Mana Lift di FIB?

Lift
Lift (Ilustrasi ditambahkan Admin) (cc/flickr/robinsonsmay)

Ada 9 gedung di FIB, dan semuanya tidak memiliki lift. Mengindikasikan diskriminasi kah untuk fakultas ini? Atau pihak dekanat/rektorat tidak mau peduli pada fasilitas di FIB?

Ketiadaan lift saya rasakan sulitnya ketika harus kuliah di gedung-gedung bertingkat 3. Begitu masuk kelas sudah capek duluan karena menaiki anak tangga banyak banget (Apalagi kalo pas lagi telat dan mesti buru-buru sampe kelas :p).

Parahnya lagi, akses tangga cuma satu. Jadi kalo di depan kita ada dosen yang berumur lanjut ya harap sabar aja menaiki tangga di belakang beliau berjalan lambat-lambat karena gak ada tangga lain. Kalau kita yang muda-muda sih mungkin gak masalah, tapi kasihan juga melihat banyak dosen FIB yang udah usia lanjut harus empot-empotanΒ naik tangga untuk sampai ke lantai 3.

Pernah tuh ada dosen saya yang sudah paruh baya begitu masuk ke kelas untuk mengajar, mengeluh bahwa beliau begitu sampai di lantai paling atas pinggangnya sakit-sakit naik tangga, jadinya beliau berharap para mahasiswa benar-benar memperhatikan kuliah yang ia berikan (hiks hiks…jadi terharu).

Saya harap ada perbaikan infrastruktur lah untuk gedung-gedung di FIB yang tinggi-tinggi. Berikanlah sebuah lift untuk kelancaran transportasi menuju ruang kelas. Makasih.

104 thoughts on “Mana Lift di FIB?”

  1. sebenernya kalo cm lantai 3 sih gpp, masih bisa ditolerir..
    (mengingat FIB lantainya dikit2 smua)
    tp pengecualian gedung 9 yang jarak antar lantainya lumayan tinggi.

    mungkin baru ada lift di gedung 10 yg lagi dibangun..
    (gedung 10 tuh brp lantai ya?)

    Reply
  2. Manjanya anak baru..
    FH 4 lt dan gak ada lift jg
    Tp asik2 aja tuh
    Almarhumah dosen FH yang jalan aja dituntun dan jg abis terkena serangan stroke ketika kelasnya yg di lt 3 mau dipindah ke lt 1 aja gak mau dan tetap milih ngajar di lt 3
    Gak malu tuh masih muda dan sehat wal afiat ngeluh?

    Reply
  3. Idealnya suatu gedung dikasih lift itu 4 lantai dst. Jadi kalau cuma 3 lantai mah emang gak mesti pake lift. It’s okay lah. Apalagi untuk mahasiswa atau dosen yang jarang olahraga.

    Reply
  4. Ini adminnya gmn sih? Tulisan begini kok bisa2nya dipublish. Manja amat woy! FH dan mipa aja ga masalah tuh gada lift. Dasar, maba nih ya? WO!

    Reply
  5. haha, langsung di-stun gini mentang2 maba.. tapi tetep bisa jd diskusi yg menarik sih. dgn kondisi pola pikir ky bgini kayanya bentar lagi bakal ada tulisan ttg: ‘Mana lahan parkir di UI?’ xP

    Reply
  6. kalau menuurut saya disesuaikan sama kebutuhan masing2 fakultas.. di fisip cuma 1 di gedung H karena emang gedung nya lantai 6 dan tangga2 nya cukup terjal…

    Reply
  7. yah kalo gue sendiri sih sebagai anak FIB tidak mempermasalahkan tentang gak adanya lift di FIB, yah walaupun sebenaranya emang cukup melelahkan naik sampe lantai 3 lewat tangga, yang lebh meprihatinkan itu adalah WC di FIB deh, hampir gak ada yang bersih, bau lah, kotor lah dan yang paling sering tiap pagi di depan WC selalu ada tulisan “Maaf sedang tidaka ada air”

    Reply
  8. ad peraturan d UI yg menyatakan bahwa gedung yg ingin memiliki lift harus MINIMAL 4 lantai, itu sebabny knp gedung2 d FIB gk ad yg pake lift.

    Hal itu berdasarkan fakta bahwa manusia umur 20-30an normalny masih kuat jika harus turun-naik 3 lantai. jika usia segitu udh gk kuat, brarti gejala2 osteoporosis (ya, kecuali buat dosen anda yg udh sepuh ya)

    itu sebabny gedung2 baru FIB yg lg d bangun skrg (yg katany 8 lantai ato brp gtu dh) bru akan mulai menggunakan lift

    hope this gives you an understanding …

    Reply
  9. yaaah, bahasa gw udh d perhalus biar gk pedes, ternyata komen2 atas gw kaya pedesny maicih lv. 10, salah/ kalah gw xDD

    laen x sbelum bkin postingan/ keluhan d AnakUI, do some research dulu sis… xD

    tiap baca tulisan2 dsini keluhan2 mulu isinya πŸ˜›

    Reply
  10. Terimakasih atas masukan dan kritik teman teman anakui dotcom. Mohon maaf jika post ini menimbulkan ketidakenakan, tidak berbobot dan mungkin kurang pantas untuk dipublish. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. saya menulis tulisan ini memang tanpa riset terlebih dahulu, hanya menuangkan isi pikiran saya karena keprihatinan saya saja melihat adanya mahasiswi yang cacat, tidak dapat masuk di kelas atas atau dosen yang nampak kelelahan menaiki tangga. Saya hanya mengutarakan pendapat dan keprihatinan saya semata. Maaf jika menyinggung banyak pihak, sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya. Ini akan menjadi catatan dan pelajaran bagi saya ke depannya. Terimakasih πŸ™‚

    Reply
  11. bwt komentator2 yang ngomong “manja”: bener2 memalukan, dengan mudahnya menjudge orang dengan “manja”.. maukah lo dipanggil manja (atau sifat2 negatif lain) oleh orang yang ga lo kenal?

    bwt orang yang masih main senioritas, ngomong “dasar maba!”: hare genee masih senioritas, ini 2012 men! zamannya yg ngaruh itu kompetensi, bukan usia atau siapa yg duluan masuk UI 😎

    buat yang bilang ada peraturan kalau gedung yang bisa ada liftnya itu gedung yang 4 lantai ke atas: nice info gan, gw baru tahu tuh

    buat yang nulis: lo ga salah kok, yang salah itu orang2 yang ngejudge lo manja. terserah deh orang2 bilang lo manja, tapi gw nggak nganggep gitu karena lo nyebutin tentang dosen sepuh yang sulit untuk naik tangga. apakah anak “manja” itu bisa sempet2nya peduli dengan orang lain? nggak kan? πŸ˜‰

    Reply
  12. Astaghfirullah!

    Apa begini perilaku anak ui yang katanya intelektual?
    Begitu mudah kalian mencaci penulis yang kebetulan mahasiswa baru dengan kata-kata seperti ‘manja’?

    Gue dulu di Fasilkom juga bolak-balik naik tangga, bisa sampai lantai 6 tetapi gue kagak menganggap artikel ini sebagai manja. Kenapa? Karena penulis artikel ini benar, gedung2 di UI itu tidak ramah orang difabel, orang tua, dan perempuan hamil!

    Memang mengubah struktur gedung, memasang lift, dan sebagainya itu tidak mudah. Namun dengan mudahnya kalian mencaci penulis artikel sebagai ‘maba manja’ menunjukkan bahwa kalian tidak peduli dengan orang lain.

    Buat penulis,
    elo kagak salah. Kagak ada salah sama sekali!

    Gue,
    Alumni
    Fakultas Ilmu Komputer 2002

    Reply
  13. Sebagai alumnus UI, saya sedih melihat bagaimana tanggapan dari teman-teman sekalian. Masalah yang dikedepankan adalah gedung di UI yang tidak ramah, bagi difabel, orang tua dan perempuan hamil. Mengapa aspek yang ditunjukkan hanya arogansi terhadap penulis? apakah karena dia hanyalah seorang mahasiswa baru? Sungguh rendah dan argumen kalian menjadi tidak berdasar.

    Alangkah baiknya artikel ini dipromosikan, sehingga para petinggi rektorat mungkin berkenan untuk membaca agar gedung-gedung di kampus UI menjadi lebih ramah bagi penghuninya. Terutama gedung-gedung yang sudah menjulang tinggi.

    Reply
  14. Di artikelnya nih anak tdk menyebutkan mengenai orng cacat dan lain sebagainya
    Baru setelah terpojok ngomongin orng cacat dan lain sbg-nya
    Dia hanya iri dgn fakultas lain yg menurut dia pnya lift pdhl lebih bnyk fakultas lain yg gedungnya lebih tinggi dari fib dan tidak mempunyai lift jg
    Sbg perbandingan di FH kegiatan perkuliahan paling bnyk dilakukan di lantai 3 dan 4

    Mknya sblm bikin tulisan dipikir dulu ya dek

    Reply
    • Baca baik-baik lagi postingannya!

      “Jadi kalo di depan kita ada dosen yang berumur lanjut ya harap sabar aja menaiki tangga di belakang beliau berjalan lambat-lambat karena gak ada tangga lain. Kalau kita yang muda-muda sih mungkin gak masalah, tapi kasihan juga melihat banyak dosen FIB yang udah usia lanjut harus empot-empotan naik tangga untuk sampai ke lantai 3.”

      Ia berbicara tidak untuk dirinya tetapi untuk orang lain.

      Memang tidak spesifik orang cacat tetapi sebagai orang yang sensitif, begitu tahu bahwa hal tersebut cukup membuat beberapa dosen tua kelelahan, maka hal yang sama juga berlaku untuk difabel dan wanita hamil.

      Saran anda untuk berpikir sebelum membuat tulisan hanya bisa diberlakukan untuk diri anda sendiri.

      Reply
  15. Lu udah baca kan post gw sebelumnya ttg dosen gw yg jalan aja dituntun tp semangat ngajar di lantai 3
    Ada jg dosen gw yg sdh sepuh bgt bahkan ngeliat aja dah gak jelas dan kl kami mau nanya aja musti berdiri agar beliau melihat
    Tp beliau selalu semangat ngajar di lantai 4
    Begitu pula dgn dosen gw yg kekurangan fisiknya. Beliau selalu semangat mengajar di lantai 3
    Gedung2 di UI memang tidak ramah terhadap orang yg kekurangan, krn itu bantulah mereka naik ke kelas
    Jgn cuma ngomong prihatin tp gak melakukan apa2
    Sudahkah kalian melakukan itu?
    Gw sudah πŸ™‚

    Reply
    • Masalah dosen anda masih semangat mengajar, itu saya sangat salut.
      Masalah anda menuntun dosen anda yang sudah sepuh, itu bukan sebuah kebanggaan, seharusnya itu sudah kewajiban.
      Yang memprihatinkan, adalah pembelaan diri kalian itu. Menuduh seseorang manja, kemudian berlindung di balik penggunaan kata diskriminasi di postingannya. Kenyataan yang ada, di UI memang terjadi diskriminasi, diskriminasi terhadap kaum difabel.

      Reply
  16. saudara ilman, terimakasih atas link pada tulisan saya soal UI yang tidak ramah difabel di tahun 2008. https://www.anakui.com/2008/03/07/ui-belum-peduli-penyandang-cacat/

    Jujur saya sebagai alumnus UI sedih dengan komentar-komentar yang tidak berbobot di blog post ini. Masalah manja atau tidak manja bukan urusan kita sebagai orang yang dididik sebagai cendekiawan.

    Kenyataannya memang demikian. UI sama sekali belum ramah… bahkan sampai sekarang kepada orang difabel. Coba anda pikirkan apakah Bis kuning kita aksesibilitasnya baik? apalagi gedung2. Saya sudah menulis masalah ini di awal 2008.

    Anda yang merasa muda, hanya memikirkan diri sendiri dan mudah mencap orang lain tanpa melihat nilai lain dari masukan tersebut. Apabila Anda hanya memikirkan senioritas, mohon dipertimbangkan juga dosen-dosen Anda (yang jelas jauh lebih senior) yang akhirnya memilih untuk tidak lagi mengajar Anda karena keterbatasan fasilitas ini. Tidak semua orang kuat dan sehat seperti komentator-komentator ataupun dosen-dosennya yang luar biasa.

    Belum lagi teman-teman kita yang memiliki keterbatasan fisik, tanyakan pada mereka apakah mudah naik ke lantai 3?

    Jelas tanggapan-tanggapan di halaman ini menunjukkan ketidakpedulian. Sungguh memprihatinkan…

    Reply
  17. Baca jg tulisan yg ini:
    Ada 9 gedung di FIB, dan semuanya tidak memiliki lift. Mengindikasikan diskriminasi kah untuk fakultas ini? Atau pihak dekanat/rektorat tidak mau peduli pada fasilitas di FIB?

    Gak cuma FIB yg gak pnya lift
    Bahkan fakultas lain yg gedungnya lebih tinggi dr FIB jg bnyk yg gak pnya lift

    Jadi jelas bukan diskriminasi

    Reply
  18. Jika dia gak menyebut tdk adanya lift di fib sbg diskriminasi, gw rasa yg lain jg gak akan komen seperti itu

    Reply
  19. Bung simplepost,

    ini bukan masalah diskriminasi antar fakultas, tapi diskriminasi antara Anda yang merasa sehat wal-afi’at dengan sahabat-sahabat yang memiliki keterbatasan… Andi dianjurkan menggunakan kacamata yang lebih luas…

    Membantu case-by-case dengan menuntun pribadi yang sudah sepuh tidak akan menyelesaikan masalah ini secara sistemik. Di sini bukan masalah sudah atau belum, tapi untuk menyelesaikan sebuah permasalahan seperti ini memang membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, seperti misalnya sedikit policy dari management (rektorat ataupun dekanat)

    – Masukan buat semua komentator, alangkah baik jika kita mengkritisi ide adalah juga dengan argumen ide, bukan menyerang pribadi…

    Reply
  20. Dan gw jg setuju bgt kl dimana2 yg paling memprihatinkan itu mipa
    Gw yg dah liat suasana di mipa kl mau ujian itu miris bgt
    Ujian bukan di dalam kelas tp di depan kelas
    Jd sebelum menganggap adanya diskriminasi di fib, alangkah baiknya melihat kondisi fakultas lain
    Jadi bisa bersyukur

    Reply
    • Saat ini diskriminasi bukan hanya ada di FIB, tapi di semua gedung fakultas UI. Itu maksud dari pernyataan Mike.

      Kenapa anda malah berargumen kalo penulis itu salah? kenapa hanya FIB yang ditulis? karena penulisnya mahasiswi FIB.

      Coba lihat permasalahannya lebih jernih, dari isi artikelnya, bukan dari siapa yang menulisnya.

      Reply
    • terimakasih… ya saya baca benar, dia mempertanyakan apakah ada diskriminasi, bukan bilang bahwa ada diskriminasi dan menurutnya bahwa FIB tidak ada lift adalah suatu persoalan.

      Klarifikasi dari teman-teman di fakultas lain memang menunjukkan ada diskriminasi, untuk kebanyakan fakultas, termasuk di dalamnya warga fakultas yang difabel.

      Saya bertanya pada Anda, apakah persoalan yang ditulis di atas adalah masalah ‘kemanjaan’ yang anda klaim sebelumnya, atau diskriminasi di fakultas, ataupun ketidakpedulian pihak universitas dan mahasiswa akan aksesibilitas?

      Fasilkom kebetulan punya lift, begitu juga FIK (seingat saya sekitar 5 tahun lalu) CMIIW… kalau memang FIB tidak ada, itu memang masalah.

      Tidak heran kalau masalah aksesibilitas seperti ini terlewatkan oleh mata mahasiswa yang seharusnya lebih peka. Mereka lebih sibuk menunjuk siapa yang manja dan melihat keterbatasan bukan sebagai hal yang bisa dikembangkan, tapi bertahan di status quo dan ‘bersyukur’. Memprihatinkan….

      Reply
  21. Gw pasti lah ngeliat case by case
    Secara gw anak hukum
    Dr artikel ini hal paling utama yg ingin disampaikan oleh penulis itu adanya diskriminasi yg ada di fib
    Yg lainnya hanya pelengkap
    Dan ternyata tdk terbukti kan adanya diskriminasi di fib?
    Krn fakultas lain justru bnyk yg lebih memprihatinkan

    Reply
    • Kondisi fakultas lain yg lebih memprihatinkan itu tidak menghapus anggapan adanya diskriminasi di FIB. Sama seperti seseorang yg mendapat nilai D akan tetap tidak lulus walau ada temannya yg mendapat nilai E.

      FIB mungkin dipilih karena penulis adalah warga FIB. Namun seperti yg sudah ditulis rekan yg lain, FIB ini bisa jadi hanyalah sebuah contoh dari kasus serupa yang juga ada di fakultas lain. Dan, saya ulangi lagi, walau ada yg lebih memprihatinkan, masalah ini tetap ada dan perlu diselesaikan.

      Ini adalah persoalan “ada masalah yg harus diselesaikan” dan bukan “bersyukurlah karena ada yg lebih buruk”

      Reply
  22. Gw ngelakuinnya gak cuma ke dosen gw tp juga ke temen2 gw
    Ini bukan suatu kebanggaan
    Cuma apakah kalian sdh melakukan itu
    Jelas sekali artikel ini mengatakan bahwa terjadi diskriminasi di fib
    Jadi tolong ya jgn melebar πŸ™‚

    Reply
  23. Mulailah dari diri sendiri dan dari hal yg terkecil

    Jgn ngomong bla bla bla bla tp sendirinya gak melakukan apapun selain ngomong

    Reply
  24. Di mipa, fh jg tdk ada lift
    Dan bahkan gedungnya lebih tinggi dr fib krn sampai 4 lantai
    Jadi dimana letak diskriminasinya?
    Fakultas yg lain yg pnya lift itu pnya gedung lebih dari 4 lantai
    Jadi amat sangat wajar jika ada lift nya
    Tentu saja bs dianggap sbg kemanjaan krn di artikel ini dia menyebutkan ttg dia yg udah capek duluan naik sampai lantai 3
    Selama gw di fh, jarang bgt kuliah di lt 1 ataupun 2
    Selalu di lantai 3
    Dan bagi anak fh naik lantai 3 itu biasa banget
    Dan sudah tahu jg kan kl idealnya gedung yg lebih dr 3 lantai kan yg menggunakan lift?

    Reply
    • Sepertinya anda (dan teman-teman) memandang artikel ini dari sisi yang berbeda. Jadi biarkan saya meberikan perspektif lain.

      Dalam artikelnya, si penulis, dalam interpretasi saya, mencoba mengkritisi kebijakan UI, karena membatasi akses kepada teman-teman difabel, orang tua dan ibu hamil.

      Sementara anda dan teman-teman, terus saja mengkritisi pemilihan kata ‘diskriminasi’, dengan mengatakan bahwa hal tersebut terjadi di seluruh UI. Argumentasi ini membuat diskusinya semakin jauh dari inti permasalahan.

      Reply
  25. Sdh tahu kan standard lift yg minimal 4 lantai?
    Jadi bukanlah suatu diskriminasi jika di gedung yg kurang dari 4 lantai tdk ada liftnya

    Reply
  26. Kalau memang standard gedung di UI yg ada liftnya adalah yg minimal 4 lantai keatas, gw rasa anak fh, mipa dan fakultas lain yg 4 lantai keatas lah yg lebih berhak mendapatkan lift dibanding yg hanya 3 lantai
    Jadi jgn merasa kl fib lah yg paling merana krn gak ada lift

    Reply
    • kalau boleh tahu, standar ini siapa yang buat ya? sepertinya standar ini juga jadi masalah… aspek apa yang dipertimbangkan sehingga ini jadi standar? Finansial kah? tapi apakah finansial jadi pembenaran tidak adanya akses?

      Mungkin standar ini yang harus diubah supaya semua dapat akses dan semua merasa tidak didiskriminasi?

      Reply
  27. Ya meneketehe sapa yg bikin. Kmu tanya aja sama pihak UI.
    Atau kmu tanya anak ft yg lebih tahu standard lift di suatu gedung
    Teknik sipil ya kl gak salah

    Reply
  28. Sebagai tambahan, peraturan yang mengatur tentang batas gedung yang menggunakan lift hanya berlantai 4 atau lebih adalah Peraturan Daerah DKI Jakarta No. 7 Tahun 1991.

    Akan tetapi, pada tahun 2006, Menteri PU Djoko Kirmanto telah mengeluarkan sebuah Peraturan Menteri No 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan yang mewajibkan keberadaan fasilitas pendukung difabel, orang tua dan ibu hamil, tanpa menyebutkan jumlah lantai minimum. Hal inilah yang masih belum diaplikasikan oleh UI untuk gedung-gedung yang sudah ada. Selama belum ada perubahan tersebut, maka UI akan tetap tidak ramah pada teman-teman kita.

    Reply
  29. @simplepost : sebenarnya anda punya masalah apa ya dengan penulis ini ?
    nampaknya anda terlalu mengintimidasi penulis
    saya rasa siapa saja bebas berpendapat, selama itu masih dalam lingkup fakta yang jelas toh itu sah-sah saja.
    sebagai contoh, saya mengutip postingan anda pada 3/1/12 pukul 17:48

    “Selama gw di fh, jarang bgt kuliah di lt 1 ataupun 2
    Selalu di lantai 3
    Dan bagi (anak fh naik lantai 3 itu biasa banget)”

    1. kata yang dalam kurung tersebut, yang anda maksudkan “anak fh” itu anda maksud diri anda secara personal sajakah atau seluruh mahasiswa fh ?

    2. Kenapa anda begitu yakinnya bahwa anak fh bisa beranggapan biasa saja ?
    jangan samakan semua orang seperti anda,

    3. Takaran kata “biasa” saja itu seperti apa ?
    apakah anda sudah melakukan penelitian dengan cara observasi dan wawancara kepada mayoritas anak fh sehingga anda dapat berargumen bahwa “anak fh naik lantai 3 itu biasa banget”

    maaf kalo mempermasalahkan hal yang sepele, tapi saya rasa anda pun mempermasalahkan hal yang sepele.

    yang menjadi masalah dari postingan ini dan ditambah dari pernyataan dari komentar tunggal penulis, sebenarnya bukan berapa jumlah lantai yang terdapat pada gedung-gedung yang ada di FIB, FH, FMIPA, dan fakultas lainnya tapi seberapa besarkah kepedulian pihak UI terhadap orang-orang difabel dan lansia.

    dan untuk semua komentator yang menilai penulis “manja”, tolong jangan memandang suatu masalah dari sudut pandang anda saja, coba lihat secara luas, dengan mudahnya kalian berkomentar tapi diteliti lebih dulu.

    kalo semua pemimpin kaya gini, apa jadinya nih negeri, baru dianugerahi hak bicara saja sudah begini, apalagi dianugerahi kekuasaan.

    Reply
  30. @partheoned
    Mana coba lantai 1 yg bs dipakai buat kuliah selain mootcourt dan s&t?
    Audit aja musti naik tangga
    Lantai 2 hnya yg di gedung E
    Gedung C dan D lantai 2 adalah ruangan dosen PK

    Reply
  31. Kl lu bener anak fh? Gw yakin kl lu tahu bgt kondisi fh kyk apa
    Lu angkatan brpa sih?
    Gw berharap sih lu bukan tergolong anak yg manja krn di fh gak pernah diajarin manja
    Lu musti liat gmna semangatnya almarhum bu hafni ngajar di lantai 3 atau prof tahir di lantai 4 atau prof maria di lantai 3
    Dan mereka tdk pernah mengeluh
    Gw sudah jalanin semua perkuliahan di fh mknya gw bisa tahu kl sdh amat biasa bagi anak fh dpt kelas di lantai 3
    Ya kl lu msh anak baru sih kuliah paling bnyk cuma di auditorium

    Reply
    • “Ya kl lu msh anak baru sih kuliah paling bnyk cuma di auditorium”

      Ya ampun, sibuk ya di sini trashing anak baru dan lama… Memang kalau saya boleh tahu seberapa lama kah Anda? Kebetulan Fasilkom 2002 di atas saja tidak sebangga itu dengan ‘senioritas’ mereka…

      Buat Anda yang merasa tahu:
      “Know everything is to know nothing”
      – An English proverb

      Reply
    • maaf mas nampaknya anda tidak membaca tulisan saya dengan jelas, emosinya diredam dulu mas biar bisa diserap kata2nya.

      jelas-jelas disitu saya “tidak” mengeluarkan argumen bahwa saya anak fh,

      saya FIB 2009, ada masalah ?
      hari gini masih jaman ya senioritas ?

      Reply
  32. Gw gak pnya masalah apapun sama penulis
    Hanya memberikan perbandingan kepada dia betapa tdk adanya diskriminasi di FIB
    Krn fakultas lain yg gedungnya lebih tinggi dari FIB jg tdk ada lift nya

    Reply
  33. Tentu akan berbeda keadaannya jika dia lsng membahas ttg gedung2 di UI yg tdk ramah thdp orng difabel dan lansia tanpa harus menyebutkan sbg diskriminasi bagi FIB yg tdk mempunyai lift

    Reply
  34. Jgn salahkan orng yg mengkritisinya dari sudut pandang yg berbeda krn dia memang membuka peluang utk itu

    Reply
  35. jadi perang argumen gini ya?
    yah namanya pendapat ya monggolah diomongin, hak seeorang juga kok buat berpendapat. toh si penulis juga mengutarakan unek-uneknya kalo memang ada standar penggunaan liftdi gedung-gedung, mungkin si penulis tidak tau. buat masalah manja apa gak? kekeutan fisik tiap orang beda-beda kali, sebagian orang naik ke lantai 2 aja dengan jalan kaki mungkin menyusahkan tp sebagian lain naik ke lantai 6 jalan kaki biasa aja.
    mengeluh bukan berarti manaja kok.

    Reply
  36. Gw cuma bisa ketawa liat banyaknya tulisan anakui.com skrang2 ini yang isinya keluh kesah semua. Mending tulisannya yg seru2 aja kali…. kaya
    “Romantisnya jembatan TEKSAS” dibuktikan dengan banyaknya yg pacaran disana

    Atau indahnya danau UI Wood dengan sampahnya
    daripada bicara ttg lift begini.

    Gw punya dosen, udah tua. dia bisa naek ke kelas yg lantai 5. Dan selama dia mengajar, nga pernah sekalipun liat dia naik lift. Padahal ada lift.

    Thanks

    Reply
  37. Hahahaha pdhl gw yg disini komennya biasa aja deh
    Kl kalian nganggepnya emosi ya krn kalian yg berpikir begitu
    Adalah suatu kenyataan di fh jika anak baru itu kl kuliah kebnykan memang di auditorium
    Jadi kl bukan anak fh tolong deh tdk usah berbicara seakan2 kalian anak fh yg tahu kondisi fh
    Krn terus terang gw gak tahu kalian yg komen ini angkatan brpa dan fakultas apa krn gw aksesnya dari hp
    Dan gw bukan tipikal orng yg bangga dengan senioritas gw, makanya gw tidak mencantumkan nama dan angkatan gw ketika gw ngepost
    Itu krn gw berharap benar2 bisa terbangun diskusi tanpa perlu melihat siapa yg diajak diskusi
    Apakah senior atau junior

    Reply
  38. Meski gw gak mencantumkan nama dan angkatan gw, tp gw selalu sdh mengkondisikan kl gw anak fh dgn harapan agar jika gw salah ttg fakultas lain, bisa dikoreksi oleh fakultas ybs
    Sdngkan yg bertanya disini mengenai fh tdk mengkondisikan kl dia bukan anak fh
    Jadi kesan yg akan terbaca adalah dia itu anak fh
    Mknya gw bilang kl anak fh pasti tahu kondisi fh
    Adalah suatu kenyataan jg kl di fh itu kami tdk dididik untuk manja

    Reply
  39. Kl cara komunikasi gw ke orng yg gw kira anak fh itu kalian anggap senioritas ya silahkan
    Masing2 fakultas kan pnya cara komunikasi sendiri2 dan tdk bs dibandingkan dgn fakultas lain

    Reply
  40. dari pada melenceng terlalu jauh, mungkin sdr. @simplepost bisa memberikan solusi yang baik untuk masalah ini ?? ?:-)

    Reply
  41. jika lift dengan gedung 3 lt digunakan oleh mahasiswa yg masih sehat wal afiat dan tidak kekuarangan satu apapun gw gak setuju
    seandainyapun ada lift ya hanya boleh dipergunakan oleh orang2 difabel, lansia dan keadaan lainnya yg tidak memungkinkan
    krn jika digunakan jg oleh mahasiswa yg masih sehat wal afiat dan tdk kekurangan satu apapun, tetep kasihan orang2 yg difabel dan lansia krn harus berdesak2an dengan orang2 yg masih sehat wal afiat dan tdk kekurangan satu apapun sehingga tujuan pembangunan lift itu jadi tdk optimal dpt digunakan oleh orang difabel dan lansia
    jadi jika pembangunan lift itu hanya dikhususkan untuk orang2 difabel dan lansia sih malah gw dukung
    tp tidak untuk yg masih muda, sehat wal afiat dan tidak kekuarangan satu apapun
    biarkan yg masih muda, masih sehat wal afiat dan tidak kekurangan satu apapun ini naik tangga
    yah… itung2 buat olah raga

    Reply
  42. anak-anak teknik lagi menggalakan hemat energi dalam memakai lift. Lagian biasanya lift itu buat gedung minimal 4 lantai. Jadi karena masih muda kalau bisa lantai 3 naik aja sih biar sehat. LOL

    Reply
  43. untuk @simplepost , anda sudah mengomentari tulisan saya dengan mencampur adukkan dengan pribadi saya. boleh sekarang giliran saya ?
    Pertama, anda menyebutkan saya iri, point saya adalah diskriminasi, dll. Saya sebutkan disini : point utama saya adalah kesulitan fasilitas di gedung FIB. Mengapa saya bilang FIB, karena sehari-hari saya merasakan hal itu.
    Kedua, Memang di awal tulisan saya, saya agak salah merepresentasikan masalah yang ada, tapi bukan berarti anda kemudian menyerang saya secara pribadi. Jujur saya merasa terserang secara pribadi oleh tulisan anda. Seakan-akan anda mengenal saya dengan baik. Untuk anda, dan semua yang mengatakan saya manja, saya ikhlas menerima dan saya cuma bisa mengelus dada, oh ternyata ini ya…faktor utama disini saya dibilang manaj hanya karena saya masih maba. Sya menelusuri banyak tulisan keluhan lain soal fasilitas di UI, dan tidak ada yang mengatakan manja karena yang menulis bukan maba. Tapi kalau maba, sudaha pasti langsung dicecar manja. Jujur saya kecewa dengan pernyataan anda dan teman2 lainnya (saya menganggap forum ini umum, saya tidak akan menyebut kalian ‘Kak’ walau kalian masuk lebih dulu daripada saya disini karena di forum ini semestinya semua sama rata),saya ingin bertanya : kalian kenal saya tidak sih ? Tahu saya seperti apa nggak sih ? Kalau mencap saya manja hanya karena tulisan ini…wah pemikiran kalian bisa dibilang cetek sekali. Begitu juga untuk @simplepost , kalau anda bilang anda menuntun dosen anda wah saya salut. Lalu boleh nggak saya sebut anda riya ? Bukankah kalau menolong seseorang itu tidak usah disebut-sebut ? Memang sudah seharusnya kok hal itu. Bukan sesuatu yang luar biasa banget sampai anda post di komentar. Yang jadi soal : apakah tiap saat kita bisa menolong dosen naik tangga ? Apakah tiap saat dosen bisa minta bantuan mahasiswanya menolong naik tangga ? Pikirkan juga dari aspek itu.
    Saya mengucapkan terimakasih untuk yang berkomentar bijak. Begini ya : yang kita kritik itu TULISANNYA. Bukan ORANGNYA. Dan kalian lihat juga kan peringatan dalam memberi komentar ? NO SENIORITAS disini. Dengan mengatakan “dasar maba…’, ‘masih maba aja lo…’, ‘lo baru jadi maba udah…’. Ini menjurus bullying lho. Katanya di UI tidak ada senioritas ? Katanya demokrasi ? Kalau komen yang seperti ini terus ada di forum ini, lama-lama akan mematikan kreativitas bagi mahasiswa baru yang memang bisa menulis bermanfaat. Bagi yang merasa sok senior, apakah bisa menulis artikel bermanfaat seperti yang maba-maba lainnya lakukan di forum ini ?Sungguh sangat disayangkan komen-komen di atas seakan-akan maba itu adalah kasta terendah di kampus ini yang tidak berhak bersuara. Sekian, Terimakasih.

    Reply
  44. oya bagi @simplepost, kalau soal komunikasi anak fh..itu forum umum bung, untuk semua fakultas, bicaralah dengan cara yang umum. Dan satu lagi kalau boleh saya mengkritisi komentar anda… kok jadi OOT ya ? Kenapa jadi membangga-banggakan fakultas sendiri ya ? Saya juga bangga ko dengan fakultas saya ? Dan saya tidak iri dengan fakultas lainnya. Kalau saya bilang diskriminasi, maksud saya diskriminasi mengapa di fakultas tertentu ada lift sedangkan di FIB tidak ? Nah kalau soal fakultas anda dan fakultas2 lainnya tidak ada lift bisa juga itu masalah lain lagi…saya spesifik pada FIB karena saya sehari-hari kuliah disana. Itu saja.

    Reply
  45. dan harap dibaca ulang : saya MENANYAKAN, bukan MENYATAKAN adanya diskriminasi. Sekali lagi, kalau saya memang manja, tunjukkan dimana letak kemanjaan saya ? Kepedulian saya pada dosen yang lebih tua itu termasuk kemanjaan ya ? Wah kritis bener analisisnya . Terimakasih lho πŸ˜›

    Reply
  46. @sarahannissa
    Ah itu perasaan lu aja kl tiap yg ngepost maba dibilang manja
    Buktinya yg soal mipa gw gak bilang begitu

    Lu mengeluhkan fasilitas di fib ttg lift pdhl fib hnya 3 lantai
    Masih bnyk fakultas lain yg lebih dari 3 lantai yg tdk menggunakan lift jg

    Jadi itu bukan diskriminasi

    Berani menulis disini ya harus siap jika dikritik

    Apalagi anakui.com tdk hanya dibaca oleh anak UI saja
    Yg akan terbaca oleh mereka adalah anak2 UI kok manja ya
    Dan kita tdk bs melarang opini mereka
    Apalagi mungkin jika di compare dgn keadaan universitas mereka, UI itu jauh lebih bagus fasilitasnya

    Reply
  47. Jika lu emang perhatian dgn dosen lu, sblm nulis lu harusnya sdh survey dgn fakultas lain sehingga hanya menyoroti soal gedung2 di ui yg tdk ramah dgn orng difabel dan lansia
    Jadi tdk mengcompare dgn diri sendiri dan jg tdk menyebutkan adanya diskriminasi di fib
    Jika kamu merasa capek naik ke lantai 3 dan itu jg dijadikan salah satu alasan utk pembangunan lift di fib yg hnya 3 lantai, gw gak setuju
    Apalagi standart pembangunan lift itu untuk gedung minimal 4 lantai bukan 3 lantai

    Reply
  48. kan saya bilang disitu ‘kalau kita kita yang masih muda sih gak papa’…itu gue tidak mengcompare pada diri sendiri. memang gue akui tulisan gue di awla memang terkesan mengcompare pada diri sendiri, tapi itu hanya dimaksudkan sebagai pengantar untuk ke inti permasalahan sebenarnya. Semoga ini bisa menjelaskan.
    Memang saya setuju dengan mbak, berani menulis harus berani juga dikritik, tapi saya harap yang dikritik adalah tulisannya, bukan pribadi penulis, kecuali kalau mbak dan saya memang saling kenal.

    Reply
  49. Nah mknya lain kali jika menulis itu perhatikan jg redaksinya gmna
    Orng bs menangkap apa saja dari artikel seperti itu
    Jika memang perhatian dgn orng lansia dan difabel ya harus fokus ke topik itu biar tdk menimbulkan interpretasi lain

    Reply
  50. Sip, thanks saran dan masukannya. Sudah clear ya @simplepost ? Saya menghargai kalau anda tidak setuju kok dengan tulisan saya. Kita negara demokrasi kok.

    Reply
  51. hahaha… @sarahannisa, salut pada Anda ternyata walaupun disebut sebagai ‘maba manja’ oleh mereka yang merasa tua dan berpengalaman malah bersikap lebih dewasa dan arif dalam berkomentar dibandingkan mereka yang merasa tua dan senior…

    -thumbs up

    Anda yang sibuk membela diri dan menyebut orang lain manja, sudah seharusnya anda mawas diri…

    Reply
  52. Ya tentu saja ini negara demokrasi, mknya ada pro dan kontra itu biasa
    Oleh krn itu jgn menyalahkan jg orng yg mempunyai sudut pandang yg berbeda
    Krn semua tergantung bagaimana redaksi artikel itu

    Reply
  53. Fakultas lainnya yg pnya lift itu krn mempunyai gedung yg lebih tinggi, misalnya lantai 5 keatas
    Krn itu sblm membandingkan dg fakultas lain, survey dulu

    Reply
  54. Hilangkan kalimat ini jika kamu memang memiliki keperdulian terhadap orng difabel dan lansia tanpa memiliki maksud terselubung (kepentingan diri sendiri):

    1. Ada 9 gedung di FIB, dan semuanya tidak memiliki lift. Mengindikasikan diskriminasi kah untuk fakultas ini? Atau pihak dekanat/rektorat tidak mau peduli pada fasilitas di FIB?

    2. Ketiadaan lift saya rasakan sulitnya ketika harus kuliah di gedung-gedung bertingkat 3. Begitu masuk kelas sudah capek duluan karena menaiki anak tangga banyak banget (Apalagi kalo pas lagi telat dan mesti buru-buru sampe kelas :p).

    Reply
  55. Ckckckck… Ngasih tahu dibilang senioritas. Trus kalian maunya senior itu mengiyakan semua pendapat kalian gitu?
    Trus kalian maunya jg senior itu dukung apa maunya kalian?
    Gak usah berpendapat kl itu mah

    Reply
  56. Kl senior yg kontra aja dibilang senioritas ckckckck

    Misalnya nih kalian mau masuk jurang
    Trus ada yg ngasih tahu dan melarang kalian utk tidak maju dan tidak masuk jurang dan kebetulan itu senior, lantas kalian sebut senioritas gitu?
    Trus ketika ada senior yg mengiyakan dan mendukung kalian masuk jurang itu baru kalian sebut senior yg baik?

    Jangan hanya berpikiran sempit bahwa setiap senior yg kontra itu melakukan senioritas

    Reply
  57. Ya udah.. Gini aja deh skrng, coba jujur sama diri sendiri
    Bener gak ini murni rasa keperdulian thdp orang2 yg lansia
    Gak usah dijwb disini
    Kl murni ya syukur alhamdulillah tp kl tdk ya tolong belajar jujur sama diri sendiri dulu sblm mencoba jujur sama orng lain
    Krn jujur itu dimulai dari diri sendiri πŸ™‚

    Dah ah ntar dianggap senioritas lagi :p

    Reply
  58. Buat simplepost:

    > Nah mknya lain kali jika menulis itu perhatikan jg redaksinya gmna
    > Orng bs menangkap apa saja dari artikel seperti itu
    > Jika memang perhatian dgn orng lansia dan difabel ya harus fokus ke topik itu biar tdk menimbulkan interpretasi lain

    Sepertinya hal tersebut (redaksi yg kurang pas) sudah diklarifikasi lebih lanjut di komentar2 yg ada. Namun kalau saya lihat, Anda sendiri yg selalu mengarahkan konteks ke isu “diskriminasi FIB dg fakultas lainnya” dan tidak mempedulikan klarifikasi yg sudah dibuat.

    Reply
  59. @fajran
    Ooo jadi gak boleh gitu kl gw nunjukin kalimat mana yg mungkin menimbulkan interpretasi lain? πŸ˜€

    Dan ah ntar dibilang senioritas lagi
    :p

    Reply
  60. @simplepost

    Oh itu sih ngga masalah, malah menjadi masukan buat penulis. Sayangnya Anda hanya berputar di situ2 terus, seolah sangat bangga karena telah menemukan “masalah” di tulisan asli si penulis, bahkan setelah adanya klarifikasi.

    Reply
  61. Waduh lift di FIB? Gak perlu-perlu amat ah. Alhamdulillah kayaknya gue udah hampir 5 tahun kuliah, naik turun tangga di gedung-gedung FIB, pake hak tinggi pula, gak kenapa-kenapa. Malah jaman semester awal suka main kejar-kejaran di tangga gedung 4 sama temen-temen gue. Mereka juga sehat-sehat aja, bahkan lulus duluan dari gue (eh kok jadi curhat). Hahhahaha.

    Btw, mending eskalator aja, biar kayak di mall. Hahahaha

    Reply
  62. kayanya semua itu merata kan, byk fakultas yg gda liftnya, senasib dech jadinya. Anggap aja ini sebuah perjuangan sebelum sukses nanti.

    Reply
  63. kita di mipa juga gitu kok..kekurangan fasilitas.. πŸ™
    tapi kita mesti bisa ngebuktiin kalo kita mampu memiliki segudang prestasi di balik semua kekurangan yang kita rasa di fakultas kita masing-masing. πŸ™‚
    semangat kawan !!!

    Reply
  64. Kali ini saya setuju kok dengan yang diutarakan oleh @simplepost , bukan masalah manja atau enggak yg saya maksud, tapi akurasi dan fokus dari tulisannya. @simplepost itu sebenarnya sedang share ilmu mengenai cara menggiring argumen menuju cara pandang yang lebih lurus (dgn cara penyampaian yg dipilihnya). Apalagi tulisan ini kalo saya tidak salah hitung kurang lebih ada 9 kalimat, jdi memang cukup riskan. Karena sebagian tulisan, bukan cuma di sini,tapi juga banyak di media massa lain yang, jika tulisan mengandung argumen-argumen bias, itu yang menyebabkan bisa salah diartikan, makanya bisa muncul statement manja itu, dan kemudian meluas kemana-mana di komentar2 setelahnya. mungkin ini Sekedar masukan aja utk teman-teman yang gemar dgn dunia jurnalistik atau sejenisnya lah (tentu juga input untuk saya sendiri). Kalo utk isi mah, ya wajarlah ada yg komentar. Tetep semangat nulis ya Sarah Annisa πŸ˜€ ,

    Salam Budaya πŸ™‚

    Reply

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA