Kapan Bangsa Kita Bisa Maju?


0

Judul yang saya ajukan di atas bukanlah sebuah pertanyaan yang pesimistis, melainkan sebuah pertanyaan yang mengajak kita semua untuk melihat pada realita yang ada pada saat ini.

Kemenangan Obama dalam pemilu pekan lalu (04/11/08) merupakan sebuah refleksi keberhasilan Amerika Serikat (AS) dalam menciptakan situasi pemilu yang sangat demokratis pada sebuah negara maju atau negara sejahtera (welfare state).

Pertanyaannya adalah, apakah bisa pemilu di Indonesia mengadopsi keberhasilan demokratisasi di AS sekarang ini???… Jawabnya bukan “tidak” melainkan “belum”, dengan demikian masih ada kemungkinan demokrasi kita akan berlangsung seperti apa yang kita lihat di AS sekarang ini. Hemmm……rasanya masih teramat panjang perjalanan bangsa kita untuk menuju ke arah sana.

Saya jadi teringat ketika mengikuti kelas mata kuliah “Hukum dan Pembangunan” yang disampaikan oleh salah satu dosen favorit saya di Universitas Indonesia (UI) beberapa tahun yang lalu, yakni Prof. Erman Raja Gukguk, S.H., LL.M., Ph.D., yang juga mantan Wakil Sekretaris Kabinet (Wasekab) pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Putri.

Inti dari pertanyaan dan jawaban beliau adalah: “Mengapa perkembangan bangsa kita seperti jalan ditempat? Tak pernah bisa maju, bahkan seperti mengalami kemunduran?” Jawabnya adalah: “Karena bangsa kita ini terlampau terburu-buru, semuanya ingin diraih sekaligus dalam waktu yang bersamaan !!!…”.

Sementara itu menurut Profesor A.F.K. Organski (The Stages of Political Development, New York: Knopf, 1965), untuk mencapai sebuah bangsa yang maju (welfare state) idealnya harus melalui tiga tahapan perkembangan politik, tahap yang pertama adalah harus melalui sebuah proses yang disebut dengan era “unifikasi”, yakni merupakan proses penyeragaman suku-suku ataupun ras-ras yang berbeda-beda dan majemuk hingga menjadi satu tujuan (ter-integrasi). Dari sisi hukum, ciri-ciri pada era ini biasanya ditandai dengan keberadaan Undang-Undang (UU) yang mengatur masalah otonomi, UU yang mengatur masalah sistem dan prosedur, dan UU lainnya yang terkait dengan masalah integrasi bangsa dan negara.

Selanjutnya, setelah ter-integrasi dan memiliki satu tujuan, baru bisa memasuki tahapan selanjutnya yakni negara pada era “industrialisasi”, dimana mulai berpikir untuk menghasilkan sebuah alternatif kecanggihan teknologi modern dan menghilangkan model kerja konvensional yang sudah tidak efektif dan efisien lagi untuk digunakan. Dari sisi hukum, ciri-ciri pada era ini biasanya ditandai dengan keberadaan UU Kepailitan, UU Perusahaan Terbatas, UU Pasar Modal dan UU terkait lainnya yang terkait dengan industrialisasi.

Sedangkan tahap yang terakhir adalah tahapan dimana sebuah negara mulai memasuki era negara maju atau negara sejahtera (welfare state) yang merupakan cita-cita setiap negara didunia ini. Dari sisi hukum, ciri-ciri pada era ini biasanya ditandai dengan keberadaan UU Hak Cipta, UU Perlindungan Anak, UU Perlindungan Konsumen, UU Perlindungan Buruh, dan lain sebagainya.

Dalam Encyclopedia Americana, maksud dari welfare state adalah a form of government in which the state assumes responsibility for minimum standards of living for every person, yakni merupakan sebuah bentuk pemerintahan, di mana negara dianggap bertanggung jawab untuk menjamin standar hidup minimum bagi setiap warga negaranya.

Saat negara sudah memasuki era welfare state, rakyat akan menikmati pelayanan dari negara, diantaranya dalam bidang kesehatan melalui program asuransi kesehatan, sekolah gratis sampai sekolah lanjutan atas, bahkan di Jerman saat ini rakyatnya bisa sekolah gratis sampai jenjang universitas.

Selain itu penghidupan yang layak dari sisi pendapatan dan standar hidup juga menjadi perhatian utama, sistem transportasi yang murah dan efisien, orang yang menganggurpun akan dijamin oleh Negara. Kondisi tersebut sudah bisa kita lihat pada Negara-negara di Amerika Utara dan Eropa Barat.

Jika kita kaji lebih dalam lagi, masing-masing tahapan tersebut memiliki rentan waktu yang tidak sebentar, bahkan hingga mencapai satu abad lamanya. Sebagai ilustrasi, kita lihat negara AS, sebelum akhirnya mereka mencapai era negara maju atau negara sejahtera (welfare state) seperti saat ini, mereka telah melalui tahap-tahapan era tersebut berabad-abad lamanya.

Di Amerika, era “unifikasi” dimulai sejak akhir abad ke-17, tepatnya saat AS lepas dari koloni Inggris di tahun 1776, dimana pada masa tersebut masih banyak terjadinya peperangan (perang saudara) untuk mempersatukan wilayah AS hingga menjadi satu wilayah kesatuan.

Memasuki pertengahan abad ke-18, Amerika mulai memasuki era “industrialisasi”, yang ditandai dengan ditemukannya beberapa kecanggihan teknologi modern yang kemudian menggantikan teknologi konvensional.

Setelah sukses melewati tahapan “unifikasi” dan menjadi sebuah negara industri, akhirnya sejak awal abad ke-19 AS tinggal menikmati jerih payah hasil industrinya dan mulai memasuki era negara maju atau negara sejahtera (welfare state).

Melalui analogi tersebut, sekarang mari kita mulai melakukan analisis terhadap negara kita, Indonesia. Jika kita perhatikan, era “unifikasi”, “industrialisasi” dan “welfare state” yang hanya bisa tercapai dengan berurutan dan perjuangan berabad-abad lamanya, ingin diraih dalam waktu yang singkat dan kalau bisa bersamaan atau “simsalabim, habra kadabrah……jadi !!!…” oleh kita, hasilnya? Bisa kita lihat kondisi negara kita saat ini. Dari sisi hukum sendiri, hampir semua UU yang menjadi ciri utama dari tiga tahapan tersebut sudah kita miliki.

Bisa kita bayangkan kekacauan yang terjadi, yakni disaat kita sedang memperjuangkan untuk menegakkan UU Hak Cipta, UU Perlindungan Konsumen, dan UU lainnya yang biasanya hanya terdapat pada negara sejahtera (welfare state), kita harus menghadapi dis-integrasi bangsa diberbagai daerah, seperti di Aceh, di Ambon, di Poso dan diberbagai pelosok lainnya di negeri yang katanya “Bhineka Tunggal Ika !!!…” ini.

Sementara itu, disaat kita sedang mencoba untuk menjadi sebuah negara “industrialisasi” yakni dengan ikut-ikutan memproduksi sebuah kecanggihan teknologi dengan membuat pesawat terbang misalnya, kita harus berhadapan dengan demonstrasi besar-besaran dari masa yang menuntut persamaan hak dan taraf hidup minimum, pendidikan gratis dan lain sebagainya.

Apa yang salah dengan bangsa kita???….Mengapa kita tak pernah bisa selangkah lebih maju dari negara lain???… Mengapa perkembangan bangsa kita serasa jalan ditempat, bahkan seperti mengalami kemunduran???…Jawabnya sederhana sekali, “kita jangan terlampau terburu-buru dan harus tetap bersabar untuk melalui tahap-tahapan seperti yang sudah disampaikan diatas”.

Disisi lain, kondisi ini merupakan dilema yang mau tidak mau harus kita hadapi, dimana kita harus tetap mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern dan canggih, dan kalau kita tidak bertindak dengan cepat, kita pasti akan tertinggal jauh dibelakang. Ya, ini adalah sebuah konsekuensi yang akan diterima oleh setiap negara dunia ketiga dimanapun berada, termasuk di Indonesia.

Eitss…tunggu dulu, mungkin kita semua masih ingat, dulu banyak orang-orang dari Malaysia yang ingin melanjutkan kuliah di Indonesia, sekarang kondisinya terbalik kita yang ingin melanjutkan kuliah disana!…Bagaimana jadinya??? Ini adalah salah satu contoh konkrit lambatnya perkembangan bangsa kita.

Artinya tidak relevan kalau lambatnya perkembangan bangsa kita disebabkan oleh karena kita adalah salah satu dari negara dunia ketiga tersebut! Bagaimana dengan Malaysia???…., Bagaimana dengan India???……di Kawasan Asia Tenggara, dari sisi pendapatan perkapita Indonesia termasuk negara yang tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Saat ini kita terpaksa harus bersaing dengan Vietnam, Filipina dan Pakistan yang harusnya berada jauh dibelakang kita!…

Disaat kita masih terlelap tidur, mereka sudah terjaga dari tidurnya, disaat kita terjaga dari tidur, mereka sudah mulai berjalan, disaat kita baru mulai berjalan mereka sudah berlari, dan disaat kita mulai berlari mereka sudah terbang!!!…..bagaimana kita bisa melewatinya??

Ini merupakan sebuah gambaran keterpurukan perkembangan bangsa kita yang seakan tak pernah berujung !!!….Sampai kapan bangsa dan negara yang kita cintai ini bisa maju, seperti AS misalnya???…..Ingat ini semua merupakan tantangan yang juga akan dihadapi oleh saya, anda, dan kita semua!!!….Mulailah berpikir dari sekarang, bagaimanakah kecepatan kita bisa melebihi mereka yang saat ini sudah melesat terbang???…….

Please also visit this article at:

http://yulyanto.com/?p=622

http://public.kompasiana.com/2008/11/10/kapan-bangsa-kita-bisa-maju/


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
yulyanto

I was born on July, 16th of 1979, after graduate from Senior High School on 1996, I was continued my study at University of Persada Indonesia YAI (Jakarta) on 2002, majoring in Bachelor of Accounting and then continue my study in the same institution, success to get Master of Management especially Finance Management on 2005. After finish my first Master degree in Management, I’ve got the second Master of Law at University of Indonesia (Jakarta), especially in Economics Law on 2007 by Office’s Scholarship. I have been working at PT Sanwell Austindo-Jakarta , my last position as a Finance Manager, and then start on May 2007 I have been moving as a Marketing Manager, but until now I am still responsible as an Internal Control Manager at PT Austindo Perdana- Bali (Austindo Groups). In my spare time, usually I am always reading and writing something. Until now, I have been contributed my opinion by some media, like’s science journal, articles, blogs and also in my personal website too (www.yulyanto.com). Someday, I hope that my written will be useful for anything all in the world ……………………………………

8 Comments

Leave a Reply

  1. saya ingin berpendapat bahwa untuk menjadi “welfare state” tidak harus memerlukan waktu yg lama. Kita ambil contoh negara Jepang. Setelah di porak-porandakan oleh Amerika tahun 1945, para ekonom memprediksi bahwa negara Jepang akan membutuhkan waktu yang lama untuk membangun kembali negaranya. Tapi dalam waktu kurang dari 20 tahun mereka dapat membangun kembali negaranya. Bahkan mereka menjadi negara Industri.

    Saya juga membaca buku ug berjudul ‘Rahasia Sukses Bangsa Jepang’ yg penulisnya merupakan warga negara Malaysia menyebutkan bahwa pada tahun 70-an negara Malaysia yg sedang membangun negaranya, Perdana Menterinya menyruh agar warga negaranya mencontoh prinsip2 pembangunan negara Jepang.

    Saya juga membaca artikel dari koran yg saya lupa penulis artikelnya, di artikel itu menyebutkan bahwa dalam proses industrialisasi dibutuhkan teknologi. “Alih Teknologi” yg dilakukan Indonesia sekarang ini ternyata tidak memberikan kontribusi yg besar dalam kemajuan teknlogi bangsa ini. Seperti yg kita lihat sendiri, saya ambil contoh PT Astra, PT Astra merupakan perusahaan perakit kendaraan bermotor di Indoesia. Namun komponen2 yg dirakit di produksi di Jepang sehingga kita tidak bisa belajar apa2 tentang produksi kendaraan dalam negeri. Di artikel itu juga ditulis bahwa untuk menjadi negara maju, dalam proses industrialisasi negara ini tida perlu menekankan di bidang invention seperti yg Yulyanto sebutkan dalam artikel ini. Karena seperti yg Yulyanto sebutkan, proses invention membutuhkan waktu yg sangat lama.

    Kita bisa mencontoh negara Jepang yg melakukan proses industrialisasi dengan melaukakan modifikasi-modifikasi pada teknologi-teknologi yg ditemukan bangsa-bangsa Eropa dan Amerika. Contohnya pada alat Sony Walkman. Negara yg mempunyai hak paten atas tape casette adalah Amerika. Tetapi para engineer dari Jepang meniru-tetapi juga- memodifikasinya sehingga mereka dapat memproduksi walkman yg sangat laku pada masa itu.

    Jadi pada intinya, proses industrialisasi yg mengarah pada proses invention membutuhkan waktu yg sangat lama. Kita bisa melakukan inovasi yg dilakukan bangsa Jepang yg memodifikasi teknologi-teknologi yg ditemukan Amerika menjadi sebuah produk yg menjual diberbagai negara. Sehingga proses industrialisasi di negara kita ini tidak perlu memerlukan waktu yg lama.

  2. Tapi yang paling bang baik adalah adanya sistem proteksi ekonomi yang konsisten sehingga industri bisa maju baik di lingkup manufaktur maupun agraris dengan orientasi pengamanan pasar domestik sebagai hal yang utama.
    Sekarang indonesia bak negara kambing yang siap dikorbankan oleh resesi ekonomi global karena keberadaan industri yang berorientasi ekspor namun alpa melakukan pengamanan pasar domestik terlebih dahulu.
    Sehingga indonesia terancam serupa produk hasil industri manufaktur maupun industri agraris di luar negeri, jadi ketahanan ekonomi yang ada itu lemah sekali, belum itu dengan melihat kenyataan bahwa resesi ekonomi global akan sangat mengancam untuk mematikan industri dalam negeri yang terlalu berorientasi ekspor seperti tekstil ini bisa buat jumlah pengangguran yang lebih besar.

  3. Terima kasih buat bagyo atas informasinya. Semoga diskusi kita dapat memberikan solusi buat permasalhan bangsa dan dapat membawa bangsa ini menuju cita-cita bersama yaitu menjadi negara maju dan sejahtera.

    Mari sama2 kita diskusi di sini berbagi informasi dan pengetahuan.

  4. Gw masih mencoba untuk mengerti perihal di atas, tapi terkait dengan nasib bangsa nih, di mana bidang kesehatan masyarakat bisa nyempil dalam teori-teori di atas?

    Dalam arti agar pemerintah (dan mungkin pihak swasta luar atau dalam negeri) lebih peduli dan mengayomi masalah kesehatan dalam masyarakat. Tidak saja masalah kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan tapi juga di antaranya mengubah paradigma pelayanan kesehatan dari yang tadinya kuratif (pasien datang karena sakit) menjadi preventif (pasien datang karena mencegah penyakit atau ingin tahu akan sakit atau tidak).

    +iR+

  5. hehe.
    makanya, ketika yang lain jalan, kita harus berlari.
    hanya saja, kalau lari sendirian kan lelah, mknya ajakin tmn2nya untuk lari bareng juga.

    Indonesia salahnya apa?
    kenapa ga diganti pertanyaannya, jadi
    Indonesia bisa benernya di mana ya?

    biar energi yang kebentuk jadi positif.
    konkritnya, gw ngajak tmen2 untuk gabung bikin movement baru. kita gerak untuk kemandirian bangsa, dengan membentuk masyarakat inovatif kreatif di Indonesia ini. yuk..

  6. Welfare states itu setahu gue istilah di Ilmu Politi tentang negara yang alokasi dananya difokuskan untuk hal-hal; sosial yang jadi anti-tesis liberalisme kolot.

    Kayak kesehatan, pendidikan, ma jaminan masa tua yang banyak dibantu negara dan menelan alokasi APBN diatas seperlima. negara-negara welfares state biasanya dibatasi lingkupannya di eropa utara, Nordik. Swedia, Norway, Findland cs yang nerapin. Amrik en Jap masih belon. Setau gue loo..

    Nice writing anyway.

  7. @naufal
    Memang asyik bicarain bagaimana memunculkan pengelolaan kekuasaan yang baik dan benar namun fakta di lapangan sih jauh dari itu pastinya.

    @shana
    Setahu gw udah bermunculan yang lu maksud itu salah satunya adalah pelopor yang ada di minyakjelantah.com dan memang berlari sendiri itu capai kalau ada teman memang lebih asyik secara pribadi sih kalau lagi sendirian gw lebih memilih untuk berjalan saja.

  8. untuk mencapai suatu keadaan yang lebih baik,menurut gw perlu adanya gerakan yang lebih besar daripada gerakan yang kurang baik itu.analoginya,sama seperti “survival of the fittest” atau seleksi alamnya Darwin dimana yang kuat akan bertahan dan yang lemah serta tidak mampu menyesuaikan diri (fittest) akan mati.
    Sekarang seperti yang tadi saudari shana bilang,perlu adanya kekuatan yang lebih besar atau “berlari bersama” untuk membawa Indonesia ini lebih baik.
    anyway,baik itu cepat ataupun lambat,perubahan tetap membutuhkan suatu tahapan.dan tidak bisa loncat ataupun berbarengan sekaligus.
    kaya uni soviet dulu yang pingin sok langsung komunis, tapi jadinya hancur karena negara itu tidak melewati tahapan kapitalis…
    reformasi di Indonesia sendiri sepertinya belum benar-benar tuntas,karena konteks reformasi adalah memperbaiki bagian-bagian dari negara ini yang rusak seperti kesehatan,politik,pendidikan,keuangan,dan sebagainya..
    anyway,analisis yang bagus saudara yanto..