Prof. Bondan Tiara Sofyan: Engineering Is For Everybody!


0

Prof. Bondan Tiara Sofyan

Teknik masih menjadi kekuasaan laki-laki? Siapa bilang? Bila Anda bertandang ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia, maka Anda bisa melihat justru seorang wanita yang menjabat posisi sebagai Manajer Riset dan Pengabdian Masyarakat di sana.

Kartini modern yang berulang tahun tepat di hari Kartini ini bernama Prof. Bondan Tiara Sofyan, seorang guru besar Departemen Teknik Metalurgi dan Material. Berawal dari cita-citanya menjadi seorang dokter, Prof. Bondan yang hendak mengambil peminatan Biologi di sekolahnya dahulu justru diarahkan oleh guru beliau untuk masuk ke peminatan Fisika karena beliau memiliki nilai yang tinggi di mata pelajaran Matematika dan Fisika. Di penghujung masa sekolahnya di SMAN 4 Jakarta akhirnya beliau memilih untuk masuk ke jurusan Teknik Metalurgi di Universitas Indonesia karena dahulu ketika masih aktif di remaja masjid banyak kakak kelas beliau yang masuk ke jurusan tersebut.

Prof. Bondan yang memiliki 3 orang anak ini mengaku telah diminta menjadi dosen oleh Dekan Fakultas Teknik masa itu (Alm. Todung Barita) sejak sebelum beliau lulus S1. Selain diminta menjadi dosen di Universitas Indonesia, ternyata Prof. Bondan juga dahulu pernah ditawari menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung setelah menyelesaikan skripsinya di kampus tersebut, tetapi ditolaknya dan beliau tetap konsisten dengan keputusannya mengajar di Universitas Indonesia.

Di awal masa kelulusannya, beliau pernah menjadi technical assistant di PT IPTN selama beberapa waktu. Kemudian untuk memperdalam ilmunya beliau mengambil S2 di jurusan Ilmu Material di bawah naungan Departemen Fisika FMIPA UI. Selanjutnya pada tahun 2003 beliau menyelesaikan studi doktoralnya di Monash University (Australia) masih dengan peminata

Dengan prinsipnya untuk selalu bekerja keras dan serius dalam melakukan berbagai hal, beliau bisa terus meniti karier hingga ke posisi yang lazimnya hanya diisi oleh laki-laki ini. Beliau berkata ketika menempuh S1 di jurusan Teknik Metalurgi awalnya memang cukup berat dengan banyaknya praktikum dan jumlah perempuan yang sedikit, tetapi akhirnya beliau merasa enjoy karena beliau juga sudah terbiasa dengan atmosfer teknik yang dibawa oleh ayah beliau yang memiliki latar belakang teknik mesin.

Sebagai wanita, beliau berujar tak ada sama sekali diskriminasi yang pernah beliau rasakan selama menuntut ilmu maupun berkarier di bidang teknik. Beliau tidak setuju dengan stigma bahwa teknik itu berat dan hanya diperuntukkan bagi kaum adam. Engineering Is For Everybody, perempuan pun mampu memiliki kesempatan untuk berprestasi di bidang ini. Beliau menegaskan bahwa bidang-bidang lain sebenarnya juga terbuka untuk laki-laki maupun perempuan, asalkan ada kemauan kuat dan komitmen untuk bekerja keras.n ilmu material dan kekhususan logam Aluminium.

Dukungan penuh dari suami dan anak-anak beliau juga menambah kukuh langkah beliau untuk mengabdikan dirinya di bidang pendidikan. Sejak awal sebelum menikah, wanita yang pernah mendapat penghargaan sebagai dosen berprestasi tersebut bertutur bahwa suami beliau telah mendorong keputusan beliau untuk menjadi dosen di UI dan malah menetapkan target untuk beliau agar menjadi profesor kelak. Bahkan suami Prof. Bondan yang awalnya juga bekerja di PT IPTN Bandung akhirnya pindah kerja di Jakarta untuk menemani beliau.

Ketika ditanya mengenai prioritas hidup beliau, Prof Bondan langsung menjawab,”Jelas keluarga ada di prioritas utama saya. Apalah artinya kesuksesan di luar jika keluarga kita berantakan. Saya sangat memperhatikan pendidikan dan kesehatan anak-anak saya, saya juga tetap menjaga hubungan yang baik dengan suami saya. Setelah itu baru saya memikirkan tentang pekerjaan saya yang berhubungan dengan pendidikan. Salah satu keinginan saya yang paling besar adalah memajukan pendidikan Indonesia. Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, kita memiliki potensi besar untuk maju. Yakinlah apabila penduduk kita well educated, ekonomi kita pasti tumbuh, dan Indonesia bisa mencapai kemakmuran. Kita masih tetap harus optimis dan percaya Indonesia will be the next powerful country! Maka dari itu saya akan selalu berkontribusi apapun yang bisa saya kontribusikan sesuai dengan otoritas dan kapasitas saya. Untuk apa saya meminta orang lain untuk berkontribusi jika saya sendiri tidak melakukan apa-apa.”

Prof. Bondan Tiara Sofyan yang memiliki keahlian khusus di bidang Metalurgi Fisik telah banyak menelurkan produk untuk komponen pesawat sewaktu di IPTN, kemudian juga komponen untuk industri otomotif, serta pernah pula ikut meriset untuk nozzle roket dengan LAPAN. Untuk saat ini, beliau juga sedang mengerjakan proyek besar untuk membuat Kapal Perang Anti Radar dengan ITS, UNS, AAL, PT LEN, dsb. Beliau menjadi koordinator untuk para peneliti UI untuk proyek nasional yang dikerjakan di Surabaya ini.

Selain kapal perang, beliau juga menjadi salah satu ahli dalam pembuatan aluminium balistik yang dikerjakan oleh konsorsium tank nasional untuk memenuhi kebutuhan alutsista dalam negeri di bawah Kementrian Riset dan Teknologi. Proyek ini merupakan proyek semi top down yang dicanangkan oleh Kemenristek untuk mengklasifikasikan penelitian-penelitian nasional agar menghasilkan produk yang benar-benar bermanfaat untuk kepentingan negeri.

Menurut beliau, seharusnya memang pemerintah duduk bersama-sama dengan akademisi untuk menerjemahkan kembali arah penelitian yang tepat untuk negeri ini. Bagi UI sendiri yang memiliki visi menjadi universitas riset kelas internasional, arah penelitian memang lebih ditujukan menuju advance research yang mencakup pengetahuan fundamental dari berbagai hal. Untuk itu sulit jika penelitian-penelitian jenis ini harus diterapkan langsung untuk masyarakat.

Seringkali juga kegiatan-kegiatan akademisi kampus yang ditujukan untuk pengabdian ke masyarakat kurang mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Oleh karenanya memang antara policy yang dibuat pemerintah dan kegiatan-kegiatan di kampus butuh sinkronisasi lebih baik agar kebutuhan akan produk yang mengakar ke masyarakat maupun penelitian mutakhir bisa berjalan secara selaras.

Di akhir penuturannya beliau berharap agar Universitas Indonesia bisa tetap konsisten menjalankan fungsinya sebagai institusi pendidikan karena hal ini masih sangat dibutuhkan untuk menciptakan generasi muda yang unggul dan sanggup memajukan bangsa ini. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, kebijakan yang dibuat serta usaha-usaha dalam mengoptimalkannya hanya bisa dirasakan bertahun-tahun setelahnya. Selain itu penelitian-penelitian yang bersifat mensejahterakan masyarakat secara langsung juga patut didongkrak, tetapi memang dibutuhkan keseriusan dalam mengkonsepkan kebijakannya bersama-sama agar lebih banyak manfaat yang bisa dirasakan.

Untuk mahasiswa secara umum, beliau menghimbau agar mereka dapat berkontribusi dengan apapun yang bisa dilakukan dan bersedia untuk bekerja keras. Beliau percaya bahwa apa hasil yang didapat akan selalu berbanding lurus dengan usaha yang telah dilakukan. (Rie Mt’09)


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Sari Octaviani
- Bachelor Degree at University of Indonesia, majoring Metallurgy and Materials Engineering (2009 - 2013) - Master Degree at University of Indonesia, majoring Metallurgy and Materials Engineering (2013 - 2014) - Fastrack Scholarship Holder, DGHE Indonesia (2012 - 2014) - PhD Degree at University of Southampton, majoring Engineering Materials (2014 - 2018) - FFTF Schlumberger Award Holder (2014 - )

0 Comments

Leave a Reply

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals