Kecewa

Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan

Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia.

 

Kita boleh jadi kecewa melihat teman-teman mahasiswa yang sibuk memperkaya diri mereka sendiri, ketimbang mengabdi pada akademik dan masyarakat. Cara-caranya sangat muslihat dan kadang tidak dapat dibedakan antara orientasi pada diri sendiri atau dengan iming-iming ‘membantu’ masyarakat. Mereka yang mendapat beasiswa dari pemerintah lebih tertarik menggunakan uangnya untuk beli ponsel baru yang canggih, atas nama kelengkapan komunikasi dan kebutuhan networking, dibanding membeli buku-buku kuliah yang mahal (karena tinggal fotokopi). Atau beli alat-alat borju lainnya; baju, sepatu, perhiasan, hingga motor; yang sebetulnya tidak mereka perlukan. Uang pemerintah begitu sia-sia. Atau mereka yang haus mengejar materi secara instan dan membalap akselerasi akademis:  MLM, bussiness plan, marketing, kursus mengajar. Tidak bisa disalahkan juga, mungkin mereka punya mimpi pribadi yang harus dibangun dulu sebelum membangun kepentingan bersama. Dan latar belakang hidup kita juga yang berbeda dalam memandang uang apakah itu sebagai “hasil”, “tujuan”, atau sekadar “balasan”. Kita begitu senang dan menikmati adegan sikut-menyikut dan balapan atas nama kekayaan untuk diri sendiri ini.

Kita boleh jadi kecewa melihat teman-teman mahasiswa yang berjiwa organisatoris, namun sayangnya dengan embel-embel popularitas dan eksistensi diri di lingkungannya. Memang mereka agak malu-malu dan memalukan saat mengenalkan diri. Mereka senang ‘berdandan’ dan tebar pesona, tampil ke sana kemari. Omongannya selangit saat kampanye dan demonstrasi (membawa jabatan dan arogansi jurusan). Bagaimana dengan kontribusi? Mereka lebih senang berkumpul di kantin dan main musik, nongkrong, berkenalan dengan mahasiswi-mahasiswi baru yang cantik, pulang malam (bukan untuk rapat). Kalau ada amanah, mudah saja dilemparkan ke bawahannya. Mereka tinggal tidur saja, bilang alasan demam organisasi saking sibuknya. Yang penting, foto dan nama terpampang di poster besar-besar. Kalau sedang rapat, diskusi jadi melantur ke kepentingan golongan mereka yang diuntungkan. Unsur objektivitas menjadi sangat langka ditemukan di sana. Usulannya adalah soal kewajiban mahasiswa baru mengenal pentolan-pentolan, bagaimana sepatutnya junior menghormati senior, dan memperbanyak kegiatan senang-senang. Mereka bisa sering kesengsem kalau melewati jalan yang banyak kerumunan mahasiswa (dipikir sedang dibicarakan dan disegani). Tidak bisa disalahkan juga, karena mahasiswa merupakan salah satu tahap pendewasaan kita dalam berorientasi dan belajar mengatur di organisasi. Kita begitu senang dan menikmati adegan tampil dan unjuk gigi ini.

Kita boleh jadi kecewa soal mahasiswa yang senang mengembangkan potensi diri sendiri dan melupakan kepedulian terhadap lingkungan hidup sosial sekitarnya. Mereka memang aktif dan berprestasi, dalam CV-nya disebutkan turut menjadi duta perbaikan lingkungan, ikut seminar kepemimpinan, training motivasi dan enterpreneurship, studi banding ke luar negeri. Tetapi sedih karena malas turun ke masyarakat secara konsisten, atau setidaknya berbagi wawasan mereka yang luas kepada teman-teman mahasiswa lain (mereka biasa hidup mandiri dan idealis). Mereka bisa begitu mudah dekat dengan kita saat ada kepentingan-kepentingan teknis. Setelah itu ya, kita bukan apa-apa lagi. Nilai IPK harus di atas rata-rata angkatan, catat materi dan mengerjakan sendiri. Kalau tidak mengerti, bertanya pada yang pintar. Kalau yang lebih bodoh bertanya, mereka jadi banyak alasan (belum selesai, masih bingung, dan sebagainya). Yang bodoh bagi mereka bukanlah apa. Yang jarang ikut seminar dan pelatihan bagi mereka masihlah dangkal. Mau berbagi di kala momentum saja. Tidak bisa disalahkan juga, mereka memang lebih rajin dan pandai mengatur waktu serta punya otak yang lebih brilian dan saintifik dari kita. Mereka lebih yakin akan punya masa depan yang cerah. Kita begitu senang menikmati adegan “matilisasi” dan study oriented ini.

Dan kita boleh jadi kecewa melihat mahasiswa yang senang mengkritik tentang teman-teman mahasiswa lain yang mereka anggap tidak memegang tiga peran ideal mahasiswa (akademisi, riset, pengabdian masyarakat), seperti membenci penulis kritik-kritik ini. Menganggap bahwa usaha-usaha keras yang orang lain lakukan seolah tidak dimengerti dan hanya bisa omong kosong tanpa ada hasil konkret praktis. Sok paling mengerti lingkugan, dan sebagainya. Kita mungkin masih senang mendefinisikan segala sesuatu hanya dari “hasil” praktis yang dapat dilihat secara wujud. Tidak mengapa. Kita sama-sama mahasiswa yang kecewa, sama-sama mahasiswa yang buta, dan sama-sama tidak sadar bahwa tugas kita bukan sekadar memperkaya diri sendiri, bukan sekadar ajang popularitas, bukan sekadar ego pengembangan diri pribadi, dan bukan sekadar saling mengkritik.

Kita boleh jadi masih bisa memperbaiki diri, dengan meluruskan niat dan pandangan tentang apa itu kewajiban dan esensi terbesar menjadi seorang mahasiswa seutuhnya. Berminat? (*)

Leave a Comment