teruntuk: kaum intelegensia bebas

…dan mereka menjadi saksi
kita berkumpul di sini,
memeriksa keadaan.
Orang berkata,
‘Kami punya maksud baik.’
Dan kita bertanya,
‘Maksud baik Saudara untuk siapa?
Saudara berdiri di pihak yang mana?!’
Kita mahasiswa, tidak buta!

(WS. Rendra, Sajak Pertemuan Mahasiswa)

advertisement

Memaknai peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober besok, kita disuruh berpikir lagi. Pertanyaan terbesar yang musti muncul pada kita adalah apa peran mahasiswa, selain menjadi pembelajar. Dahulu, pemuda di Nusantara yang bersatu dalam sumpah, pasti memiliki satu keyakinan tertentu untuk menyatukan tanah air. Artinya ada mimpi yang dibawa, tidak hanya belajar dan belajar.

Sebagai pembelajar kritis tentunya kita masygul peran lain apa yang akan kita bawa zaman ini. Apalah itu gunanya berdiskusi, belajar lama-lama tentang persoalan bangsa, studi terus, sedangkan rakyat terus kelaparan di mana-mana, permasalahan bangsa makin besar. Dari titik inilah, rangsangan untuk bertindak dan mengambil langkah cepat tanggap adalah suatu keharusan. (1)

Saya jadi ingat pada pemerintahan Soekarno yang membuat politik kebijakan kenaikan harga di saat negara dalam sergapan perlawanan terhadap PKI tahun 1966. (2) Saat harga-harga naik, rakyat tidak akan memikirkan urusan negara dan mengalihkan perhatiannya ke perutnya sendiri. Di situlah sesedikitnya saya bisa mengerti bagaimana keadaan pribadi bisa mempengaruhi sikap. Sama dengan di kampus.

advertisement

Anekdot yang dapat dibentuk adalah seperti ini: sekarang kampus kita bisa jadi kalah dengan rumah sakit. Di rumah sakit, masih banyak orang yang “kritis”. (3)

Sama halnya ketika mereka yang tergabung menolak kenaikan harga BBM, demi memihak rakyat, di kesehariannya saja suka belanja, kongkow-kongkow, atau beli gadget baru. (4) Hidup bisa begitu serba menyenangkan, hipokrit, memilih apa yang kita inginkan, menolak apa yang kita tidak suka. Yang akhirnya muncul adalah “paduan suara”, yang acuh tak acuh terhadap pergerakan kesadaran. Keadaan pribadi menguasai diri kita, menjadi fokus kita.

Bagi saya pribadi, dulu, cara-cara kita untuk membantu rakyat setidaknya ada dua: terjun langsung membantu masyarakat, atau dengan menggalang kekuatan terlebih dahulu. Entah itu kekuatan dana, manajemen, atau bahkan politik. Intinya adalah: konsepsi, atau praksis.

advertisement

Tetapi saya tidak melihat perjuangan yang praksis itu pada seorang Soe Hok-gie, tokoh mahasiswa FSUI angkatan 60-an. Ia turun ke jalan berdemonstrasi, meritul menteri-menteri cabul dan korup, turut dalam GM-SOS, KAMI, dan sebagainya. Yang Gie lakukan hampir tidak pernah ada yang turun terlibat langsung membantu masyarakat. Lalu ia seolah menjadi begitu ‘heroik’: catatan hariannya dicetak dan sempat ditahan, kata-katanya menjadi alasan mahasiswa naik gunung (padahal sepele sekali), sampai hampir dikategorikan sebagai pahlawan nasional.

Heroisme Soe Hok-gie diaminkan oleh para mahasiswa yang juga sadar dengan makna perjuangan untuk rakyat, yang bertekad besar dan berkumpul bersama, dan menggalang sebuah tujuan bersama, mematri diri sendiri sebagai agent of change (5). Mereka yang mengaku peduli pada soal bangsa, berembuk membentuk sebuah ikatan yang diformalkan. Muncullah di tiap kampus sebuah ikatan mahasiswa, himpunan, badan otonom, dan lain-lain. Itu semua dilakukan awalnya atas dasar kontribusi konseptual pada bangsa.

***

advertisement

Di dunia kemahasiswaan, pada masa ini, di UI, pemilihan umum serentak merebak dari jurusan, fakultas, hingga universitas. Ketua departemen, dekan, rektor, ketua BEM, himpunan, rombak bersamaan di tahun depan. Bahkan ini bersamaan dengan pesta demokrasi di Indonesia tahun depan. 2014 menjadi tahun kepelikan tersendiri bagi ikatan-ikatan ini.  Lalu tiba-tiba terjadilah sebuah dialog ringan dengan seorang teman saya.

I           : M, apa yang sebenarnya kita cari di organisasi?
M         : Wawasan keorganisasian?
I           : Betul, tapi ada yang lebih dari itu.
M         : Jaringan, mungkin?
I           : Ada yang lebih dari itu.
M         : Melepas bosan?
I           : Lebih dari itu.
M         : Popularitas?
I           : Bukan!
M         : Memahami soal-soal dewasa ini?
I           : Ya… tapi sederhananya buat saya cuma satu.
M         : Mencari kawan dan sahabat sebanyak-banyaknya?
I           : Betul! Ini semua demi persahabatan yang tulus.

Terdengar berlebihan, tetapi dialog tersebut benar-benar terjadi di bawah pohon taman kantin fakultas malam itu. (6) Di depan mereka terdapat kumpulan orang yang masih ramai, berkumpul karena suatu kampanye pemilu. Dan kami berbicara tentang orang-orang itu, orang-orang yang terlibat di organisasi.

M         : Bisakah sesuatu kita lakukan tanpa tujuan dan kepentingan apa-apa?
I           : Kepentingan pribadi itu pasti ada, kawan. Saya tidak begitu paham, tetapi dalam sehari-hari, bilamana ada hal-hal mendesak yang menuntut saya demi kepentingan bersama, pasti saya lupa kepentingan saya sendiri.
M         : Wah.
I           : Betul! Contohnya, sebetulnya saya mau jadi ketua anu karena diminta si anu. Betul! Kalau bukan benar-benar diminta jadi pemimpin, mungkin saya tidak mau.
M         : Wah.
I           : Yah..
M         : Iya, iya. Kamu jadi ketua BEM UI sajalah. Saya serius.
I           : Kalau bukan kuliah di jurusan ini, pasti saya maju, deh! Ha ha..
M           : Ha ha…
I           : Ha ha…

Benarkah kita boleh mengadakan kepentingan pribadi dalam lingkup kuasa saat kita berkuasa atas sesuatu? Itu pun masih jadi soal di kalangan mahasiswa organisasi. Kita boleh bertanya sesekali pada orang-orang di lembaga sejauh mana kontribusi konkret yang bisa diberikan, atau iseng saja berulah kenapa sebagian dari kita menginginkan sebuah jabatan. Secara teori, kita akan mendengar pidato puitis. Secara praktis, boleh jadi tidak sepuitis itu.

Kita bisa belajar dari para seniman. Ya, yang saya kagumi dari mereka adalah para pegiat seni mengajarkan arti kata “tujuan”, “hakikat”, dan “ketulusan” tiap tindakannya. Preseden saya, misalnya, seniman-seniman idealis di Pasar Senen yang digambarkan oleh alm. Misbach Yusa Biran tak lekang oleh kuatnya dorongan untuk mempercayai sesuatu yang hakikat dari seni murni, tanpa iming-iming suatu materi apapun. Mereka senantiasa mengejek para pedagang dengan “yang diurus hanya duit melulu!” (7). Para seniman memang senang dengan hal eksentrik pada prinsip-prinsipnya tentang seni.

Dalam kajian kebahasaan, ada yang namanya Penanda (signifiant) dan Petanda (signifie). Ferdinand de Saussure-lah salah satu pelopor strukturalisme bahasa ini. Penanda, adalah instrumen/medium untuk menerjemahkan substansi/konsep/isi (petanda). Saussure percaya bahasa setiap penanda punya satu petanda. Tapi era pemikiran kontemporer dewasa ini, di mana filsafat Derrida yang secara radikal melakukan dekonstruksi (penghancuran tatanan) atas sistem bahasa, menganggap bahwa setiap ‘penanda’ bahkan tidak memiliki ‘petanda’ sama sekali, karena Petanda akhirnya akan jadi Penanda itu sendiri. (8)

