Lihat Apa yang UI Telah Lakukan Kepada (Calon) Mahasiswa Baru

Terimakasih untuk #9: ary dan #10: UI non-aktifis atas link informasinya yang berharga dalam diskusi kita di tulisan Sebuah Pertanyaan…. Mereka memberikan link ke dua artikel online dari Media Indonesia. Kedua artikel tersebut menggambarkan secara konkret satu hal yang disangkal terus menerus oleh pihak rektorat: UI kampus mahal!Ini berita yang pertama:

“Anak saya ternyata diterima di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Saya sebagai orang tua sangat bahagia dan bangga,” kata Rabda mengenang saat melihat hasil UMB-PTN melalui internet.
Semangat untuk kuliah di universitas bergengsi tersebut semakin bergejolak pada diri Sarah. Terlebih lagi, ia telah lama memimpikan bisa kuliah di kampus kuning itu. Tetapi, kebahagiaan Sarah dan kedua orang tuanya tak berlangsung lama.
Untuk dapat kuliah di FKM UI, Rabda harus menyiapkan uang pangkal Rp5 juta. Selain itu, setiap semester, anaknya harus membayar biaya kuliah Rp7,5 juta. “Saya pun pasrah. Sebagai guru, dari mana saya dapat memenuhi uang itu,” ujarnya. Dengan perasaan sangat terpukul, Sarah harus melepaskan niatnya kuliah di FKM UI. Media Indonesia – Niat Kuliah di PTN Terganjal

Masih ada lagi nih, satu fakta lagi:

Dwi berkisah keberhasilan lolos UMB berkat upaya kerasnya. Selain belajar keras selama di sekolah, ia mengikuti kursus bimbingan belajar di Bandung. Terbukti, hasil UMB perguruan tinggi negeri (PTN) yang diikutinya cukup memuaskan dan sesuai dengan harapan.
Setelah dinyatakan lolos UMB, Dwi pun melaksanakan daftar ulang sesuai dengan arahan dalam tata tertib dalam UMB. Dan… ia mengaku sangat terkejut dengan nilai uang pendaftaran dan biaya kuliah di UI yang harus dibayarkan.
“Untuk masuk ke Teknik Lingkungan UI yang baru berjalan tiga tahun, orang tua saya harus menyediakan uang pangkal sebesar Rp33 juta dan biaya kuliah sebesar Rp7,5 juta per semester,” jelasnya.
Setelah berdiskusi dengan kedua orang tuanya, Dwi pun akhirnya memutuskan untuk tidak mendaftar ulang di UI. Dengan pertimbangan salah satunya soal biaya. Ia pun harus melupakan hasil jerih payahnya mengikuti UMB-PTN. Media Indonesia – Jerih Payah itu Sia-Sia

UI! Lihat, apa yang telah kau lakukan terhadap ratusan calon mahasiswa baru yang nggak daftar ulang karena masalah biaya! Dari kedua berita tersebut, kita tahu bahwa satu hal yang pertama para (calon) mahasiswa baru dan keluarganya lihat adalah: bayaran UI 7,5 juta atau 5 juta per semester, dengan uang pangkal jutaan.

Hal lainnya, seperti: BOP itu nanti dibayarkan sesuai kemampuan orang tua, di UI banyak beasiswa, dan bla-bla-bla-bla lainnya, nggak diketahui para (calon) mahasiswa baru. Boleh aja berkali-kali rektorat bilang “ini kan udah disosialisasiin”, “di website udah ada informasinya kok”, dan bla-bla-bla-bla lainnya, tapi ya, itu dia faktanya: banyak (calon) mahasiswa baru yang mengundurkan diri dari UI karena melihat biaya pendidikan itu!

Semuanya, lihat apa yang UI telah lakukan kepada (calon) mahasiswa baru! Dan mari kita sama-sama berimajinasi, bila UI terus seperti ini, 5 tahun lagi apa yang akan terjadi di UI?

92 thoughts on “Lihat Apa yang UI Telah Lakukan Kepada (Calon) Mahasiswa Baru”

  1. Iyah, bner bgd UI mang terkenal muahallll!! Terlebih bagi mereka yang brasal dari daerah…bagi mereka(anak daerah) untuk kuliah d UI tu impossible bgd,sebab dalam pikiran mereka udah tertanam anggapan bahwa UI t4nya mereka yang berduit jadi sebaiknya UI dari skarang harus berusaha untuk menghapus anggapan tersebut so nggak da lagi anak yang nggak bisa masuk UI gara2 takut biaya yang muahallll. Buktikan UI mang bener2 KAMPUS RAKYAT!!!!!!

    Reply
  2. klo menurut gw, itu baru prasangka mereka ajah. mereka belom berusaha buat cari informasi yang lebih jauh. harusnya sebagai calon maba mereka harus aktif cari info, jangan malah nakut”in ortu buat mundur. akhirnya ya gt deyyhh pesimis duluan.

    Reply
  3. heemm..
    benar sekali..
    biaya yang dikenakan oleh ui kepada Mabanya membuat mereka termasuk saya ikut bersedih hati..
    bersedih hati karena harus melihat kedua orang tua yang mengurut dada..

    akhirnya alternatif universitas lain pun digunakan..

    maaf UI, mungkin nanti kami tak jadi menorehkan nama di kampus kuningmu..

    Reply
  4. klo menurut gw, mereka belom berusaha buat cari informasi yang lebih jauh. harusnya sebagai calon maba mereka harus aktif cari info, jangan malah nakut”in ortu buat mundur. akhirnya ya gt deyyhh pesimis duluan. sebernya semua lembar form pengajuan keringanan sudah bisa diketahui via website ui. jadi sebagai calon maba kita seharusnya tahu akan hal tsb. trus bisa disiap”in dey dari rumah..
    ini link nya http://ui.edu/page/info-penerimaan-mahasiswa-baru-universitas-indonesia-id.html
    disitu udh di kasih tau jelas apa syarat”nya..
    klo emg maba nya aktif cr info pasti mereka udh nyiapin deh berkas” yg dibutuhkan..
    right??
    selayaknya kita ajah. kita yang aktif cr info ke temen ato dosen, bukan dosen yg slalu kasih ilmu-ilmu nya ke kita…

    Reply
  5. kayaknya pak Gum tuch punya sihir dech, keinginannya selalu aja dapet

    .. pernah liat kompas ga klo dia tu capres favorit di kalangan akademis, pertama tu amien rais, kayak artis aja dia, senyum sapa, janji, huh…

    trus yang di bangga banggain tuch jalur sepeda lah , trus apartemen lah, Enterprising Univ, trus ada UI masa Depan lah,inilah ,itulah , pusing gw…

    di satu sisi gw banget punya rektor kaya pak Gum,muda&energik tapi di sisi lain gw kecewa banget terutama kebijakan terhadap mahasiswanya sendiri..ya bolehlah naikin tapi jangan segitunya, tapi kan yang di publish tu yang segituan…

    mana di ACC lagi ama mahasiswa (katanya sech BEM Fakultas ama BEM UI, no offense>

    semangat bwat BEM UI,perjuangkan adik adik kami,,,kami titipkan merea

    Reply
  6. kayaknya pak Gum tuch punya sihir dech, keinginannya selalu aja dapet

    .. pernah liat kompas ga klo dia tu capres favorit di kalangan akademis, pertama tu amien rais, kayak artis aja dia, senyum sapa, janji, huh…

    trus yang di bangga banggain tuch jalur sepeda lah , trus apartemen lah, Enterprising Univ, trus ada UI masa Depan lah,inilah ,itulah , pusing gw…

    di satu sisi gw banget punya rektor kaya pak Gum,muda&energik tapi di sisi lain gw kecewa banget terutama kebijakan terhadap mahasiswanya sendiri..ya bolehlah naikin tapi jangan segitunya, tapi kan yang di publish tu yang segituan…

    mana di ACC lagi ama mahasiswa (katanya sech BEM Fakultas ama BEM UI, no offense>

    semangat bwat BEM UI,perjuangkan adik adik kami,,,kami titipkan mereka

    Reply
  7. UI kan katanya miniatur dari Indonesia, yah bakalan sama aja kayak nasib Indonesia, tingkah rektorat sama aja kayak tingkah pemerintah….
    tingkah mahasiswanya juga sama persis sama tingkah rakyat Indonesia pada umumnya…
    jadi… simpulkan sendiri yah…

