Limitasi #1day1article

Suatu saat, dalam situasi yang terburu-buru, aku memacu motorku cukup kencang. Janji dengan seseorang itu cukup membuatku nekat; menerobos lampu merah, menyalip truk besar, bahkan tak segan memotong kendaraan dari kanan.

Konsentrasi mata pun terbagi dua, mengamati jalan dan jam tangan. Sedetik mengamati waktu, sedetik kemudian larut dalam kecepatan. “Aku tak boleh terlambat” gumamku berulang-ulang.

Singkat cerita, kemudian motorku memasuki terowongan bawah tanah di cawang. Dengan kecepatan tinggi aku terus melibas kendaraan-kendaraan lambat itu. 80km per jam, lalu naik 90km, kemudian genap seratus. Aku menikmati kemenangan, berada di atas kecepatan meninggalkan puluhan mobil di belakang.

Hey….! Tunggu…!

Sekejap kemudian ku tersadar. Seratus kilometer per jam?

* * * * * *

Kawan, kita bicara soal limitasi; Batasan. Sebentuk stigma dalam diri manusia yang membentuk kata “bisa” dan “tidak bisa”. Stigma ini berada di alam bawah sadar manusia, tidak bisa dikendalikan namun terasa efeknya.

Limitasi ini bersifat subjektif; Setiap orang memiliki batasannya masing-masing yang dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya Wawasan, pergaulan, kapabilitas pribadi, pengalaman dan mainstream umum. Wawasan, pengalaman, dan kapabilitas menjadi faktor utama penentu limitasi seseorang, sementara mainstream umum dan pergaulan mendukung naik turunnya batasan ini

Sebuah Contoh: Jika ditanyakan, “Apakah kalian bisa terbang?” maka jawabannya pun tergantung SIAPA yang ditanya

Jika masyarakat umum yang ditanya, mungkin jawabannya

“bisa, kita bisa naik pesawat atau menyewa gantole”. 

Jika teknisi dari NASA yang ditanya, mungkin ia akan menjawab

“Jelas Bisa. kita bisa menggunakan tas dengan peluncur jet pribadi, dimana sistem penggunaannya adalah blablabla…”

Jika orang-orang yang hidup sebelum jaman wright bersaudara, mungkin jawabannya akan:

“Kau pikir saja sendiri. Memangnya manusia punya sayap! Dasar bodoh!”

* * *

Dalam konteks cerita diatas, seratus kilometer per jam bukanlah biasa bagi penulis. Jujur saja, sejak kecil nafas selalu sesak apabila menaiki motor dengan kecepatan diatas 70-80km/jam. Sempat dikira epilepsi bahkan asma.

Namun hari ini, akhirnya kejadian ini berhasil membuktikan sesuatu. Walaupun secara tak sadar, penulis bisa membuktikan bahwa kecepatan bukanlah masalah yang berarti lagi, dan bisa ditaklukkan.

Maka beberapa hal tentang limitasi yang harus kita pahami, bahwa:

Batasan pada tiap manusia ternyata tidak nyata. Ia ada karena kita yang membuatnya sendiri.

Sejarah membuktikan berulang kali, limitasi pada beberapa kelompok masyarakat dipecahkan beberapa waktu kemudian.

Berapa banyak manusia yang berpikir bahwa perjalanan dari jakarta ke bandung itu lama, saat di belahan dunia lain diciptakan pesawat jet pribadi?

Berapa lama manusia berpikir tidak mungkin menyelam lebih dari 10 menit, saat manusia lain membuktikan ia bisa satu hari penuh di dasar laut dengan tabung oksigen

Untuk memahami bahwa batasan itu tidak ada, kita harus mencoba dan melewati batasan itu sendiri

Keyakinan tak akan sedemikian kuat ketika kita tidak mengalaminya sendiri; tidak melihannya sendiri, tidak mendengar dengan kedua telinga sendiri, tidak melakukannya sendiri

Dan yang terpenting adalah KEYAKINAN bahwa batasan itu BISA ditembus walau dengan kerja keras, darah dan air mata

betapa banyak manusia yang terkungkung didalam pikirannya sendiri. Terus berkutat dengan confidence, perasaan yakin tak yakin yang ada dalam dirinya. Terus meragukan kemampuannya, tanpa mau berlatih, gagal, dan terus mencoba.

Maka dengan tiga hal tentang limitasi ini, penulis berharap siapapun yang membaca bisa menyadari, bahwa limitasi itu tidak ada. Saking hebatnya otak kita, sehingga mampu menjebak diri kita sendiri. LAWAN! Anda adalah manusia-manusia terhebat tanpa batas yang bisa melakukan apapun!

Coba, berjuang, dan pastikan bahwa batasan itu tidak pernah bisa membatasi kita melakukan apapun.

Cheers

ARA

1 thought on “Limitasi #1day1article”

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA