Perpustakaan Universitas Indonesia Baru, Antara OK dan Gelengan


0
The Crystal Knowledge

Salam, UIers!

Di tulisan ini, yang sifatnya lebih banyak keluhan daripada pujian, saya ingin mengeluhkan tentang satu hal: yaitu perpustakaan Universitas Indonesia baru kita—the so-called Crystal of Knowledge—yang katanya membanggakan diri sebagai perpustakaan terbesar di Asia Tenggara.

Saya yakin, dan keyakinan saya semoga berdasar, dengan iklim politis yang terjadi belakangan ini dan polemik di balik Perpustakaan Baru, akan banyak pihak yang menuduh saya sebagai seseorang yang cepat mencari kesalahan di sesuatu yang tidak begitu disenangi. Untuk mereka, saya katakan satu hal, bahwa ingin saya hanyalah mengkritisi dan memberi saran, demi kebaikan kita semua yang sama-sama menikmati fasilitas baru yang semoga kita miliki bersama ini.

Pertama, saya ingin mengeluhkan tentang—apa kata terbaik—ribetnya ketika ingin meminjam buku di the Crystal of Knowledge. Seperti pengalaman saya tadi siang, saya distop oleh satpam karena membunyikan sensor buku. Prosesnya kira-kira seperti ini:

Saya pergi ke lantai dua untuk mencari koleksi, saya menemukan yang saya inginkan lalu berbicara kepada pustakawan di situ untuk dicatatkan. Sempat saya bertanya (ini saya tanyakan karena memang ada semacam “mesin peminjaman” di lantai 1 yang saya belum tahu waktu itu fungsinya untuk apa) kepada pustakawan ybs, apakah di lantai 1 harus dicatat ulang kembali di mesin itu. Dia bilang tidak, maka ketika saya ingin keluar, saya langsung saja nyelonong tanpa peduli. Lantas, sensornya berbunyi.

Ternyata kita memang harus mencatat ulang kembali peminjaman kita di “mesin peminjaman” yang ada di lantai 1, yang termasuk memindai kembali KIM dan meletakkan buku di atas indera magnetis sang mesin untuk dilepas datanya.

Keluhan saya adalah, kenapa harus seperti ini? Apakah tidak bisa keberadaan pustakawan di masing-masing lantai dimaksimalisasi saja sebagai pencatat peminjam sehingga tidak lagi harus melapor kepada sang mesin di lantai 1? Atau, malah, beli mesin seperti itu yang banyak, pasang di masing-masing lantai, kemudian negasikan keberadaan pustakawan (tidak disarankan).

Apa maksudnya? Jika ingin otomatisasi, maka lakukanlah sepenuh hati. Jika memang keberadaan pustakawan masih dibutuhkan untuk pencatatan, maka pembelian mesin hanya menjadi sia-sia belaka, dan bahkan kebelakangnya hanya akan menjadi penambah kerja (yang berarti ketidaknyamanan) di pihak mahasiswa maupun penyelenggara perpustakaan (bayangkan antrian yang akan terjadi di depan mesin itu!).

Saran saya, jika ingin otomatisasi, maka lakukanlah sepenuh hati dan sekalian saja hapus fungsi pustakawan sebagai pencatat peminjaman. Tapi di lain pihak, saya rasa peran pustakawan masih amat penting dalam menjaga kenyamanan perpustakaan, bahkan ketika fungsinya sebagai pencatat peminjaman/pengembalian sudah tidak lagi terlalu dipentingkan akibat digantikan oleh mesin. Mereka berperan amat penting dalam menjaga tertibnya situasi perpustakaan.

Kedua, saya mengeluhkan kondisi ruang baca yang terlalu bising. Sepanjang hidup saya, baru pertama kali ini saya merasakan ruang baca perpustakaan yang seperti itu. Saya rasa arsitek yang mendesain perpustakaan baru itu cukup rapih dalam pengertian dan eksekusinya untuk meminimalisir suara eksternal yang bisa bocor ke ruang baca. Ketenangan amat penting di sebuah ruang baca perpustakaan. Jika dibandingkan dengan perpustakaan lama, saya lebih baik punya ruang baca di perpustakaan lama daripada yang ini.