    Reply
  8. Havard bukannya terkenal dengan mahal nya juga ya?

    mungkin pak Rektor mau mengadaptasi sistem Havard kali… hehe.. becanda…

    gimana dong,,, mahal banget yak…

    Reply
  9. ehm, saya sebagai maba pertama-tama emang agak shock juga. melihat biaya yang melampaui jauh batas keuangan keluarga. tapi saya cari2 informasi karena saya gak mau kehilangan hak saya sebagai mahasiswa UI. perjuangan ke sana-sini bulak balik Bogor-Depok buatngajuin keringanan. Cepek deeh.. tapi untungnya keringanan saya dikabulkan.. Oh iya, saran saya buat maba selanjutnya, perjuangkan apa yg harus kalian dapatkan, jangan maunya murah melulu! Udah tahu pendidikan di sini emang MAHAL!! Satu lagi buat Om rektor, sistemnya diperbaiki dong.. kayaknya ada “kecurangan2” deh..terutama formula penghitungannya itu..ada yang aneh.. (apa cuma feeling saya aja yak???)

    Reply
  10. emg mungkin berita ttg bop blm terdistribusi scr sempurna, tapi ga adil juga kalo 100% menyalahkan pihak ui. sbg pihak mahasiswa (atau calon mahasiswa) ya harus usaha cari info juga…ke senior misalnya, masalahnya seniornya sendiri paham gak sama sistem baru ini?krn tnyata banyak juga anak ui yg ga mau tau ttg sistem bop ini, jadi pas ditanya ade kelasnya atau calon mahasiswa cuma bisa jawab “tau tuh aneh sistemnya,gw sendiri ga ngerti”

    gw punya tmn yg kurang mampu,dulu jg takut bgt masuk ui krn afee nya mahal, tapi dy dan ortunya usaha cari info, akhirnya ga masalah kok, dia dpt keringanan krn emg pantas dpt, dan orgtuanya skrg malah sebel bgt sama org2 yg bilang ui mahal padahal blm tau scr jelas sistemnya dan ga mau usaha

    so, kita berusaha proporsional aja, banyak yang perlu kita minta untuk diperbaiki oleh rektorat, tapi di sisi lain jg sebagai calon mahasiswa cari tau dong..jgn diam aja

    Reply
  11. oiya untuk artikel yang diatas, perlu dikritisi juga. karena setau gw ada itung2annya kan bgmn sampe bisa dapet bop 100.000-7.500.000 untuk ipa dan 100.000-5.000.000 untuk ips.
    stau gw kalo gaji ortu per bulan sekitar 15jt-25jt (kalo ga salah,pokoknya segitu lah) itu baru dapet bayaran batas atas tsb.

    jadi perlu dipertanyakan tuh, bisa aja kan di artikel pertama itu orangtuanya guru, tapi punya kerja sampingan misalnya usaha apa gt atau guru swasta yang terkenal dan digaji besar. krn kalo emang dy bener2 ga mampu bnaget, ga mungkin dapet batas atas 7,5 juta

    Reply
  12. untuk anak baru UI khususnya cewak, apa yang sebenarnya kamu banggakan,yang ada padadirimu itu hanyalah titipan semata dan itu kelak akan di pinta pertanggung jawaban.ingat tujuan manusia berpakaian itu hanyalah 2 yang ke satu untuk menutupi aurat dan yang kedua untuk keindahan.

    Reply
  13. Yupz.. Setuju bgt.. Sebenernya sah” saja dengan adanya bop berkeadilan itu, tetapi secara khusus apabila dikaji lagi, bukankah patokan harga tertingginya itu terlalu tinggi.. Sehingga tujuan dari bop ini terlihat tidak hanya untuk subsidi silang saja, tetapi juga untuk mengisi pundi-pundi kekayaan univ.. Lagi pulaa apakah “mereka” merealisasikan bagaimana formula perhitungan bop ini..? Jangan” fakta yang terjadi adalah bukan bop dalam rentang 100.000 – 7.500.000, tetapi bop dengan dua level, level bawah (100.000 – 800.000) dan level atas (4.500.000 – 7.500.000)..

    Reply
  14. look UGM UNPAD ITB.
    biaya masuk ampe puluhan bahkan ratusan juta.. kenapa gak ada berita tuntut-tuntutan??

    Reply
  15. bung jangan hanya bisa bicara dan mengkritik. sebenarnya ada hal yang lebih berguna yang bisa anda lakukan yaitu dengan cara membantu pihak rektorat untuk mempublikasikan BOP berkeadilan. permasalan BOP ini bukan pada masalah mahal atau murah. tapi siapa yang mampu membayar berapa. anda seharusnya, sebagai seorang mahasiswa ynag mengaku peduli, tidak hanya menunjukkan kepedulian dengan berteriak meminta orang lain bergerak melakukan sesuatu. lakukan lah. jangan salah mengartikan ayat alqur’an, apa hadist ya? gw lupa. yang berbunyi. sampaikanlah walau hanya satu ayat. mentang2 kata2nya sampaikan, jadi anda lakukan hanya dengan berbicara. pemahaman anda salah kaprah bung.
    Menurut saya respon pihak rektorat yang tidak ambil pusing dengan teriakan anda benar adanya. anjing menggonggong, kafilah berlalu. silahkan terus menggonggong bung!!!

    Reply
  16. dua orang yang disebutkan di artikel itu advokasi/ minta keringanan enggak? Kalo enggak, sih, ya jangan salahkan UI

    Reply
  17. Kalian bisa ngomong mahal ngebandingin sama kuliah di mana? Hayooooo…

    Coba liat PTN2 lain… kayaknya masih di atas UI besar sumbangan & uang kuliahnya. Mereka juga ga membuka peluang beasiswa yang besar. Lagian, maklum, sekarang jaman ‘dimana-mana’ mahal, wajar aja kalo uang kuliah sampe segitu harganya. Dosen ma rektor kan juga butuh ‘duit’. Kampus juga butuh ‘rehab’ dan UI kan banyak bikin projek-projek yang butuh dana. Jadi, masuk-masuk akal aja.

    Sebenarnya, tergantung orangnya. Kalo orangnya cukup pandai dan rajin, cari beasiswa ke mana-mana juga gak bakal susah. Tapi, kalo yang udah dasarnya males-malesan, gimana mau dapet beasiswa?

    Reply
  18. numpang lewat, agak OOT, tapi gw minta izin nyomot2 beberapa komen kritikan tmen2 smua buat Koran Kampus…diizinkan ya!hehehe

    namanya pasti dicantumkn.trimaksih ^^

    Reply
  19. -kuliah mo pk AC, LCD, OHP, speaker wireless
    -dosen mau berkualitas
    -perpus mo yg nyaman
    -hotspot mao gratis 24 jam
    -nyolok listrik laptop di kampus gratis
    -labkom 18jam nonstop
    -WC mao bersih n’ wangi
    -bikun mo yg bagus, aman, berkualitas
    -halte bikun mao yg rapih
    -kantin mo yg bersih n cakep
    -parkiran motor n mobil mo yg aman.
    -mushola mo yg nyaman

    apalgi yg tmen” maoin?? serba mao nya doank..
    wajarlah klo ‘naek’ maahhh..
    klo dgn harga tetap, fasilitas juga tetap gak ada perubahan kualitas

    -hotspot jd bayar
    -listrik laptop kena charge
    -kuliah gak pk ac, ganti pk kapur tulis
    -perpus apa adanya
    -wc nya jorok
    -kantin ikut”an kotor
    -bikun mangkin lama mangkin langka n byk kecelakaan
    -motor n mobil sering ilang di parkiran
    -musola udh gak nyaman..

    semua perawatan tersebut butuh biaya temen”..
    duit.. duit.. duit.. sapa gak mao duit??
    kita kuliah rata” buat nyari duit nanti..

    hoohooo

    Think green n’ 6R(reuse,reduce,recycle,refill,replace,rethink)
    save the earth n stop global warming..

    maav om admin jd oot

    Reply
  20. haha..
    comment terakhir gw suka tuh..;)
    bener2..
    jangan pada bisa nuntut,liat juga keadaannya..
    menurut gw artikel yg di atas itu ga proper deh..
    setahu gw FKM justru paling “dermawan” dibanding fakultas2 lain..
    dekanat FKM paling ngga macem2 dlm ngajuin syarat bwt dapet keringanan..
    jadi, bikin beritanya yg berimbang lah..

    Reply
  21. Oke..oke mang bener seh kita kuliah pasti butuh biaya yang g dikit, tapi kbijakan BOP tu bener2 dterapin dunk,..jangen sampe muncul kasus kayak di teknik tu yang sampe aksi sgala d dpan rektorat….Gw juga himbau nie bwt maba yang mau ngajuin keringanan BOP n UP tu shrusnya bersikap jujur dunk,.tulis n katakan apa adanya,.. jangan bilang n tulis nggak punya tapi nyatanya punya…kasihan dunk bagi mereka yang bener2 kurang mampu…jadi terhambat untuk mendapat keringanan tersebut gara2 terbagi ke mereka para mahasiswa yang sebetulnya kurang pantas mendapatkan keringanan tersebut alias mampu…!

    Reply
  22. Hai, saya maba UI 2008. kebetulan para maba UI disuruh untuk membuat karya tulis (essay, cerpen, atau puisi) yang bertemakan Indonesia di masa depan dan kontribusi anda.

    kebetulan saya membuat satu essay yang berjudul “Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah”.

    disitu saya mencamtumkan bagaimana figur Indonesia sekarang ini. figur rakyat indonesia sekarang ini dipenuhi dengan mental peminta-minta. benar apa yang dikatakan oleh doni dalam komen diatas,

    ” #8: doni | 19.07.08, 20:30 | Permalink

    UI kan katanya miniatur dari Indonesia, yah bakalan sama aja kayak nasib Indonesia, tingkah rektorat sama aja kayak tingkah pemerintah….
    tingkah mahasiswanya juga sama persis sama tingkah rakyat Indonesia pada umumnya…
    jadi… simpulkan sendiri yah”

    kalo dari generasi sebelumnya telah menunjukan mental peminta-minta maka generasi selanjutnya akan meminta-minta juga.

    maka dari itu hilangkan generasi dengan mental peminta-minta sekarang juga.

    jika anda ingin mengetahui tulisan essay saya yang berjudul “Tangan di Atas Lebih daripada Tangan di Bawah”, silahkan hubungi panitia OKK 2008 untuk melihat tugas essay saya. disana dijelaskan semua figur rakyat Indonesia dari yang di atas (pejabat) sampai yang di bawah(miskin).

    terima kasih sebelumnya,

    Sincerely Yours,

    Reply
  23. Kalau PTN mahal, apa bedanya sama PTS???
    Bagaimana nasib benih-benih bangsa kalau mau kuliah aja mahal???
    Belum lagi biaya hidup, biaya kost…n tidak smua anak bisa menikmati fasilitas asrama…(terbukti gw ga diterima padahal gw anak pontianak, jauh jauh skl)

    Reply
  24. terus terang, kalau PTN mahal gua emang enggak setuju dengan alasan2 seperti yang sudah ditekankan oleh komen2 sebelumnya.

    but let’s try to be a bit realistic, UI butuh uang untuk operasionalnya sehari2, untuk menjaga agar fasilitasnya tetap bisa dinikmati oleh semua mahasiswanya, dan lain sebagainya.

    kita harus menghargai usaha rektorat yang menurut gua tengah mencoba mencari cara terbaik untuk menutupi biaya operasional universitas ini, kita juga harusnya menghargai itikad baik BEM UI yang telah memberikan ‘persetujuan’ dari pihak mahasiswa perihal sistem pembayaran baru ini. Karena secara hitung-hitungan diatas kertas, sistem BOP berkeadilan ini memang lumayan bagus.

    Oleh karena itu, wajar kalau penyelenggaraan perdana sistem baru ini masih banyak salah di sana-sini, terutama masalah komunikasi dan publikasi antara pihak rektorat, calon maba dan masyarakat luas.

    lantas siapa yang membuat semua ini jadi berantakan? yah, mungkin birokrasi di tiap fakultas yang tingkat kesulitannya beda2, mungkin juga keengganan calon maba untuk mencari info, atau mungkin juga kesalahan rektorat dalam hal koordinasi

    sekarang gua balik bertanya buat mereka yang senantiasa menghujat sistem ini: solusi apa yang kalian punya? kalau tidak, bersediakah kalian mendukung dan mengawal sistem ini?

    Roma tidak dibangun dalam sehari, kawan. bis transjakarta juga dikecam disana-sini waktu launchingnya.

    oh iya satu lagi, ungkapan UI kampus rakyat itu diciptakan oleh mahasiswa pada tahun 70an. bukan diciptakan oleh pihak rektorat, ataupun anggapan masyarakat.

    Reply
  25. aduh,sedih juga baca dua artikel diatas….
    orangtua saya juga kaget liat biaya bop&up yang terbilang “mahal” bagi ayah saya yang peg.negeri dan ibu guru sd.mrk sempet ngira kalo UMB itu sama kayak jalur UM nya ITB&UNPAD,makanya mahal,,malah saya disuruh ikut snmptn lagi, d harapan biaya kuliah jauh lbh murah(gile,otak udh mumet bgt kn bljr bwt UMB.)
    tapi,saya menginformasikan pada orgtua saya kalo bop&up disesuaikan dg penghasilan orgtua…
    dan pada akhirnya saya,alhamdulillah, dapet keringanan, walau masih terbilang agak mahal,hhe.
    jadi,buat maba yg merasa bop&up nya kemahalan,jgn pernah capek untuk nyari keringanan2,entah itu beasiswa atau apalah..
    mungkin dua org di atas (sarah+dwi) krg aktif mencari info2 seputar penentuan bop&up………………………
    sekarang,saya smangat bgt kuliah,,dengan tekad meraih ipk yg mantab,supaya dpt beasiswa,dlm rangka lebih meringankan beban orgtua saya..yeah!!aamiin y Allah
    uhui..
    *salamperdamaian(halah)

    Reply
  26. temen2 gue yang baru masuk yang minta keringanan, alhamdulillah semuanya dapat,,
    jadi sebaiknya sebelum mengutarakan suatu masalah kita lihat latar belakangnya dulu kenapa mereka bisa ga dapat keringanan,,, jangan langsung berkoar-koar di media massa sebelum ada bukti pasti sehingga menimbulkan antipati dari masyarakat bahwa UI itu mahal/hanya untuk orang kaya,,,

    Reply
  27. jujur gw sedih sebagai nak UI,,,
    seakan tak bangga lg utk mengenakan jaket kuning gw,,,
    p’cuma kita turun k jln utk mengritik kebijakan pemerintah,ternyata d kampus kita ini mengeluarkan kebijakan yg sewenang – wenang,,,

    Reply
  28. inilah hasil dari program liberalisasi kampus.

    “klu mo bayar mahal, lu sekolah di swasta aja sana!”

    ini kampus negeri bung!
    biaya murah adalah sebuah keniscayaan.

    Reply
  29. biaya yang mahal menjadi penghalang bagi banyak anak negeri yang berprestasi dari kalangan menengah kebawah. saya mau tanya, bagaimana dengan sistem pembayaran yang di tetapkan bagi mahasiswa baru?di-website atau brosur UI ditulis bahwa biaya semester mulai dari 100 ribu – 5 juta rupiah, pastinya bagi mereka yang berpenghasilan rendah dapat menikmati bangku kuliah di UI tanpa perlu khawatir kan?terus apakah benar biaya 5 juta rupiah per-semester diperuntukan membantu bagi mereka yang tidak mampu? program baru seperti UI non-regular yang biayanya relatif mahal untuk apa? ditambah lagi jalur-jalur lainnya untuk masuk UI yang saya dengar bagi para calon mahasiswa baru ini bisa mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta untuk berkuliah UI. apa ini tujuan dari semua reformasi yang terjadi di bangsa ini? biaya pendidikan yang makin melambung? atau pembantasan pendidikan kepada anak negeri yang tak mampu? kasarnya gimana bangsa ini mau maju kalau yang hanya bisa berkuliah di universitas ternama di Indonesia hanya mereka yang berpenghasilan besar? ini masalah besar dan kritikal tentunya, semakin hari semakin kronis saja. huh.

    Reply
  30. terakhir saya yg saya tau mahasiswa UI yang ga daftar ulang udah ampe ratusan ya??. Kalo itu sih keknya jelas deh. KURANG PUBLIKASI DAN SOSIALISASI mengenai biaya persemester di UI 100.000 – 7,5 jeti. Jadi pada ketakutan duluan deh,

    calon maba memang harus proaktif nyari info, tapi dengan banyaknya calon maba yg ga daftar ulang?? well, pihak UI memang mesti try harder dalam sounding informasi biaya kuliah persemesterannya untuk tahun2 mendatang

    Reply
  31. MANA KATANYA BIAYA KULIAH DI UI SESUAI KEMAMPUAN!!!
    sepupu gw keterima di ui harus m’bayar bop yang 7,5 juta… dan hampir semua temenya yang diterima di ui juga harus membayar sama.. kalau seperti ini dapat disimpulkan kalau ui mengadakan umb cuma untuk cari uang.. gimana nasib yang udah di terima tapi ga sanggup bayar??? mau dikemanakan bangku2 yang kosong.. ujung-ujungnya di jualsama orang yang berduit… duit lagi… duit lagi…

    Reply
  32. sepupu loe n temen” nya bokapnya tajir x. wajar lah bayar mahal. mau nya yang murah mulu. malu cooyyy.

    Reply
  33. Saya MaBa 2008, saya KURANG SETUJU dengan artikel di atas walau memang saya bayarnya mahal. untuk masuk aja di FHUI uang pangkal Rp 27.700.000 blm terlepas dari uang semester Rp 7 juta. kita harus ketahui UI sekarang dalam masa pemantapan demi menuju yang terbaik. semua fasilitas disediakan dan akan terus dilengkapi, contoh; kita lihat sudah mulai ada sepeda kuning dan jalur2nya yang dalam tahap pembangungan, bus kuning semua akan diganti menjadi lebih nyaman dan aman, truz ada lagi UI yang di salemba akan dipindahkan ke depok nah apakah itu tidak membutuhkan dana? apakah hanya gratis? ya tidak lah.. zaman sekarang serba duit,, kencing aja bayar.. mau gimana lagi? inilah fakta yang terjadi di indonesia. saya harap para mahasiswa mau mengerti dan mari mencari jalan keluar bagi krisis yang di alami pihak rektorat. tidak terpungkiri ada mahasiswa yang kemampuan keluarga hanya pas – pasan atau malah kekurangan, ini harus jadi pertimbangan UI, bagaimana mereka yang telah lulus Ujian Masuk Bersama mudah dalam hal membayar (murah) tanapa membebankan mereka. Pasti lah dalam suatu kebijakan ada pro dan kontra, apalagi skrng UI rektornya baru dan dengar – dengar kurang ada transparansi rektorat dalam masalah keuangan terhadap BEM UI, masalah ini yang harus di pertanyakan? apakah uang yang berada di rektorat terpakai sesuai dengan rencana pembangunan di UI dan pemantapan fasilitasnya atau uangnya lari kemana?

    Reply
  34. Mungkin ini salah persepsi dan salah penyimpulan. Apakah hanya karena satu atau dua orang calon mahasiswa yang kaget dengan mahalnya biaya masuk UI pada tahun 2008, jadi diambil kesimpulan bahwa semua Maba berpendapat bahwa biaya masuk dan kuliah di UI Itu MAHAL. Bung Penulis ini, sebaiknya cenderung provokatif dan menjelek-jelekkan kampus anda sendiri. Maaf kalau agak kasar.
    ingat, kesimpulan yang sah tidak bisa diperoleh dengan hanya sampel 2 dari 4000++ calon Maba…Sudah belajar Statistika kan?

    Reply
  35. #3: anak ui
    klo menurut gw, itu baru prasangka mereka ajah. mereka belom berusaha buat cari informasi yang lebih jauh. harusnya sebagai calon maba mereka harus aktif cari info, jangan malah nakut”in ortu buat mundur. akhirnya ya gt deyyhh pesimis duluan.

    ***

    Komentar dari gua:
    Anda bisa bisa bilang begitu mungkin karena Anda adalah mahasiswa yang aktif. Mari kita pikirkan dari sudut pandang anak yang nggak aktif. Gimana kita bisa menjamin dia dapat informasi tentang UI? Dan Tolong pertimbangkan faktor2 yang lain, misal:

    1. Dia dari daerah, yang otomatis internet dan surat kabar masih langka
    2. Dia dapat informasi yang salah
    3. Dia mahasiswa yang pasif/malas
    4. Dan lain lain

    Mungkin alternatif yang bisa dipertimbangkan adalah:

    1. memaksimalkan organisasi perkumpulan daerah (kalo g salah namanya paguyuban?)juga organisasi2 yang lain
    2. iklan lewat televisi
    3 selebaran (yang sederhana saja, tapi dengan cap resmi rektorat dan tanda tangan Pak Gum. Disebarkan oleh SETIAP mahasiswa UI)

    Mungkin ada yang mau menambahkan? Intinya sih menurutku,kita harus memastikan bahwa informasi bahwa UI kampus murah sampai ke pelosok Nusantara. Dan mungkin yang perlu dicamkan, jangan cuma mengandalkan rektorat, angkat kakimu dan melangkahlah!

    Wahyu
    SI UI 08

    Reply
  36. saya setuju ama pendapat wahyu, anak – anak dari daerah minim akan informasi, jadi sangant dibutuhkan kerjasama yang keras antara Rektorat, mahasiswa, calon mahasiswa, dan orang tua. agar informasi tentang UI sampai dengan jelas tanpa menimbulkan presepsi – presepsi dan tanggapan – tanggapan yang menjatuhkan nama UI. apalagi ini kampus kita bersama, masa kita mau menjatuhkan nama universitas sendiri. jadi harap jangan memprovokasi berlebihan tentang UI, lihat dulu mengapa bisa terjadi seperti ini, saya berpiir ini karena kurang adanya sosialisasi antara rektorat dan BEM UI kepada calo MaBa.

    Reply
  37. jangan-jangan sebagian besar isi UI nanti (atau malah sekarang?) bukannya orang-orang pintar, tapi orang-orang kaya??

    Reply
  38. jujur gw agak bingung kalo tadi ada yg komentar bahwa
    ‘UI adalah kampus negeri sehingga biaya murah adalah sebuah keharusan’

    nah terus hubungan UI sebagai kampus negeri dengan pembiayaan yang murah itu apa?
    emang kampus negeri gak harus bayar listrik?
    emang kampus negeri gak harus bayar pegawainya?
    trus kalo apa” mau murah, dari mana dana utk memelihara fasilitas” di UI?

    jujur harusnya kita malu, terus” menuntut fasilitas yang bagus di UI (such as bikun yang belum lama ini juga dikritik di salah satu artikel di anakui.com karena pelayanannya yang buruk) tapi kita sendiri berkeberatan untuk turut andil membiayai pemeliharaan dan peningkatan kualitas dari fasilitas” yang ada di UI.

    apa kita gak malu?

    Reply
  39. Dulu gw Trisakti biaya semesteran “cuma” 4 juta, padahal full SKS lho… sekarang UI bisa lebih mahal? Luar biasa.

    #3: Kurang aktif ya? Guess what, beberapa hari ini gw ditelponin temen gw MABA 2008 soal informasi keringanan biaya, bisa dapet di mana aja dan gw gak tau itu. Kurang aktif apa coba? Bahkan gw yg mhs UI aja not well informed… apa yg lo tau soal keringanan biaya? Kalo gak tau, jangan diproyeksikan kekurangan lo ke orang laen lah.

    #40: kalo ampe BEM UI bikin aksi mengenai hal ini dan mengajak para MABA 2008 yang notabene adalah “korban” dari andil BEM UI, menurut gw itu konyol. Gw lebih rela kalo 2008 bikin aksi sendiRi.

    #42: Situ punya rincian anggaran UI? Bagi dong. Kalo gak ada, situ tau darimana itu anggaran buat apa aja? Dari Roy Suryo? Luar biasa.

    Ah… jaman sekarang mah yang penting nyalak, bener apa gak, mewakili apa gak, urusan belakangan bukan, adik-adik?

    Ketemuan aja yok, gw pengen tau lo pada ini sekadar omong kosong doang atau bener punya sikap. Gw ada ke UI Depok minggu2 depan untuk urusan buku taunan, mo ketemu oom rektor.

    +iR+

    Reply
  40. Hmm… banyak sekali ya, berita mengenai UI itu mahal, UI itu udah bukan ‘kampus rakyat’, UI itu aristokrat, dsb.

    Kalau buat santapan di media asoy banget tuh kayaknya, daripada berita kayak: ‘UI juara Lomba xxx’, ‘UI PTN terbaik versi majalah blabla… haha. Bad news sell better than bright ones.

    Kalo gw sih ngeliatnya; yang namanya manusia tuh punya motif ekonomi, mau sekaya apapun dia, pasti ada hingga kapasitas tertentu. Otomatis, orang kaya pun akan lebih ingin keuntungan yang besar dengan pengorbanan yang minimal.

    Jujur, gw terbuai konsep ‘BOP berkeadilan’ karena lebih proporsional ketimbang sistem yang lama. Yang dikeluhkan, nampaknya bukan dasarnya, tetapi penyelewengan dalam eksekusinya, formulasinya, dan lemahnya sosialisasinya.

    Dalam beberapa kasus tertentu, defisiensi di dalam bidang-bidang yang dikeluhkan tersebut sewajarnya memang harus dikritisi, tetapi bukan untuk dikumandangkan secara terus-menerus ke semua orang di di semua tempat, tetapi sebagai feedback konstruktif untuk masa depan.

    Saudara Kybz mengatakan bahwa ada biaya-biaya fasilitas tertentu yang harus ditanggung dari uang yang masuk dari mahasiswa baru; saya ingin menekankan bahwa salah satu hal lain yang perlu disoroti adalah gaji dosen.

    Gaji dosen pada umumnya relatif sama dengan PNS biasa, oleh karena itu, banyak yang mencari penghidupannya di tempat-tempat lain; seperti menjadi dosen perguruan tinggi selain UI, aktif di LSM, dll. Pihak rektorat -yang berwenang-, menghendaki agar konsentrasi dan waktu para dosen lebih tercurahkan kepada UI semata, agar dapat menciptakan kegiatan belajar-mengajar yang makin bermutu dan riset yang semakin mendalam; dua-duanya sebagai kunci untuk mencapai tujuan UI untuk menjadi Research University. Salah-satu cara untuk memfokuskan keseharian dosen UI terhadap kegiatan di dalam institusinya sendiri adalah dengan menambah gajinya. Niscaya dengan penambahan tersebut, ia akan makin berdedikasi terhadap universitas dan menjadi salah satu penggerak yang lebih efektif bagi perjalanan UI untuk memenuhi tujuannya

    Selain itu, aspek yang perlu dikembangkan untuk mencapai label ‘universitas kelas dunia’ adalah perbaikan serta pembaruan fasilitas-fasilitas kampus. Yang tentunya, butuh biaya.

    UI, dengan menyandang nama ‘Indonesia’, tentunya harus menjadi sebuah benchmark bagi pendidikan di Indonesia. Benar, mungkin orang akan semakin pesimis untuk masuk UI kalau biayanya bisa dikatakan mahal, tetapi tidak akan ada yang mempertimbangkan untuk masuk UI, kalau UI-nya sendiri medioker dibanding PTN-PTN lain seperti UNPAD, ITB, UGM, dll.

    Dan, universitas-universitas tersebut tidak pernah terbebani dengan slogan-slogan ‘kampus rakyat’ atau menyandang nama negara dsb, sehingga mereka bisa sebebas mungkin mencari dana sebanyak mungkin tanpa takut akan dibebani akan label ‘bukan kampus rakyat lagi, dsb’.

    Inilah kenapa UI harus melalui keruwetan untuk menciptakan berbagai jalur seleksi masuk, dan sebuah sistem BOP yang bersifat proporsional.

    Yang sebenarnya lebih penting untuk disorot dalam lima tahun ke depan, menurut hemat saya adalah apakah investasi yang kita klaim ‘mahal’ ini berbuah atau tidak?

    Apakah penyimpangan oknum seperti di FIB dan FT tidak akan terjadi lagi? Apakah semua fasilitas baru yang dijanjikan terbentuk? Apakah dosen semakin giat mengajar? Apakah UI akan berhasil mengejar targetnya? Apakah masih ada kekurangan signifikan di formulasinya?

    Bila semua hal tersebut terjadi, barulah kita patut bertanya: What the hell was all my money for?

    Menyimak komentar saudara IR: Yeah, everything used to be cheaper. Indonesia sucks hard. Trisakti juga lumayan crazy sekarang biayanya. Jaman sekarang mah kalau mau kuliah murah ya..

    BSI AJA!

    Tapi gatau deh udah gede mau jadi apa..

    -R

    Reply
  41. ya elah, mau kuliah aja dibilang-bilang.

    Sono gih berangkat ke Jerman, gak ada yang larang kok.

