Pemanfaatan SIG dalam Pemetaan Ladang Ganja

Di perayaan Hari Anti Narkoba (26/06), saya mencoba untuk mengangkat isu pemanfaatan teknologi (Sistem Informasi Geografi) dalam membantu penegakan hukum tindak pidana narkotika (Ganja –Golongan I) di Indonesia.

Pembaca cukup mengetahui tentang ganja. Ya sudah barang tentu ganja di Indonesia menjadi barang haram yang melanggar hukum jika diproduksi, didistribusi dan dikonsumsi. Walaupun demikian barang yang identik dengan Rastafarian atau Bob Marley ini cukup memberi perhatian tersendiri bagi masyakarat Indonesia, kenapa tidak? Khalayak banyak di Indonesia tentu jika dikaitkan dengan ganja maka akan muncul statement Aceh.

Ya, Aceh = Ganja. Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah apakah di dunia saat ini, Aceh terkenal dengan ganjanya? Apakah memang Aceh harus menerima labeling sebagai daerah penghasil Ganja di Dunia?

The major countries identified as sources by the cannabis resin consumer markets are Afghanistan, Morocco, Lebanon and Nepal/India (World Drug Report, 2011: 198).

Ternyata bukan Aceh yang menjadi penghasil ganja di Dunia. Justru yang muncul Maroko, Afganistan Lebanon dan Nepal dari data yang dikeluarkan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Lalu apakah Indonesia disebut sebagai Negara penghasil ganja?

Lagi-lagi di dalam laporan tahunan UNODC tidak disebutkan, hanya secara menyeluruh dikelompokkan dalam East/South-East Asia alias Negara-Negara di Asia Timur dan Tenggara. Secara detail pun tidak disebutkan dari Negara-Negara yang dikelompokkan tersebut yang menghasilkan ganja terbanyak.

Kenapa bisa UNODC mengeluarkan data bahwa Ganja di dunia bukan dari Aceh? Rahasianya peneliti UNODC menggunakan metode remote sensing survey atau survey penginderaan jauh (Afghanistan Survey, 2009: 45). Survei ini terbukti akurat dalam melakukan pemetaan wilayah yang ditumbuhi Ganja. Pasalnya, data yang dikumpulkan mengintepretasikan berapa jumlah ladang yang ditumbuhi ganja dan berapa umur dari pohon ganja.

Keunggulan lainnya peneliti tidak harus kontak langsung dengan objek penelitian karena menggunakan alat yang dikendalikan dari jarak jauh. Teknologi geospasial yang bekerja di belakang layar, telah membantu baik langsung atau tidak langsung berbagai proyek dan program (Darmawan, 2011: 5). Walaupun demikian, peneliti tetap menggunakan metode dept-interview kepada petani Ganja di Afganistan.

 

SIG dan Pemetaan Ladang Ganja

Hasil penelitian Puslitkes UI 2011, diestimasi kebutuhan pasar 487 ton narkotika golongan I jenis ganja. Ganja yang disita oleh pemerintah 245,2 ton dari berbagai tangkapan. Sedangkan diperkiraan yang lolos 241,8 ton dan ini dikonsumsi oleh penduduk Indonesia. Artinya hampir 50 % lolos di masyarakat. Dimungkinkan yang lolos ini dikonsumsi oleh keluarga, tetangga, teman dan sahabat kita sendiri.

Masalahnya, data yang dikeluarkan oleh Puslitkes UI tersebut meupakan data estimasi dari tren penangkapan bukan data statistik yang dihasilkan dari lapangan dan perhitungan akurat jumlah produksi dari kemampuan tiap ladang ganja. Nah, Kira-kira apa yang mampu menjawabnya persoalan peredaran narkotika golongan I jenis ganja ini?

Tentu jawabannya adalah remote sensing survey yang dibutuhkan dalam pemetaan ladang ganja di Indonesia. Sudah terbukti keampuhannya untuk memetakan ladang ganja dan poppy di Afganistan. Dimungkinkan Amerika Serikat sendiri sudah memiliki data yang akurat jumlah produksi, pola distribusi, dan live streaming petani yang sedang menanam ganja dan poppy. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Sejauh ini, perkembangan pemanfaatan teknologi SIG dalam penegakan hukum menjadi barang baru. Walaupun baru tapi cukup memprihatinkan. Pasalnya, sepengetahuan penulis Indonesia sempat menggunakan ini dalam melakukan pemetaan ladang ganja di Aceh.

Seperti kita ketahui bersama kebiasaan dari pemerintah kita dalam merumuskan dan menjalankan tiap program pasti ujungnya tidak maksimal. Bahkan dalam kasus pemetaan ladang ganja di Aceh sudah tidak terdengar bentuk konkrit hasilnya.

Entah kenapa bisa terjadi demikian? Bisa jadi SDM yang dimiliki pemerintah, tidak kompeten dalam memanfaatkan SIG. Bahkan, bisa jadi pemerintah mendapatkan sumbangan pendapatan dari kartel narkoba. Seperti yang terjadi di Kolombia “…we estimate a yearly series of net income received by Colombian from their involvement in the illicit drug trade (Steiner, 1998: 1013).

Padahal jika kita melihat hasil yang diperoleh dari pemanfaatan SIG, tentu jawabannya cukup signifikan. Hasil pemanfaatan ladang ganja ini, dapat disampaikan pada pertemuan internasional tentang perkembangan terkini ladang ganja yang ada di Indonesia; memformulasikan program pemberdayaan masyarakat dengan diversifikasi lahan ganja ke pohon bernilai ekonomis tinggi sebagai ganti pendapatan; dan Indonesia akan terlihat berdaulat di mata internasional karena menjawab tatangan dunia, Indonesia mampu dan bersungguh-sungguh melakukan pemutusan jaringan sidikat narkoba.

Ambodo & Jatmiko (Journal UGM, 13) menyatakan bahwa penginderaan jauh sebagai bidang keteknikan dan pengumpulan data menjadi lebih luas penggunaannya dan memberikan hasil yang memuaskan dalam beberapa tahun belakangan ini. Butuh political will dari pemerintah dalam menjalankan program pemetaan ladang ganja dengan memanfaatkan SIG.

Leave a Comment