Tentang Bulog (Badan Urusan Logistik), perusahaan satu ini bener2 kasian, sebagai badan usaha dia sering disalahgunain sama pengurus2nya. YA, as a public company yang komisaris dan dewan direksinya adalah pilihan kementerian atau departemen yang mengurusnya.

Jauh sebelum indonesia merdeka, kompeni belanda sudah membuat perusahaan yang sejenis dengan Bulog. Ia memiliki jobdesc penyalur/penjamin/penyimpan pangan buat rakyat Hindia Belanda. Sistem yang berlaku adalah “Bulog” kompeni belanda itu membeli beras dari petani dengan harga tinggi (diatas harga pasar) untuk kemudian dijual di kota dengan harga pasar. Istilah niaga nya bulog kompeni jual rugi atawa subsidi petani. Namun memang begitulah seharusnya perusahaan negara bernama Bulog bekerja.

advertisement

Atas kesinambungan penyaluran/ atau pemerataan kekayaan itu rakyat desa dengan senang hati mengolah desanya, masyarakat yang tinggal di kota pun juga berbahagia karena harga beras stabil dan cenderung terjamin.

Namun Bulog yang di Indonesia saat ini tidak lebih dari pedagang biasa. Ia tidak lagi memberikan subsidi ke petani melalui beli dengan harga tinggi. Bulog saat ini lebih kepada melindungi masyarakat kota dari kekosongan pangan.

O ya, Bulog ini tidak hanya jualan beras, untuk komoditas yang lain semisal ketela dll ia masih berani mensubsidi (jelas masih berani ya, karena dibandingkan beras Bulog tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi)

advertisement

Aku sendiri nggak tahu bagaimana sejarahnya perusahaan Bulog ini. Namun satu hal yang bisa dipastikan saat ini Bulog tidak lagi menjadi mitra yang menguntungkan bagi masyarakat tani indonesia. Alih2 menjadi partner, Bulog malah menjadi pesaing petani pribumi indonesia,, karena sering Bulog lebih memilih mengimpor beras dari vietnam dan thailand daripada membeli kepada petani pribumi.

Inilah yang aku sebut Bulog itu nggak ada nasionalismenya. Dalam beberapa hal nasionalisme akan berarti pengorbanan kepada negara dan pengorbanan kepada negara adalah berkorban demi kebaikan rakyat di negara itu.

Tapi memang harus digarisbawahi bahwa perilaku Bulog (atau kebijakan pangan nasional Indonesia) itu terpengaruh oleh corak perekonomian dunia–liberal. Temen-temen pasti pernah denger kan tentang WTO? Perdagangan global? karakter perdagangan dunia saat ini adalah negara besar dan maju mendorong (memaksa) negara-negara berkembang untuk membuka semua pintu masuk bagi produk mereka. Nah, pada dasarnya produk yang dikirim negara maju tersebut adalah produk sisa. Produk ini tentu saja dapat dijual dengan sangat murah karena pada dasarnya fixed cost dan variable cost perusahaan sudah terpenuhi. (tentang variable cost dan fixed cost monggo dipelajari sendiri). Akibatnya adalah petani pribumi tidak akan mungkin bisa mengimbangi harga barang impor yang jauh di bawah harga pasar (harga keseimbangan).

advertisement

Akhirnya Bulog yang memang harus mendapatkan untung lebih memilih mengambil produk impor. Ekses turunannya: orang desa tidak punya pilihan lain selain pindah ke kota, mengadu nasib demi sepeser rupiah. Krisis yang tadinya hanya berdimensi ekonomi sekarang meluas ke dimensi sosial. Krisis multidimensi semakin memperparah dan membuat penyakit negara menjadi seperti kanker stadium 4 alias hampir mustahil untuk disembuhkan!

Regards



advertisement