    Klo gw, terlanjur kuliah di UI. Ntar aja ah S2 nya di Jerman. . . . .Amin

    Reply
  42. sblmnya minta maap krna oot sdkit
    hmm..
    udah lama tak kunjungi anakKU.com
    kangen… but not kangen band…

    @ mahasiswa yang kaya
    “sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri”

    @yang kurang peka
    mudah2an mahasiswa tidak hanya me- “Lihat apa yang telah UI lakuakan kepada calon mahasiswa baru”

    ada baiknya mahasiswa tidak hanya melihat..lihat…
    lihat.. lihat…

    hadoooohh jangan cuma ngemeng dong ! adakan aksi yang bener2 MERUBAH UI seperti yang dulu lagi !

    jadikan kampus rakyat !
    …………………………

    masih banayak pekerjaan kita untuk merubah universitas indonesis menjadi yang terbaik dari yang terbaik, salah satunyua adalah melonjaknya biaya perkuliahan (gw paham knapa UI mulai gila2an masalah ini tp sebuah kesalahan yang fatal adalah untuk menjadi terbaik bukan memggalang dana dari mahasiwa secara bsar2an, seharusnys pihak UI lebih kreatif agar mencari dana2 diluar dari mahasiswa. UI lupa krna mahasiswa adalah aset terpentung yang harus jd tulang punggung pihak kampz, negara, bangasa, pemerintah taik !).

    maslah yang lain adalah birokrasi yang berbelit (untuk menempuh keringanan bayaran, mahswa harus menempuh birokrasi yang panjang. ga heran knapa banyak yang nyereh sebelum perang), transkip nilai yang belepotan ( siak aN-jinG). ini birokrasi juga !

    hayo lawan !

    Reply
  43. ternyata di balik kedok “kampus bergengsi” ada topik beginian toh…
    BOP PTN = SPP SMA swasta = ???
    O.o
    haloooo, ini PTN gitu loooooooooh
    kampus rakyat!!

    Reply
  44. #43
    Ketemuan apaan, di mana n untuk apa?

    Maba 2008 kayaknya sekarang terasa kurang kompak dan kebanyakan pada “manja”.. Pernah ada maba entah dari fakultas or jurusan apa pas daftar ulang bawa2 keluarga segala (sanak saudara gitu)..gile!

    Intinya, gimana Maba 2008 mau bikin aksi kalo nggak kompak? Jangan-jangan, nanti pas kuliah pada LUGU lagi! (Lu gue..lu gue)..

    Wah! Sedih..Maba 2008 semangat dong!!!!

    Reply
  45. #50: baca lagi tujuan gw ke UI Depok untuk apa aja.. mao ngomporin suasana tapi ketelitian nol..

    lagipula, itu MABA dianterin sekeluarga ya menunjukkan tuh keluarga antusias dan memiliki pengharapan yang tinggi, suatu cerminan sehari-hari kita kuliah di UI dengan pengharapan yang besar dari rakyat, gak suka? dianterin temen pun kagak waktu lo daftar ulang? kesian amat

    lalu intinya MABA gak kompak? hah? premis darimana aja lo bisa dapet simpulan kayak gitu dari tulisan lo yang gak berbobot itu di nomer 50? pola pikiR kerang…

    lo beresin dulu dah pola pikiR lo, baru sok-sok bikin blog di wordpress… jangan latah ah!

    +iR+

    Reply
  46. kalo menurut gw biaya kuliah di UI yang selangit bukan salh dari rektorat dan pihak intern UI sendiri…
    tapi karena bapak bapak dipemerintahan Republik Indonesia yang kita cintai ini…
    soalnya kan universitas2 di indonesia diberikan otonomi khusus untuk mengatur kampusnya,termasuk soal duit..
    jadi semakin sedikitlah subsidi subsidi yang dulunya diberikan, atau malah tidak ada sama sekali, dengan alasan ketidakmampuan pemerintah dan lebih memfokuskan kepada subsidi pada SD, SMP, SMA dulu…
    jadi mau gak mau UI harus memikirkan cara agar dapat meningkatkan kualitasnya dong, ya dengan cara membuka banyak jalur dan menaikkan biaya kuliah, dan gw bilang hasilnya nampak kok, fasilitas di UI terpelihara, bahkan bertambah bagus…
    Jadi, om om pejabat kita, jangan korupsi terus dong!! ntar perut buncitnya meledak lho…
    masa Indonesia yang sekaya ini SDAnya gak mampu mensubsidi pendidikan rakyatnya?? kalah dong ma negara negara lain yang buat makan sayur aja ngimpor!! liat apa yang kalian perbuat kepada kami para mahasiswa… ini baru satu masalah.. berapa masalah yang sudah kalian hasilkan??

    Reply
  47. @54
    “…fasilitas di UI terpelihara…”
    Lihat dari sisi mana lu memang banyak fasilitas baru seperti jalur sepeda, namun dari fasilitas yang lebih sederhana seperti WC-WC di fakultas-fakultas, pusgiwa, stadion UI apakah itu beneran dalam kondisi layak pakai?

    Reply
  48. coba UIbisa kayak jerman……….
    gratis gak bayar boo………
    tapi penelitian dan hasilkarya2 mahasiswanya di jerman itu sangat di apresiasikan…jadi dengan jadi “mahasiswa” aja tanpa kerja part-time…mereka bisa dapet duit…bayangkan udah gratis dapetduit pula…

    tapi gw prihatin banget…di jerman ntuh mahasiswanya rata2 juga pada kerja…yang bawa mobil aja bisa di itung pake jari…padahal di saya kuliah gak bayar…orang jerman juga kaya2…kayanya orang indonesia itu masih kalah ma kayanya orang jerman…tapi…nax UI bejubun yang bawamobil pribadi….ya tambah macetlah margonda…kalo mangmau nyamanya mbok 1 mobil jngan 1 orang,,,buatlahjanjian ma temen2 untuk berangkat bareng…but….

    begitulah UI…..
    menyedihkan…… harusnya uang masuk kendaraan di UI di naikin jadi +10rb….sedot tuh orang2 sok kaya…kaya sich kagak, tapi sok!!!!!!!!!

    gw pikir…yang di butuhkan indonesia bukanlah MAHASISWA…tapi PEMUDA….karena gak semua mahasiswa itu berjiwa pemuda…dan tidak semua pemuda itudari mahasiswa…

    Reply
  49. #43: ya iyalah, lo kuliah di Trisakti itu zaman taun berapa? Perhitungkan inflasi juga. Harga pisang goreng aja dulu ama sekarang dah beda jauh kan?

    Reply
  50. Gue pribadi juga ngga mampu bayar2 duit kuliah di ui kok. bokap gw cuman pensiunan guru, dan nyokap gw pensiunan pegawai negeri, cuman gol 3 lagi. gue kuliah di ekstensi, bayar awal juga mahal, 6juta (thn 2005). sampe kemaren bayar semesteran 4juta. menurut gue, bener kata temen2 di atas yang bilang kalo mahasiswanya yang seharusnya aktif. karena juga gak mungkin kalo universitas yg pada turun nyariin beratus-ratus atau beribu-ribu mahasiswa yang nggak mampu. bisa sih, tapi kan keluar duit lagi utk bayar orang yg turun lapangan. mau berapa orang yang diturunin? trus kalo emang udah diturunin, toh orang itu kan gak bakal bisa ngejar2 & nanya2in setiap orang yg lewat & tanya: “halo, apakah kamu tidak mampu?” nggak juga kali yaa. dan kalopun mereka kaya gitu, gak jaminan juga semua mhsw gak mampu bakal kejaring. ntar kita2 komplain lagi karena kampus ngeluarin duit utk hal yg gak efektif. jalan yang terbaik memang harus dari sisi mahasiswanya sendiri sih yang aktif cari informasi. di tiap fakultas kalo gak salah ada PPM (Pusat Pelayanan Mahasiswa), kita bisa ke situ untuk minta info keringanan. Ada yang berupa potongan dan ada juga yang berupa cicilan. Semuanya memudahkan kita kok.

