Jangan Beri Uang Pada Orang Miskin!

Bu, minta sedekahnya Bu.

Pak, minta Pak… saya belum makan dari kemarin.

Sebagai warga kota metropolitan, kata-kata tersebut tentunya merupakan hal yang lumrah saya dengar sehari-hari. Halte bis, stasiun, prempatan jalan, merupakan area-area “subur” untuk mendapati dialog semacam itu. Dialog, lebih tepat saya sebut dengan monolog, karena biasanya yang dituju tidak memberi reaksi berarti. Entah dia memberikan uang pada sang peminta atau hanya mengangkat tangan tanda tidak ingin memberi, pada keduanya terselip harapan agar si peminta cepat pergi menjauhinya.

Saya tidak akan menyalahkan orang-orang yang terkesan acuh tersebut. Saya sendiri biasanya melakukan hal serupa. Memang, memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan merupakan kewajiban sosial kita sebagai sesama manusia. Dalam ajaran agama saya sendiri, memberi sebagian dari harta kita kepada orang lain merupakah suatu perilaku yang tidak dapat ditawar. Meski demikian, saya tergelitik untuk mengomentari orang-orang yang berhak menerima sedekah tersebut. Sedari kecil saya mendengar peribahasa “Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah”, yang tentunya berarti lebih baik memberi daripada menerima. Namun jika keadaan memaksa kita untuk menjadi penerima, apa yang harus kita lakukan? Hingga kini saya tetap berpikir bahwa “berhak menerima” tidaklah sama dengan “berhak meminta”.

Pada sebuah surat kabar nasional suatu bulan Ramadhan beberapa tahun silam, saya melihat sebuah foto dengan caption yang menggelitik. Kata-katanya kurang lebih seperti ini. “Para pengemis sedang berjalan menuju lokasi diadakannya shalat tarawih. Bagi mereka, kegiatan meminta-minta yang mereka lakukan adalah bentuk usaha untuk mengambil rezeki yang dititipkan Tuhan pada orang kaya.” Sekali lagi, saya jadi berpikir. Memang, si kaya berkewajiban untuk membantu si miskin. Namun, apakah orang yang kurang mampu berhak untuk menagihnya? Sudah menjadi dasar dari sifat manusia untuk tidak pernah merasa cukup. Itu yang menjadikan seseorang selalu berusaha keras untuk meraih sesuatu. Namun jika sedari awal seseorang merasa bahwa dirinya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi orang yang tidak mampu, bukankah dia sama sekali tidak akan berusaha? Hal ini yang dikenal dengan memiskinkan diri sendiri. Orang yang kurang mampu akan selalu melihat ke atas, ke orang-orang lebih beruntung dari mereka. Mungkin juga menganggap bahwa orang-orang tersebut menikmati kekayaan tanpa perlu bekerja keras, tidak seperti diri mereka yang bekerja seperti apa pun namun tidak akan pernah menjadi kaya.

Pada tanggal 10 Maret 2012 lalu, organisasi TEDX UI menyelenggarakan seminar sharing ideas kedua dengan tema “Discover the Missing”. Dari enam pembicara yang hadir, pembicara ketiga adalah Leonardo Kamilius dari Koperasi Kasih Indonesia. Lulusan FE UI tahun 2008 ini memilih keluar dari perusahaan prestis di bidang konsultan bisnis McKinsey & Company dan merintis organisasi microfinance institution besutannya sejak tahun 2011 silam. Organisasi ini mengadaptasi model pinjaman modal kecil yang dicetuskan oleh peraih Nobel dalam bidang ekonomi, Muhammad Yunus. Dengan target ingin mengedukasi dan membantu rakyat kecil dalam meraih modal untuk usahanya, pria yang akrab disapa Leon ini telah memimpin organisasinya membantu lebih dari 300 warga di sekitar wilayah Cakung, Jakarta Timur.

Pengalaman hidup pria berusia 26 tahun ini membawanya kepada kesadaran bahwa hidup tidak akan lengkap jika tidak membagi kekayaan yang dimiliki dengan orang lain. Filosofi ini sejalan pula dengan ajaran tiap agama yang menegaskan bahwa kekayaan yang kita miliki bukanlah milik kita sepenuhnya. Seperti dalam ajaran Islam yang menekankan bahwa terdapat kewajiban untuk mengeluarkan minimum 2,5% dari pendapatan kita untuk diberikan kepada orang lain yang berhak, yakni mereka yang hidup dalam keadaan kekurangan.

