Liputan Economic Discussion Day II: Meningkatkan Daya Saing Perindustrian Indonesia dalam Persaingan Pasar Global


0

Selasa, 11 Mei 2010 yang lalu Kajian Ekonomi dan Pembangunan Indonesia (KANOPI) FEUI sebagai Kementrian Kajian dan Strategis Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (IMEPI) Jabagbar mengadakan Economics Discussion Day II dengan mengangkat tema “Meningkatkan daya saing perindustrian Indonesia dalam Persaingan Pasar Global” dan dengan subtema terkait dengan ACFTA(Asean China Free Trade Area). Bertempat di ruang PGN Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,kampus UI Depok, acara ini dilangsungkan selama empat jam dari 14.00 – 18.00 WIB.

Economic Discussion Day II terdiri dari dua sesi, sesi pertama adalah talkshow dan yang kedua adalah focus group discussion. Pembicara pada talkshow adalah Dr. Pos M. Hutabarat staf ahli departemen Perdagangan RI dan Fauziah Zen dosen matakuliah ekonomi sector public di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Talkshow diawali dengan penjelasan dari Dr. Pos M. Hutabarat, beliau mengawali penjelasannya dengan memaparkan latar belakang ACFTA, antara lain untuk menyadarkan Jepang. Dilanjutkan tentang penjabaran posisi Cina dalam ACFTA yang menjelaskan bahwa perdagangan ASEAN dengan China sudah melebihi perdagangan ASEAN dengan Amerika. Serta yang membedakan ACFTA dengan perjanjian yang lain adalah dimana apabila dengan China produk Indonesia bersifat komplementer sehingga perlu diperhatikan produk mana saja yang mempunyai comparative advantage dengan produk China. Lebih lanjut beliau juga memaparkan bahwa perdagangan dunia akan lebih baik dengan adanya perdagangan bebas dibandingkan dengan tidak adanya perdagangan bebas.Indonesia harus menerapkan standart agar barang-barang yang masuk ke indonesia memiliki kualitas (membatasi impor). Dan saat ini Depdag sedang menyusun standar agar produk import yang masuk adalah yang memiliki standar yang sama dengan produk indonesia. Implementasi standar inilah yang harus diselesaikan dan implementasikan dengan cepat.

Selanjutnya penjelasan dari ibu Fauziah Zen , beliau menjelaskan bahwa Departemen Perdagangan Indonesia sudah banyak melampaui target hanya saja terhambat dengan biaya yg sangat rendah yang dimiliki China. Serta Indonesia memiliki beberapa keunggulan Comparative terhadap China, dan hal tersebut harus digunakan untuk membuka peluang Indonesia. beliau juga menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang dalam posisi ekonomi terbuka dan produk china masuk ke indonesia tanpa seleksi terlebih dahulu. Industri indonesia tidak berorientasi eksport, tapi malah menggantikan barang2 import dengan cara yang sepertinya salah, ini menggunakan tahap centrally planned (Sehingga tidak sesuai dengan kondisi pasar).Berdasarkan peringkat tingkat competitiveness suatu negara terhadap perdagangan bebas,Indonesia naik dari 51 ke 42. Sehingga Indonesia dapat dikatakan mampu menghadapi persaingan global. Beliau menutup presentasinya dengan menjelaskan bahwa di Indonesia banyak sekali peraturan yang harus di streamline-kan, tapi tidak boleh terlepas dari konsep regional-globalisasi,harus ada grand design yang mengarahkan.

Setelah semua pembicara menyampaikan semua materinya, sesi tanya jawab pun dibuka dan disambut dengan antusiasme para peserta dari berbagai universitas. Setelah itu Dwinda Andaninggar Hangonowati, mahasiswa program studi S1 Ilmu Ekonomi FEUI angkatan 2007, meringkas penjelasan dari pembicara menjadi Pada dasarnya acfta terbentuk dari suatu kondisi geopolitik yang cukup menguntungkan bagi Asean dan China. Dan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah peningkatan iklim investasi, infrastruktur, peningkatan undang-undang, tidak seluruh hal harus diatur,ada pasar yang harus mengatur sendiri untuk melihat seberapa kompetitifnya indonesia. Deperindag sedang menyusun beberapa roadmap industri yang disusun, salah satunya adalah agrobisnis, elektronik, dan telematika. Maka tugas para pelaku industri adalah berproduksi sebaik mungkin, dan pemerintah harus memberikan insentif. Setelah sesi talkshow ditutup maka dilakukan acara pemberian plakat kepada pembicara oleh ketua Kanopi 2010 Dara Andhika serta perwakilan IMEPI Jabagbar Riandy Laksono.

Bagian kedua dari EDD II adalah focus Group Discussion yang diikuti para peserta yang berasal dari berbagai universitas yaitu IPB,UNPAD, STIE Pandu Madania,UIN Jakarta,dan Atma Jaya Jakarta. Tetapi sebelum FGD ada perkenalan anggota baru IMEPI yaitu dari STIE Pandu Madania,dan seluruh anggota lama IMEPI pun menyambut dengan hangat. FGD diawali dengan diskusi masing- masing kelompok dengan tema yang telah di tetapkan oleh panitia antara lain “Analisis Investasi China di Indonesia”,”Meningkatkan Competitiveness Indonesia Melalui Perbaikan Lembaga dan Kebijakan”,”Realita Industri Indonesia di Tengah Industri Global”, dan “Meningkatkan Iklim Investasi Indonesia”. Setelah para peserta diberikan waktu untuk berdiskusi maka tiap kelompok diskusi akan menunjuk perwakilannya untuk mempresentasikan hasil diskusinya serta disediakan pula sesi Tanya jawab yang berlangsung dengan hangat dan disambut dengan antusias para peserta.

Selasa, 11 Mei 2010 yang lalu Kajian Ekonomi dan Pembangunan Indonesia (KANOPI) FEUI sebagai Kementrian Kajian dan Strategis Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (IMEPI) Jabagbar mengadakan Economics Discussion Day II dengan mengangkat tema “Meningkatkan daya saing perindustrian Indonesia dalam Persaingan Pasar Global” dan dengan subtema terkait dengan ACFTA(Asean China Free Trade Area). Bertempat di ruang PGN Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,kampus UI Depok, acara ini dilangsungkan selama empat jam dari 14.00 – 18.00 WIB.

Economic Discussion Day II terdiri dari dua sesi, sesi pertama adalah talkshow dan yang kedua adalah focus group discussion. Pembicara pada talkshow adalah Dr. Pos M. Hutabarat staf ahli departemen Perdagangan RI dan Fauziah Zen dosen matakuliah ekonomi sector public di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Talkshow diawali dengan penjelasan dari Dr. Pos M. Hutabarat, beliau mengawali penjelasannya dengan memaparkan latar belakang ACFTA, antara lain untuk menyadarkan Jepang. Dilanjutkan tentang penjabaran posisi Cina dalam ACFTA yang menjelaskan bahwa perdagangan ASEAN dengan China sudah melebihi perdagangan ASEAN dengan Amerika. Serta yang membedakan ACFTA dengan perjanjian yang lain adalah dimana apabila dengan China produk Indonesia bersifat komplementer sehingga perlu diperhatikan produk mana saja yang mempunyai comparative advantage dengan produk China. Lebih lanjut beliau juga memaparkan bahwa perdagangan dunia akan lebih baik dengan adanya perdagangan bebas dibandingkan dengan tidak adanya perdagangan bebas.Indonesia harus menerapkan standart agar barang-barang yang masuk ke indonesia memiliki kualitas (membatasi impor). Dan saat ini Depdag sedang menyusun standar agar produk import yang masuk adalah yang memiliki standar yang sama dengan produk indonesia. Implementasi standar inilah yang harus diselesaikan dan implementasikan dengan cepat.

Selanjutnya penjelasan dari ibu Fauziah Zen , beliau menjelaskan bahwa Departemen Perdagangan Indonesia sudah banyak melampaui target hanya saja terhambat dengan biaya yg sangat rendah yang dimiliki China. Serta Indonesia memiliki beberapa keunggulan Comparative terhadap China, dan hal tersebut harus digunakan untuk membuka peluang Indonesia. beliau juga menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang dalam posisi ekonomi terbuka dan produk china masuk ke indonesia tanpa seleksi terlebih dahulu. Industri indonesia tidak berorientasi eksport, tapi malah menggantikan barang2 import dengan cara yang sepertinya salah, ini menggunakan tahap centrally planned (Sehingga tidak sesuai dengan kondisi pasar).Berdasarkan peringkat tingkat competitiveness suatu negara terhadap perdagangan bebas,Indonesia naik dari 51 ke 42. Sehingga Indonesia dapat dikatakan mampu menghadapi persaingan global. Beliau menutup presentasinya dengan menjelaskan bahwa di Indonesia banyak sekali peraturan yang harus di streamline-kan, tapi tidak boleh terlepas dari konsep regional-globalisasi,harus ada grand design yang mengarahkan.

Setelah semua pembicara menyampaikan semua materinya, sesi tanya jawab pun dibuka dan disambut dengan antusiasme para peserta dari berbagai universitas. Setelah itu Dwinda Andaninggar Hangonowati, mahasiswa program studi S1 Ilmu Ekonomi FEUI angkatan 2007, meringkas penjelasan dari pembicara menjadi Pada dasarnya acfta terbentuk dari suatu kondisi geopolitik yang cukup menguntungkan bagi Asean dan China. Dan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah peningkatan iklim investasi, infrastruktur, peningkatan undang-undang, tidak seluruh hal harus diatur,ada pasar yang harus mengatur sendiri untuk melihat seberapa kompetitifnya indonesia. Deperindag sedang menyusun beberapa roadmap industri yang disusun, salah satunya adalah agrobisnis, elektronik, dan telematika. Maka tugas para pelaku industri adalah berproduksi sebaik mungkin, dan pemerintah harus memberikan insentif. Setelah sesi talkshow ditutup maka dilakukan acara pemberian plakat kepada pembicara oleh ketua Kanopi 2010 Dara Andhika serta perwakilan IMEPI Jabagbar Riandy Laksono.

Bagian kedua dari EDD II adalah focus Group Discussion yang diikuti para peserta yang berasal dari berbagai universitas yaitu IPB,UNPAD, STIE Pandu Madania,UIN Jakarta,dan Atma Jaya Jakarta. Tetapi sebelum FGD ada perkenalan anggota baru IMEPI yaitu dari STIE Pandu Madania,dan seluruh anggota lama IMEPI pun menyambut dengan hangat. FGD diawali dengan diskusi masing- masing kelompok dengan tema yang telah di tetapkan oleh panitia antara lain “Analisis Investasi China di Indonesia”,”Meningkatkan Competitiveness Indonesia Melalui Perbaikan Lembaga dan Kebijakan”,”Realita Industri Indonesia di Tengah Industri Global”, dan “Meningkatkan Iklim Investasi Indonesia”. Setelah para peserta diberikan waktu untuk berdiskusi maka tiap kelompok diskusi akan menunjuk perwakilannya untuk mempresentasikan hasil diskusinya serta disediakan pula sesi Tanya jawab yang berlangsung dengan hangat dan disambut dengan antusias para peserta.

Selasa, 11 Mei 2010 yang lalu Kajian Ekonomi dan Pembangunan Indonesia (KANOPI) FEUI sebagai Kementrian Kajian dan Strategis Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan (IMEPI) Jabagbar mengadakan Economics Discussion Day II dengan mengangkat tema “Meningkatkan daya saing perindustrian Indonesia dalam Persaingan Pasar Global” dan dengan subtema terkait dengan ACFTA(Asean China Free Trade Area). Bertempat di ruang PGN Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,kampus UI Depok, acara ini dilangsungkan selama empat jam dari 14.00 – 18.00 WIB.

Economic Discussion Day II terdiri dari dua sesi, sesi pertama adalah talkshow dan yang kedua adalah focus group discussion. Pembicara pada talkshow adalah Dr. Pos M. Hutabarat staf ahli departemen Perdagangan RI dan Fauziah Zen dosen matakuliah ekonomi sector public di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Talkshow diawali dengan penjelasan dari Dr. Pos M. Hutabarat, beliau mengawali penjelasannya dengan memaparkan latar belakang ACFTA, antara lain untuk menyadarkan Jepang. Dilanjutkan tentang penjabaran posisi Cina dalam ACFTA yang menjelaskan bahwa perdagangan ASEAN dengan China sudah melebihi perdagangan ASEAN dengan Amerika. Serta yang membedakan ACFTA dengan perjanjian yang lain adalah dimana apabila dengan China produk Indonesia bersifat komplementer sehingga perlu diperhatikan produk mana saja yang mempunyai comparative advantage dengan produk China. Lebih lanjut beliau juga memaparkan bahwa perdagangan dunia akan lebih baik dengan adanya perdagangan bebas dibandingkan dengan tidak adanya perdagangan bebas.Indonesia harus menerapkan standart agar barang-barang yang masuk ke indonesia memiliki kualitas (membatasi impor). Dan saat ini Depdag sedang menyusun standar agar produk import yang masuk adalah yang memiliki standar yang sama dengan produk indonesia. Implementasi standar inilah yang harus diselesaikan dan implementasikan dengan cepat.

Selanjutnya penjelasan dari ibu Fauziah Zen , beliau menjelaskan bahwa Departemen Perdagangan Indonesia sudah banyak melampaui target hanya saja terhambat dengan biaya yg sangat rendah yang dimiliki China. Serta Indonesia memiliki beberapa keunggulan Comparative terhadap China, dan hal tersebut harus digunakan untuk membuka peluang Indonesia. beliau juga menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang dalam posisi ekonomi terbuka dan produk china masuk ke indonesia tanpa seleksi terlebih dahulu. Industri indonesia tidak berorientasi eksport, tapi malah menggantikan barang2 import dengan cara yang sepertinya salah, ini menggunakan tahap centrally planned (Sehingga tidak sesuai dengan kondisi pasar).Berdasarkan peringkat tingkat competitiveness suatu negara terhadap perdagangan bebas,Indonesia naik dari 51 ke 42. Sehingga Indonesia dapat dikatakan mampu menghadapi persaingan global. Beliau menutup presentasinya dengan menjelaskan bahwa di Indonesia banyak sekali peraturan yang harus di streamline-kan, tapi tidak boleh terlepas dari konsep regional-globalisasi,harus ada grand design yang mengarahkan.

Setelah semua pembicara menyampaikan semua materinya, sesi tanya jawab pun dibuka dan disambut dengan antusiasme para peserta dari berbagai universitas. Setelah itu Dwinda Andaninggar Hangonowati, mahasiswa program studi S1 Ilmu Ekonomi FEUI angkatan 2007, meringkas penjelasan dari pembicara menjadi Pada dasarnya acfta terbentuk dari suatu kondisi geopolitik yang cukup menguntungkan bagi Asean dan China. Dan yang harus dilakukan oleh pemerintah adalah peningkatan iklim investasi, infrastruktur, peningkatan undang-undang, tidak seluruh hal harus diatur,ada pasar yang harus mengatur sendiri untuk melihat seberapa kompetitifnya indonesia. Deperindag sedang menyusun beberapa roadmap industri yang disusun, salah satunya adalah agrobisnis, elektronik, dan telematika. Maka tugas para pelaku industri adalah berproduksi sebaik mungkin, dan pemerintah harus memberikan insentif. Setelah sesi talkshow ditutup maka dilakukan acara pemberian plakat kepada pembicara oleh ketua Kanopi 2010 Dara Andhika serta perwakilan IMEPI Jabagbar Riandy Laksono.

Bagian kedua dari EDD II adalah focus Group Discussion yang diikuti para peserta yang berasal dari berbagai universitas yaitu IPB,UNPAD, STIE Pandu Madania,UIN Jakarta,dan Atma Jaya Jakarta. Tetapi sebelum FGD ada perkenalan anggota baru IMEPI yaitu dari STIE Pandu Madania,dan seluruh anggota lama IMEPI pun menyambut dengan hangat. FGD diawali dengan diskusi masing- masing kelompok dengan tema yang telah di tetapkan oleh panitia antara lain “Analisis Investasi China di Indonesia”,”Meningkatkan Competitiveness Indonesia Melalui Perbaikan Lembaga dan Kebijakan”,”Realita Industri Indonesia di Tengah Industri Global”, dan “Meningkatkan Iklim Investasi Indonesia”. Setelah para peserta diberikan waktu untuk berdiskusi maka tiap kelompok diskusi akan menunjuk perwakilannya untuk mempresentasikan hasil diskusinya serta disediakan pula sesi Tanya jawab yang berlangsung dengan hangat dan disambut dengan antusias para peserta.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
widianiputri

buat KANOPI FEUI, musti sering sering nulis disini

One Comment

Leave a Reply