    Ohya gw juga ada yang mo ditanyain nih ke mas wahyu #39 kalo boleh, boleh ya boleh ya, pasti boleh dong hehe =P

    1. Dia dari daerah, yang otomatis internet dan surat kabar masih langka
    >> weits, jangan salah mas. orang daerah kaya2. hp mereka di sana bujut dah.. naujubilah new release juta2an yg kita blm punya mereka udah pada punya!! pdhl kerjaannya paling cuma tukang dagang sayur di pasar apung kalimantan. internet & 3G juga udah sampe di sana, lagi. bisa 3G knp ga mau internetan & cari url penerimaan mhsw baru? kata gw sih kayanya orangnya aja yang kurang mau nyari info. dan lagipula, kan ada teknologi yang namanya telepon rumah juga. mahal dikit interlokal saya rasa gak apa2 daripada bayar juta2an.

    2. Dia dapat informasi yang salah
    >> nnah, tu dia, si mahasiswa dapetnya dari mana? dan kenapa dia gak konfirmasi langsung ke universitas.

    3. Dia mahasiswa yang pasif/malas
    >> terus, ini salah universitas, gitu? hihihi…

    Mungkin alternatif yang bisa dipertimbangkan adalah:

    1. memaksimalkan organisasi perkumpulan daerah (kalo g salah namanya paguyuban?)juga organisasi2 yang lain
    >> yah mas, emang organisasi apaan yang mau ngurusin anak ui di daerah? bikin organisasi kan butuh duit yg ga sedikit. mending telpon ui deh. beneran deh ga akan efektif. mengurus dan mempertahankan jalannya suatu organisasi itu nggak gampang. banyak yg hangat2 tai ayam dan akhirnya mandek tengah jalan gak idup2 lagi.

    2. iklan lewat televisi
    >> maaaaassss iklan lewat televisi itu satu slot yang cuma 30 detik aja bisa berapa puluh jutaaaaa hadoooohh… iklan di surat kabar full page utk satu hari aja bisa 50juta sendiri, nanti kamu komplain lagi universitas keluar uang banyaaak…(eling mas, eling hehehee)

    3 selebaran (yang sederhana saja, tapi dengan cap resmi rektorat dan tanda tangan Pak Gum. Disebarkan oleh SETIAP mahasiswa UI)
    >> satu. gimana cara menyebarkan selebaran itu ke daerah (ingat, kita lg ngomongin anak daerah, bukan? kirim orang ke sana? makasih deh mas, saya disuruh jadi petugasnya jg gak mau, gak jelas jobdesknya =P nyebarinnya di mana coba? jalan? pasar? sekolah? berapa sekolah? berapa hari? berapa biaya makan, ongkos, akomodasi? itung ndiri dah hehe.

    dua. serius deh. apakah ini cara sebuah universitas paling top di negara ini untuk menyebarluaskan informasi? mundur jauh sampai 30tahun lalu?

    tiga. tanda tangan dan cap stempel itu korban paling rawan untuk dipalsukan. jadi gak jaminan juga kalo2 nanti ada yang iseng bikin selebaran palsu ditandatangani oom gumi tapi berisi info menyesatkan bahwa UI menetapkan uang masuk USD25.000 untuk tiap jurusan di tiap fakultas gimana? situ mau tanggung jawab?

    hadooh udah ah capek *kipas-kipas*

    hihihiiii..
    peace ya.. santai-santai.. hehe =P

    Reply
  51. OoT #60: lu membuat iRhotep’s watch tetapi hanya untuk mengamati hal-hal trivial yang keluar dari pikiRan gw, sedikit menyedihkan dan buang-buang waktu bukan? Mending lu cari pacar… offline tentunya, jangan dari FS.

    #58: bahaslah uang kuliahnya, bukan segmentasinya! kalo kita terus-terusan, secara gak sadar, membagi-bagi masyarakat ini berdasarkan kemampuan ekonomi, gimana mau kompak? Maen pukul rata orang kaya itu sombong, orang miskin itu gak berdaya. Gak jauh beda dengan para politikus yang gak pernah nengok ke bawah, asal nyerocos sesuai teorinya.

    +iR+

    Reply
  52. Wah, kayaknya banyak yang pengen mendiskreditkan UI nih. Padahal kan itu BOP sama SPP bisa di tawar. Gw kira aja Uang pangkal mesti bayar 10 juta (buat yang mampu), ternyata temen gue yang “agak” mampu bisa dapet 5 jutaan doang. Trus ada temen gua juga dapet 2.5 dan 300 ribu, ini baru fakta langsung.

    Saran saya personal mending UI bikin pusat penerimaan sendiri, jadi seluruh masyarakat Indonesia bisa menanyakan dengan jelas gimana masuk UI. Sepengalaman saya nelpon call centernya buat UMB-UI, ga pernah dijawab. Sekarang UI mesti nerima kenyataan juga bahwa kita mesti bersaing dengan PTN & PTS lain juga, paling enggak ada usaha dikit buat ngejaring mahasiswa-mahasiswa baru yang memang berkualitas.

    Jangan cuman maba yang mesti mati-matian buat masuk UI, pihak UI kasih dikit aja pelayanan yang komprehensif buat ngasih info penerangan ke maba, dikit aja, gw yakin udah bagus banget. Bakal banyak anak-anak indonesia yang berprestasi terjaring di UI. Hidup UI-ku!

    Reply
  53. Assalamu’alaikum teman2 yang udah ngasih comment..Saya cuma ingin bilang,bahwa UI adalah kampus paling murah di Indonesia..Tidak percaya?.Jika yang tidak percaya,tanyakan kepada MaBa2 yang mendapatkan banyak keringanan.Percayakah anda jika ada MaBa FK,mendapatkan UP:0,BOP:100rb?.Percayakah anda jika MaBa Farmasi mndapatkan UP:0,BOP:400rb?.Apakah itu yang anda semua katakan mahal?.Jika teman2 kita yang kaya raya mendapatkan UP:25jt,BOP:7,5jt.Itu wajar saja!Kenapa?Karena mereka memang mampu!.Tolong anda semua berfikir lebih objektif.Saya sebagai MaBa 08,sangat berterima kasih kepada bapak Gumilar yang telah memberikan kebijakan seperti ini..Terima kasih kakak2 ku di BEM maupun IM di teknik yang telah membantu ku sehingga saya bisa belajar di UI.

    Reply
  54. #9: aku | 19.07.08, 23:43 | Permalink
    Havard bukannya terkenal dengan mahal nya juga ya?

    mungkin pak Rektor mau mengadaptasi sistem Havard kali… hehe.. becanda…

    gimana dong,,, mahal banget yak…

    sistem singapore kali… singapore public universities kan muahalnya stengah mati. kalo harvard kan private, jadi ya wajarlah mahal. aku juga bingung. pertama kali ngomong sama orangnya kok kayak ogahan gitu yak? jadi kesel lama2 haha.

    Reply
  55. berikan keringanan biaya buat anak2 vokasi!!!
    udah deuh
    UI bubarin aj!!
    ancurin,,
    ga guna
    matiin rektornya!!

    Reply
  56. quote for comment #20 by anak Ui

    mang yang make laptop n wi-fi n listrik siapa?
    masa mereka2 yg ngga mampu bayar AFi 25juta bisa beli laptop???

    bukan masalah fasilitas bung, kalo mau jadi kampus dgn standar internasional ya emang WAJIB NYEDIAIN FASILITAS DENGAN STANDAR INTERNASIONAL!
    tapi bukan berarti harus ngorbanin anak bangsa b’prestasi yg kurang berada….

    masalah biaya harusnya jadi tanggung jawab pihak rektorat, MANA KATANYA JANJI MAU NGEBANTU????

    kalo gak mahasiswanya yg mulai, rektorat mungkin diem doang

    btw gw setuju ama 6R(reuse,reduce,recycle,refill,replace,rethink)
    save the earth n stop global warming..

