Metamorfosis Para Aktivis


0

PERHATIAN: Tulisan ini dibuat apa adanya. Hanya merupakan tulisan berdasarkan   kisah nyata, pengamatan, penglihatan, dan pengalaman hidup Sang Penulis. Jika ada yang merasa keberatan akan tulisan ini, saya mohon maaf. Dan jangan laporkan saya ke kepolisian atas dasar pencemaran nama baik. TERIMA KASIH.

HIDUP MAHASISWA!!!

HIDUP RAKYAT INDONESIA!!!

Hebat ya mahasiswa, dengan almamaternya kebanggaannya mereka memberanikan diri terjun ke jalanan untuk menyuarakan kepentingan masyarakat. Saat itu mereka tidak takut apapun, berani melawan aparat, berhadapan dengan kendaraan baja, ditodong senjata, hingga harus tertembus peluru. Hebat, empat jempol untuk untuk mahasiswa seperti itu.

Nah, pernah perhatiin nggak, kalau sebenarnya kebanyakan dari mahasiswa yang turun ke jalan ada sebuah pola yang menarik, yang selalu terjadi dari tahun ke tahun. Perhatikan deh secara seksama! Sudah? Kalau sudah maka akan saya coba jabarkan dalam analisa saya mengenai METAMORFOSIS PARA AKTIFIS. Tapi untuk membacanya jangan dianggap sebagai karya ilmiah ya, karena ini murni opini saya pribadi.

Tahap I (Mahasiswa Tk. I) :

Mahasiswa ini merupakan mahasiswa yang paling idealis. Mengapa? Karena pada tahap ini ketika dia ikut aksi atau demo, benar-benar karena keinginannya untuk membela rakyat. Jarang sekali ada kepentingan di baliknya. Biasanya mahasiswa pada tingkat pertaman ketika dia SMA, dia lihat mahasiswa banyak yang demo ke jalan. Melihat hal itu, mereka meninginkannya pula sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Dasar inilah yang menjadikan bahwa mahasiswa pada tahap ini murni karena adanya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.

Tahap II (Mahasiswa Tk. II) :

Mahasiswa pada tingkat ini mulai luntur idealismenya. Saya tidak mengatakan  bahwa mereka sudah tidak peduli. Tapi mulai ada kepentingan-kepentingan lain ketika dia mengikuti aksi-aksi yang ada. Kepentingannya beragam ada yang disebabkan karena ketertarikan dengan lawan jenis yang juga suka ikut aksi atau mengisi waktu senggang (daripada bengong di kosan). Tapi yang paling parah adalah mahasiswa yang ikut aksi gara-gara mencari simpati agar dipilih dalam politik kampus (Biasanya terjadi pada saat kondisi perpolitikan kampus sedang memanas).

Tahap III (Mahasiswa Tk. III) :

Pada tahap ini tinggal segelintir orang yang masih tetap konsisten pada perjuangan. Itupun juga jika disaring lagi, orang-orang tersebut rata-rata merupakan orang-orang yang memangku jabatan dalam suatu organisasi. Otomatis, untuk menunjukkan kepeduliannya dan janji-janjinya pada saat kampanye (jika tidak mau dikatakan politisi busuk) rela tidak rela harus ikut dalam aksi yang ada.

Tahap IV (Mahasiswa Tk. IV) :

Hahaha, semakin sedikit. Bisa dihitung pakai jari (ya anggaplah jari tangan dan jari kaki) sedikit sekali. Mereka-mereka yang ada rata-rata masih berada di posisi jabatan penting. Jadi malu kalau tidak ikut (Terus kemana yang lainnya). Atau mungkin judul skripsinya Pola Tingkah Laku Aparat Keamanan dan Mahasiswa dalam setiap Aksi Turun ke Jalan.  Harus dimaklumin mahasiswa-mahasiswa yang dulu ikutan demo, sudah mulai memikirkan skripsi. Jika ditanya mengapa tidak ikut demo lagi? Jawabnya “Sudahlah, gerakan ini harus ada regenerasi, persilahkan yang muda-muda. Kalau kami, akan mulai kegerakan yang lebih riil dalam membangun bangsa” (Alasan yang bagus. Tapi kenapa dia ikut demo dahulu kalau ternyata gerakan tersebut tidak riil?)

Tahap V (Mahasiswa Tk. V ke Atas) :

Tahap ini mah sudah jangan ditanya lagi. Boro-boro ikut aksi yang dipikirkannya adalah bagaimana cepat-cepat lulus dari kampus. Mohon dimaklumi ya! Desakan orangtua, kakak-adik, kerabat, lebih kuat dibandingkan kepentingan lainnya. Apalagi jika teman sepenanggungan (yang belum lulus) akhirnya berhasil menyelesaikan skripsinya. Mahasiswa seperti ini paniknya pasti luar biasa!!! HARAP MAKLUM.

Tahap VI (Sarjana Tapi Belum Menikah) :

Ya, sudahlah! Fase ini adalah tahapan para aktivis menjadi orang normal kembali. Saatnya mereka mencari pekerjaan untuk masa depannya. Mengumpulkan harta yang banyak untuk menikah dan menuju masa depan yang cerah (biasanya mulai ditempat kerjanya masing-masing mulai diperkenalkan cara-cara berbuat curang). Tapi tidak semuanya. Sebagian para mantan aktivis tersebut akan mengatakan “Saya sekarang realistis, saya tidak ikut demo lagi, yang penting adalah bagaimana saya tidak melakukan korupsi atau hal-hal yang merugikan rakyat”

Tahap VII (Menikah sampai akhir hayat) :

Fase terakhir dalam metamorfosis. Pada tahap ini adalah bagaimana membahagiakan dirinya, suami/istrinya, dan anak-anaknya. Bagaimanpun caranya (apalagi jika desakan berasal dari anak atau pasangannya) halal atau haram menjadi biasa. Yang terpenting adalah bagaimana mati dalam keadaan bergelimang harta.

Mmm…. itulah fase metamorfosis para aktivis menurut pendapat saya. Bukan hendak menyindir siapapun. Tapi cuma ingin menghibur yang membacanya.

So, tahapan manakah kita?


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
crliquid

Seorang mahasiswa yang mencari jati diri. Mencari kebenaran dalam kegelapan.

12 Comments

Leave a Reply

  1. pertamax gan..

    ahahaha.. gw suka gaya loe. ini juga pemikiran gw dgn temen-temen gw di kandang burung itu..

    gw bilang ama temen-temen gw. “coba kita liad aktipis kampus yang udh lulus.. mana dia mau ikut-ikutan lagi demo-demo an..”

    makanya gw selalu kgk mao ikutan aksi (kecuali tugas kuliah) ama dulu pernah ikut 1x aksi AIDS yang melarang kondomisasi..

    seneng bgt gw ada tulisan kek gini. moga gak kena pasal “pencemaran nama baik” yang di buat tahun 1917 (jaman kolonial belanda).

    kata si mantan ketuaBEM gw sih.. “mereka boleh gak setuju dgn aksi tapi arah gerakan yaaa masing-masing laahhh..”

    gw mah lebih suka yang real real ajah. kek bakti sosial yang jelas keberadaannya membantu rakyat.. menyambung “HIDUP RAKYAT INDONESIA” daripada hanya sekedar tereak tereak doank.. TALK MORE DO LESS..

    kalo kata gw, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, dimana kita bergerak untuk membuat sebuah perubahan.. lewat atas(desakan pemerintah) atau lewat bawah (pengabdian ke masyarakat)

    jadi gak semua isu bisa begerak di atas.. naahh fungsi kajian disitu… hehehe

    do’a gw moga yang nulis ini dapet kaos anakui.com dahhh (tapi setelah gw aahahahah)

    semangat coyy… mari do real thing for all..

    (iklan layanan masyarakat : sumbangkan donasi mu berupa sembako, tanaman apotik hidup, pakaian layak pakai, donatur (uang), perlengkapan sekolah dll. ke POSKO FKM UI PEDULI BKM lt.1 hingga 30 juli 2009 di tunggu ya)

  2. Mungkin judulnya perlu ditambah pake frase “Sebagian Besar” ya, karena menurut gw generalisasi itu hampir sama kejamnya dengan memfitnah orang-orang yang termasuk pengecualian, mau itu opini kek atau survei ilmiah sekalipun.

    Buat gw mah orang punya cara masing2 lah. Kita masih butuh temen2 yang demo untuk mengingatkan pemerintah karena cara ini lebih terdengar daripada cara kita yang ikut baksos cara-cara lain yang baik namun lebih ‘rendah hati’.

    Don’t get me wrong, gw ga pernah ikut demo, cuma melihat kemungkinan banyak pengecualian di sana.

  3. UI sudah menjadi pendukung NEOLIB,
    bahkan para aktivis mahasiswa pun adalah antek2 dari neolib.
    Lihat saja cara berpikir ala kapital mereka??
    Lihat saja anak2 UI yang bergaya dan ingin jadi profesional muda?
    Lihat saja anak2 UI yang ingin jadi periset2 politik dan sosial yang handal?
    Lihat saja anak2 UI yang gemar bergaya Neolib.
    UI sudah menjadi neolib, maka jangan heran dengan semua keanehan itu..

  4. All: Terimakasih atas komentar-komentarnya.

    @Bul: Terimakasih, tapi saya tidak mempunyai tujuan untuk mendapatkan hadiah apapun. Saya hanya sekedar mengeluarkan pendapat dari hasil pengamatan selama 3 tahun ini.

    @Irvan05: Tampaknya saya tidak harus merubah judulnya. Karena saya sama sekali tidak mengeneralisasi semua orang. Bisa dilihat dari penjelasan seluruh isi tulisan ini. saya menjelaskan beberapa pengecualian.

    @Pro_Neolib: Mmm.. saya tidak bisa komentar. Kita punya pilihannya masing-masing.

  5. ok deh cr…

    mudah2an aja para aktivis ga merasa tergeneralisasi deh sama tulisanlo.
    Gw ngerti banget ini maksudnya baik, untuk ngingetin mereka biar ga kayak yang lo tulis. Semoga maksudlo tersampaikan.

  6. Eh jangan ngomong2 Liberal di UI donk….
    nanti rencana liberalisasi dan kapitalisasi kami terbongkar! sssttt…………….. ! kurikulumnya kami udah kuasai! (^_^) tinggal beberapa pola perilaku mahasiswa yg belum sepenuhnya terarahkan……….

  7. Soal UTS dan UAS anak FE

    Apakah itu neolib?
    Jelaskan Sejarah Neolib?
    Sebutkan contoh Neolib?
    Apakah Bangsa Indonesia (termasuk anak ui) sudah dapat dikategorikan sebuah neolib?

    jangankan mahasiswa FE, Dosen FE (Sri Mulyani) ajah bilang kita bukan bangsa neolib.

    apakah kamu mengerti neolib itu apa??

  8. wah bagus Bu Sri,,,sampai kapanpun jangan pernah mau mengaku, OK2?? biarpun mereka membocorkan rahasia kita, tetaplah tenang karena kita punya definisi sendiri untuk membaurkan makna liberalisasi dan kapitalisme…

    HIDUP FEUI!!

  9. kok ketua bem fakultas gw (FKM) gk pernah ikut demo???
    klo gk percaya tanya aja ma bul…
    brarti tu masuk golongan yang mana????

  10. @ maba08: masa, sih? Tapi, kok, di dokumentasi foto aksi 2009 ada, ya? Atau ketua BEM FKM 08? Lah, itu, mah, lebih ada lagi.