ilustrasi: bola sepak

ilustrasi: bola sepak (ditambahkan oleh Admin)

Olahraga merupakan bahasa universal dalam suatu negara, bahkan juga di seluruh dunia. Sebuah film berjudul “Invictus” karya Clint Eastwood mencoba menceritakan keseriusan dan perjuangan tokoh sentral Nelson Mandela dalam menyatukan rakyat Afrika Selatan, hanya dengan rugby. Kita bisa bayangkan politik apartheid (perbedaan warna kulit) yang begitu kuat antara bangsa afrika dan eropa, kemudian bisa luntur hanya karena bola lonjong, kemudian menjadi padu dan sinergis bahu membahu membangun negara. Konyol? Saya rasa tidak.

Di Indonesia, bahasa universal ini bernama sepak bola. Bahasa ini bisa berbicara banyak untuk level warkop hingga kafe, dari staff hingga shareholder. Dengan bahasa ini setiap orang membela klub asal daerahnya mati-matian walau bertaruh nyawa. Dengan bahasa ini pula seluruh rasa kedaerahan bisa luntur saat membela tim nasional. Sepak bola adalah pemersatu, alat untuk mengaplikasikan bhineka tunggal ika pada ranah yang tepat, hingga timbul rasa keakuan terhadap negara.

Sayangnya, penyelenggaraan sepakbola di Indonesia sedang berada pada titik nadir saat ini. Sebutlah kenangan buruk beberapa hari yang lalu dicukur habis uruguay 7-1, atau bahkan tim junior kita dikalahkan oleh timor leste yang bahkan tidak memiliki stadion internasional. Para pengamat menyebutnya perbedaan kelas, sembari memberi komentar kosong bagi timnas. Presiden dan Menpora pun mengatakan bahwa ini suatu kewajaran. Lalu bagaimana mungkin bangsa yang besar ini mengaku bahwa kalah adalah suatu kewajaran? Dimana harga diri kita sebagai bangsa Indonesia?

Bicara idealisme versus pragmatisme, sebenarnya sepak bola ini bukan ranah utopis, tapi industri yang amat sangat potensial. Kita sama-sama tahu bagaimana loyalitas suporter klub bola Indonesia, dan bisnis berbasis komunitas merupakan aset yang luar biasa besar. Belum lagi sponsor, kerjasama lainnya, hak siar, hak menyelenggarakan kompetisi. Jika dikelola secara benar dan akuntabel, seharusnya uang bukan menjadi kendala karena terdapat ekuitas pasar yang luar biasa besar. Jika iklim investasi sehat, saya percaya siapapun akan berebut untuk menjadi investor.

Industri sepakbola yang berlari kencang akan berimplikasi pada banyak hal. Kesejahteraan pemain merupakan hal utama yang saya soroti. Dengan sejahteranya pemain (kita bisa ambil contoh pemain kelas dunia manapun) semua anak berbakat di sepak bola akan yakin 100% untuk meniti karir di ranah ini, karena menjanjikan masa depan dan kesejahteraan. Artinya SDM yang masuk tentu akan jauh lebih berkualitas. Belum lagi industri yang berjalan bisa dimanfaatkan untuk perbaikan dan pembangunan lebih banyak infrastruktur, pemberdayaan mantan pemain tim nasional, pendidikan tinggi sepakbola, bahkan menyewa pelatih dan ahli gizi terbaik di dunia.

Kita butuh kepemimpinan sepak bola lebih baik lagi. Pemerintah dan stakeholder terkait seharusnya sadar bahwa hal ini potensial. Sepakbola membutuhkan itikad baik serta fairness yang lebih dari para pengurusnya. Negara tetangga telah membuktikan bahwa keseriusan bisa membawa pada hasil yang nyata. Saya tidak terlalu peduli entah ranah PSSI ataukah salah negara, atau bahkan kesalahan klub sepakbola dan pelatih, namun rakyat menuntut pemerintah untuk mengadakan perbaikan kepemimpinan, bekerja sebaik mungkin dengan akal sehat masing-masing. Negara ini haus akan prestasi bung! dan tidak ada prestasi tanpa penyelenggaraan yang baik. Rombak sistem, revolusi harus dimulai. Sepakbola perlu panglima yang visioner, dan missleading dalam ranah sepakbola harus diakhiri saat ini juga.

advertisement