Faldo dan Kebodohan di Kampus UI


0

Adalah miris, ketika kurang dari 24 jam terakhir terjadi kebodohan besar di kampus rakyat, Universitas Indonesia. Tanggal 12 Agustus yang digadang-gadang sebagai momentum untuk menjatuhkan Rektor UI ternyata hanya sebuah dagelan dengan sekumpulan anak kemaren sore sebagai lakonnya. Konon tanggal 12 Agustus dipilih setidaknya dengan dua alasan, 1) momentum yang sangat tepat karena bertepatan dengan rangkaian acara penyambutan mahasiswa baru di Universitas Indonesia; dan 2) diharapkan agar Gumilar berhenti sebagai rektor dengan cara dijatuhkan dan bukan berhenti secara legal pada tanggal 14 Agustus besok.

Lalu bagaimana kemudian dengan lakon yang tengah diperankan ini? Siapa aktornya? Lalu siapa sutradaranya? Segmen penonton mana yang hendak dituju? Bagaimana kemudian ending dari semua?

Tulisan ini bukan disusun dengan semangat kebencian, bukan juga dalam kapasitas untuk membela rektor UI saat ini –selentingan komentar yang akan muncul bahwa ini adalah counter dari rektorat adalah tidak benar. Tulisan ini murni untuk membuka mata dan pikiran siapapun tentang ihwal lakon bodoh yang tengah dimainkan di UI ini. Ini adalah bingkai kata dari pecinta sejati kampus UI.

Mari kita mulai dengan lakon yang tengah berlangsung. Di Universitas Indonesia saat ini tengah terjadi masalah BESAR, semua rakyat UI bahkan rakyat Indonesia harus ikut menyelamatkan kampus Rakyat, begitu kemudian kemasan lakon ini. Iya, memang saat ini tengah terjadi sejumlah permasalahan di kampus UI. Lalu kemudian apakah masalah ini BESAR? –sebesar BALIHO Besar yang pernah dipajang di stasiun UI yang entah darimana asal uangnya? Tunggu dulu. Ini soal permasalahan cara pandang. Masalah yang ada di UI hanya besar dalam hal kemasan. Persoalan ini ternyata tidak besar dan sedemikian kompleks. Dalam hal permasalahan kepemimpinan dan manajerial, penyelesaian sesungguhnya telah dilangsungkan oleh MWA UI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki kewenangan terhadap hal tersebut. Isu keuangan yang coba dihembuskan pun ternyata telah ditangani oleh lembaga negara yang berwenang akan hal tersebut. Pun tuduhan Korupsi yang coba dilancarkan –karena seksi sekali untuk pemberitaan saat ini- sebagai senjata terakhir untuk menyakiti kepemimpinan Gumilar tengah ditangani oleh KPK. Negara ini adalah negara hukum dimana kepastian hukum merupakan hal yang mutlak. Bahkan seorang pembunuh pun tidak boleh dinyatakan bersalah sampai kemudian bisa dibuktikan di pengadilan dan lahirnya keputusan yang inkrah. Kondisi saat ini yang serba abu-abu dan tidak memiliki kepastian baik pada persoalan manajerial, keuangan maupun hukum coba dimanfaatkan untuk memainkan sebuah dagelan yang benar-benar tolol. Menjatuhkan rektor? Dengan menduduki kampus? Di mana logikanya? Apakah mahasiswa yang tengah bermain di sana sama sekali buta dengan hukum negaranya? Sederhana saja, ketika ada missing link ataupun logical fallacy di negara ini, tentu bisa kita simpulkan bahwa ada kepentingan politik yang tengah bermain.

Kepentingan politik tengah bermain di UI? Iya, Jelas. Saat ini tengah hangat-hangatnya persoalan kepemimpinan di kampus UI. Begitu banyak tangan yang bermain. Mulai dari kepentingan kelompok yang membenci kesuksesan yang bisa diukir oleh Gumilar di era kepemimpinannya, hingga kelompok-kelompok yang mungkin memiliki persoalan pribadi lainnya dengan rektor incumbent. Walaupun signifikansi kepemimpinan di UI terhadap situasi nasional masih debatable, namun tangan-tangan aktor politik negeri ini tentu tidak mau kehilangan mainannya di kampus. Sesungguhnya sudah menjadi rahasia umum tentang partai politik mana yang gigih menjaga kesucian kampus-kampus termasuk UI demi terpeliharanya suara-suara di kalangan pemilih pemula. Walaupun hal ini sudah disadari oleh banyak mahasiswa di kampus UI, namun seakan golongan peliharaan partai ini masih senantiasa menjadi pemain di kampus UI. Mahasiswa-mahasiswa peliharaan ini kemudian yang menjadi aktor-aktor dagelan yang tengah berlangsung. Siapa pemimpinnya? Siapa lagi kalau bukan pemimpin mahasiswa –atau segolongan mahasiswa- di kampus UI saat ini, Faldo Maldini.

Siapa Faldo Maldini? Jelas dia bukan sutradara dari dagelan ini. Ia hanyalah pemeran utama yang coba dimajukan oleh sutradara. Lalu mengapa dia yang menjadi pemeran utama? Karena dia begitu gampang dan sangat penurut kepada sutradara lakon ini. Anak muda dari tanah minang ini memang seorang pemain yang sangat patuh kepada atasaanya. Sejak menginjakkan kaki di fakultas MIPA, ia adalah aset yang sangat seksi bagi golongannya untuk kemudian dijual kepada publik. Lihat saja, track record kepemimpinannya mulai dari jurusan hingga BEM UI adalah buah dari kepatuhannya dalam mengikuti setting-an yang selalu diarahkan oleh sutradaranya. Dia adalah seorang pemain yang picik dan lihai memainkan perannya. Sikap anak baik yang selalu ditampilkannya jelas adalah motif untuk mencapai ambisi-ambisi pribadi yang coba ia simpan selama ini. Hal tersebut jelas membuahkan hasil, dikirim oleh kampus mengikuti sejumlah konferensi internasional di luar negeri, menjadi ketua BEM di fakultasnya –yang nyaris tidak memiliki lawan dalam pemilihan dan konon katanya lawan yang kemudian hadir adalah setting-an legal belaka- hingga mencapai karir tertinggi dalam riwayat keorganisasian dengan menjadi ketua BEM UI. Bahkan mungkin saat ini sibuk menjadi bahan obrolan dari ‘bidadari-bidadari’ musholla yang siap menjadi pendamping hidupnya. Namun sialnya, pemuda ini juga menjadi salahsatu penerima beasiswa dari lembaga binaan partai untuk kampus-kampus top seperti UI, ITB dan UGM, yang merupakan salahsatu kanal politik partai tersebut. tanyakan saja pada mas google tentang lembaga yang kemudian telah mencuci otak orang-orang seperti Faldo ini dan kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan jangka panjang partai. Sayang sekali memang, Faldo yang semula anak baik dan berprestasi kebanggaan kampung halamannya malah berubah menjadi sosok yang ambisius, haus kekuasaan hingga tidak peduli lagi dengan kebenaran. Coba tanyakan saja kepada dia, sebagai seorang anak yang berprestasi, apakah tindakan-tindakan bodoh yang tengah dipimpinnya ini bisa dipertanggungjawabkan secara akademis? Bisakah iya memberikan jawaban yang rasional atas tindakan-tindakan yang tengah ia lakukan? Atau memang ini semua lagi-lagi adalah salah satu jalan untuk mencapai ambisi-ambisi yang lain. Kalau memang iya, kasihan sekali anak ini. Jabatan Ketua BEM hanya setahun, setelah itu habis. Lalu apa? Selama kepemimpinan hanya menebar kebencian dengan dunia nyata. Mau jadi apa? Tidakkah belajar dari nasib pendahulu-pendahulu mu. Jadi apa mereka sekarang? Atau memang kekuasaan telah menjadikan anda sombong dan sok berkuasa hingga menjadi angkuh?

Permainan yang dipimpin oleh Faldo ini sesungguhnya adalah jalan yang hendak dicapai sutradara. Layaknya sebuah film, aktor utama hanya mengikuti apa yang diarahkan oleh sang sutradara hingga bahkan tidak tau apa sebenarnya maksud sutradara ini. Iming-iming ketenaran dan populis dengan tampil di depan sesungguhnya telah menjadi bayaran yang nikmat bagi aktor-aktor seperti Faldo ini. Memiliki ribuan follower di twitter sepertinya sudah cukup membuat aktor dagelan ini menjadi nyaman. Ditambah ukiran namanya menghiasi media pemberitaan baik online. Semoga Tuhan memberikan hidayah dan petunjuknya.
Siapa sutradara dagelan di UI saat ini? Tentunya ini semua hanyalah testing the water yang coba dilakukan golongan binaan partai demi mengambil kekuasaan di kampus UI. Salahsatu caranya adalah dengan mencoba merusak nama Gumilar sebagai rektor yang sangat potensial memimpin kembali mengingat prestasinya menjadikan UI sebagai world class university. Senjata berupa kader di kalangan mahasiswa yang tengah menguasai kepemimpinan di UI adalah amunisi yang tepat untuk membaca kondisi dan membangun strategi di lapangan.

Jelas, semua yang terjadi di UI kurang dari 24 jam terakhir ini adalah dagelan semata, dimainkan oleh lakon awam dengan sutradara mediocre. Semoga nama baik Almamater Universitas Indonesia tidak akan rusak dengan kekonyolan ini dan Tuhan yang Maha Kuasa mengampuni dan segera menyadarkan lakon awam ini. Veritas, Probitas, Iustisia. Wallahualam bisshawab.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
1
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
1
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

3 Comments

Leave a Reply

  1. Duh, ini siapa dah? Sirik aje, mau punya belasan ribu follower juga di twitter?

    Dua tahun sudah berlalu sejak anda nge-post tulisan ini. Dan waktu akhirnya semakin membuktikan perihal keterlibatan Pak Gumilar dalam kasus UI.

    http://nasional.kompas.com/read/2014/08/06/18085841/Kasus.IT.Perpustakaan.Mantan.Rektor.UI.Disebut.Terima.iPad.dan.Desktop.Apple

    Berita ini masih fresh.

    Jadi siapa yang sebenarnya bodoh??

    Saya bukan golongan tarbiyah, saya bukan anak asrama ini-itu, saya juga bukan dari partai ini-itu. FYI, masih terekam jelas dalam ingatan saya suasana CEM dua tahun lalu, ide aksi 12 Agustus 2012 pertama kali dicetuskan oleh Aldo Felix yg saat itu menjabat sbg wakil ketua BEM FHUI. Tau khan kalo doi keturunan Tionghoa dan non-muslim? Jadi siapa yang anda maksud sutradara? Partai PKS? Asrama PPSDMS? Golongan tarbiyah?

    Aksi 12 agustus 2012 adalah momen paling emosional dalam hidup saya. Tiap ada orang yang bahas aksi 12 agustus 2012, saya selalu bangga berkata dalam hati: “I WAS THERE”.

    Oiya, soal baliho besar sumber dananya patungan. Saya jadi saksi.

    Silakan kalo masih mau ngomongin masalah2 ini, mungkin kita bisa ketemu. Semoga kita semua dijauhkan dari fitnah.

    Perlawanan lanjut!! Mahasiswa menang!!

    Salam hormat,

    PATRIOT MUSLIM
    Kepala Divisi Aksi Strategis BEM UI 2012