Ketua PBNU Menjelaskan “Pengetahuan dan Ilmu dalam Memahami Islam” Di Hadapan Para Akademisi Universitas Indonesia

UI Depok (15 Juli 2010) – Kepedulian PMII UI terhadap angka korupsi di Indonesia yang makin parah, diwujudkan dalam sebuah tindakan penyadaran di kalangan aktivis dan insan akademisi. Pengajian bertajuk “Jihad Melawan Korupsi” telah dilangsungkan pada Kamis (malam jumat), 15 Juli 2010. Hadir sebagai penceramah utama Prof. Dr. KH Said Agil Siradj, MA (Ketua Umum PBNU), Drs. Ahmad Djauhari, M. Si. (Dirjen Penerangan Agama Islam), Prof. Dr. Muhammad Hikam (Ketua Program Vokasi UI), Dr. Basyuni Imaduddin (Dosen Sastra Arab), dan Banyak dosen dari Universitas Indonesia.

Acara dimulai dengan Tahlil dan Doa Bersama untuk Almarhum Dr. Idham Kholid (Ketua Umum PBNU Periode 1956-1984) yang dipimpin oleh sabahat-sahabat Nahdiyyin dari Tegal. Selanjutnya sambutan oleh KH Ahmad Jauhari, sebagai pengasuh pesantren. Beliau menagaskan bahwa untuk memperbaiki Indonesia ke depan, mesti diperbaiki mahasiswanya. Oleh karena itu, peran “Mutiara Bangsa” (nama pesantren di sekitar UI) ingin mewujudkan hal tersebut. “Mahasiswa yang cerdas intelektualnya, tetapi juga cerdas moralnya” tutur beliau.

Dr. Muhammad Hikam, Pembina mahasiswa NU di UI menyatakan kebahagiaanya, banyak mahasiswa UI yang mulai aktif melakukan aktivitas keagamaan khas tradisi muslim Indonesia seperti Yasinan, Tahlilan, Istighosal, ratiban dsb. Hal tersebut positif dan hendaknya mendapat dukungan dari semua kalangan. Dr. Muhammad Hikam juga mensosialisasikan tentang beberapa kebijakan UI ke depan, dan beliau mengharap agar warga di sekitar UI mendukung program tersebut sebagai upaya membangun bangsa Indonesia.

Pada acara ini, penceramah utama yakni Prof. Dr. Said Agil Siradj, MA (Kyai Said). Kyai said mengulas sejarah peradaban Islam yang berkualitas. Islam sebagai agama yang rahmat, sangat menjunjung tinggi rasionalitas dalam berpengetahuan. Hal ini karena memang islam lahir dari masyarakat jahiliyah, yang lebih banyak mempercayai dukun, percaya pada ramalan dan sebagainya. “Memang ramalan bisa mengandung kebenaran, tapi 1:8, yang benar satu yang salah 8” menurut kyai said. Maka itulah islam lahir sebagai agama yang memberantas kejahilan bangsa arab”. Tutur kyai Said.

“Nabi menyebarkan syiar Islam tidak untuk ras Arab, tidak juga untuk mendirikan Negara Islam, tapi nabi datang ke madinah selanjutnya mendirikan Negara madinah, untuk meciptakan sebuah tatanan kehidupan yang beradab, yang dilandasi moral” Tutur Pak Said lebih lanjut.

Kyai Said memberikan solusi praktis dalam rangka memperbaiki krisis moral yang sedang melanda bangsa Indonesia. Hampir semua berita memperlihatkan bangsa Indonesia jauh dari keberadaban. Tradisi NU “Yakni Tahlilan di Kampung adalah media yang tepat untuk memperbaiki moral bangsa” adalah medium yang tepat untuk meminimalisir kerusakan moral yang dihadapi bangsa Indonesia.

Kyai said menyatakan kebanggaanya pada adik-adik PMII di Universitas Indonesia yang terus melakukan perjuangan menegakkan agama Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin, Walaupun antusiasme beliau untuk hadir ceramah di Universitas Indonesia belum terlaksana. “Ini wujud kepedulian pak Said pada mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri, yang pada saatnya nanti akan berperan sebagai penerus pembangunan bangsa” tutur Munir, sekum PMII Cabang Depok.

Acara ini mendapat sedikit kendala terutama perijinan tempat. H. Abdur Rohman, Ketua PMII Cabang depok menyayangkan pihak UI yang tidak memberikan keleluasaan bagi aktivitas mahasiswa. Kesalahan prosedur mestinya tidak menghambat niat baik mahasiswa untuk memperingati Isra Mi’raj, yang makna sesungguhnya adalah menghidupkan nilai-nilai Islam.

Ahmad Munir, sekretaris umum PMII Cabang Depok selaku panitia menuturkan “Menurut saya NU masih menjadi solusi untuk krisis moral bangsa saat ini, korupsi adalah muara dari krisis moral yang tidak terkontrol. Tradisi NU di kampung tidak banyak tercermin dalam kehidupan modern, yang semakin menjerumuskan orang pada sifat Individualistis, sehingga rendah kontrol sosial”. Lebih lanjut Abdur Rohman menjelaskan “dukungan Kyai Said sangat berharga bagi kami yang sedang berdakwah di UI”.

Acara diahiri dengan Penyerahan Kenangan oleh Abdur (Ketum) dan Munir (Sekum) kepada Prof. Dr. Said Agil Siradj, MA. Selanjutnya kenang-kenangan balik oleh Prof. Dr. Said Agil Sirajd, MA pada PMII UI Depok 7 buah buku karya beliau yang terbaru. “Kyai said cerminan ulama nasional yang produktif, yang karyanya patut diperhitungkan dalam referensi keislaman, sekarang banyak penulis buku agama, atau penceramah agama yang tidak menguasai ilmu agama tapi banyak menulis, beda dengan kyai said yang kapasitas keimuanya mumpuni, sayangnya UI jarang mengudang beliau” Tutur Woro, Kader PMII UI. Lebih lanjut sahabat Hasyim menuturkan “Seandainya pak Said banyak ceramah di UI, saya yakin akan lebih banyak mahasiswa UI yang ikut yasinan tiap malam jumat, mengingat yasinan bias menjadi control sosial yang baik”.

Leave a Comment