Filosofi hidup Leon ini sekilas tampak lumrah dan merupakan pengetahuan sehari-hari. Memang sudah sewajarnya kita membagi harta kita dengan orang-orang lain yang lebih membutuhkan. Namun yang menarik, usaha yang dirintis oleh Leon menawarkan sesuatu yang berbeda dan cenderung baru di masyarakat Indonesia ini. Filosofi yang mendasari organisasi ini adalah untuk membantu orang untuk berdiri dengan kaki mereka sendiri. Bantuan yang diberikan tidak hanya semata-mata memberi. Seperti dalam peribahasa bahasa Inggris, “Give a man a fish, you’ll feed him for a day. Teach him how to fish, you’ll feed him for a life time.” Dengan membantu orang-orang di sekitar Cakung untuk memulai usaha mereka sendiri, Leon dan timnya turut medukung terciptanya usaha mandiri di lingkungan masyarakat menengah ke bawah. Alih-alih hanya memberi bantuan dalam bentuk uang tunai atau makanan yang hanya akan habis dalam waktu sehari, Koperasi Kasih Indonesia berusaha membantu masyarakat meraih kemandirian tanpa perlu menggantungkan hidup pada orang lain.

Filosofi ini dapat kita adaptasi dalam kehidupan kita sendiri. Jika kita sebagai anggota masyarakat dapat berkarya secara mandiri dan bahkan mampu membantu orang lain, coba bayangkan berapa banyak lapangan pekerjaan yang dapat tercipta. Pengangguran dapat ditekan, dan kualitas kehidupan dapat ditingkatkan. Bukan merupakan hal yang mustahil jika filosofi ini bahkan menjadi  solusi kemiskinan di Indonesia. Namun yang pertama perlu dilakukan tentunya adalah dengan menyadari bahwa kita, seperti semua orang lainnya, mampu untuk melakukannya. Jangan ada lagi yang berusaha untuk memiskinkan diri sendiri. Dan jangan ada lagi yang (hanya) memberi uang pada orang miskin.

2 thoughts on “Jangan Beri Uang Pada Orang Miskin!”

  1. Good thought. Kemudian saya ingin bertanya seberapa besar rasa optimis Anda bahwa mereka itu mau berjuang untuk belajar memancing kemudian bertahan hidup dengan memancing itu? Memancing itu butuh kesabaran dan ketelatenan. Nggak ujug2 setelah belajar memancing, terus setiap kali memancing selalu dapet ikan.

    Bagaimana tanggapan Anda? Terima kasih.

    Reply
    • Hai Yunus, terima kasih atas tanggapannya. Betul sekali pemikiran kamu, apa jaminannya setelah diajarkan memancing lalu mereka akan terus mendapatkan ikan? Atau bahkan, mau untuk berusaha memancing dengan inisiatif mereka sendiri?

      Kalau yang saya dengar dari kisah suka-duka Leon dalam megelola organisasinya, tantangan terberat memang datang dari orang-orang yang sudah diajarkan cara mengelola keuangan (e.g menabung, membuat pembukuan) dan diberikan pinjaman modal usaha, namun kemudian tidak mempraktekkan hal-hal yang sudah diajarkan dan pada akhirnya gagal di tengah jalan. Di sini saya melihat, orang yang sudah diberi arahan dan bantuan saja tidak berhasil, lalu bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak tersentuh bentuk-bentuk kemandirian? (seperti mereka yang memang seumur hidup berada di lingkungan sangat miskin dan mengandalkan hidup sepenuhnya dari mengemis).

      Saya jadi tersadar bahwa masalahnya memang bukan di mereka, namun di kita yang lebih beruntung dalam hal finansial dan juga pendidikan. Memang tanggung jawab kita untuk membantu mereka. Jika kemudian mengedukasi saja tidak cukup, berarti diperlukan usaha tambahan dengan membimbing dan mendampingi mereka, every step of the way. Until they succeed to walk on their own two feet. Seperti memapah bayi yang sedang belajar berjalan, tidak mungkin mengharapkan mereka untuk langsung berlari.

      Untuk membantu mereka secara per orangan rasanya memang sulit. Tentunya dibutuhkan tenaga, biaya, dan waktu yang tidak sedikit. Mungkin akan lebih nyata bila dikerjakan secara beramai-ramai seperti yang telah dimulai Leon. Mungkin juga kita dapat melakukan sesuatu dengan cara yang lain, dengan bentuk yang sama sekali berbeda, namun dengan tujuan yang sama. Kita semua dari bidang ilmu yang berbeda-beda. Leon berusaha membantu dari bidang yang ia kuasai, yakni ekonomi. Saya dari prodi Jepang. Yunus dari SI. Saya yakin jika kita semua memutar otak, pasti akan ketemu cara kreatif yang bahkan benar-benar baru untuk membantu masyarakat kita. Dan serunya, bisa dari berbagai bidang. Coba saja hitung ada berapa banyak jurusan di kampus tercinta kita ini! Who knows, berapa banyak dari kita yang akan merintis usaha seperti telah dilakukan Leon. Atau juga menjadi decision maker di level pemerintahan yang mampu menjangkau aksi lebih luas lagi.

      Yang penting adalah niat. And perseverance. And not just handing over the fish. What do you think? Would love to hear more of your ideas 😉

      Reply

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA