Cewek yang bernama lengkap Nadia Flouriana Louisa, sering dipanggil ‘Flo’ lahir di Jakarta, 19 Juli 1984 yang lalu. Dia tinggal di daerah Pejaten, Jakarta Selatan. Hobi yang sering digeluti oleh Flo adalah memasak dan travelling, merupakan senior komunikasi angkatan 2002. Latar belakang kepanitiaan, yaitu Pekan Komunikasi UI, Reuni Besar Komunikasi UI, Kampanye Penanaman Pohon Jati, dan Kampanye Melek Media 2005. Latar belakang organisasi meliputi HMIK sebagai koordinator akademi dan ICON sebagai humas. Latar belakang pendidikan, mulai dari lulus dari SDK St. Caroline, SMP Labschool Rawamangun, SMA 77 Jakarta, dan alumni S1 Ilmu Komunikasi UI dengan prodi Kajian Media 2002. Nadia Flo juga pernah mengikuti Abang None DKI Jakarta 2007 sebagai None Jakarta Pusat dan Wakil 2 DKI Jakarta. Pengalaman kerja tahun 2005 sampai 2006 sebelum lulus kuliah, bekerja di Metro TV sebagai staf produksi, menjadi presenter program Metro Kampus, tahun 2007 di Trans7 sebagai presenter program Wanita Dalam Berita, pindah ke Astro untuk program UNIX (Universitas di Expresi) dan sekarang resign karena akan melangsungkan pernikahan pada bulan Januari 2009.

Dia menceritakan bahwa dulu saat prasar (baca:community) di dalam buku tanda tangan dia menyebutkan cita-citanya adalah ingin memiliki Production House. Tahun 2002, Komunikasi Massa meliputi kajian media dan jurnalistik. Nadia Flo memilih kajian media. Dulu sebenarnya dia mengira bahwa jurusan komunikasi ada jurusan film ternyata bila kita ingin menjadi sutradara harus memilih kuliah sinematografi di IKJ Jakarta.

Mengenang kembali masa prasar Nadia Flo, dia mengutarakan perasaan saat mengikuti prasar dari awal sampai akhir. Pengalaman yang tidak terlupakan baginya adalah mengikuti prasar selama enam bulan di Komunikasi FISIP UI. Baginya dengan mengikuti prasar (baca:community) banyak sekali manfaat yang kita dapat dan sangat berguna untuk di kemudian hari. Selain itu kita dapat mengenal angkatan lebih dekat dan senior angkatan atas.

Mengapa Nadia Flo memilih jurusan Komunikasi? Pada awalnya dia termasuk cewek yang pendiam, pemalu, tidak berani berekpresi, dan berpendapat sehingga merasa left behind dari semuanya. Walaupun pada saat itu dia mempunyai jawaban ataupun ide-ide cemerlang yang dapat dikemukakan, tapi karena rasa malu itu dia mengurungkan niatnya. Saat itulah dia berpikir untuk memilih jurusan komunikasi. Dia berpikir kalau jurusan ini akan mengajarkan cara kita berkomunikasi dengan baik.

Pertama kali masuk komunikasi, dia sangat terkejut karena ada prasar, di mana saat itu dia termasuk cewek pendiam dan takut berargumen, sehingga terbersit pikiran kalau prasar tidak ada gunanya dan membuat tugas terabaikan, karena pada semester pertama banyak sekali pengantar ilmu-ilmu dan membutuhkan hafalan yang tidak sedikit. Tetapi setelah mengikuti prasar berikutnya dia mendapatkan manfaatnya. Di sana kita diajarkan bidang-bidang yang akan kita gelutin nantinya, cara mengemukakan argumen yang logis, dan think fast and creative thinking.

Setelah prasar, Nadia Flo langsung ditarik sebagai panitia “Sedaun” dengan menyebarkan dan menanam seribu pohon dan diberitakan di media televisi dengan mengundang alumni UI seperti Christin Hakim. Program ini menanam pohon dengan lokasi di belakang Fakultas Teknik.

advertisement

Setelah dia lulus prasar,dia mengambil program studi kajian media, karena kajian media masih baru dan ingin dia ingin menjadi seorang praktisi media seperti Effendy Gozali dengan pembawaan yang kocak dan tidak monoton. Setelah belajar banyak dalam kajian media, terkadang Nadia Flo merasa bosan saat menonton televisi karena dia tahu mana tayangan yang bermutu dan tidak bermutu karena sikap kritis yang muncul dan ditanamkan dalam prodi kajian media, sampai-sampai dia jarang menonton televisi.

Ketika Nadia Flo menjadi koordinator akademik di HMIK, dia membuat acara Kampanye Melek Media yang bekerja ama dengan KPI, Kidia, dan YPMA. Mengapa dia membuat acara seperti itu? Karena dia kesal dengan tontonan di televisi yang monoton yang hanya menyuguhkan kekerasan, seks, kriminalitas, dan takayul.Apalagi saat dia melihat tayangan “ Akibat Pergaulan Bebas” yang di mana setiap adegan disuguhkan secara vulgar. Lalu dia bersama teman-teman yang lain survei dan mengunjungi lima SMA di seluruh Jakarta. Di setiap sekolah, dia mempertontonkan video klip Hello Motion ke semua siswa SMA. Dia juga berkesempatan untuk mencoba casting di sebuah Poduction House, karena dia ingin merasakan dan menjalani seperti orang-orang dibalik layar sinetron. Dia membintangi sinetron Hidayah, Intan, dan lain-lainnya. Ternyata saat dia membintangi Hidayah sebagai pemeran antagonis, disinilah jawabannya kenapa sinetron Indonesia kurang layak ditonton. Saat dia memerankan agedan marah-marah dan mengimprovisasi gerakan dengan mendorong tubuh lawan mainnya, dia harus total dan menghayati. Sutradara akan senang jika adegan itu benar-benar nyata. Padahal tidak selamanya sinetron harus melebihkan sesuatunya apalagi tindakan yang dianggap tidak berprikemanusiaan. Selain itu dalam film maupun sinetron di Indonesia banyak yang bertentangan dan hanya sekedar hiburan tanpa mempertunjukan hal-hal bersifat edukatif. Di sini perlu digali produktivitas pemain maupun orang yang bekerja dibalik layar dengan berpegang teguh pada aturan maupun UU yang berlaku.

Untuk lebih mengoptimalkan potensi diri, kita harus tau letak bakat dan minat kita, jangan terpacu pada teman atau orang lain dalam mengambil jurusan atau jalan hidup. Selain itu dengan mengikuti kegiatan prasar (baca:community) ini kita dapat menambah networking dengan angkatan atas jika suatu hari nanti kita ingin bekerja dan sebagai media pembelajaran etika kita diharapkan dengan dunia kerja yang membutuhkan kreativitas, kinerja yang cepat, dan persaingan yang ketat.***

artikel asli berasal dari Betania Gian R, Ilmu Komunikasi FISIP UI, 2008 (http://pelangiituaku.wordpress.com/2009/04/18/nadio-flo-seorang-praktisi-media-yang-terjun-ke-dunia-sinetron/)




[reaction_buttons]

advertisement