Diartikulasikan ke sebuah organisasi mahasiswa, persoalannya muncul apakah lembaga seperti BEM hanya sekedar Penanda agent of change yang sudah tidak punya petanda, artinya sudah tidak punya makna sama sekali. Dalam konteks pemikiran Baudrillardian, Penanda itu sudah jadi tujuan. Dulu, orang, menjadikan BEM misalnya, sebagai instrumen (Penanda) untuk menggerakkan, menyadarkan, dan membantu masyarakat karena mahasiswa dianggap sebagai agent of change, tujuan asalnya adalah pengabdian. Sekarang, BEM malah menjadi tujuan itu sendiri, padahal cuma medium, instrumen. BEM jadi rancu, dan kita lupa akan esensi untuk apa mengikuti organisasi-organisasi kemahasiswaan ini.

Apalagi di fakultas saya, sikap-sikap solutif dan praktis amat digalakkan. Jadi, kita bukan lagi bicara tentang dengan cara apakah kita berkontribusi; konsepsikah atau praksiskah, tetapi yang dinilai adalah seberapa besar kita berkontribusi. Dari akarnya fungsi mahasiswa sebagai agent of change, berarti objektif terakhir kita (baik sebagai orang organisasi/tidak) adalah pengabdian. Mutlak. Akan menjadi sia-sia jika apa-apa yang dilakukan sebagai instrumen di organisasi (rapat, pengumpulan LPJ, eskalasi, forum, dan sebagainya) jika tidak menjadi hasil konkret. Sama saja, mau metodenya data statistik kuantitatif, kalau hanya data, tidak akan berguna.

Saya jadi paham betul alasan kenapa di kampus saya, fakultas teoritis dan fakultas praktikal selalu berseteru. Kedua kubu memiliki core competence yang jauh berbeda rupanya. (9)

***

Instrumen yang dianggap sensitif dalam tatanan organisasi mahasiswa adalah masuknya cara-cara berpikir secara politis.

Dapat dikatakan bahwa saya subjektif berpendapat di sini, sebab saya tidak menyukai cara-cara politik di manapun. Karena politik ini, organisasi mahasiswa kita makin kompleks. Kita jadi membahas metode kampanye, eksplorasi calon-calon, pengumpulan prosedur, hitung suara.

Sekelumit membahas tentang keadaan pemira BEM UI, muatan politiknya sesedikitnya ada. Stigma terhadap politik memang benar-benar terjadi. Bukan soal politik “yang berpihak ke siapa”, tetapi soal cara-cara kotor berpolitiknya. Memperbanyak propaganda-propaganda tidak jujur, menjatuhkan pihak lawan. Kadang bukan dilakukan oleh calon, bisa jadi timnya, bisa jadi orang bawahannya, bisa jadi juga eksponen luar. Wajah-wajah di kampus sekilas mirip dengan spanduk-spanduk partai. Saya kira tidak bijak jika kita sebagai kaum intelegensia masih bersikap seperti bukan intelegensia.

Kita musti menjadi freelance intellegentia, cendekiawan bebas, terlepas dari kepentingan dan penanaman kepentingan. Tetapi masuknya kaum intelegensia ke dalam tatanan pemerintahan membuat masyarakat Indonesia kehilangan pemikiran-pemikiran besar. Kalau intelektual pada gilirannya dipergunakan lagi oleh pemerintah untuk membela beleid-nya atau sebagai solidarity maker orang dalam..ternyatalah, pemerintah memang berusaha memagari dirinya dengan argumentasi intelektual. (10)

Setelah kita belajar dari seniman, kita lihat sikap rakyat Amerika Serikat bagaimana mereka melihat Perang Vietnam yang digencarkan militer mereka dulu. Akar Perang Vietnam adalah perbedaan paham kapitalis dan komunis antara mereka. Salah satu kelompok yang menentang invasi ini adalah Quaker, dari perwakilan agama AS. Menurut pentolannya, “Perikemanusiaan dan cinta berada di atas pertimbangan politik sempit.” (11)

Ketika kebebasan kaum intelegensia terkotak-kotak pada suatu kubu tertentu, maka lenyaplah eksistensi dan ia telah menodai dirinya sendiri. Bisa kita renungkan cara-cara berkampanye yang kotor, saya pikir kampanye tidak perlu meng-under estimate siapapun lawannya. Bahkan sampai harus mengejek dengan kata-kata sarkastis, “Fakultas sebelah begini-begitu“, “si anu hanya kekosongan“, dan banyak lagi. (12)

Pertanyaan saya sederhana; untuk niat kebaikan bersama-sama, untuk pengabdian dan kontribusi yang sama, mengapa kita semua tidak bisa bekerja sama dan malah menimbulkan sebuah kompetisi yang saling menuduh dan menjatuhkan?

***

Sebuah percakapan lagi benar-benar terjadi.

Mt       : Dari hasil seminar perpolitikan dan pencerdasan pemilu dapat dipahami bahwa bla-bla-bla independensi bla-bla-bla kampanye bla-bla-bla partai politik mahasiswa bla-bla-bla
M         : Kamu persis seperti Vicky.
Mt       : Ya! Kalau saya bisa bicara sebab sudah mempelajari ilmunya, dan saya paham.
M         : Iya, iya. Jadi sebetulnya sampai saat ini ada beberapa calon (ketua) yang dia dari ormas?
Mt       : Satu dari X dan satu dari Y.
M         : Wah, seru sekali. Berarti cuma si Z yang independen, ya?
Mt       : Tunggu dulu. Definisi independenmu seperti apa? Siapa bilang si anu independen? Sikapnya saja kalau ada seruan aksi begini-begitu, lalu demikian, demikian… (panjang lebar)
M         : Ha? (tidak tahu apa-apa)

Soal ini biarlah dijawab oleh paragraf karangan Soe Hok-gie di Sinar Harapan (13) dulu;

“Memberikan penilaian terhadap sikap seseorang bukan soal yang sederhana, karena dunia bukan hitam-putih, masing-masing punya individual diffrences (tambahan pen.), setiap tindakan bersumber pada pandangan hidup seseorang. Dalam masyarakat, kita melihat dua sistem penilaian teoritis. Pertama, mereka yang menggunakan sistem nilai absolut, untuk mereka yang tidak mempedulikan situasi dan kondisi. Seperti membunuh komunis adalah salah, karena membunuh itu sendiri sudah menjadi kesalahan.

Tetapi ada kelompok yang tidak memakai sistem nilai ini. Mereka menggunakan sistem nilai relatif. Mereka sadar betul benar salah secara teoritis, tetapi mempergunakannya dengan pertimbangan realistis. Lebih mementingkan kemungkinan-kemungkinan masa depan, jika bertindak sesuatu saat ini. Mereka kompromis, mungkin yang dilakukan bisa jadi lebih besar manfaatnya ke depan.”

Di samping itu ada kaum oportunis dan plin-plan yang menggunakan alasan nilai relatif ini untuk merasionalkan tindakan pengecut mereka. Melihat keadaan ini semua yang telah saya jabarkan, sudah saatnya bagi kita untuk berpikir lebih jauh lagi, partisipatif dalam proses pemilu dan terus memantau perkembangannya. Jika kita mengetahui masalah, silence is a crime.

Keberanian melihat soal dengan pikiran yang jernih, tanpa urusan gerakan politik, pihak ini-itu, kanan atau kiri, dan lain-lain.

Solusi yang saya tawarkan adalah, bagaimanapun, sekompleks apapun metode dan instrumen yang ada di organisasi, tujuan utamanya adalah menciptakan pengabdian seluas-luasnya dan sebesar-besarnya. Kita mengingat Tri Dharma Perguruan Tinggi, kita mengingat fungsi mahasiswa (agent of change, moral force, iron stock), dan finalnya ialah Pengabdian. Yang dilihat ialah hasil Pengabdian. Bukan sekadar jadi anggota organisasi tok, lalu merasa sudah berkontribusi. Bukan sekadar foto terpampang di baliho, lalu merasa tinggi. Organisasi bukan tujuan.

***

Menutup hal sok serius di atas, mari ikut saya untuk kembali pada hari Senin saat pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kelas S101 gedung S FTUI. Hari itu adalah hari pertama saya berkuliah, kuliah tentang Kalkulus. Ibu dosen lucunya memberikan pengantar hitung-menghitung integral matematika bukan dengan teori-teori matematika asli, tetapi malah mendongeng filsafat. Ialah tentang Zeno; seorang filsuf matematis, yang menciptakan sebuah teori paradoks dari tokoh mitologi Yunani bernama Akhilles.

Akhilles sendiri adalah superhuman yang berkemampuan super sebagai pelari tercepat di dunia. Suatu ketika, dengan pongahnya Akhilles menantang seekor siput untuk adu cepat berlari. Ceritanya mirip dengan “si kancil dan si siput”. Jadilah siput setuju, tetapi dengan satu keringanan: biarkan siput memulai start 1 mil di depan Akhilles.

Lalu kami memerhatikan dongeng dengan saksama. Akhilles memerlukan waktu 1/10 jam untuk berlari sejauh 1 mil yang memisahkannya dari kura-kura sejak awal pertandingan. Sementara kura-kura sudah berada 1/10 mil di depannya. Selanjutnya untuk mengejar kura-kura sejauh 1/10 mil tadi, Akhilles butuh waktu 1/100 (=1/10) jam. Tetapi sementara dalam waktu singkat tadi si kura-kura sudah berada 1/100 darinya. (14)

Dapat dipahami bahwa secara teori, sang kura-kura senantiasa berada sedikit di depan Akhilles. Maka, bertentangan dengan pengalaman inderawi kita, dapat dipastikan bahwa Akhilles tidak akan pernah dapat mengejar dan melampaui kura-kura, karena perhitungannya tidak terbatas dan tak terhingga. Dengan demikian Akhilles tidak akan sampai pada siput.

Sekarang, anggaplah kura-kura adalah sebuah “tujuan”, “ambisi”, “visi”, dan Akhilles adalah sosok manusia; diri kita sendiri. Jika terus-terusan membahas teori, kita tidak akan pernah ‘sampai’.

Pada akhirnya, saya sangat mengapresiasi dan salut bagi mereka yang mau maju menjadi ketua-ketua lembaga organisasi di tahun depan; terutama BEM UI.

***

Poin-poin Unyu

(1) Soe Hok-gie, dalam catatan pribadinya (lupa halaman berapa)

(2) Hasil dari buka-buka buku sejarah, nonton film sejarah. Ini juga jadi opininya Gie pada kebijakan Soekarno. Sempit banget ya? Ha ha.

(3) dan (4), itu catatan lama saya yang saya bongkar kembali. He he.

(5) Fungsi mahasiswa ini secara formal banyak diusung di setiap pembukaan instrumen hukum dan organisasi mahasiswa, sebagai pengantar pergerakan. Di PD/PRT IKM FTUI, RIP FTUI, juga ada.

(6) Kamis, 10 Oktober 2013, diadakan sidang istimewa terkait pencalonan BEM UI. Kami berdua yang mengobrol saat itu sedang mengenakan jaket kuning.

(7) Kalau ingin tahu idealisme seniman lebih jauh lagi, sila baca kumpulan cerita “Keajaiban di Pasar Senen”, karangan alm. Misbach Yusa Biran. Idealisme seniman itu gila-gila semua.

(8) Ini hasil wawancara (ha ha) ke mahasiswa FHUI 2010 yang saya anggap netral dan berwawasan luas.

(9) Fakultas manakah gerangan yang saling berantem di momen Olimpiade UI 2012?

(10) Poin-poin diskusi Ahmad Wahib, “Bagaimanakah Sikap Kita Menghadapi Pemilu 1971″, tokoh mahasiswa ex HMI, diskusi 9 April 1971

(11) Kalimat ini diutarakan oleh perwakilan Quaker kepada Soe Hok Gie, saat Gie berkunjung ke Amerika, sekitar tahun 1967.

(12) Kenyataannya, saya melihat fakta-fakta ini pada lebih dari satu calon. Jadi, insya Allah saya tidak bermaksud memojokkan siapapun juga, terkecuali yang melakukan kejahatan-kejahatan di atas.

(13) Ini juga lupa edisi kapan. Yang jelas, saya ambil dari buku “Soe Hok-Gie, Sekali Lagi”.

(14) Kalau perhitungan detil ini saya ambil dari referensi Pengantar Filsafat karangan Louis Katsoff (lupa halaman berapa)

versus0000

Mari berpesta!