Fisip UI Open Tournament, SMASH!

FISIP UI mempersembahkan acara olahraga untuk warga UI yaitu Fisip Open Tournament (FOT) yang akan diadakan pada tanggal 31 Okt-8 Nov 2007. FOT ini dikhususkan pada pertandingan tenis lapangan, tenis meja, dan bulu tangkis. Mau … Baca Selengkapnya

Hafizh Lab: Aplikasi Qur’an Buatan Anak Fasilkom dan FT UI Yang Raih Juara Satu

Hafizh Lab: Aplikasi Belajar Qur’an Interaktif Buatan Mahasiswa Fasilkom dan FT UI Juara Satu Dalam Ajang Muslim Hackfest. Situasi pandemi yang membatasi kita dalam banyak hal ternyata bukanlah halangan bagi teman-teman kita untuk terus berkarya. Thami Endamora (Ilmu Komputer 2018), Muhamad Lutfi Arif (Ilmu Komputer 2017), Lulu Ilmaknun Qurotaini (Ilmu Komputer 2017), Aldi Alfarizi (Teknik Metalurgi dan Material 2016), dan Muhammad Ashlah Shinfain (Ilmu Komputer 2016) berhasil membuktikan hal tersebut lewat keberhasilan mereka menyabet juara satu dalam ajang Muslim Hackfest mengalahkan 25 tim lainnya.

Bekerja dan belajar di rumah membuat tim dari Hafizh Lab yang beranggotakan lima mahasiswa UI ini tertarik untuk mengisi waktu mereka dengan menciptakan aplikasi yang dapat membantu aktivitas keislaman di kehidupan sehari-hari bagi diri sendiri dan umat Muslim secara luas. Keikutsertaan terhadap kompetisi ini juga menjadi  sarana dalam menyebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Membagi waktu untuk mengembangkan aplikasi ini tidak mudah. Pertama-tama, tim harus mampu menentukan  komposisi yang tepat (hacker, hipster, dan hustler). Kondisi pandemi yang menghalangi mereka untuk bertemu secara langsung membuat mereka memanfaatkan virtual meeting untuk membangun ide sekaligus bonding secara maksimal. Ilmu yang mereka peroleh dari perkuliahan dan organisasi cukup untuk membekali mereka dalam mengembangkan aplikasi ini meski mereka tidak dibimbing oleh dosen dan tutor. Keren banget kan?

Jadi, apa itu HafizhLab?

HafizhLab sendiri merupakan web application berbasis interactive learning, collaborative learning, dan game-based learning untuk membantu masyarakat lebih dekat dengan Quran secara visual. Fitur-fitur yang tersedia dalam aplikasi ini antara lain:

  1. Personal test untuk membantu pengguna menghafalkan ayat maupun kata dalam Al-Qur’an melalui sambung ayat atau kata berbasis pilihan ganda.
  2. Fitur multiplayer yang hadir sebagai wadah agar pengguna dapat saling berkompetisi dan memotivasi dalam permainan terbak ayat dan kata dalam Al-Qur’an.
  3. Challenge, yang dapat digunakan pengguna aplikasi untuk saling memberikan tantangan hafalan melalui set soal yang dibuat sendiri
  4. Progress record, yang dapat memudahkan pengguna untuk melihat progress hafalan dan tes dari pengguna.

Selain fitur-fitur di atas, nantinya tim juga akan menambahkan fitur kehadiran Ustadz yang dapat membuat aplikasi ini lebih interaktif. Oh ya, perlu diingat juga bahwa nantinya aplikasi ini akan dapat digunakan secara gratis!

Ternyata, AnakUI emang keren-keren banget ya. Pandemi COVID-19 yang meresahkan ini ternyata bukanlah hambatan bagi mereka untuk terus berkarya. Gimana.. apakah kamu jadi terpacu untuk menjadi seperti mereka?

Dari Sampah Menjadi Berkah: Grup Riset FT UI Ubah Sekam Padi Jadi Listrik!

Terkadang, sesuatu yang sepele dan hanya dibuang saja justru menghasilkan manfaat bagi orang banyak. Misalnya saja dalam proses pengolahan energi baru dan terbarukan (EBT). Sumbernya memang tidak dapat ditebak dengan mudah kemunculannya. Sesuatu yang biasa kita sebut sampah, ternyata dapat diolah untuk menggantikan konsumsi bahan bakar konvensional sehari-hari. Seperti yang dilakukan oleh rekan-rekan kita dari Grup riset FTUI di bawah bimbingan Prof. Adi Surjosatyo. Ya, di tengah kondisi pandemi yang penuh keterbatasan ini, mereka berhasil mengembangkan Mobile Biomass Gasifier 2.0 kapasitas 10 kWe dengan sekam padi sebagai bahan bakunya.

Sekam padi yang kita kenal sebagai limbah pertanian yang hanya menumpuk dan paling tidak dimanfaatkan sebagai abu gosok, kini bisa menjadi pilihan bagi mereka yang mulai beralih kepada energi ‘hijau’. Gaungnya sendiri memang belum terdengar sekeras pembangkit listrik dari batubara, diesel, panas bumi, dan jenis pembangkit lainnya. Namun, melihat beras sebagai makanan pokok di Indonesia dan besarnya produksi beras dari pertanian di Indonesia, teknologi ini sangat menjanjikan di masa depan sebagai alternatif pembangkit listrik yang dapat diintegrasikan dengan petani dan pabrik penggilingan beras di Indonesia.

BACA JUGA: FT UI Edukasi COVID-19 Lewat Game ‘Corona Go’

Grup riset FTUI mengaplikasikan ilmu-ilmu yang dipelajari selama perkuliahan di Fakultas Teknik seperti termodinamika, reaksi pembakaran, konversi energi, mekatronika, proses manufaktur dalam mewujudkan keberhasilan teknologi ini. Limbah sekam padi yang berasal dari pabrik penggilingan padi kemudian diproses melalui proses yang dinamakan gasifikasi. Gasifikasi merupakan suatu proses pengubahan bahan bakar menjadi gas yang terjadi di dalam reaktor gasifikasi dengan suplai udara yang terbatas. Sekam padi memiliki keunggulan dibandingkan dengan biomassa lainnya yaitu ukurannya relatif seragam.

Gas yang dihasilkan disebut dengan synthetic gas ini kemudian disaring sedemikian rupa sehingga menjadi gas yang bersih. Gas ini nantinya dapat dimanfaatkan secara langsung untuk pembakaran atau dimasukkan ke dalam mesin yang dikopel bersama generator untuk menghasilkan listrik. Kapasitas panas yang dihasilkan dapat mencapai 15 kWth sedangkan listrik yang dihasilkan mampu mencapai 10 kWe. Panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk pengeringan sedangkan listrik yang dihasilkan dapat disalurkan ke rumah-rumah masyarakat.

Bagaimana, kalian pasti bangga dong atas usaha UI mewujudkan energi yang lebih hijau untuk negara kita? Yuk dukung terus pengembangan teknologi EBT di Indonesia!

BACA JUGA: Hebat, Mahasiswa FT UI Raih Juara Tiga Dunia Metal Cup 2020!

5 Tiktokers Terkenal Anak UI yang Wajib Kamu Tahu!

Salah satu sosial media yang nge-hits abis di kalangan anak muda saat ini adalah Tik tok. Di TikTok, banyak influencer-influencer yang membagikan kemampuan dan pengetahuan mereka.

Tentunya, anak-anak UI juga ga ketinggalan dengan perkembangan zaman satu ini. Yuk, kita lihat, siapa aja sih anak UI yang menjadi content creator Tik Tok dan bahkan masuk dalam jajaran tiktokers terkenal!

1. Ekida Rehan Firmansyah

Sumber: urlebird.com

Ekida adalah mahasiswa kedokteran UI yang baru aja selesai sidang tahun 2020 lalu. Selama menjadi mahasiswa, Ekida memiliki banyak prestasi dan terdaftar sebagai penerima beasiswa juga loh. Cerdas dan keren banget kan?

Bahkan, sekalipun menjadi mahasiswa kedokteran yang sibuk dan berprestasi, Ekida tetap sering meluangkan waktu bersama kembarannya untuk berbagi insight-insight seputar kesehatan lewat akun Tik-toknya. Saat ini, Ekida masih aktif membagikan konten-konten terutama seputar kesehatan kepada 883,9 ribu followers-nya. Kamu salah satu followers-nya ga nih?

2. Alsa Putri Aqilah

Sumber: dream.co.id

Kalau kamu salah satu penikmat konten musik dan vokal di Tiktok, pasti kamu ga akan asing sama yang satu ini. Alsa adalah mahasiswa administrasi negara, FIA UI angkatan 2020 jalur SNMPTN. Dia adalah tiktokers sukses UI dalam dunia tarik suara. Dari 10,3 juta followers TikTok, salah satunya adalah Bella Hadid loh. Selain itu, Alsa juga sudah banyak menarik perhatian artis internasional lainnya, seperti IU, Anne Marie, Meghan Trainor, dan juga Alan Walker.

Sejak kecil, Alsa memiliki kecintaan dalam dunia tarik suara. Dia telah mengikuti Idola Cilik dan The Voice Kids Indonesia namun belum berhasil hingga tahap final. Tentu saja, Alsa tidak langsung meninggalkan dunia musik setelah gagal. Alsa sekarang tergabung dalam Acuan Entertainment dan telah merilis lagu pertamanya pada Juni 2021 lalu dengan judul Lihai. Sudah dengar lagu terbarunya Alsa belum?

BACA JUGA: 7 Hal Tentang Vocademia UI yang Harus Kamu Ketahui

3. Jessica Sabar Bungauli

Sumber: republika.co.id

Jessica Bunga atau Jebung adalah tiktokers sukses lainnya dari UI. Jebung menempuh pendidikan di Ilmu Komunikasi, FISIP UI angkatan 2019. Berkecimpung dalam dunia tarik suara, saat ini akun TikTok-nya telah diikuti oleh 6,4 juta followers.

Jebung juga sudah banyak berkolaborasi loh dengan content creator TikTok lainnya. Selain itu, dia juga sudah berkolaborasi dengan artis tanah air, seperti Afgan dan Raisa. Pada April 2021 lalu, Jebung telah merilis lagu perdananya yang berjudul Cassava.

4. Miracle Sitompul

Sumber: suara.com

Wakil 1 None Jakarta Pusat tahun 2019 ini adalah mahasiswa Pendidikan Dokter Gigi, FKG UI angkatan 2017 loh. Berkeinginan membagikan pengetahuan yang dia miliki, Miracle aktif berbagi konten-konten di TikTok.

Konten yang dia bagikan adalah motivasi dan strategi perkuliahan, trik ujian masuk kuliah melalui SBMPTN, dan tips-tips perkuliahan lainnya. Selain memiliki akun TikTok dengan 176,4 ribu followers, Miracle juga aktif membagikan konten-konten tersebut melalui akun Youtube-nya.

BACA JUGA: Baru Semester Dua, Mahasiswa FKG UI Raih Juara 2 Kompetisi Internasional

5. Brigita Meliala

Sumber: hits.zigi.id

Brigita atau kerap disapa Idgitaf atau Gita adalah mahasiswa jurusan Bahasa dan Kebudayaan Korea, FIB UI 2019. Pada awalnya, Gita bosan dengan pandemi Covid-19 dan memulai sebagai content creator dunia tarik suara di TikTok sejak Agustus 2020. Gita sekarang memiliki 2,3 juta followers dan berhasil meraih Best of Performer dari TikTok Awards Indonesia 2020.

Selain menjadi content creator TikTok, Gita telah merilis lagu sendiri pada Desember 2020 melalui akun Youtube-nya. Hingga sekarang, dia telah menghasilkan 3 karya yang dia tulis sendiri. Walaupun sudah sukses dalam dunia musik Indonesia dan mendapat jutaan views di youtube, Gita tetap rutin loh berkarya dan berkarir di TikTok.

Wow, dari kelima Tiktokers UI ini, mana aja yang udah kamu follow? Komen di bawah ya!

BACA JUGA: Inilah Daftar UKM yang Ada di UI, Maba Wajib Tahu!

4 Artis Ini Ternyata Mahasiswa UI dan Berprestasi!

Kita semua pasti tau dong,kalau Universitas Indonesia adalah salah satu universitas terbaik di Indonesia?

Nah, tapi kamu tau gak? Kalau ternyata ada cukup banyak artis Indonesia yang merupakan alumni dari UI, dan bahkan mereka terkenal sangat inspiratif dan berbakat loh.

Siapa aja sih mereka? Nah, ini dia! 4 artis Indonesia yang ternyata jebolan UI!

1. Aaron Ashab

(Sumber foto: instagram/aronashab)

Siapa sih yang ga kenal dengan artis ganteng yang satu ini? Mohammad Haeran Ashab atau akrab dengan sebutan Ka Aaron Ashab ini ternyata adalah salah satu alumni dari Universitas Indonesia loh! Diketahui Ka Aaron merupakan mantan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Setelah lulus dari UI, Ka Aaron memutuskan untuk mengejar mimpinya dan menjadi seorang public figure. Terhitung sejak tahun 2013, beliau telah aktif berperan dalam beberapa sinetron dan film, seperti “Monyet Cantik 2”, “Kampung Akik”, ”My Idiot Brother”, “London Love Story”, dan masih banyak lagi. Penulis singel Halalkanmu ini juga berhasil mendapatkan penghargaan dalam acara Internet Video Star 2013 sebagai Best Music Performer Solo Male. Wah lumayan asik juga ya perjalanan karir Ka Aaron setelah lulus dari UI…

2. Amel Carla

(Sumber foto: instagram/amelcarla)

Ka Amel, salah satu artis cantik yang telah terkenal sejak cilik ini, pernah bertanya kepada followers instagramnya mengenai hasil SBMPTN mereka sebelum hingga akhirnya beliau doi mengaku bahwa dirinya juga sudah menjadi mahasiswa Universitas Indonesia. Ada banyak jalur yang dapat dilalui oleh calon mahasiswa untuk dapat berkuliah di UI, salah satunya adalah Talents Couting. Nah, Ka Amel merupakan mahasiswa jalur Talents Couting loh! Keren banget kan? Doi saat ini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Hukum UI kelas Internasional.

Sejauh ini, Ka Amel sudah mengumpulkan cukup banyak prestasi loh, dimulai dari menjadi presenter dalam acara “Indonesia Kids Choice Award”, merilis singel berjudul “Jangan Dulu Cinta-Cinta” di tahun 2014 bersama sang kakak, memerankan berbagai sinetron “Ngenest the Movie”, “The Underdogs”, “Geez & Ann”, dan masih banyak lagi. Keren banget ya Ka Amel, udah cantik, berprestasi lagi. Jangan mau kalah ya guys hahaha.

BACA JUGA: Alasan Mengapa Mahasiswa Harus Ikut Berpartisipasi Terhadap Politik

3. Andien Aisyah Hariadi

Sumber: herworld.co.id

Apakah kamu pecinta musik jazz? Kamu pasti mengenal Andien. Kalau ga kenal, yuk kenalan dulu.

Andien adalah penyanyi jazz yang mulai aktif berkiprah di dunia musik Indonesia sejak tahun 1999, setelah dia mengikuti ajang Asia Bagus. Setelah memiliki karir dalam dunia musik dan merilis dua lagu, Bisikan Hati (2000) dan Kinanti (2002), Andien tetap mengedepankan pendidikan loh. Di tahun 2003, Andien resmi terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Komunikasi UI. Setelah menempuh pendidikan empat tahun, Andien resmi lulus di tahun 2007.

Kamu masih ingin kenalan lebih dalam dengan sosok Andien? Yuk dengerin lagu-lagunya dan nostalgia bareng ke masa awal tahun 2000-an. Kamu bisa dengerin lagu Bisikan Hati, Kinanti, Gemintang, Kirana, Let It Be My Way, dan masih banyak lainnya.

4. Maia Estianty

(Sumber foto: instagram/maiaestiantyreal)

Siapa sih yang ga kenal Maia Estianty? Maia Estianty atau yang kerap disapa Bunda Maia merupakan alumnus Fisip UI loh. Sebelumnya Bunda Maia aktif dalam dunia musik Indonesia, beliau pernah membentuk grup musik duo bersama Pinkan Mambo, yang kemudian digantikan oleh Mulan Jameela, Bunda Maia adalah sosok yang tak pernah menyerah, ia terus mencoba melakukan semua yang ia bisa, hingga kemudian Bunda Maia pun membentuk “MAIA” yang juga merupakan sebuah grup musiknya bersama Mey Chan.

Saat ini, Bunda Maia banyak mengikuti kegiatan lain termasuk menjadi content creator di Youtube. Bunda Maia juga sempat menjadi dosen tamu loh di Universitas Indonesia. Beliau membagikan pengalaman dan ilmunya tentang kepemimpinan dan pengembangan kelompok di jurusan Komunikasi, FISIP.

Keren-keren banget ga sih artis-artis jebolan UI yang udah di mention di atas? Yuk temen-temen jangan mau kalah ya! Kuy jadi mahasiswa yang tetap berprestasi setelah lulus dari UI 😉

BACA JUGA: Berminat Menjadi Bagian dari Gerakan UI Mengajar? Yuk Simak Cara Daftarnya

Yuk Kenalan dengan 5 Youtuber Lulusan UI yang Terkenal!

Halo sobat UI!

Masih bingung lulus mau ngapain? Khawatir sama prospek kerja dan gosip-gosip tetangga di masa depan? Siapa bilang lulusan UI hanya bisa jadi pekerja! Lulusan UI kerjanya bervariasi loh! Bahkan, kita bisa juga jadi content creator!

Banyak banget alumnus kita yang sudah terbukti sukses sebagai Youtuber dengan subscriber lebih dari 100 ribu orang. Kita bisa pantengin channel mereka untuk rekreasi, atau belajar jadi Youtuber juga!

Yuk kita cek satu-satu, siapa-siapa aja mereka yaaa?

1. Maia Estianty

Sumber: tribunnews.com

Siapa yang tak kenal Bunda Maia? Salah satu tokoh perempuan inspiratif Indonesia ini adalah lulusan Fisip UI loh! Sempat hamil 2 anak selama kuliah tidak menghambat beliau lulus tepat waktu.

Kini, dengan channel YouTube beliau, MAIA ALELDUL TV, beliau kerap meliput kehidupan pribadinya bersama keluarga harmonisnya. Selain itu, beliau juga sering mengunggah podcast dengan beberapa tokoh terkenal seperti Mawang. Jangan lupa intip juga segmen love life mereka yang menarik yah!

2. Alika Islamadina

Sumber: liputan6.com

Cantik, pintar, dan berbakat! Paket lengkap sekali bukan? Pada tahun 2017 lalu, kakak cantik ini lulus S1 dari Fakultas Ekonomi UI. Mantan personel girlband Princess ini sanggup memanajemen waktunya pada kuliah serta karir menyanyinya. Dia juga sempat melaksanakan pertukaran pelajar ke University of Queensland di Australia loh!

Kalian bisa melihat karya-karya kak Alika pada channel Youtube-nya: Alika Islamadina. Mulai dari cover lagu, music video, hingga live performance, semuanya ada di sana! Selain itu, kita juga bisa intip kehidupan kak Alika lebih dalam lagi pada Alika’s corner, Diary of Alika, dan Challenge with Alika.

BACA JUGA: Jurusan di UI Yang Paling Mencetak Banyak Artis? Ya Ilmu Komunikasi dong!

3. Raditya Dika

Sumber: diadona.id

Kalian pasti kenal YouTuber yang satu ini! Lulusan FISIP UI ini adalah tokoh muda Indonesia yang multitalenta. Selain karirnya sebagai Youtuber, beliau juga merupakan penulis buku best seller, model, pemeran film, dan sutradara.

Channel Youtube Raditya Dika tergolong sangat sukses dengan subscribers mencapai 9,5 juta loh! Bahkan beliau sudah mulai mengupload konten videonya sejak Youtube belum memberikan adsense. Dedikasinya sebagai content creator dapat dilihat dari banyak macam konten di channel-nya. Mulai dari Stand Up Comedy, Malam Minggu Miko, Sims 4, hingga Webseriesnya Radit.

Kamu bakal terhibur banget sekaligus teredukasi dengan konten-kontennya yang menarik. Tidak hanya konten komedi, Raditya Dika juga kerap membuat video yang bertemakan keluarga dengan isteri dan kedua anaknya.

4. Feni Rose

Sumber: grid.id

Feni Rose dikenal sebagai presenter talkshow infotainment yang jago banget mengulik informasi dari para tamunya. Lulusan Antropologi UI ini juga disebut sebagai ‘Menteri Milenial’ bersama Dian Sastro lho!

Beliau kini berkarya juga sebagai Youtuber pada channel Feni Rose Official dengan mengunggah video-video wawancara dengan beberapa tokoh dan topik menarik. Channel yang baru dibuat pada tahun 2019 ini sudah mempunyai lebih dari 100 ribu subscribers juga! Yuk, sama-sama kita dukung karya beliau!

5. Febby Rastanty

Sumber: kompas.com

Siapa yang menyangka sosok Febby Rastanty dapat lulus dengan gelar Cumlaude dalam 3,5 tahun di Hukum UI? Pasti banyak cerita susah-sedih saat harus membagi waktu antara kuliah dan syuting. Namun tentu, pengorbanan beliau terbayar juga yah!

Kini beliau berkarya di Youtube pada channelnya Febby Rastanty. Channelnya sudah berkembang loh, sekarang sudah punya lebih dari 500 ribu subscribers. Konten-konten beliau juga sangat bervariasi, mulai dari perjuangan masuk UI, vlog, make-up tutorial, hingga ngobrol-ngobrol dengan narasumber yang menarik loh! Yuk pantau terus channelnya!

BACA JUGA: 7 Mantan Artis Cilik Era 90-an yang Pernah Kuliah di UI

Dari Output Kerja Lebih Baik Sampai Dapat Gebetan, Ini Manfaat Team Bonding

Pasti kamu pernah mengikuti suatu kepanitiaan, organisasi, pengabdian masyarakat, atau kerja kelompok di kelas selama menjadi mahasiswa. Yap, kerja sebagai kesatuan tim memang sangat memudahkan dan efektif untuk mengerjakan sesuatu yang memiliki beban kerja yang besar.

Misalnya kamu seorang mahasiswa jurusan Teknik Perkapalan, ada kalanya kamu harus bahu membahu dan bekerja keras sebagai tim untuk membuat kapal tersebut. Kerja sama sebagai tim ini bukan hanya ada di kepanitiaan atau di kelas aja loh temen-temen! Kerjasama sebagai tim ini sudah seringkali dibahas dan dipraktekan dalam kehidupan kita sehari-hari bahkan sebelum memasuki dunia perkuliahan, aku yakin kalian sudah tidak asing dengan hal ini.

Namun, apakah kamu pernah merasa bahwa kerja sama tim hanya membuat kamu kesulitan dengan orang-orang yang ada di dalamnya? kamu merasa berat dan malas untuk bekerja bersama mereka, boro-boro untuk kerja, ketemu aja rasanya males banget, bukannya kerja malah nambah masalah. Bisa jadi hal tersebut terjadi karena kamu dan tim belum bonding!

Bonding atau kelekatan, ialah ikatan emosional yang terjalin baik antar sesama, atau bahasa lainnya melebur dengan anggota kelompok, hal sangat berimbas pada output pekerjaan yang kamu lakukan loh! Yuk kita bahas manfaat bonding.

1. Menghasilkan Output pekerjaan yang lebih baik

Jika kamu sudah melebur dengan anggota tim, maka kamu bisa berkoordinasi dengan baik antar sesama, tanpa perlu merasa malu-malu atau merasa ga enak dengan anggota tim kamu, kamu juga bisa mengoreksi dan mendapatkan feedback atas pekerjaan yang telah kamu selesaikan, dan secara tidak langusung, hal tersebut dapat membuat output pekerjaan kamu lebih bagus loh!

2. Lebih mengenal satu sama lain.

Dengan adanya bonding, kamu dapat memahami apa saja kompetensi yang dimiliki oleh teman-teman kamu, atau jika kamu berada di posisi sebagai leader, maka kamu dapat lebih mudah memetakan staff untuk menghandle suatu job desc.
Memperluas relasi. Setelah kerja sebagai tim, kamu bisa memfollow social media mereka tanpa dibilang sok kenal dan sok deket, selain itu kamu bisa menyapa mereka juga kalau ketemu di bis kuning atau di kantin fakultas lain, itung-itung nambah temen baru yakan? siapa tau nantinya kamu butuh responden atau teman beda fakultas untuk keperluan lain, nah tinggal kontak lagi deh orangnya, gampang kan?

Sumber: kagama.co

BACA JUGA: 8 Fakta Pusgiwa UI yang Cuma Diketahui Aktivis UKM dan Organisasi

3. Lebih mudah mengorganisir orang-orang di dalamnya.

Ketika kamu sudah mengenal satu-persatu anggota tim-mu, maka kamu dapat memahami mereka lebih jauh kepribadian, kebiasaan, serta cara kerja mereka. Kamu juga dapat mengetahui dengan lebih mudah jika salah satu teman kamu mengalami kesulitan.

4. Good communication, respect, trust.

Kamu juga bisa belajar lebih jauh sekaligus mempraktikkan cara komunikasi dengan orang-orang yang belum pernah berhubungan dekat dengan kamu, di kesempatan ini keahlian komunikasi kamu sedang diuji, komunikasi yang berjalan baik dalam tim merupakan salah satu tanda bahwa bonding yang kamu lakukan ampuh untuk memperkuat kinerja tim.

5. Dapat gebetan.

Kalau ini hanya berlaku untuk kamu yang jomblo dan memang timing-nya pas ketika kamu menemukan temen yang sreg ya untuk diajak ke jenjang yang lebih serius dibandingkan hanya sekedar menjadi  teman satu tim. Tapi jangan dijadikan tujuan karena biasanya hal ini jaraaaang banget kejadian, walaupun memang  gak menutup kemungkinan sih haha.

Nah, itu dia manfaat dari bonding dalam suatu tim, sayang banget kan kalau kamu ikut kepanitiaan tapi isinya orang-orang yang tidak saling mengenal satu sama lain, yuk maksimalkan kinerja tim kamu dengan bonding!

BACA JUGA: Rekan Kerja di Kantor, Organisasi, atau Kepanitiaan Nyebelin? Ini Kiat-Kiat Menghadapinya

Deteksi Gawat Darurat pada Anak Pakai Aplikasi Buatan FIK UI Yuk!

Anak UI, kondisi gawat darurat memang bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja, gak terkecuali pada anak. Namun, dalam menghadapi situasi darurat pada anak, umumnya orang tua akan menghadapi kesulitan unto menentukan kondisi anak akibat anak belum dapat mengekspresikan atau menyampaikan keluhan yang dirasakan kepada orang dewasa.

Bahkan nih, hingga saat ini, perawat di seluruh Rumah Sakit di Indonesia masih menggunakan metode konvensional (paper-based) untuk mendeteksi kondisi gawat darurat pada anak. Metode ini tentunya gak praktis, sebab perawat harus mencocokkan keluhan dengan kondisi yang ada sehingga memakan waktu lebih dari satu menit. Kalo dibiarkan begitu saja, tentunya Hal Ini dapat memperlambat kerja perawat dalam mendeteksi kegawatdaruratan pada anak dong!

Nah, berangkat dari kondisi itulah,  Dessie Wanda, S.Kp., M.N., Ph.D, dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) dan juga selaku Manajer Riset, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Ilmu Keperawatan, bersama tim mencoba merancang sebuah purwarupa atau prototipe yang dapat membantu kerja perawat dalam mendeteksi kegawatdaruratan pada anak.

Aplikasi bernama Pediatric Assessment Triangle (PAT) ini dapat mendeteksi kegawatdaruratan pada anak secara cepat dan tepat dengan cara mengkaji first impression pada pasien anak agar perawat segera dapat memberikan pertolongan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah hingga kematian. Sayangnya untuk saat ini, aplikasi ini hanya dapat diakses di android saja.

Menurut Dessie dan tim, penggunaan aplikasi ini juga dapat menjadi salah satu solusi untuk meminimalisir transmisi infeksi COVID-19 karena bersifat paperless. Sistem paperless documentation ini dapat mengurangi kontak antara perawat dan pasien, serta kemungkinan transmisi infeksi melalui benda-benda yang ada di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Dessie juga menjelaskan bahwa proyek purwarupa ini merupakan hasil karya bersama dengan Mahasiswa Peminatan Keperawatan Anak Program Magister FIK UI yang dimulai pada bulan April 2020. Memakan waktu hampir setahun, alat yang telah memiliki HAKI ini bisa jadi solusi deteksi gawat darurat pada anak selama pandemi.

“Deteksi kegawatadaruratan menggunakan PAT dapat dilakukan < 1 menit. PAT sangat membantu seorang praktisi kesehatan (perawat dan tenaga kesehatan lainnya) dalam mendeteksi dan menangani kegawatan pada anak terutama di masa pandemi sekarang ini. PAT baru pertama kali diciptakan di Indonesia bahkan di dunia internasional.

Aplikasi ini sudah terdaftar HAKI sehingga dapat digunakan oleh perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Saat ini aplikasi ini telah digunakan oleh para perawat dan tenaga kesehatan lainnya di Rumah Sakit dr. Suyoto, Jakarta,” ujar Dessie.

Dessie menjelaskan bahwa proyek purwarupa ini didanai oleh Direktorat Inovasi dan Techno Park UI. Proyek ini bekerja sama dengan RS dr. Suyoto dan melibatkan perawat serta Tenaga Kesehatan (nakes) lainnya di ruang Instalasi Rawat Darurat (IRD) atau IGD. Salah satu perawat yang menggunakan PAT ini mengatakan bahwa PAT sangat membantu mendeteksi pasien dengan kasus kegawatdaruratan pada anak dengan cepat.

Selain itu, pengembangan aplikasi ini sangat sesuai dengan kondisi saat ini dimana hampir semua rumah sakit telah menggunakan sistem rekam medik digital. Dessie menyampaikan bahwa PAT berbasis aplikasi android ini akan segera tersedia di Google AppStore sehingga perawat dan tenaga kesehatan lainnya dapat menggunakan aplikasi ini. Dessie dan tim akan segera mengadakan seminar nasional yang mengundang perawat di seluruh Indonesia untuk mendapatkan paparan tentang PAT berbasis Android ini.

BACA JUGA: Tak Hanya Peduli Kesehatan, FIK UI Turut Berdayakan Ekonomi Warga

UI dan PT Dow Indonesia Beri Penghargaan Champion Plaswas

Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan PT Dow Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan, serta Pemerintah Kota Depok, menggelar acara puncak dari serangkaian kegiatan edukasi pengolahan sampah plastik yang telah dilakukan selama Januari-Maret 2021P di lingkungan UI.

Dalam acara puncak yang dilaksanakan secara daring (31/3), UI dan Dow mengumumkan para pemenang dari rangkaian lomba yang telah dilakukan sebelumnya, serta memberikan penghargaan bagi internal UI yang dinilai telah memberikan komitmennya bagi pengolahan sampah plastik di UI.

Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, S.E, M.A, Ph.D mengatakan, “Kegiatan ini menjadi kesempatan UI untuk mengedukasi dan meningkatan kesadaran UI dan masyarakat untuk bijak menggunakan plastik.” Prof. Ari berharap jajaran pimpinan, sivitas akademik UI, dan seluruh lapisan masyarakat dapat berkomitmen tinggi terhadap pengelolaan sampah plastik dan mengedepankan pelestarian lingkungan hidup.

Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D sebagai ketua pelaksana mengatakan bahwa terkait pandemi, kegiatan ini mengalami perubahan konsep dari bentuk luring, menjadi daring. “Rangkaian kegiatan edukasi ini diadakan dalam empat bentuk, yaitu webinar bertajuk “Education, Communication, Raising Awareness, and Changing People Behaviour Plastic and Waste Management in Universitas Indonesia”, community project, lomba 4R (Reduce, Reuse, Recycle, and Replace), dan Champion Plaswas. Khusus untuk Champion Plaswas, penghargaan akan diberikan dalam tiga kategori bagi pihak-pihak internal UI yang dianggap menjalankan kegiatan manajemen sampah dengan baik,” ujarnya.

Dr. Toto Pranoto selaku Direktur Kerja Sama UI mengatakan bahwa UI berkomitmen penuh dalam menjaga dan mendukung kelestarian lingkungan hidup melalui berbagai upaya, diantaranya adalah pemilahan sampah dan pengurangan sampah plastik di berbagai fakultas di UI, kerja sama dengan Bank Sampah Pemerintah Kota Depok, serta kerja sama dengan pihak industri dalam melakukan pemanfaatan sampah plastik multi layer dan single layer sebagai bahan baku pembuatan aspal.

Bentuk rangkaian kegiatan edukasi dimulai dengan penyelenggaraan kegiatan seminar daring pada 20 Maret 2021 yang memberikan berbagai perspektif terkait masalah sampah plastik di Indonesia. Selain itu, digelar kompetisi community project yang diikuti oleh 53 peserta yang dibagi kedalam 5 kelompok yang bertujuan untuk mempromosikan pengelolaan sampah kepada masyarakat di sekitar Depok.

Lomba 4R dilakukan dalam bentuk kompetisi e-poster, e-booklet, dan video pendek terkait tata kelola limbah plastik. Penghargaan juga diberikan bagi peserta yang mendapatkan komen dan likes terbanyak di media sosial. Total peserta yang mengikuti lomba ini adalah 42 peserta yang berasal dari dalam dan luar UI.

Penghargaan bagi internal UI diberikan dalam kategori Champion Plaswas, yaitu penghargaan yang diberikan bagi fakultas yang dianggap mengedepankan kreativitas dan komitmen dalam melakukan kegiatan manajemen sampah plastik. Penghargaan ini diberikan dalam tiga kategori, yaitu Silver, Gold, dan Platinum.

Dalam kategori Silver (komitmen, implementasi pengelolaan sampah), penghargaan diperoleh Fakultas Hukum, Fakultas Kedokteran Gigi, Program Pendidikan Vokasi, Fakultas Ilmu Komputer, dan Fakultas Farmasi. Kategori Gold (komitmen, kreativitas, implementasi pengelolaan sampah) diraih oleh Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Fakultas Ilmu Administrasi. Untuk kategori Platinum (komitmen, inovasi, kreativitas, implementasi pengelolaan sampah), yang mendapatkan penghargaan sebagai juara pertama adalah Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Keperawatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Pemberian plakat penghargaan dilakukan secara daring oleh Haruki Agustina, Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ia menyampaikan harapan bahwa penghargaan ini dapat membuat masyarakat lebih termotivasi dalam melakukan pengelolaan sampah plastik secara lebih bijak.

BACA JUGA: Membanggakan! Prestasi dan Inovasi Mahasiswa UI yang Dapat Mengubah Dunia

FT UI Punya Guru Besar Baru. Siapa Sih?

Anak UI, pada Sabtu, 27 Maret 2021, Universitas Indonesia mengukuhkan beberapa guru besar secara virtual. Nah, salah satu guru besar dari Fakultas Teknik UI yang dikukuhkan adalah Prof. Ir. Warjito, M.Sc., Ph.D. Guru besar FTUI ini aktif dalam bidang industri, salah satunya terlibat dalam Damage Assessment PLTU Palu bekerja sama dengan Departemen Teknik Sipil dan Teknik Melatulurgi pada tahun 2018.

Sepanjang pendidikannya hingga menempuh gelar guru besar, ia menyelesaikan studi jenjang sarjana program studi teknik mesin di FT UI. Lalu, ia melanjutkan studi magister dan doktor di Hokkaido University, Jepang. Selama tiga tahun terakhir, ia telah menghasilkan 21 karya ilmiah yang berhasil dipublikasikan di berbagai jurnal nasional dan internasional. Bahkan nih, selama periode 2017-2020, sebanyak 25 prosiding terindeks Scopus telah dihasilkannya. Wow, keren banget, kan?

Sidang Terbuka Upacara Pengukuhan Guru Besar (GB) UI dihadiri oleh Dr. Imam Aprianto Putro (Komisaris Utama PT PUSRI), Prof. Dr.-Ing. Ir. Priyono Soetikno, DEA (Guru Besar Institut Teknologi Bandung), Prof. Ir. Sutardi M.Eng., Ph.D (Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember), para dekan/direktur dari 17 Fakultas/Sekolah/Program Pendidikan Vokasi di UI, serta 305 guru besar UI yang hadir. Sidang Terbuka Upacara Pengukuhan Guru Besar (GB) UI ini disiarkan juga melalui UIteve dan kanal Youtube UI.

Dipimpin oleh Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D, Prof. Warjito yang dikenal sebagai pakar dalam bidang mekanika fluida hadir menyampaikan pidato pengukuhan yang berjudul ‘Dinamika Bubble dan Aplikasinya Pada Engineering’.

Ia memaparkan bahwa bubble menjadi tema penelitian yang sangat aktif di dunia. Aplikasi bubble banyak ditemukan pada berbagai bidang dan hampir semua cabang engineering, mulai dari teknik sipil, kapal, material, mesin, nuklir, kelautan dan biologi laut, mineral, kimia, dan sebagainya, termasuk bidang medis. Banyak hal tentang dinamika bubble telah dipahami dan ditelusuri.

Kendati begitu, bubble semakin menantang untuk dipelajari, terutama pada dinamika dan aplikasi bubble ukuran sangat kecil, yakni micro bubble dan nano bubble, sonoluminescence dan sonochemistry.

Kamu pasti bertanya-tanya dong bubble di sini maksudnya apa. Nah, menurut KBBI, bubble (gelembung) merupakan fasa gas yang larut dan terperangkap dalam fasa liquid. Untuk beberapa kasus, fasa gas tersebut merupakan uap dari fasa liquid. Dalam kondisi alamiah, semua liquid mengandung sejumlah gas dalam bentuk bubble, namun dengan ukurannya yang kecil kadang tidak nampak oleh mata.

Nah, tekanan cairan di sekeliling bubble ini punya peranan penting dalam menentukan dinamika gelembung. Katanya sih, jika tekanan disekitar bubble berubah, maka bubble akan mengalami deformasi, osilasi, bahkan pecah!

Beberapa studi tentang aliran bubbly yang mengalami perubahan tekanan pada venture menunjukkan perilaku penting bubbly flow seperti: distribusi void fraction, kecepatan, dan jatuh tekanan. Deformasi yang berlebihan akan menyebabkan bubble pecah.

Tenang aja, proses pemecahan bubble ini juga dijelaskan secara ilmiah kok. Proses diawali dengan bubble yang mengalami pressure gradient, pertama-tama titik pusat bubble berpindah ke arah sisi tekanan rendah. Kemudian dinding bubble di sisi tekanan tinggi berakselerasi lebih besar dibanding permukaan yang lain, sehingga terbentuk cekungan yang berkembang menjadi jet.

Bubble terbentuk karena dinamika lingkungan bubble berosilasi dan pecah menimbulkan fluktuasi tekanan di sekitarnya. Contoh suara yang ditimbulkan oleh bubble adalah suara yang muncul saat air dipanci mulai mendidih, suara air hujan saat menumbuk genangan air, dan suara yang muncul pada pompa karena kavitasi.

Tak Hanya Pandai Akademis, Anak UI Juga Jago Ternak Lele! Ini Buktinya

Anak UI, pandemi COVID-19 yang tak kunjung berakhir tentunya berdampak pada berbagai sektor, khususnya pada sektor ekonomi. Akibat pembatasan aktivitas, kesejahteraan masyarakat, terutama di kalangan menengah ke bawah pun menurun.

Menyikapi hal tersebut, Universitas Indonesia lewat Tim Pengabdian Masyarakat turun ke jalan dan memberikan bantuan kepada masyarakat dengan memanfaatkan dana hibah. Tim PPM UI 2020 yang terdiri dari dosen, karyawan, dan mahasiswa UI memberikan pelatihan bagi siswa di SMPN 290, Jakarta.

Ketua Tim PPM UI 2020, Ganang Dwi Kartika mengatakan, pemilihan sekolah yang berada di Jalan Rumah Susun Marunda sebagai lokasi kegiatan pengmas dikarenakan sebagian kecil siswa di sekolah tersebut terpaksa putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi.

Mayoritas siswa di SMPN 290 merupakan anak dari keals ekonomi menengah ke bawah yang tinggal di Rusun Marunda. Makanya, tak heran bila sebagian besar orang tuanya terpaksa tidak menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang berikutnya.

Atas dasar inilah, Ganang beserta tim berinisiatif memberikan pelatihan dan pendampingan budidaya lele kepada para siswa. Lele dipilih karena memiliki daya hidup yang tinggi dan mampu bertahan di segala kondisi. Oleh karena itu, pembudidayaannya akan lebih mudah dan risiko kerugiannya pun kecil.

“Di Marunda ini kan kebutuhan lele untuk para pedagang juga lumayan tinggi, jadi sangat cocok untuk kami berikan pelatihan dan pendampingan budidaya pembesaran lele,” imbuhnya.

Untuk jenis ikan lele sendiri, Ganang dan tim memilih ikan lele dumbo sebab diminati pasar.

Terdapat tiga kegiatan utama yang dilakukan. Yang pertama, yakni pembangunan dua kolam ikan lele dengan ukuran masing-masing 2 x 3 meter di halaman kosong milik sekolah.

Tim PPM UI 2020 juga memberikan pelatihan mengenai budidaya pembesaran ikan lele secara daring dan mengajak 16 peserta pelatihan ke Kampung Ciseeng, Bogor untuk berguru pada ahlinya (re: peternak lele).

“Karena pandemi, hanya 16 siswa yang kemudian kami pilih dan intensifkan pelatihan. Mereka dilatih menjadi perintis di sekolahnya untuk kemudian nantinya bisa membangkitkan kawan-kawan dan adik-adiknya terkait budidaya pembesaran ikan lele,” jelas Ganang.

Fyi nih, selama program berlangsung (sejak Mei 2020), kolam lele SMPN 290 sukses melakukan pemanenan sebanyak dua kali dengan berat ikan mencapai 48 kilogram! Wow, keren banget bukan?

Hasil pengmas yang memuaskan ini tentunya diterima dengan sangat antusias oleh peserta. Salah satunya oleh Priyono, Kepala SMPN 290 Jakarta. Tentunya karena program ini sangat bermanfaat, gak hanya bagi para peserta didik yang terlibat praktik langsung, tapi juga bagi para guru dan karyawan pendamping.

“Sangat selaras dengan lingkungan sekolah yang berlokasi di pinggir Pantai Marunda, dan sudah dimasukkan ke dalam program peningkatan keterampilan siswa, sebagai salah satu program ekskul pilihan,” kata Priyono.

Antusiasme yang tinggi juga tampak dari para guru pendamping, salah satunya Fahrur Rosi Efendi. Fahrur berterima kasih kepada Tim Pengmas UI yang berkenan membagikan ilmu budidaya pembesaran ikan lele kepada anak didiknya.

“Pengmas UI berupa pelatihan budidaya lele bagi peserta didik SMPN 290 Jakarta dapat mengembangkan minat siswa, hasil ikan tersebut nantinya akan dijual untuk memenuhi kebutuhan dan sebagai dana tambahan dari keterbatasan ekonomi orang tua,” ulasnya

Wah, gak menutup kemungkinan nih setelah berlatih budidaya pembesaran lele, para siswa dapat membuat bahan pangan untuk mereka sendiri, menjadikan lele sebagai penghasilan tambahan, atau mengolah ikan tersebut untuk menaikkan nilai komoditasnya. Kita doakan semoga pelatihan yang diberikan tim pengmas UI berguna dalam jangka panjang ya!

BACA JUGA: 5 Manfaat Ini Bisa Kamu Dapatkan dengan Mengikuti Pengabdian Masyarakat Untuk Mahasiswa

Ketahui Badan Kelengkapan MWA UI UM lebih dalam bersama Hilmy

Di artikel sebelumnya kita sudah berkenalan dengan ka Hilmy selaku MWA UI Unsur Mahasiswa, nah sekarang ketahui lebih jauh yuk apa saja isu yang dibawakan oleh ka Hilmy tahun ini, sekaligus mengenal Badan Kelengkapan MWA UI UM.

Apa yang mendasari ka Hilmy untuk maju menjadi MWA UI UM?

Tahun 2020, terjadi pandemi yang membuka pandangan saya terhadap keadaan mahasiswa UI. Keadaan pandemi berdampak pada banyak mahasiswa UI yang orang tuanya terkena PHK atau gulung tikar. Keadaan ini menyebabkan mahasiswa tersebut sulit untuk membayar UKT di UI. Melihat keadaan ini, saya ingin memberikan yang terbaik untuk mahasiswa UI salah satu bentuk kontribusi saya adalah dengan menjadi MWA UI UM dan menyampaikan aspirasi mereka kepada pihak kampus mengenai keadaan pandemi dan UKT.

Apa saja program kerja/isu yang ka Hilmy bawa pada tahun ini?

Saya pada tahun ini mengangkat isu mengenai UKT mahasiswa, pengembangan situs, dan pembangunan fasilitas. Selain itu, saya ingin membawa Safari Fakultas, Vokasi, dan Salemba kembali pada tahun ini untuk memberitahu kepada mahasiswa mengenai RKAT UI. Saya juga ingin mengadakan RembugUI yang akan menyambungkan silaturahmi antara mahasiswa dengan pihak rektorat.

Lalu, bagaimana ka Hilmy mengerjakan program tersebut dalam 1 tahun?

Saya tidak bergerak sendiri, saya punya Badan Kelengkapan atau BK.  BK itu adalah badan yang akan mendukung kinerja saya dalam bekerja selama 1 periode. Seperti pada organisasi pada umumnya, BK memiliki bidang yang akan mendukung kepengurusan, yaitu ada Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), Humas, Media, Kajian Kebijakan Kampus (K3), dan Penelitian dan Pengembangan (Litbang). Berbeda dengan BEM, BK akan berfokus pada isu yang terdapat pada internal kampus dan mengawal isu tersebut ke depannya.

Seberapa penting BK dalam mendukung kinerja ka Hilmy?

BK sangat penting dalam mendukung kinerja saya. Dalam pelaksanaannya BK akan membantu saya dalam mengkaji isu-isu yang ada UI, membantu mengumpulkan dan mengolah data-data yang relevan terkait suatu isu, membantu melakukan publikasi, dan membantu mengelola SDM yang ada. Tanpa kehadiran BK dan fungsionarisnya, saya tidak akan bisa membawa banyak isu dan program untuk kebaikan mahasiswa UI.

Lalu, bagaimana cara mengelola organisasi yang baik, khususnya BK agar setiap fungsinya dapat berjalan dengan baik?

Untuk menjalankan fungsinya, dibutuhkan perencanaan, kontrol, dan pengawasan yang baik. Semua perencanaan perlu ditinjau dengan baik oleh BPH dan PI agar sesuai dengan arah dan tujuan. Perencanaan sudah baik, maka saat eksekusinya perlu dikontrol dan diawasi juga agar tetap sesuai dengan rencana. Kalau ada masalah atau kendala, perlu dikomunikasikan dan dicari solusinya bersama-sama. 

Apakah ada yang berbeda dalam menjalankan organisasi dimasa pandemi?

Organisasi masa pandemi dan masa normal pastinya sangat berbeda. Sebuah tantangan untuk semua orang yang berorganisasi saat masa pandemi. Terasa sangat berbeda dimulai dari pertemuan, perencanaan, dan pola kerjanya. Pada kondisi normal setiap pertemuan bisa melalui tatap muka sehingga lebih mudah koordinasi dan pendekatan, sementara kondisi pandemi akan didominasi daring sehingga akan sering terjadi delay dan rentan terjadi miskomunikasi. Terlebih pada pola kerja yang akan lebih berubah karena saat di rumah masing-masing akan ada distraksi yang cukup sering. Pada masa pandemi ini, kedisiplinan setiap orang akan sangat diuji.

Kalau untuk ka Hilmy pribadi, seberapa penting kehadiran organisasi dapat memberi manfaat khususnya untuk IKM UI? 

Kehadiran organisasi yang dapat memberikan manfaat itu sangat penting, terkhusus untuk IKM UI. Mahasiswa memiliki tugas untuk belajar selama perkuliahan, selain itu mahasiswa juga perlu untuk mencari pengalaman di luar kuliah. Salah satu sarana mahasiswa untuk mencari pengalaman adalah berorganisasi. Selain itu, organisasi perlu memberikan manfaat kepada internal atau mahasiswa yang bergabung dengan cara upgrading atau pembinaan, dan memberikan pengalaman. Selain untuk internal, organisasi organisasi kampus juga perlu memberikan suatu hasil terhadap kampus dan IKM UI itu sendiri. Hal ini dikarenakan pembangunan organisasi tersebut diatas peraturan IKM UI dan mendapatkan dana yang berasal dari UKT IKM UI pula.

BACA JUGA: Berkenalan dengan Calon MWA UI UM dan Pasangan Calon Ketua-Wakil Ketua BEM UI 2021

UI Raih Peringkat 8 Perguruan Tinggi Terbaik di Asia Tenggara

Guys, keberhasilan Universitas Indonesia (UI) sebagai institusi perguruan tinggi terbaik di Indonesia kembali diapresiasi oleh lembaga pemeringkat bergengsi perguruan tinggi dunia, The Times Higher Education (THE).

Dilansir dari laman UI, tahun ini, Universitas Indonesia menduduki peringkat ke-8 dari 46 negara di Asia Tenggara berdasarkan Emerging Economies University Rankings 2021. Hebatnya lagi, UI menjadi satu-satunya perguruan tinggi dari Indonesia yang masuk dalam Top 150 Emerging Economies University Ranking dan berhasil diperhitungkan di dalam deretan perguruan tinggi terbaik di Asia. Wow, keren banget, bukan?

Dari data lembaga pemeringkatan tersebut, hasil pemeringkatan ini dilakukan terhadap lebih dari 600 perguruan tinggi di 48 negara yang digolongkan sebagai negara berkembang di dunia. The Times Higher Education (THE) merilis pemeringkatan tersebut pada Rabu, 9 Maret 2021 melalui laman yang dapat di akses di laman www.timeshighereducation.com/world-university-rankings

Sumber: timeshighereducation.com

Sedikitnya ada 27 bidang studi di UI yang berhasil masuk dalam jajaran ASEAN Emerging Economies Countries by Subject Category, yakni:

  1. Accounting & Finance (7)
  2. Archeology (5)
  3. Architecture (6)
  4. Art, Performing Arts & Design (6)
  5. Biological Sciences (7)
  6. Business & Management (8)
  7. Chemical Engineering (8)
  8. Chemistry (8)
  9. Civil Engineering (8)
  10. Communications & Media Studies (7)
  11. Computer Science (8)
  12. Economics & Econometrics (7)
  13. Electrical & Electronic Engineering (8)
  14. General Engineering (8)
  15. Geography (7)
  16. Geology, Environmental, Earth and Marine Sciences (8)
  17. History, Philosophy, Theology (7)
  18. Languages, Literature & Linguistics (7)
  19. Law (4)
  20. Mathematics & Statistics (7)
  21. Mechanical & Aerospace Engineering (8)
  22. Medicine & Dentistry (7)
  23. Other Health (7)
  24. Physics & Astronomy (8)
  25. Politics & International Studies (7)
  26. Psychology (6)
  27. Sociology (7).
Sumber: ui.ac.id

Sekedar informasi, tahun 2021 ini merupakan tahun kelima Universitas Indonesia masuk dalam pemeringkatan THE. Pada pemeringkatan THE kali ini, peringkat UI melaju naik dikarenakan skor pengajaran, riset dan industry outcomes. UI juga berhasil menduduki posisi di atas peringkat Universiti Sains Malaysia (ranking 120) dan Chulalongkorn University (ranking 131)

The Times Higher Education (THE) menyebutkan, pemeringkatan Emerging Economies University Rankings 2021 didasarkan atas lima parameter, yakni:

  1. Performa pengajaran (kegiatan belajar mengajar, rasio jumlah staf-mahasiswa, rasio lulusan bergelar sarjana-doktoral, penghargaan doktor sesuai dengan disiplin ilmu)
  2. Kinerja penelitian
  3. Jumlah karya perguruan tinggi yang dikutip oleh para sarjana secara global
  4. Pendapatan industri
  5. Pandangan internasional (proporsi mahasiswa asing, kolaborasi internasional).

Perolehan peringkat ke-8 dari 46 negara di Asia Tenggara dalam pemeringkatan oleh THE ini menunjukkan bahwa UI sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia berhasil direkognisi dunia dan masuk dalam jajaran Perguruan Tinggi unggul. Pastinya kualitas UI dalam mencetak lulusan unggulan sudah tak perlu diragukan lagi.

Nah, hal ini merupakan hasil kerja keras UI dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas hasil riset, inovasi dan pengabdian masyarakat. Selain itu, UI juga berusaha memperluas jejaring dan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi ternama di Asia, Eropa dan Amerika melalui berbagai kegiatan, seperti menyelenggarakan program-program yang menarik minat mahasiswa asing untuk belajar di UI.

Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, PhD dalam keterangan pers yang diterima AnakUI.com pada Sabtu (13/3/2021( menyampaikan, perguruan tinggi memiliki kontribusi yang besar dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang adaptif di era revolusi industri yang bergerak sangat cepat.

“Semoga UI dapat terus meningkatkan prestasinya, berkontribusi nyata dalam membangun negeri, khususnya dalam menciptakan SDM yang unggul dan berdaya saing global.” pungkas Prof. Ari Kuncoro.

Seminar Online FKM UI Seri 9: Departemen K3 Luncurkan Buku “Konsep Dasar Toksikologi Industri”

Halo, Anak UI! Tahu gak, kalau dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidak pernah terpisah dengan bahan-bahan kimia? Namun, tanpa kita sadari, dosis yang berlebihan tersebut dapat bersifat beracun atau toksik. Peran tenaga kesehatan, termasuk dalam bidang kesehatan dan keselamatan kerja sangat dibutuhkan dalam mengelola hal ini. Untuk itu, lahirlah buku “Konsep Dasar Toksikologi Industri” yang diharapkan dapat membantu mahasiswa kesehatan masyarakat maupun pekerja industri.

FKM UI. (Sumber: Kesmas-ID)

Buku “Konsep Dasar Toksikologi Industri” ini diluncurkan berbarengan dengan Seminar Online Seri 9 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, pada Selasa (2/5/2021) pukul 09.30 WIB. Peluncuran buku ini dihadiri oleh Prof. Dr. dr. L. Meily Kurniasidjaja, M.S., Sp.Ok. dan Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D., (Guru Besar Departemen K3 FKM UI), Indri Hapsari Susilowati, S.K.M, M.K.K.K. Ph.D (Kepala Departemen K3 FKM UI), dan Prof. Dr. fr. Sabarinah Prasetyo, M.Sc. (Dekan FKM UI).

Memahami Prinsip Kesehatan Masyarakat

Buku “Konsep Dasar Toksikologi Industri” membahas mengenai mengelola bahan-bahan toksikan dengan selamat dan sehat. Selain untuk tenaga pendidikan dan pekerja industri, Prof. Sabarinah juga berharap bahwa buku-buku dan karya ilmiah FKM UI dapat digunakan masyarakat luas untuk memahami prinsip kesehatan masyarakat.

“Sudah satu tahun pandemi COVID-19 berlalu. Kami tidak lelah menyampaikan prinsip kesehatan masyarakat yang terdiri dari pencegahan primer, sekunder, tersier. UI mendorong karya-karya ilmiah agar prinsip-prinsip tersebut dapat diketahui masyarakat secara luas.”

Terlahir Dari Beberapa Modul Dosen

Sumber: Youtube IT FKMUI

Buku “Konsep Dasar Toksikologi Industri” ditulis oleh empat penulis utama, yaitu Prof. Dr. dr. L. Meily Kurniasidjaja, M.S., Sp.Ok., Prof. Dra. Fatma Lestari, M.Si., Ph.D., Mila Tejamaya, S.Si., M.O.H.S., Ph.D., dan Doni Hikmat Ramdhan., S.K.M., M.K.K.K., Ph.D. Terdapat juga kontributor yang turut berkontribusi dalam buku ini, yaitu Dr. dr. Iqbal Mochtar, M.P.H., M.K.K.K., Dipl.Card., D.Occ.Med., Ike Pujiriani, S.K.M., M.K.K.K., dan Abdul Kadir, S.K.M., M.Sc.

Penulisan buku ini bermula sejak tahun 2007. Menurut Prof. Meily, sebagai dosen, mereka menganggap toksikologi adalah mata ajar yang “kering”. Padahal, semua orang dengan “terpaksa” hidup berdampingan dengan bahan kimia karena tidak bisa hidup tanpa bahan kimia di sekitar.

Karena adanya keresahan itu dan kebutuhan pengetahuan akan Toksikologi, beberapa dosen terpacu untuk membuatnya. Akhirnya, dibentuk juga beberapa modul-modul yang kemudian menjadi cikal bakal dari lahirnya buku ini.

“Buku “Konsep Dasar Toksikologi Industri”, memang agak berat dan paling lama dalam pengerjaannya, namun kami bersyukur karena banyak yang membantu.”

Bahaya Kimia Toksikan Yang Ditentukan Dosis

Sumber: Youtube IT FKMUI

Buku “Konsep Dasar Toksikologi Industri” terdiri dari 7 Bab, yaitu: Pengantar Toksikologi Industri; Pejanan, Dosis, dan Hubungan Dosis-Respons; Efek Toksik dan Efek Kesehatan; Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi (ADME); Target Organ; Genotoksisitas dan Karsinogenisitas; dan Metode Uji Toksisitas.

Dalam menjelaskan buku ini, Prof. Meily menyampaikan bahwa yang menentukan bahaya kimia toksikan adalah dosis. “Contohnya botox yang sangat mematikan dimana digunakan untuk menghilangkan keriput di wajah, namun dengan dosis yang kecil. Cairan infus yang terlalu banyak bisa tidak baik untuk paru-paru.”

Sumber: Unsplash

Kesehatan bertanggungjawab terhadap penggunaan toksikan atau bahan kimia secara selamat. Inilah asal muasal dari buku ini. Meskipun awalnya digunakan untuk memudahkan mahasiswa namun, buku ini juga dapat digunakan dan bermanfaat dalam bidang industri.

***

Buku “Konsep Dasar Toksikologi Industri” ini menurut dr Iqbal Mochtar, salah satu kontributor, merupakan buku yang membahas gambaran hal-hal yang substansif sebagai gambaran dasar jika ingin mempelajari hal-hal terkait toksikologi.

Meskipun mungkin masih terdapat banyak keterbatasan dalam buku ini, namun para penulis berharap bahwa buku ini dapat memberikan pengetahuan-pengetahuan baru bagi pembacanya, yaitu mahasiswa, tenaga kesehatan atau tenaga pendidik, pekerja industri, dan yang lainnya. Kita doakan bersama agar buku ini dapat memberikan banyak manfaat bagi semuanya, ya!

BACA JUGA: Ciptakan Buku Saku, Mahasiswa FKM UI Sosialisasi Pencegahan COVID-19

Kamu Bingung Cari Beasiswa? Ini Dia Solusinya!

Beasiswa merupakan bantuan pendidikan yang diberikan untuk para mahasiswa yang terpilih. Adapun beasiswa dapat diperoleh berdasarkan prestasi mahasiswa ataupun berupa bantuan biaya pendidikan untuk mahasiswa dengan keterbatasan finansial.

Adapun apa saja yang diperoleh akan berbeda-beda dari setiap beasiswanya, ada yang membiayai keseluruhan biaya pendidikan, biaya hidup, dan ada juga yang berupa uang tunai yang diberikan satu kali atau setiap semester.  Jadi, ketika memilih beasiswa bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Oleh karena itu, beasiswa ini merupakan kesempatan yang tidak boleh terlewatkan dan banyak mahasiswa yang menginginkannya.

sumber: studyplan.org

Jika kamu ingin memperoleh beasiswa namun masih bingung bagaimana cara memperoleh informasinya, tenang saja! Universitas Indonesia memberikan fasilitas yang dapat membantu kita untuk mencari informasi mengenai beasiswa.

Kamu bisa mencari tahunya pada website beasiswa UI dalan tautan beasiswa.ui.ac.id. Beasiswa UI ini sendiri dikelola oleh pihak UI (Direktorat Kemahasiswaan UI/Unit PAU/Fakultas yang mengelola paket beasiswa. Adapun  orang yang bisa mendaftar pada beasiswa pada beasiswa UI adalah mahasiswa UI.  Jadi, dengan beasiswa UI kamu bisa lebih mudah untuk mencari beasiswa, mengikuti proses seleksinya, dan memiliki peluang yang lebih besar.

Untuk mendaftar beasiswa melalui beasiswa UI, kamu harus login terlebih dahulu pada sistem single sign on UI (SSO UI). Setelah itu, kamu bisa memilih paket beasiswa yang masih dibuka sesuai dengan keinginan kamu. Sebagai saran, sebaiknya kamu buka terlebih dahulu seluruh beasiswa yang sedang dibuka agar kamu bisa memilih yang benar-benar sesuai.

BACA JUGA: Raih Beasiswa New Zealand, Cara Wujudkan Impian Kuliah di Luar Negeri

Setelah itu, kamu bisa membaca syarat dan ketentuannya dan melengkapi dokumen-dokumen serta syarat yang diperlukan untuk mendaftar setelah itu kirim. Jika kamu telah selesai mendaftar beasiswa tersebut, kamu bisa memantau terus status lamaran beasiswa kamu hingga periode seleksi berakhir.

 

Jika kamu membuka setiap paket beasiswa, kamu dapat mengetahui informasi singkat mengenai beasiswa tersebut seperti informasi pemberi beasiswa dan juga paket beasiswa yang akan diperoleh. Dari informasi tersebut, kamu bisa menjadikan hal tersebut sebagai pertimbangan apakah beasiswa ini sesuai dengan kebutuhan kamu.

Selain itu juga terdapat penjelasan mengenai persyaratan penerima beasiswa dan berkas apa saja yang dibutuhkan. Persyaratan yang tercantum pada website beasiswa UI juga jelas dan lengkap sehingga kamu bisa menyesuaikan apakah kriteria yang dicari sudah sesuai dengan diri kamu. Jika ada formulir tertentu yang harus kamu isi, pada website ini juga disediakan softcopy formulir tersebut. Jadi, kamu tidak perlu ribet untuk mencari dokumen-dokumen tersebut.

Pada situs beasiswa UI, banyak sekali pilihan-pilihan beasiswa yang disediakan. Dari pilihan-pilihan beasiswa tersebut, kita dapat melihat juga periode seleksi dan juga kuota penerima beasiswa. Jumlah pendaftar juga bisa kita ketahui pada website ini. Jadi, kita dapat mengetahui apakah pendaftaran beasiswa tersebut masih buka dan seberapa besar peluang kita jika dilihat dari jumlah pendaftar dan kuota yang tersedia.

Dengan banyaknya informasi beasiswa yang tersedia dan kemudahan dalam proses pendaftaran, website beasiswa UI ini jangan sampai kamu tidak coba dalam mencari beasiswa. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak cari beasiswa, ya!

BACA JUGA: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa S2 di Taiwan oleh Azhar Fikri

Baru Semester Dua, Mahasiswa FKG UI Raih Juara 2 Kompetisi Internasional

Aysha Azzahra Bachmimsyah, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) angkatan 2020 berhasil meraih penghargaan juara 2 atau Most Outstanding Delegate di Indonesia MUN in World Food Program 2021. Hasil kompetisi ini diumumkan pada puncak acara pengumuman atau Awarding Night yang dilaksanakan secara daring pada 6-7 Februari 2021.

For your information, Model United Nations (MUN) merupakan sebuah konferensi simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menempatkan peserta menjadi seorang diplomat yang kritis. Di konferensi ini tiap delegasi nasional dan internasional, baik itu di sekolah menengah maupun universitas akan terlibat dalam masalah internasional secara diplomatik.

Jadi, acara tersebut bukan hanya sebagai wadah untuk berpura-pura menjadi diplomat, tiap peserta akan diuji melalui kemampuan berbahasa Inggris diplomasi, negosiasi, kepemimpinan, pidato impromptu, drafting, dan problem- solving skills.

Anak UI, meskipun baru pertama kali mengikuti lomba internasional, wanita berhijab yang kerap disapa Aysha ini tampil dengan sangat mengagumkan. Mahasiswa semester 2 FKG UI ini mempresentasikan negara Peru dengan topik ‘Preventing Hunger Crisis During and After Pandemic’ di hadapan 56 peserta lainnya.

Pada hari pertama, Aysha memimpin kelompok dengan 25 peserta untuk mencari solusi yang tepat sesuai dengan topiknya. Dengan gagasannya yang cemerlang, Aysha berhasil melewati proses seleksi dan masuk ke babak berikutnya.

Berbekal pengalamannya pada hari pertama, Aysha menjadi lebih percaya diri untuk melanjutkan kompetisi hingga akhir. Kemampuan analisis dan negosiasinya meningkat, terbukti dengan solusi yang dipaparkannya dapat diterima oleh para peserta lainnya.

Menurut Aysha, kompetisi ini cukup menantang karena informasi mengenai negara Peru yang terbatas dan kurang signifikan pada topik yang dipilihnya.

“Persaingan antar peserta sangat terasa dalam perlombaan ini, misalnya ada peserta lain yang mencoba berargumentasi untuk menjatuhkan negara saya di hadapan peserta lainnya.

Pada akhirnya, saya berhasil menjadi Sponsor dan Presenter, atau pemimpin pada kelompok besar tersebut. Terima kasih kepada pelatih MUN dan pihak-pihak lainnya yang mendukung saya dalam menjalani perlombaan ini,” ujar Aysha.

BACA JUGA: Berawal Dari Start-Up, Mahasiswa FISIP dan FKM UI Raih Prestasi di Kompetisi UNDP Saat Pandemi

Pada saat perlombaan dimulai, tiap peserta akan diuji pengetahuannya mengenai topik, negara yang mereka representasikan, sistem PBB dan  solusi yang mereka bawakan melalui diskusi dan perdebatan yang muncul pada konferensinya. Tentunya suasana menjadi semakin menegangkan sebab peserta harus selalu siap melakukan pidato dalam bahasa Inggris dan berdebat dengan tetap mempertahankan kemampuan diplomasi.

Serunya lagi, opini dan solusi yang peserta bawakan juga harus dinegosiasikan kepada partisipan lain yang biasanya berjumlah 30-90 orang. Di sini nih kemampuan negosiasi peserta diuji. Sebab, peserta diharuskan membuat kelompok yang berisikan negara-negara dan memimpin diskusi serta jalannya agenda kelompok tersebut.

“Jika berhasil memimpin sebuah kelompok besar dan memberi pengaruh yang cukup kuat kepada seluruh peserta, kita bisa dijadikan nominasi juara oleh para juri,” kata Aysha.

Acara yang diselenggarakan oleh UI MUN Club bertujuan untuk memperluas jaringan pesertanya, mengembangkan keterampilan berbicara di depan umum, negosiasi, perancangan hukum, dan meningkatkan komunitas mereka dengan belajar di luar batas ruang kelas. Melalui berbagai kegiatannya, Indonesia MUN berharap dapat meningkatkan semangat Model United Nations dan meningkatkan kemampuan delegasi sebagai calon pemimpin bangsa.

BACA JUGA: Membanggakan! Ini Prestasi dan Inovasi Mahasiswa UI yang Dapat Mengubah Dunia

UI Punya Delapan Guru Besar Baru, Siapa Aja Sih?

Anak UI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kembali berkontribusi dalam menghasilkan guru besar. Tak tanggung-tanggung, kali ini sebanyak delapan professor dari FK UI berhasil dikukuhkan dalam Sidang Terbuka Upacara Pengukuhan Guru Besar (GB).

BACA JUGA: Cetak MURI, FK UI Hasilkan Guru Besar Terbanyak dalam Satu Tahun

Acara yang dilaksanakan secara daring tersebut terbagi ke dalam dua sesi, yakni pada pukul 09.30-11.00 WIB dan pukul 14.30-15.00.  Dipimpin oleh Prof. Ari selaku Rektor UI, sesi pertama pagi langsung mengukuhkan empat professor, yakni Prof. Dr. dr. Zulkifli Amin, Sp.PD., KPMK dengan kepakaran bidang Ilmu Penyakit Dalam, Prof. Dr. dr. Neng Tine Kartinah, M.Kes. dalam bidang ilmu Fisiologi Kedokteran, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) dalam bidang ilmu dan Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A(K), M.Med(Paed) dalam bidang ilmu Kesehatan Anak.

Sebagai guru besar tetap pertama dalam bidang Ilmu Penyakit Dalam, Prof. Zulkifli Amin membacakan pidatonya yang berjudul “Perjalanan Pelayanan, Pendidikan dan Penelitian Respirologi dan Penyakit Kritis Ilmu Penyakit Dalam, Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Datang”. Nah, isi pidatonya membahas mengenai pelayanan penyakit paru di UI dalam tiga babak, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Sekedar info nah, ternyata pelayanan paru di UI udah dimulai sejak 1908, bahkan sebelum dibangunnya Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)! Berawal dari STOVIA (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia-Belanda), pada 1930 berganti nama menjadi Stichting Centrale Vereniging Voor Tuberculosebestrijding (SCVT) yang menjadi Sub-bagian Pulmonologi Penyakit Dalam. Berbagai upaya dilakukan guna meningkatkan kualitas pelayanan, seperti menambah unit rawat jalan, membangun ruang poli Pulmonologi, ruang perawatan penyakit intensif, serta kegiatan tahunan berupa seminar, edukasi, serta workshop. Nah, Anak UI, saat ini divisi Pulmonologi RSCM berganti nama menjadi Divisi Respirologi dan Penyakit Kritis.

Selanjutnya, Prof. Neng Tine menyampaikan pidato berjudul “Optimalisasi Stimulasi Anak dalam Mendukung Pengembangan SDM untuk Indonesia Emas: Berbasis Kajian Neuroplastisitas”. Neng Tine yang berasal dari Bidang Ilmu Fisiologi Kedokteran merupakan guru besar kedua yang diangkat pada 2021 dan jadi guru besar ke 233 di UI lho! Katanya nih, saat ini Indonesia menghadapi fenomena “Bonus Demografi” yang menyebabkan usia produktif mendominasi peta demografi Indonesia. Kondisi ini menyebabkan pemerintah memprioritaskan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan jargon “Generasi Indonesia Emas”.

BACA JUGA: Ini Dosen-Dosen UI Yang Masuk 500 Peneliti Terbaik Nasional Versi SINTA

“Konsep e-parenting berbasis hasil riset yang spesifik menstimulasi plastisitas sinaps belum banyak dikembangkan di Indonesia, sehingga hal ini merupakan terobosan dalam mengawal target Indonesia emas di tahun 2045. Mari kita sama-sama bersinergi akademisi, pemerintah, industri, dan media dalam PentaHelix, agar model stimulasi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan juga kemajuan bangsa.”

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K)  memaparkan pidato berjudul “Optimalisasi 1000 hari pertama kehidupan: Nutrisi, Kasih sayang, Stimulasi, Imunisasi merupakan langkah awal mewujudkan generasi penerus yang unggul”. Masa 1000 hari pertama kehidupan (HPK), yang dimulai saat pembuahan sampai usia dua tahun, merupakan periode emas yang sangat menentukan masa depan seorang anak dan sangat tergantung pada pengaruh yang didapatkan dari lingkungannya. Pada masa ini kebutuhan dasar anak terutama nutrisi, kasih sayang dan stimulasi perlu dipenuhi dan dilindungi dari penyakit infeksi dengan pemberian imunisasi.

Selanjutnya, Prof. Najib menyampaikan pidato berjudul “Penyakit Kawasaki dan Permasalahannya: Upaya Melindungi Jantung Generasi Penerus”. Penyakit Kawasaki (PK) ditemukan oleh Dr. Tomisaku Kawasaki di Jepang pada tahun 1967 dan saat ini sudah menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Diperkirakan sudah ada 1 juta orang yang terkena PK di dunia, 300.000 diantaranya di Jepang. Jika tidak diobati, 15-25% akan menderita kelainan jantung berupa pelebaran atau aneurisme arteri koroner di jantung dengan segala konsekuensinya, seperti trombosis koroner, penyempitan koroner, dan infark miokardium yang sebagian dapat berakhir dengan kematian. Itu sebabnya, PK perlu mendapatkan perhatian dari semua dan diagnosis tidak boleh terlambat.

“Terapi PK menggunakan immunoglobulin yang sangat mahal, rata-rata mencapai puluhan juta rupiah sehingga kami meneliti pemberian separuh dosis dengan hasil yang relatif baik. Diperlukan pematauan jangka panjang dengan alat ekokardiografi pada kasus yang berat oleh dokter ahli jantung anak yang jumlahnya masih minim di negara kita,” ujar Prof. Najib.

BACA JUGA: Emang Seperti Apa Tipe-Tipe Mahasiswa Dari Kacamata Dosen?

FK UI Cari Terobosan Baru Pengobatan COVID-19 lewat Uji Klinis Global

Anak UI, untuk menghentikan penyebaran virus corona, Indonesia akan segera melaksanakan Uji Acak Evaluasi Terapi COVID-19 (The Randomised Evaluation of COVID-19 Therapy) atau yang disebut studi RECOVERY. Uji klinis ini sangat penting untuk mengevaluasi pengobatan paling efektif untuk melawan COVID-19

Uji klinis terbesar di dunia yang sebelumnya dilaksanakan di Inggris pada Maret 2020 sebelumnya telah memberikan rekomendasi terkait perawatan klinis, termasuk temuan bahwa steroid dengan harga terjangkau, deksametason, dan pengobatan anti-inflamasi mampu mengurangi risiko kematian ketika diberikan kepada pasien rawat inap dengan COVID-19 berat. Akhirnya, rekomendasi ini digunakan untuk membantu menyelamatkan nyawa pasien dan memprioritaskan sumber daya perawatan kesehatan.

Sumber: ui.ac.id

Dr. dr. Erni Juwita Nelwan, PhD, SpPD-KPTI, FACP, FINASIM, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) selaku peneliti utama yang juga mengepalai studi RECOVERY di Indonesia mengatakan, “Studi RECOVERY yang dilaksanakan di Inggris sebelumnya telah membantu Indonesia untuk merencanakan sumber dayanya lebih efektif. Misalnya, klorokuin/hidroksiklorokuin tidak lagi direkomendasikan untuk mengobati COVID-19 dan obat deksametason telah masuk dalam rekomendasi pengobatan COVID-19 di RS di Indonesia.”

Pelaksanaan studi RECOVERY di Indonesia merupakan salah satu hasil dari kemitraan yang sudah terjalin lama antara FKUI dan Oxford University, serta dukungan dari berbagai mitra penelitian dan rumah sakit di Indonesia. Universities of Indonesia and Oxford Clinical Research Laboratory (IOCRL), sebuah fasilitas pendukung uji klinik bersama di Jakarta yang juga merupakan hasil dari kemitraan dua lembaga tersebut, akan membantu proses pelaksanaan dan koordinasi studi ini di Indonesia.

Di Indonesia, studi akan diawali dengan mengevaluasi penggunaan aspirin dan kolkisin, karena obat ini sudah tersedia dan terjangkau, namun seperti pelaksanaan studi RECOVERY di Inggris, uji coba ini bersifat adaptif dan obat baru akan ditambahkan seiring waktu.

Sumber: ui.ac.id

Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, mengatakan “FKUI sangat senang dapat menjadi bagian dari tim peneliti studi RECOVERY. Saya berharap dengan berpartisipasi pada uji klinis obat COVID-19 terbesar di dunia ini, para peneliti Indonesia bisa membuat terobosan-terobosan yang relevan dengan konteks Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya.”

Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, S. E., M. A., PhD. memberikan apresiasi keterlibatan para peneliti dari FKUI dalam uji klinis RECOVERY di Indonesia. Sejak awal COVID-19 muncul di Indonesia, UI secara aktif terlibat dalam berbagai penelitian, medis, dan sosial. UI juga berkolaborasi dengan banyak pihak, di dalam maupun di luar negeri, termasuk dengan University of Oxford. “Kami berharap melalui kontribusi ini dan dukungan dari masyarakat Indonesia, UI bisa mendukung percepatan pemulihan kondisi Indonesia. Saya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Kesehatan RI atas dukungan dan kepercayaannya kepada kami. Kepada para peneliti yang bertugas pada uji klinis RECOVERY, selamat bertugas. Teruslah berkarya menjadi Fakultas Kedokteran kebanggaan bangsa dan memberi sumbangsih yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara.”

Dr. Ir. Penny K. Lukito, MCP., Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan mengatakan “BPOM selalu menyambut baik dan mendukung penelitian uji klinik dan mendukung upaya FKUI untuk ambil bagian dalam uji klinik yang bersifat internasional ini. Harapannya, dapat mengembangkan kemampuan bangsa kita dalam mengembangkan vaksin dan obat sehingga dapat membangun kemandirian industri farmasi kita. BPOM siap mendukung dan menfasilitasi FKUI, mulai dari persetujuan pelaksanaan uji klinis (PPUK), perizinan, mendampingi dalam monitoring uji klinik, sampai ke hasilnya nanti.”

Profesor Peter Horby, dari Emerging Infectious Diseases dan Global Health di Nuffield Department of Medicine, University of Oxford, sekaligus Joint Chief Investigator untuk studi ini mengatakan “Studi RECOVERY dinilai memiliki pencapaian yang luar biasa, dengan melibatkan lebih dari 35.000 pasien di Inggris dan memberikan rekomendasi yang akurat pada tempat perawatan. Dengan pencapaian ini, kami yakin melalui kemitraan internasional, kami dapat mempercepat evaluasi perawatan-perawatan baru untuk meningkatkan relevansi global dari hasil uji coba, membangun kapasitas, dan mengurangi upaya yang sia-sia pada studi kecil yang tidak informatif.”

Referensi gambar header FK UI Salemba

error: This content is protected by the DMCA