Memang kita harus mengerti bahwa perpustakaan baru itu didesain untuk menjadi tempat multifungsi kegiatan mahasiswa. Namun harus juga diingat bahwa kenyamanan belajar harus dikedepankan, karena UI memiliki fungsi akademik yang harus didahulukan sebelum fungsi yang lain. Dengan ruang baca yang berisik seperti itu—saya belum bilang keberadaan lift di dalam ruang baca yang bunyinya… durhaka kepada ketenangan pembaca—saya tidak yakin pembelajaran mahasiswa akan jadi maksimal.

Setelah saya cek dan ricek, ternyata memang sumber berisik adalah dari dua: pintu ke ruang baca yang terbuka lebar dan lift yang membunyikan belnya di setiap lantai. Maka saran saya untuk masalah ini adalah, pihak perpustakaan harus memberi pengertian kepada satuan pengaman dan pembersih di setiap lantai untuk menutup pintu ke ruang baca jika terlihat terbuka lebar. Keberadaan pendorong pintu mekanis di situ bukan untuk sia-sia. Untuk suara lift, saya yakin bisa diminimalisir dengan mengecilkan volumenya (elektronik apa yang tidak bisa diatur seperti ini) atau bahkan meniadakannya sama sekali, cukup dengan rujukan visual bahwa lift telah sampai di lantai itu.

Saya masih punya satu lagi unek-unek terakhir, yaitu bahwa non-UI harus membayar untuk bisa mengakses koleksi buku milik universitas terbesar di Asia Tenggara. Meskipun memang bayarnya hanya lima ribu rupiah, namun saya rasa ini diskriminatif terhadap mahasiswa dari kampus lain yang tidak memiliki KIM UI. Mengapa kita harus mengekslusifkan akses terhadap pengetahuan yang begitu besar? Sejauh abad ini, kepesatan teknologi dan sains telah didorong oleh mudahnya komunikasi antar-informasi. Saran saya untuk ini, lebih baik digratiskan saja, jika ingin memiliki keanggotaan baru bayar.

Sekian unek-unek yang ingin saya sampaikan setelah mengunjungi perpustakaan Universitas Indonesia yang akhirnya koleksi bukunya dibuka juga. Semoga kritik saya ini tidak seperti mencoba memanggil seorang teman yang sedang berbicara dengan orang lain di tengah-tengah Kantin Sastra siang hari.

再见!
Arkan La Sida 1006764883
Sastra Cina UI 2010


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Arkan La Sida

17 Comments

Leave a Reply

  1. Mungkn sy juga ingin ksh kritik unt perpus yg bru.mushola di perpus yg baru sangat2 lembab.tdk trdapat sama sekali sirkulasi udara,menyebabkan bau yg sangat menggangu dr kejauhan

      1. betul sekali. msutinya malah tidak perlu ada musholla di dalam gedung itu. Mesjid UI begitu dekat…..dan indah pula…..sekalian refreshing (istirahat) sehabis membaca….jalan menyusur danau menuju MUI….

  2. ada beberapa poin dalam artikel berikut yg beririsan dengan tulisan ini:
    http://edukasi.kompas.com/read/2011/09/07/03073615/Oase.Baru.di.Tengah.Kegaduhan.Kampus.UI

    pertama, dan mgk memang telah sedikit disebut, dalam artikel Kompas tersebut, Direktur Perpustakaan UI mengatakan bahwa pengelola perpus memang tidak “mengharuskan” adanya ketenangan di dalam perpus ui.

    saya sendiri merasa itu cukup “nyeleneh”. tapi di sini saya hanya menanggapi keluhan atas keberisikan itu di mana ternyata memang design-nya seperti itu. jadi mgk poin yg perlu didebatkan adalah: apakah wajar jika perpus tidak menyediakan area yg tenang?

    kedua, masih dengan artikel yg sama, tapi hal ini justru memperkuat argumen dalam tulisan ini. dikatakan: “(pengelola perpus) menginginkan agar sekat status sosial dan kedudukan struktural melebur ketika berada di area perpustakaan. Mereka semua mendapat perlakuan sama sehingga memungkinkan adanya interaksi yang nyaman.”

    dalam kenyataannya ternyata sekat tersebut tetap ada yah. jadi sepertinya pengelola perpus ui ini harus lebih konsisten antara ucapan dan perbuatan. dan saya setuju adanya asas persamaan, tapi saya pribadi tidak condong ke meng-gratiskan. saya kira intinya ada persamaan, entah itu sama2 gratis, atau sama2 bayar. (daripada gratis tapi ntar ongkosnya ditagih ke BOP.. xP)

    1. Tapi ini…

      @UI_Library Ciri khas perpustakaan adalah tenang, nyaman untuk belajar, tdk berisik. Tolong kurangi volume suara Anda ketika berada di Perpustakaan..:)

      Dan juga postingan bu Clara di bawah.

      Sekat apa ya?

  3. Em, untuk poin pertama. Mungkin loh ya sebagai masa transisi. Jadi masih setengah-setengah. Saya kira ini harusnya jadi masukan untuk pihak Universitas Indonesia. Tapi saya juga bingung menyarankan hal ini untuk diberitahukan ke mana. Wong Humas UI saja sepertinya tidak bisa diandalkan terlalu banyak.

    Untuk poin kedua, masalah bayar. Ya kalau saya sendiri berpikiran itu semacam biaya resiko dipinjam oleh orang yang bukan kalangan UI, yang data-data pribadinya tidak dipegang detail oleh UI. Juga untuk biaya perawatan.

    Tapi ya balik lagi sih. Ini juga masih mungkin. I just try to say what I think 🙂 Hope it would be better. Amin

  4. Sdr. Arkan La Sida

    Terima kasih atas masukannya yang sangat berharga. Kami sangat menyadari sepenuhnya, bahwa masih banyak ketidaksiapan yang menyangkut teknologi dan yang berdampak pada kualitas layanan Perpustakaan UI. Sebagai penyeimbang informasi bagi kita semua, ijinkan saya mengklarifikasi beberapa hal berkaitan dengan keluhan Anda di atas:

    Pertama, Perpustakaan UI sedang dalam proses menerapkan sistem fully otomation untuk koleksinya. Dengan sistem ini, user dapat melakukan peminjaman dan pengembalian secara mandiri (melalui mesih MKIOSK yang berada di lantai dasar, dan BOOKDROP di seberang pintu masuk BNI, serta SMART DISPENSER di depan ruang internet). Proses ini membutuhkan waktu yang lumayan lama, dimana setiap koleksi harus dipasangi RFID tape lalu setiap record harus ditagging ke sistem. Sampai saat ini baru koleksi dari Perpustakaan (Pusat) yang sudah dipasangi alat itu dan beberapa koleksi dari fakultas. Mengapa? Karena ketersediaan RFID tape ini baru 50.000 dan yang sudah kami pasang baru 30.000 sedangkan koleksi yang ada di gedung baru mencapai 850.000. Masalah lainnya adalah keragaman kebijakan tiap fakultas soal integrasi ke gedung baru. Anda tentunya paham sekali bahwa mahasiswa dari beberapa fakultas demo beberapa waktu yang lalu soal jadwal integrasi. FIB, FH, FT, FISIP, FIK hanya mau integrasi setelah UAS. Sementara fakultas lainnya sudah siap integrasi mulai April. Akhirnya, penataan koleksi di gedung baru harus menunggu ke 5 fakultas tersebut bergabung di bulan Juli lalu. Mohon dicatat, penggabungan koleksi dari berbagai fakultas ini membutuhkan effort yang luar biasa, karena koleksi itu kan terdiri dari nomor2 kelas yang sangat urut dan rumit. Ketika 8 fakultas sudah bergabung Mei lalu, kami tetap tidak dapat menyusun koleksi di rak sebelum yang 5 fakultas bergabung, karena ini berkaitan dengan penyusunan di rak dan ketersediaan rak koleksi. Sementara semua pekerjaan integrasi ini HANYA dilakukan oleh pustakawan di jam kerja *UI tidak sanggup out source…:)*.

    Karena proses di atas, otomatis saat ini kami harus memberlakukan banyak perlakuan untuk tiap koleksi. Misalnya untuk koleksi yang dari perpus pusat lama atau koleksi yang sudah dipasang RFID tape (tandanya adalah stiker kuning dibawah call number buku) dan sudah ditagging (tandanya adalah tulisan T ok! di sampul dalam buku, itu seharusnya dipinjam melalui mesin MKIOKS yang di lantai dasar. Boleh saja dipinjam di counter lantai 2 dengan petugas namun ketika Anda melewati gate di lantai dasar, alarmnya pasti berbunyi, karena security system di buku itu seharusnya dinonaktifkan di mesin MKIOSK. Namun, jika Anda sudah melakukan proses peminjaman di lantai 2, dan alarm bunyi, bukan berarti Anda harus melakukan peminjaman lagi di mesin MKIOSK. Itu akan double transaksi dan tidak akan bisa. Jadi, yang diperiksa satpam adalah apakah buku itu sudah melewati proses peminjaman di lantai 2 (dengan melihat cap tanggal kembali) atau tidak.

    Persoalannya adalah mahasiswa meminjam buku yang berasal dari berbagai fakultas pada saat yang bersamaan. Misalnya, 3 buku dari koleksi perpus pusat (yang sudah ada RFID tape dan sudah ditagging), 2 buku dari koleksi perpus FH (yang datanya sedang diintegrasikan), 2 dari koleksi FISIP yang belum ada data sama sekali. Menghadapi mahasiswa dengan jenis pinjaman seperti ini, petugas harus memberlakukan banyak sistem, dan umumnya pengguna keberatan kalau diminta untuk buku tertentu pinjamnya di MKIOSK, untuk buku yang lain pinjamnya di counter. Kebanyakan mahasiswa akan berkomentar: “Ribet amat sih….” dan karena kami masih lebih memerlukan energi untuk membenahi sistem dan layanan *daripada mendengar komentar seperti itu…hehehe* kami lebih memilih tidak terlalu memaksakan mahasiswa mengikuti prosedur yang seharusnya diberlakukan. Akhirnya, apapun jenis koleksinya, semua diproses di lantai 2 dengan resiko alarm di gate akan berbunyi…:)

    Kedua, mengenai berisiknya ruangan, kami pustakawan dengan sepenuhnya mengatakan: ABSOLUTELY AGREE! Persoalan suara AC dan silent room ini menjadi persoalan paling sulit kami atasi karena ini dibawah domain Direktorat Fasilitas dan Umum PAU. Yang jelas, sebagai pustakawan kami PAHAM BETUL, bahwa di perpustakaan itu sangat standar ada silent room serta ruangan yang memperbolehkan pengguna berbicara/berdiskusi. Dan itu jelas kami sampaikan kepada tim pembangun dan perancang gedung baru. Termasuk minimnya stop kontak. So, ini keluhan kita bersama… semoga pihak fasilitas di UI segera mencari solusi.

    Ketiga, untuk pengguna non UI. Secara pribadi per pribadi kami setuju jika untuk non UI free. Tapi mari kita pertimbangkan sedikit dampaknya…:) Data di kami, pengunjung perpustakaan UI dari non UI sangat antusias dan sangat banyak. Di sisi lain, dari segi ketersediaan koleksi, pengadaan koleksi di perpustakaan (manapun), kecuali perpustakaan umum dan nasional, adalah mempertimbangkan jumlah penggunanya. Ketika perpustakaan UI mau membeli sebuah buku, yang dihitung adalah jumlah pengguna UI, bukan jumlah masyarakat Indonesia….:) Demikian juga dengan pengadaan fasilitas (komputer, meja, kursi, dst.). Misalnya, jika kami menggratiskan untuk non UI, lalu perpustakaan UI setiap harinya akan dipenuhi non UI sampai pengguna UI tidak dapat duduk belajar dengan nyaman, dan koleksinya digunakan non UI, apakah semua siva UI bisa menerima ini? Adakah jaminan kami tidak akan diprotes? …:) Yang lebih penting lagi adalah jumlah staf yang melayani… komposisi staf di perpustakaan yang melayani pengguna adalah berdasarkan perbandingan berapa pengguna UI. Itupun pustakawannya sudah sangat kurang, karena sebetulnya fungsi utama pustakawan itu bukan mencatat peminjaman (seperti kalimat Anda), tapi lebih ke pengembangan sistem, pengelolaan metadata, dan pelayanan kebutuhan informasi rujukan.

    Di sisi lain, mungkin teman-teman perlu menggali hal-hal lainnya. UI itu sangat terbuka untuk akses ke publik. Saat ini, hanya UI yang berani membuka koleksi fulteks digitalnya ke publik. Universitas lain, kalaupun membuka masih melalui proses registrasi dan verifikasi. Bagi kami, membuka akses tidak sama dengan menggratiskan. Lagipula, yang dikenakan biaya adalah yang benar2 ingin mencari literatur. Jika tujuannya untuk library visit saja, kami malah layani dengan memandunya.

    Saat ini yang sangat kami harapkan sebetulnya adalah kesabaran dan kerjasama seluruh mahasiswa dalam pembenahan di perpustakaan UI serta support yang cepat dari PAU untuk hal-hal yang berkaitan dengan prasarana. Sebagai pustakawan kami tetap akan berupaya melayani dengan maksimal walaupun kami yakin pengguna tidak akan pernah puas…hehehe. Mari sama-sama mendukung pembenahan ini dengan tetap kritis dan berpikir positif.

    Bagi mahasiswa yang mempunyai masukan atau kritikan atau penjelasan lainnya, silahkan menghubungi kami di library@ui.ac.id atau pro.lib@ui.ac.id atau datang langsung ke ruang administrasi Perpustakaan UI. Dengan senang hati kami akan menampung segala masukan, dan akan memberi informasi selengkapnya jika Anda memerlukan….:)

    Salam

    Clara Naibaho
    Humas Perpustakaan UI (bukan Humas UI..)

    1. Wah, terima kasih juga bu Clara Naibaho atas balasannya yang cepat. Untuk poin pertama, saya rasa memang, meskipun Perpus ini sudah dibuka, mungkin masih dalam proses persiapan. Semoga ke depannya akan lebih jelas lagi ya…

      Dan untuk poin yang kedua, berarti kemana mahasiswa bisa menyuarakan aspirasinya?

      Yang ketiga, iya, setelah saya pikir-pikir ulang, benar juga… Hehehe 🙂

  5. Terimakasih dan penghargaan tinggi buat Tim Perpustakaan UI, Bu Luki dan Tim atas kerja kerasnya! Rekan-rekan, kita sama-sama support dan bantu yuk kerja keras Tim Perpustakaan UI!

    Point yang ke dua sudah diketahui kok oleh Pak Teguh (Building Manager Perpust UI). Beliau sedang berusaha meminimalisir masalah tsb. Beliau juga sekarang sedang konsentrasi melengkapi “safety requirement” dari Gedung tsb.

    Saya sangat gembira, karena sekarang saya, yang dari Dept Arsitektur, dapat pinjam buku lintas disiplin (koleksi FIB, FISIP), tanpa harus diinterogasi oleh pustakawan perpustakawan fakultas dan mondar-mandir bikin surat keterangan, padahal akhirnya nggak bisa minjem juga 🙂

    Salam,
    LIly
    0486057038

  6. Saya juga awalnya merasa demikian, tapi alhamdulliah sekarang saya semakin puas dengan performance perpustakaan pusat ui

    masalah lain yg saya temukan adalah di ruang komputer beberapa kali saya lihat petugas OB yg berseragam merah ditegor oleh staf perpus UI karna ketangkep basah ikut-ikutan menggunakan komputer tapi setelah itu saya masih pernah liat petugas OB “colong-colongan” ikut menggunakan komputer. semoga kedepannya para petugas OB sadar untuk tidak ikut menggunakan komputer yang dikhususkan untuk pengguna perpustakaan pusat ui.

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals