Documentary Days 2009 Heroes: Neverending Struggle

”biarkan film menjadi sarana pembuka hatimu”

Documentary Days : Eagle Award Workshop

“Pembuatan Proposal Film Dokumenter”

Tanggal           : 4-6 November 2009
Pukul               : 09.00 – 16.00
Tempat            : Erasmus Huis

Trainer             :

  • IGP Wiranegara (sutradara film dokumenter)
  • Chandra Tanzil (produser film dokumenter)
  • Rhino Ariefiansyah (sutradara film dokumenter)

Tiket : Rp 75.000 (include lunch, coffee break, goodie bag and certificates)

Documentary Days : Eagle Award Workshop akan dilaksanakan selama tiga hari dan akan diisi oleh para ahli di bidang dokumenter. Selama tiga hari, para peserta akan mendapatkan materi tentang pengenalan film dokumenter serta tahap-tahap pembuatan film dokumenter, seperti perumusan gagasan awal, film statement, riset, story line, budgeting, jadwal produksi, dan shooting script.

Para peserta diharapkan telah melakukan riset terhadap masalah yang akan menjadi objek dalam film dokumenter yang akan mereka buat. Sesuai dengan tema Documentary Days 2009, peserta diharapkan mengambil tema mengenai orang-orang yang telah berjasa dan menjadi pahlawan di lingkungan sekitar peserta. Masalah-masalah yang diangkat diharapkan datang dari kehidupan mereka sehari-hari sehingga ketika mereka diarahkan untuk mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah proposal mereka tidak akan mengalami kesulitan dalam menggali ide tersebut secara lebih dalam karena ide tersebut berasal dari lingkungan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Setelah workshop ini para peserta diharapkan dapat membuat proposal film dokumenter secara keseluruhan yang layak untuk diikutsertakan dalam berbagai kompetisi film dokumenter maupun untuk langsung diwujudkan menjadi sebuah film dokumenter.

Pemutaran dan Diskusi Film Dokumenter

Tanggal           : 9 – 10 November 2009
Pukul               : 09.00 – 16.30
Tempat            : Auditorium FEUI

FOR FREE!!

Mengangkat momen hari Pahlawan pada bulan November, panitia Documentary Days 2009 ingin meningkatkan awareness masyarakat pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya terhadap orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita. Pahlawan tidak selalu harus seseorang yang bergelar “Pahlawan”, namun bisa juga orang-orang seperti orangtua kita, guru-guru yang rela mengajar anak-anak dengan bayaran yang minim, maupun dokter yang rela ditempatkan di daerah terpencil demi mengabdikan ilmunya. Melalui media film dokumenter, peserta akan diajak untuk melihat langsung realita yang sebenarnya terjadi di kehidupan sekitar kita dan melalui diskusi, peserta diharapkan untuk lebih mendalami isu yang diangkat dalam film-film yang akan diputar pada Documentary Days 2009.

Day 1 (9 November 2009) :

Amtenar : Sahaja yang Terabaikan

15 min.Indonesia.Finalis Eagle Award 2006. Deny Sofian, Lia Syafitri

Seorang Dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap), Diana Bancin (24 tahun), ditempatkan di kepulauan Maya-Karimata, sebelah barat pulau Kalimantan. Daerah tersebut sudah 9 tahun tidak memiliki dokter. Saat ini dengan tingkat pemahaman masyarakat yang rendah tentang kesehatan, mereka menghadapi ancaman epidemi malaria. Dokter Diana mencoba melakukan apa yang dia bisa untuk kesehatan masyarakat, dalam kondisi daerah yang terisolasi, sulit air bersih, dan minim fasilitas kesehatan.

Bukan Negeri Sampah, Bukan Bangsa Pengemis*

Indonesia.Finalis Eagle Award 2009.Devi Al Irsyadiah,Eko Rejoso

Bercerita tentang kreatifitas warga dusun Badegan dalam mengelola dan mengolah sampah dengan sistem Bank Sampah yang merupakan representasi modal sosial dan kearifan lokal yang dimiliki warga dalam bentuk sebuah lembaga lokal yang ingin memberikan efek positif terhadap kebersihan lingkungan untuk masyarakat luas.

Sang Pengumpul Asap*

Indonesia.Finalis Eagle Award 2009.Agrha Adi Prayogo,Lilis Sucahyo

Seorang dosen IPB berhasil membuat suatu karya yang berguna bagi masyarakat, yaitu alat konversi limbah asap menjadi bentuk asap cair pada industri pembuatan arang tempurung kelapa. Asap yang semula menjadi masalah kini dapat dikelola menjadi bahan bernilai ekonomi.

2.5 Billion Dollars for the State

51 min.Indonesia.Offstream.Lexy Rambadeta,Steve Pillar

Film ini mencoba merefleksikan realitas para Tenaga Kerja Wanita (TKW) dengan mengikuti aktivitas keseharian buruh migran ini di Hong Kong. Para perempuan ini kebanyakan masih sangat muda dan berprofesi sebagai pembantu rumah tangga. Tak jarang diantara mereka yang mendapat perlakuaan yang tidak baik dari para majikannya karena sebagian besar dari mereka tidak mengerti sepenuhnya mengenai hak yang bisa mereka dapatkan sebagai buruh migran..

Ksatria Kerajaan

20min.Indonesia.Finalis Eagle Award 2005.Agus Darmawan,Fajar Nugroho

Bercerita tentang Pardi yang menjadi prajurit kerajaan di keraton Yogyakarta. Sebenarnya sejak kecil ia ingin menjadi tentara tapi tidak kesampaian. Kendati menjadi prajurit kerajaan tidak mempunyai gaji yang besar (minim) tapi banyak pula anak muda yang mendaftar menjadi prajurit kerajaan. Prajurit kerajaan bukan lagi sebagai penjaga keamanan tapi lebih sebagai penjaga warisan budaya keraton Yogyakarta.

Tom W

28min.Polandia.Goethe Institute.Anna Wieckowska

Tom berusia 12 tahun dan hidup di Polandia. Sepulang sekolah, ia membantu keluarganya : bekerja, pindah ke rumah baru, membeli hadiah natal. Tidak ada masalah bagi Tom sebenarnya, lagipula siapa yang akan melakukan pekerjaan-pekerjaan itu selain dirinya? Tanpa Tom, mungkin keluarga tersebut tidak akan bisa bertahan hidup.

Shadow Play

76min.Indonesia.Offstream.Chris Hilton,Lexy Rambadeta

Mengisahkan tentang peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu) dari sisi yang selama ini tidak pernah disoroti oleh pemerintah Orde Baru. Shadow Play mencoba untuk lebih objektif mengemukakan peristiwa tahun 1965, baik dari perspektif sejarah maupun para korban pasca peristiwa Gestapu itu. Kekejaman kemanusiaan sesungguhnya yang terjadi pada pasca peristiwa itulah yang dikuatkan di film ini. Yakni, bagaimana jutaan orang-orang PKI dan rakyat yang tak terbukti anggota PKI pun diasingkan, atau dibunuh dan dikubur layaknya binatang.

Pertaruhan (Mengusahakan Cinta)

27min.Indonesia.Kalyana Shira Foundation.Ani Ema Susanti

TKI adalah pahlawan devisa bagi Indonesia. Namun, perjuangan yang harus mereka hadapi di negeri tetangga bukanlah perjuangan yang mudah dan mereka pun terjebak pada masalah-masalah yang membuat mereka gamang untuk kembali ke tanah airnya. Film ini mengisahkan tentang dua orang wanita, yaitu Riantini, buruh migran di Hongkong yang menjadi seorang lesbian dan Ruwantini, yang keperawanannya dipertanyakan oleh calon suaminya di Indonesia.

Film Discussion with Eagle Award Filmmaker

Day 2 (10 November 2009) :

Kepala Sekolahku Pemulung*

17min.Indonesia.Film Terbaik Eagle Award 2007. Jastis Arimba,Victor Doloksaribu

Film ini menceritakan perjuangan Mahmud (49 tahun) seorang kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah (Mts / setingkat SMP) di kota metropolis Jakarta yang menyambi sebagai pemulung karena gajinya minim, bahkan dibawah Upah Minimum Propinsi. Walaupun sekolah yang dipimpinnya berhasil mendapat predikat sekolah dengan Ujian Nasional (UN) terbaik di tahun ajaran 2006/2007 lalu, tapi fasilitas di sekolah itu kurang baik, seperti laboratorium, perpustakaan, kelas, dll. Lantas, bagaimana Mahmud menghadapi kontroversi “guru tak pantas memulung”, dan bagaimana pula perjuangannya dalam menghidupi anak-anaknya dan istrinya?

Benteng Pantura*

14min.Indonesia.Ide Cerita Terbaik Eagle Award 2006. Jajat Rio Rismana,Hermawan

Seorang warga desa ilir – Indramayu yang bernama Solikin (64 tahun) mencoba menyelamatkan Pantai Utara Jawa di tengah abrasi  dengan cara meraklamasi pantai. Dalam proses reklamasi, Solikin mendapatkan berbagai pertentangan dari warga sekitar. Akankah Solikin bertahan dalam upayanya menyelamatkan pantai utara dari gerusan abrasi?

Tulang Punggung

15min.Indonesia. Film Terbaik dalam Festival Film Dokumenter Kebudayaan, Lingkungan dan Kehidupan 2003.K Ardi

Adalah kisah hidup Mbok Waginah (88 tahun) sebagai buruh gendong Pasar Beringharjo, Yogyakarta sejak 30 tahun yang lalu. Dari rumahnya yang jauh di Kulon Progo ia rela menginap di pasar setiap hari. Pulangnya tidak tentu, kadang hingga sepuluh hari. Pada umurnya yang sudah tua, Mbok Waginah tetap giat bekerja mulai jam tiga pagi hingga malam. Semua itu, menurutnya, demi keutuhan keluarga.

Water from Heaven

15min.Indonesia.DAAI TV. Wawan Sumarmo,Mika Wulan

Badruzaman, seorang anak SD, harus menyeberangi sungai yang arusnya deras agar bisa sampai di sekolahnya. Sekolah dengan fasilitas minim dan bocor saat hujan, sungai yang meluap dan memaksanya menginap di sekolahan, tidak menyurutkan semangat Badruz untuk bersekolah demi mengejar cita-citanya.

Gerabah Plastik

21min.Indonesia.Indocs.Tonny Trimarsanto

Perjuangan Mbah Hardjoikromo dalam melestarikan kebudayaan tradisional patut diacungi jempol. Ia terus membuat mainan anak-anak dari tanah liat, sekalipun anak-anak kecil tak lagi mempergunakannya sebagai mainan dan telah tergantikan oleh mainan plastik yang lebih mempunyai daya pikat warna, bentuk dan kepraktisan namun menyisakan sejumlah tanda tanya efek lingkungannya.

(Jangan) Ada Kusta di Antara Kita

14min.Indonesia.Indocs.M Aan Mansyur,Nurlina

Penyakit kusta dalam pandangan masyarakat dianggap sebagai penyakit aib dan kutukan. Hal itu menyebabkan penderita kusta mengalami banyak diskriminasi. Abanda, seorang anak dari keluarga penderita kusta berjuang melepaskan keluarganya dari situasi seperti itu dengan bermain bola. Setelah dua kali membawa Indonesia menjadi salah satu tim U-12 terbaik dunia, kini Abanda terus bermain bola dengan satu tujuan; membahagiakan keluarganya.

Comrades in Dream

100min.Germany.Goethe Institute.Uli Gaulke

Perjuangan enam manusia dari Korea Utara, Amerika, India, dan Afrika dalam mewujudkan mimpi mereka. Walaupun terpisah benua, namun mereka memiliki mimpi yang sama, yaitu memperbaiki kualitas hidup komunitas di sekitar mereka melalui media film. Mereka rela mengambil resiko apapun asalkan mereka tetap bisa memutarkan film bagi masyarakat di sekitar mereka.

Pertaruhan (Ragate Anak)

26min.Indonesia.Kalyana Shira Foundation.Ucu Agustin

Gunung Bolo adalah kompleks kuburan Cina berbentuk bukit yang terletak di Tulungaggung. Selepas senja, kompleks kuburan yang tenang dan sunyi ini berganti fungsi menjadi lokasi prostitusi liar. Nur dan Mira adalah pemecah batu yang malamnya menjadi pekerja seks di Gunung Bolo. Sepanjang hari mereka bekerja keras namun pendapatan mereka tidak pernah mencukupi. Ragate Anak menggambarkan betapa kerasnya perjuangan Ibu untuk membiayai anaknya.

Film Discussion with Pertaruhan Filmmaker

For futher information and registration, please visit

docdays09.co.cc

contact person :

tanti (08999093183)

desti (081315771724)

echa (08568984690)

registration :

anna (085695590199)

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA