Mahasiswa: (sejatinya) Duduk atau Berdiri?

Sebagian besar orang menggunakan jasa transportasi umum hampir setiap harinya. Termasuk mahasiswa UI, banyak yang menggunakan jasa KRL, Transjakarta, atau angkot untuk pergi ke kampus maupun kembali ke rumah. Terutama untuk KRL dan Transjakarta, tentunya setiap orang ingin duduk nyaman selama perjalanan. Pertanyaannya, jika kita sebagai mahasiswa kebetulan beruntung mendapatkan tempat duduk dalam keadaan penuh dan berdesakan, apa yang akan kita lakukan jika melihat orang tua yang terpaksa berdiri?

Pengalaman yang saya dengar dari ibu saya yang menggunakan jasa Transjakarta setiap harinya ke tempat kerja, tidak banyak pemuda/pemudi yang dengan “sukarela” memberikan kursinya untuk orang yang lebih membutuhkan. Kejadian ini seringkali terjadi. Juga berdasarkan pengamatan saya, beberapa pemuda/pemudi yang mendapatkan tempat duduk ada yang sibuk dengan gadget masing-masing, tidur, membaca, seakan apatis terhadap keadaan sekitar. Tak peduli apakah ada ibu-ibu paruh baya yang menggendong anak kecil, wanita hamil, atau bapak-bapak yang sudah cukup tua. Yang terpenting dirinya sendiri bisa duduk nyaman dan tak ikut berdesakan. Mungkin dalam hatinya berkata, selama tak ditegur oleh petugas yang berada di dalam Transjakarta atau Commuter Line, berarti tidak ada yang salah. Beginikah sepatutnya sikap seorang pemuda? Memprihatinkan.

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin mengajak teman-teman mahasiswa Universitas Indonesia (yang katanya) sebagai Agent of Change untuk tidak ikut bergabung dalam “komunitas pemuda-pemudi apatis” ini. Selayaknya kita yang masih kuat berdiri berkorban untuk penumpang lain yang lebih membutuhkan tempat duduk. Ibu saya bercerita, begitu senang rasanya jika ada orang yang mau memberikan kursi untuknya berhubung beliau memang tidak kuat jika berdiri terlalu lama, apalagi dalam keadaan berdesakan. Saya pun beberapa kali menggunakan jasa bus Transjakarta rute Pinang Ranti-Pluit. Karena saya berangkat dari halte Pinang Ranti, jam-jam tertentu penumpangnya tidak terlalu banyak pada dan memungkinkan saya mendapatkan tempat duduk. Namun di halte transit tertentu, penumpang yang naik semakin banyak. Segera saya melihat-lihat jika ada orang lain yang lebih membutuhkan kursi saya, saya akan dengan senang hati memberikannya. Karena saya berpikir, jika saya mau memberikan kursi untuk orang lain, maka Tuhan yang Maha Adil pun akan memudahkan ibu saya mendapatkan sumbangan kursi dari orang lain. Dan syukurlah, kata ibu saya beliau sering mengalaminya 🙂

Sekali lagi saya mengajak teman-teman semuanya untuk lebih peduli dalam Transjakarta atau Commuter Line. Memang benar, kita mempunyai hak yang sama dengan penumpang lainnya untuk mendapatkan satu buah tempat duduk seharga tiket yang sudah kita bayarkan. Syukurlah jika kita memang mendapatkan tempat duduk, tapi marilah dengan sukarela memberikan kursi untuk orang lain yang lebih membutuhkan, dibanding kita yang masih muda dan kuat untuk berdiri. Begitu juga dalam menggunakan Bis Kuning, beberapa kali saya melihat ibu atau bapak yang sudah berumur terpaksa berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk. Sepatutnya sebagai mahasiswa UI kita memberikan kursi kita untuk beliau, kecuali jika yang berdiri sama-sama mahasiswa, di sini pun saya tidak mengutamakan perbedaan gender karena bagi saya mahasiswa/mahasiswi mempunyai kekuatan yang sama untuk berdiri.

Sekian ajakan dari saya, saya sungguh berharap tulisan ini dapat meningkatkan kesadaran kita semua untuk lebih peduli terhadap keadaan di dalam transportasi umum. Salam semangat! (^o^)9

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA