Give Something


0

Kuliah di Universitas Indonesia memberi saya banyak kesempatan yang mungkin orang lain tidak miliki. Termasuk kesempatan melihat berbagai ironi kehidupan yang cukup banyak memarakkan kehidupan kampus. Salah satunya mungkin kesempatan bagi saya untuk melihat puluhan tubuh yang dihiasi kain-kain lusuh duduk manis diantara lalu-lalang cerahnya warna-warni baju di jalan kecil menuju kampus.

Iba. Itu yang segera terasa. Terlebih saat saya menyadari di mana saya berpijak dan bersandar untuk membekali diri dengan ilmu: di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sebuah institusi yang seharusnya mampu menghadirkan solusi dari berbagai masalah sosial dan politik (yang ujung-ujungnya merembes kemasalah sosial juga) di negeri ini. Tetapi, sudah lebih dari 25 tahun fakultas ini berdiri dan mereka tetap ada.

Menanggapi rasa iba itu, saya segera merogohkan kantong, berbalik dan berharap. Berharap agar selembar uang ribuan yang saya letakkan dapat memberi sedikit pertolongan dalam dirinya. Saya melangkah pergi. Membawa rasa iba dan rasa sesal karena tidak bisa memberi lebih banyak lagi. Dan rasa sesal itu semakin menjadi-jadi saat saya membayangkan bagaimana rasanya ada di antara mereka. Bagaimana rasanya duduk dan menengadahkan tangan. Menyatakan diri lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Jiwa ku pasti akan sangat sakit. Karena saya adalah manusia. Ditakdirkan memiliki ego dan rasa berharga. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mereka bisa mempertahankan rasa berharga itu. lalu saya bertanya, cukupkah dengan selembar ribuan yang saya berikan? Bagaimana jika semua teman2 saya di universitas ini turut memberi sumbangan. Apakah akan menjawab pertanyaan?

Entahlah, saya rasa tidak.

Ada solusi?


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
alisa

morentalisahutapea

2 Comments

Leave a Reply

  1. Salam untuk Moren.

    Melihat tulisan anda, mungkin memang tepat jika anda dapat disebut memiliki sikap empatik dan kepedulian yang memang tumbuh dalam kegelisahan sebagai seoarang manusia. Bukan sekedar menjalankan kewajiban untuk peduli itu atas dasar norma agama, atau definisi moral.

    Anda sedang mempergulatkan kegelisahan akan situasi di dunia dan masyarakat yang kenapa tidak memberikan “kesemapatan” adil yang sama, kenapa ada gejala-gejala yang membuat sesamaku berbeda dengan aku, mungkin itulah yang menjadi pikirian anda.

    Sejenak saya teringat akan perkataan dari pujangga India, Rabindranth Tagore. Katanya ” Tempat kaki kita berpijak adalah diantara orang-orang yang paling miskin, lemah dan terpinggirkan”. Saya sependapat dengan Tagore tersebut, dan kata-kata itu menjadi semacam sabda yang terus saya ingat, saya resapi dan selalu menggelisahkan dimanapun saya berada. Membuat diri ini harus mengeluarkan jati diri yang empatik, dan merasa “derita” sesamaku yang mungkin kurang beruntung daripada saya.

    Namun, apakah memang kemudian, “mereka yang miskin, lemah dan terpinggirkan” ada karena kisah dunia ini menghendaki? Saya pikir tidak. Itulah yang kemudian menjadi pergulatan besar dari seluruh kisah-kisah suci, entah dari bahasa-agama manapun untuk menemukan jawaban atas semua derita kehidupanitu. Manusia merupakan sebuah citra dari Tuhan, bayang-bayang dari segala keagungan dan kesempurnaan, dan menjadi menarik dengan rasa belas kasih yang kemudian hidup bersemayam dalam hati manusia. Mungkin inilah suara Tuhan, yang sedang menegur secara halus. Apakah kita masih mau mendengar suara itu? Moren saya kira adalah salah satunya.

    Kemudian adakah sebuah solusi?
    Pasti dan sangat ada. Mendengar dan kemudian mendekati mereka, berbagi kisah-kisah yang mereka alami adalah sebuah langkah dari solusi itu. Dengan mendekat kepada mereka, walau dalam cara yang paling sederhana, yaitu menjadi sesama mereka saja. Kita perlakukan mereka bukan sebagai peminta-minta atau kaum miskin atau apapun itu, tetapi kita harus menyebutnya “orang-orang yang memiliki jiwa yang kaya”. Banyak cerita dan kisah yang dapat kita dengarkan dari mereka, dari sinilah gagasan, tindakan dan apa yang hendak dilakukan oleh Moren dengan kawan-kawan lain pastilah mulai akan terbuka.

    Saya pikir anak-anak UI adalah anak yang kreatif, mampu membuat beragam acara BEM dan mahasiswa lain dengan sangat baik. Nah, tidak akan menjadi sebuah masalah dan ekndala besar kalau kawan melakukan untuk mereka semua juga.

    “Setiap akhir pekan misal, dapat mungkin membagi cerita dan ilmu kepada anak-anak “pekerja kecil” tersebut..atau dapat juga berkunjung ke rumah mereka, mengenal dan mengalami sejenak kisah dan perjalanan hidup yang masih mereka bakar dengan sebuah pelita harapan, bahwa Tuhan pasti memberikan jalan yeng terbaik”

    Sebuah kotak-kotak “charity” mungkin dapat Moren awali bersama dengan kawan-kawan lain, entah kawan-kawan mau menyumbang apa? Bisa ilmu, pengenalan, meliput mereka (bagi yang suka jurnalistik), mengajar anak-anak mereka, mungkin juga memberi kesempatan “untuk ruang bekerja” yang lain, dsb..saya pikir nanti akan mudah dan banyak hal, hanya dengan mulai semakin dekat dan mengenal mereka.

    Sekian saya komentar saya,,
    Salam dan semangat terus untuk mengenal dan memberi kesempatan bagi orang lain menjadi sesama kita.

  2. thx
    Beberapa teman sudah menanggapi, dan menurut mereka, empowerment merupakan salah satu langkah konkret yang paling baik dalam mendorong perubahan itu

    nah

    beberapa teman bahkan ada yang sudah berkomitmen untuk akhirnya mendukung mereka dengan jalan pt2 (patungan) buat ngebayarin beberapa anak pengamen di kampus

    n
    thx bgt buat sumbangsihnya

    ^^