Liputan TEDx Tangerang Selatan

Gagasan, ilmu, dan pertaruhan merupakan hal-hal fundamental dalam perjalanan manusia menuju perbaikan dan kemajuan. Ketiga hal inilah yang diusung oleh organisasi non-profit TEDxTangsel dalam acaranya pada akhir April lalu dengan tema Go for Broke. Bertempat di Titan Center Bintaro sektor 7 dan didukung sepenuhnya oleh Titan Center beserta Javapuccino, TEDxTangsel mengadakan konferensi TEDx yang bertujuan untuk memprovokasi 100 hadirin terpilihnya untuk bergerak dan memulai perubahan demi kemajuan di komunitasnya masing-masing.

Didedikasikan kepada gagasan-gagasan yang patut disebarkan, konferensi yang melibatkan enam pembicara, dua penampil serta tiga TED Talk memiliki cakupan topik yang luas. Sesi pertama yang berjudul Leaving Comfort Zone menampilkan Femke Den Haas, seorang warga negara Belanda pendiri Jakarta Animal Aid Network yang peduli akan konservasi hewan di Indonesia dan Angkie Yudistia yang merupakan seorang penulis perempuan tuna rungu dan pendiri Thisable Associate. Pada sesi ini, kedua pembicara ini mengajak hadirin untuk berbuat lebih dari sekadarnya, seperti Femke yang terbang ke Kalimantan untuk menyelamatkan satwa liar Indonesia atau Angkie yang pernah menjadi none Jakarta pada tahun 2008. Sesi tersebut ditutup dengan penampilan menyentuh dari Paduan Suara Tuna Rungu dari Panti Melati Bambu Apus.

Sesi kedua yang berjudul Pursuit of Happiness dibuka oleh Riefa Istamar, seorang fotografer 360 derajat, yang membawa hadirin ke berbagai belahan Indonesia lewat hasil-hasil karyanya. Riefa pula mengajak para hadirin untuk mendukung The Museum Project yang sedang dikerjakannya. Dalam proyek ini, Riefa menangkap foto-foto 360 derajat dari museum-museum di Indonesia dan menyebarkannya lewat internet agar dapat dilihat seluruh orang di penjuru Indonesia bahkan dunia. Pembicara kedua dalam sesi ini adalah seorang aktivis perempuan dan buruh migran, Dewi Nova. Dalam talknya, Ia mengajak hadirin untuk mengembangkan pengertian antar manusia agar tak ada lagi konflik terjadi di Indonesia. Ia menutup talknya dengan sebuah deklamasi puisi yang Ia persembahkan kepada para buruh migran Indonesia.

Sesi ketiga sekaligus sesi penutup yang berjudul Living the Legacy dibuka oleh para Ronggeng Blantek dengan tariannya yang ceria. Tarian Blantek sendiri adalah tarian tradisional Betawi yang hampir punah karena hanya sedikit yang masih melestarikannya di sanggar-sanggar tari di Indonesia. Penampilan tersebut disusul oleh pembicara kelima hari itu, Bapak Erie Sudewo. Erie adalah seorang entrepreneur dan pada hari itu Ia menyampaikan kepada hadirin untuk pula mengembangkan karakter disamping kecerdasan, demi kemajuan Indonesia. Pembicara terakhir pada acara ini, H. Chaeruddin atau yang biasa dikenal sebagai Bang Idin , adalah seorang environmentalist asli Betawi yang memukau para hadirin dengan gagasan manajemen kearifan alamnya. Di tahun 1990an Ia dan Kelompok Usaha Taninya berjuang melestarikan dan membersihkan bantaran kali pesanggrahan yang kini telah menjadi kawasan hijau dan digunakan sebagai tempat bercocok tanam oleh warga sekitar. Bang Idin juga mendorong kepada hadirin untuk bermental kuat dan berbuat serta melakukan kebaikan tanpa harus dipilih sebagai pemimpin. Talknya tersebut ditutup dengan standing ovation ndari segenap hadirin di ruangan.

Walaupun anda tidak dapat menghadiri acaranya secara langsung, dalam semangat menyebarkan ide dan gagasan yang terangkum dalama acara ini, semua talk akan dipublikasikan melalui kanal resmi TEDx di youtube, tedx.ted.com, dan website resmi TEDxTangsel (tedxtangsel.com).

 

Leave a Comment