    Reply
  57. wah anak iblis kayanya bukan anak ui nih..

    betul keliatannya bop berkeadilan itu perlu tinjauan ulang, saya sendiri maba, udah jujur bgt nulis formulir keringanan eh hasilnya masih besar juga, untuk sat ini mikir positif aja mungkin emang ada yang lebih membutuhkan, tapi klo liat temen saya anak fisip secara ekonomi lebih mampu dari saya kok bisa lebih murah ya?
    ada penjelasan?

    Reply
  58. quote for comment #adrian_69
    bukan masalah fasilitas bung, kalo mau jadi kampus dgn standar internasional ya emang WAJIB NYEDIAIN FASILITAS DENGAN STANDAR INTERNASIONAL!
    tapi bukan berarti harus ngorbanin anak bangsa b’prestasi yg kurang berada….

    masalah biaya harusnya jadi tanggung jawab pihak rektorat, MANA KATANYA JANJI MAU NGEBANTU????

    Mas2.. jangan marah2 ga jelas gitu dong.. Rektorat aja udah cukup pusing mikirin duit buat Operasional kampus.. kan udah dbilang, BOP dan DP itu ada subsidi silangnya.. coba bayangin, untuk satu kampus teknik aja, itu operasionalnya berapa perkepala per semesternya.. 10jt?? kurang banget tu mas, bayar dosen udah brapa, buat lab brapa, blom gedung, fasilitas kelas.. mikir donk, jangan cuma teriak2 “kami mahasiswa, hidup mahasiswa”.. apa2an kek gitu, demo pula.. dasar mahasiswa sampah.. ngomong aja useless bullshit.. Inget mas, PTN2 skrg tu udah ga dsubsidi ama pemerintah, yaa cari uang sndiri.. yaa kek ginilah usahanya, coba hargailah, lagipula program subsidi silangnya udah bjalan kok (gw yg ngalamin d kampus ini).. dr mana lagi mau dapet uang? dari proyek? lha mahasiswanya aja cuma sibuk demo, debat, ngerjain proyek dosen asal2an, ga respek ama kampus.. gimana mau maju ne kampus?

    Reply
  59. teman… banyak dari kalian yang bicara tanpa fakta…(maaf yaa…) Smua kebijakan pasti ada kelebihan dan kekurangan. Tau tidak, saya mendapat BOP 100rb loh.. dan banyak dari teman2 saya yang mendapat Bop kurang dari 500rb.

    Reply
  60. Benar kata moin, mungkin kebanyakan sudah terlanjur berprasangka buruk. Mereka-mereka juga sepertinya tidak tersentuh informasi adanya keringanan.

    Kalau memang mau usaha pasti bisa.

    Reply
  61. Benar kata moin, mungkin kebanyakan teman-teman sudah terlanjur berprasangka buruk. Mereka-mereka juga sepertinya tidak tersentuh informasi adanya keringanan.

    Kalau memang mau usaha pasti bisa.

    Reply
  62. cobalah du2k bersama antara rektorat, dekanat, mahasiswa dan perwakilan mahasiswa serta alumni untuk mencari solusi terbaik sebagai alternatif pembiayaan yang tidak memberatkan mahasiswa. tentunya harus didukung data riset yang memadai..buat kebijakan bukannya lebih bagus kal buttom up?

    Reply
  63. assalamu’alaikum
    teman2 jangan kuatir kan uda ada RUU BHP ayo tuntut terus rektorat untuk lebih transparan n berikan solusi dalam regulasi dana UI
    antum semuakan sebagai pihak yang dibebankan bro gak bisa diam ajakann….
    semangat!!!!

    Reply
  64. emang mahal banget ya???
    cuman ngeliat aja udah ngeper…
    tapi kalo emang aad beasiswa atau keringanan ya patut di coba…

    Reply
  65. kalau biaya pendidikan untuk anak muda generasi penerus bangsa saja mahal, bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas SDM indonesia???

    UI ( Universitas Indonesia)
    prestasi
    prestige
    berdaya saing
    MAHAL.

    Reply
  66. Halloo udah tau gaji dosen mo nake dari 7 juta-40 juta? Tapi nggak janji loh dedikasinya bakal lebih baik. Gue kuliah s2 di ui. sumpah mampus lo mesti pinter kalo masuk ui. Dosen nggak ngajarin banyak. Lo kudu cari sendiri. Dosen ui nggak pintre-pinter amat karena lulusan terbaik kerja di citibank atau cnn. Yang biasa-biasa aja jaga gawang sambil cari proyek pribadi. Ini beneran sebab suami gue dosen ui.

    Reply
  67. It’s all because UU-BHP…we, student, have to suffer. Hey! Goverment, you have dissapointed us… you know?!

    Reply
  68. saya sbg mahasiswi fisip paralel 2009 jugga merasa tidak ada keadilan masalah biaya di UI ,
    UI lebih MAHAL dari pada kampus swasta .
    malah bisa dibilang TERLALU MAHAL ,
    untuk masuk ke kampus yang terbaik ini , saya mengeluarkan 18,2 juta , dan saya di patok 7,6 juta persemester . wah wah ! SANGAT MAHAL !
    apalagi anak fe paralel 2009 , 10,1 juta persemester . apakah ini yang di sebut sebagai univresitas negeri ? dengan biaya yang SANGAT TIDAK TERJANGKAU ? apakah UI hanya untuk orang orang berduit ?

    Reply
  69. yah… itu salah calon mahasiswa nya yang malas membaca2 websitenya

    mreka kan sudah dewasa kan?
    ga perlu disuapin lagi?

    itu yang ga tau info2 sperti itu pasti orang2 yang pas dikasi buku manual pas masuk SMA langsung dibuang ke tongsampah

    Reply
  70. siapa yg salah? Di UI kan ada keringanan biaya kalau emg ortu nya ga mampu,ANEH! Saya yg tdak tahu_atau apalah..pdahal banyak jg yg kuliah di UI bhkan tnpa uang pangkal. Aneh aneh,naon boa

    Reply
    • gak sesederhana itu..banyak pula yang sudah mengajukan keringanan tapi gak diterima keringanannya…akhirnya tetep harus bayar mahal…
      🙁

      Reply
  71. 1.”gx ada mahasiswa yg do dari UI karena masalah biaya”

    *ya iyalah, adanya “tidak memenuhi registrasi administrasi”

    2. “kan ada BOP dll..
    *lho, mereka masuk aja belom, informasi BOP-B itu sangat minim lho di luar, klo gx percaya silahkan survey ke SMA-SMA…
    *selain itu, metode penilaian BOP-B sampai sekarang masih tertutup kan?

    Reply
    • sekedar nambahin, gw dapet info BOP-B aja setelah masuk sini… sebelum masuk ( masih di SMA) sama sekali gx ada… cuman ada tulisan BOP-B dan definisi singkat tanpa kejelasan sistemnya ( potongan, cara pengajuan, dll)

      di brosurnya UI aja pas tahun 2010 kemarin seinget gw gx ada lho

      Reply
  72. Ya, kuliah di UI memang sangat mahal. Saya maba UI 2015 paralel bahkan harus membayar lebih dibandingkan yang reguler. “untuk subsidi silang” katanya(?). Bukankah UI termasuk universitas negeri yang sudah disubsidikan oleh pemerintah. Bahkan berbagai macam beasiswa juga banyak ditawarkan dari berbagai lembaga. Juga tidak adanya transparansi dalam pengelolaan biaya dan kurangnya sosialisasi mengenai BOP. Semoga bisa lebih baik lagi

    Reply

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA