat secara sepotong-sepotong, apalagi jika mereka tidak berpengalaman. Akibatnya mereka menjadi bingung sendiri dan akhirnya menyalahkan tim dengan argumen tersebut, padahal sebenarnya juri itu saja yang kurang tanggap
  7. “Saya suka pembicara kedua, karena jelas…” ya jelas karena memang tidak ada argumen yang diungkapkan, tidak ada informasi yang diperdebatkan sehingga ya jelas didengarkan…beda jika debat dipandang secara utuh…Hal ini akan merugikan pembicara yang sebenarnya secara teknik dia mampu memberikan argumen yang berkualitas, namun karena para jurinya terkesan malas untuk mendengarkan, akhirnya pembicara tersebut justru menjadi kambing hitam.

Kuotasi-kuotasi di atas mengingatkan saya ketika menjadi juri debat bahasa Inggris PIMNAS 2007 di UNILA Lampung. Pada saat itu, hampir 70% juri adalah para dosen, yang kebanyakan usinya juga sudah tidak muda, sisanya adalah anggota tim pecinta Bahasa Inggris universitas setempat yang bahkan tidak pernah melihat debat sekalipun, sedangkan hanya segelintir (kalo tidak salah tidak lebih dari dua orang) juri yang pernah berdebat dan atau menjadi juri debat. Tidak ayal, jika debat tersebut sempat “diembargo” oleh banyak tim, dan kredibilitasnya tidak diakui di mata komunitas debat Bahasa Inggris di Indonesia. Banyak sekali kuotasi-kuotasi serupa yang membuat saya sendiri tergelitik, namun tetap SANGAT PRIHATIN terhadap penyelenggaraan yang seperti itu. Setahun kemudian, saya melihat perubahan yang sangat besar. Pada Debat Bahasa Inggris PIMNAS 2008 di UNISSULA Semarang…Kebetulan saat itu, saya juga berkesempatan menjadi juri debat bahasa Inggris. Saya melihat perbaikan yang drastis dalam penyelenggaraan debat mulai dari sistem, managemen waktu, kualitas juri (adjudicator) sampai masalah atributif lainnya. Juri yang layak adalah para invited adjudicator dan juri yang telah lulus ujian akreditasi. Invited adjudicator adalah para debaters yang sudah memiliki track record debat yang baik baik dan berpengalaman dalam menjadi juri. Seangkan bagi juri yang masih permulaan/belum berpengalaman, maka harus menjalani tes akreditasi.

Tes akreditasi (yang bisanya adalah para invited adjudicator) biasanya terdiri dari tes melihat dan mendengarkan debat, mengerjakan tes tertulis dengan soal-soal terkait dengan debat serta harus membuat analisa dari debat yang baru saja didengarkan, yang ketiga adalah tes assestment atau memberikan penilaian pasca debat. Juri memang harus mampu menyajikan penilaian merak dengan baik kepada kedua tim ketika debat telah selesai. Biasanya, calon juri yang tidak lolos tes akreditasi akan menjadi trainee¸ dia akan dibimbing oleh para invited adjudicator. Hasil akreditasi disajikan dalam bentuk angkat misalnya A, B,C dan D. Trainee hanya akan menjadi juri bayangan, artinya dia tetap harus mengisi formulir penilaian debat dan sebagainya, namun keputusannya tidak akan mempengaruhi tim yang kalah dan yang menang. Sebelum para invited adjudcator dan juri yang lolos akreditasi memberikan assesment, maak mereka akan mengeksplor bagaimana opini para trainee tersebut. Apabila performa para trainee bagus maka bisa saja mereka dipromosikan untuk menjadi adjudicator sungguhan. Terkesan sangat RUMIT memang. Namun inilah dunia debat, peran juri sangatlah KRUSIAL sehingga harus dijamin kualitasnya. Bukan asal comot juri seadanya, siapa yang bisa tanpa dilakukan screening yang sesuai.

Hal seperti di atas, yang secara personal saya inginkan dan saya yakin semua juga menginginkan perubahan yang lebih baik, bagi penyelenggaraan debat OIM di tahun-tahun mendatang. Apalagi banyak sekali sesuatu yang menurut saya kurang profesional dilakukan oleh panitia misalnya perubahan waktu tanding. Misalnya tim saya sempat mendapatkan tiga sms dalam waktu hanya setengah jam, yang isinya perubahan waktu pelaksanaan debat. Jelas ini sangat memberatkan, karena urusan seseorang tidak hanya debat. Orang yang bersangkutan juga punya kepentingan dan janji dengan pihak lain. Jadi ketika jadwal yang ada sifatnya DINAMIS, maka tentu akan sangat merugikan peserta. Tidak hanya waktu debat, tim yang harus dilawan juga sempat berganti-ganti. Benar-benar membingungkan.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh panitia sebalum penyelenggaraan hari H debat, misalnya:

1. Memastikan bahwa juri yang diundang adalah juri yang KOMPETEN, BERPENGALAMAN dan INDEPENDEN. Menurut saya ini sangat penting…sangat penting

2. Ada baiknya jika panitia memberikan pengarahan kepada SEMUA juri terkait dengan aturan debat dan bagaimana penilaian yang baik, ini akan menyamakan standar mereka. Jika ini dilakukan maka intepretasi pengertian emosional dan semangat yang berbeda-beda antara juri satu dengan yang lain, yang telah disebutkan sebelumnya, tidak akan pernah terjadi

3. Melakukan sosialisasi debat ke semua fakultas terkait tata cara, aturan dan sebagainya sehingga semua tim yang akan bertanding tahu bagaimana cara berdebat yang BAIK DAN BENAR sesuai dengan aturan. Debat nantinya, bukan hanya ajang ”jual kecap”, siapa yang kemasannya bagus, namun sebenarnya kosong melompong, yang memang seharusnya tidak berhak menang memang tidak menang. Karena faktanya, seperti ketika saya menjadi juri panel dengan dosen-dosen…..maka mereka MEMANG LEBIH SUKA pada para ”penjual kecap” tersebut. Asal kemasan luarnya bagus, maka kekuatan argumen…hanyalah faktor yang kesekian yang menentukan kemenangan.

Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menyudutkan pihak tertentu. Tulisan ini juga tidak didasari HANYA karena tim saya kalh di final debat, tapi didasari pada fakta yang terlihat dari saat debat pertama kali diselenggarakan. Saya mengucapkan apresiasi sebesar-besarnya pada panitia penyelenggara. Semoga penyelenggaraan tahun depan bisa LEBIH BAIK dan TIDAK MENGECEWAKAN. Ya, demi apalagi kalau bukan demi kemajuan bagi Universitas Indonesia tercinta. Terima kasih


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

5 Comments

Leave a Reply

  1. Cuma dua juri? Kacaaaaawwww!!!

    Saya geli dengan komentar juri “menjiwai”. Saya pernah sekali ikut lomba debat di SMU 70 saat SMU (dan tim kami cuma runner-up, tetapi tim lawan dari SMU 34 saat itu memang punya kematangan dalam berargumentasi) dan juga pernah melihat debat bahasa Inggris, dan saya rasa, semua tim debat pasti punya ‘jiwa’. Bila tidak, mereka tidak akan masuk ke tim debat.

    Justru yang penting adalah argumen yang mereka gunakan. Apakah konsisten antara tiap tim pendebatnya, apakah mereka mengerti inti perdebatannya. Bahkan sebenarnya, juri mestinya tidak boleh pro dan kontra terhadap topik-topik yang dibawakan.

  2. Kpd pihak penyelenggara OIM, tolong ditampung ya, kritikan saudara kita ini. Jangan hanya seperti angin lalu saja…

    (seumur hidup,saya ikut kompetisi/tanding,dsb…. jurinya selalu ganjil. Apapun alasannya…)
    ———
    hmmm… ternyata masih zamannya ya… mengedepankan subjektivitas dlm penilaian…

  3. Oke, saya kembali lagi untuk mengomentari adek2 saya dan aktivitasnya di UI. Kadang pedas, tapi kali ini gw sangat setuju dengan Pendapat Anda.

    Gw juga pernah menjadi juri kompetisi semacam ini, tapi long time a go, dan selain itu sering mengikuti. Walo ga liat langsung, tapi gw pikir analisis lo banyak benernya. Walo ga sepenuhnya benar, misal dalam aspek latarbelakang juri dan komen2 nya ya. Apalagi poin juri yang menurunkan kredibilitasnya dengan komen ga perlu seperti “saya baru kali ini jadi juri dst” ini sangat tidak perlu.

    Dan paling setuju yang bikin debat itu cacat –okelah masalah preferensi, like dan dislike itu manusiawi– adalah juri yang GENAP. Ini tdk dibenarkan. Mending panitia comot juri dadakan. Gak susah cari orang pinter di UI. Bener gak?? Aneh bin Ajaib. Gw mo ketawa ngeliat juri debat kok 2 orang.. 🙂

    Salam

  4. wouw
    panjang bener tulisannya…

    ^^

    emang aneh sih…
    debat itu kan susah menilainya…
    tapi kok tetep diadakan lomba debat ya?
    oh mungkin supaya anak-anak UI
    jadi pinter debat kali yaa…

    pinter debat??

    hahaha

  5. saya juga setuju lhoh sama tulisan ini,
    sayang sekali kalau lomba yg berbau ilmiah, tapi kredibilitas jurinya dipertanyakan.
    yang saya lihat dari penyelenggaraan OIM ini bukan cuma cacat di Debat B. Indonesia, tetapi juga pada lomba lainnya.
    Kalau begini, apa kita bisa bangga kalau memenangkan lomba yang tidak jelas aturan mainnya, tidak jelas sistem penjuriannya, ketidakkompetennan panitia.

    Komplain : Pada debat B. Inggris, saya sangat kecewa dengan panitia penyelenggara yang tidak menyiapkan aturan2 kontingensi, seperti, jika ada salah satu anggota tim tertentu tidak bisa hadir pada waktu yang (secara paksa dan tanpa konfirmasi) ditentukan oleh panitia.
    Atau panitia dengan mudahnya mengganti-ganti peraturan lomba (asal) ada lomba terus berjalan. terdapat ketidakkonsistenan disini.

    Mohon kepada BEM UI, pada penyelenggaraan OIM tahun depan, memperhatikan masalah-masalah yang sangat krusial seperti ini.