Sepanjang jalan menuju kampus, di dalam commuter line menuju kampus di suatu tengah hari pancaroba yang sueperpanas, gue sedang berpikir keras: di mana kira-kira enaknya tempat makan siang? Makanan enak, murah, tempatnya dingin, dan harus ada wifi pun menjadi parameter ala-ala yang gue buat sendiri untuk menentukan tempat pemadam kelaparan hari ini. Alih-alih turun di Stasiun Pocin atau UI, akhirnya gue pun memutuskan untuk melipir turun di Stasiun Depok Baru. Ngapain? Ya. Demi memenuhi syahwat kuliner gue siang ini, gue menyambangi Richeese Factory yang letaknya nggak jauh dari pertigaan Terminal Depok tersebut. Begitu masuk, gue langsung tercekat dengan sebuah pamflet yang menawarkan promo terbaru yang bernama Richeese Combat: Combo Cermat. Apaan-tuh.

 

RicheeseCombat

 

Gila men. Di tengah kenaikan harga BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah, ternyata beli paket sekepal nasi, cheese cordon bleu, plus segelas minuman harganya dibanderol Rp13.636,00 aja. Ini April Mop yang tertunda apa gimana ya? Untuk menemukan jawabannya, gue langsung mendatangi tempat memesan dengan gantengnya.

“Mbak, Richeese Combat-nya ada? Itu beneran?”

advertisement

“Iya ada mas.”

“Emm… Richeese Combat-nya satu ya Mbak!”

“Minumnya mau teh atau fruit punch?”

“Teh aja mbak. Kalo pesen yang manis lagi, nanti aku tambah manis, Mbak mau tanggung jawab?

“Semuanya jadi Rp15.000,00”

Gue memberikan uang pas. No hoax. Ternyata harganya beneran segitu.

advertisement

“Baik. Nanti diantar ya Mas” Mbak tersebut menyodori nampan berisi minuman dan struk, tanpa ada embel-embel “nggak sekalian isi pulsanya?”, “ada kartu membernya?”, “nggak sekalian bayarin listrik punya tetangga?”, dan pertanyaan sejenis lainnya.

Kemudian, gue pun memilih tempat duduk sambil membawa gelas berukuran besar berisi teh rasa mangga. Menunggu lima menit pun nggak terasa membosankan karena Richeese Factory menyediakan fasilitas internet gratis sekaligus hits-hits lagu masa kini yang didendangkan ke seluruh penjuru area makan lewat pengeras suara. Tak lama, menu pesanan gue pun datang juga.

Ngembat Richeese Combat

Ngembat Richeese Combat

Jpeg

Menu dan Struk sebagai Barang Bukti

Oke. Satu, nggak ada yang aneh sama porsi nasinya. Ukurannya bisa bikin kenyang. Wajar.

Dua, panjang kali lebar Cordon Bleu-nya nggak PHP, sesuai sama gambar.

Tiga. Gue udah kadung lapar.

Gue mengawali prosesi makan gue dengan membaca doa, kemudian memotong gelondong ayam tanpa tulang yang masih hangat tersebut.  Begitu masuk mulut, rasa-rasanya Ellie Goulding sedang menjerit menyanyikan chorus Love Me Like You Do tepat di telinga gue.

Lo-lo-lom pernah rasa-rasanya gue makan murah di suatu franchise sepuas ini.

 

Melted Cheese a la Richeese

Melted Cheese a la Richeese

Remahan Ayam Berkeju

Remahan Ayam Berkeju

Dengan keju yang mengental di sela-sela balutan ayam, menurut gue, dia punya rasa sangat bermain. Andaikan Richeese Combat bisa disandingin sama sama cocolan saus keju khas Richeese Factory, makin nggak kebayang deh gimana totalitasnya mencicipi ayam berkeju ini… Maka, sebagai pemuda yang baik dan suka berbagi, gue pun tergugah untuk berbagi pengalaman menyenangkan gue tentang pengalaman kuliner di Richeese Factory.

Jadi, buat kalian anak kostan yang lapar dan rindu makan di restoran cepat saji dengan harga miring, menu Richeese Combat bisa jadi alternatif makan siangmu. Tapi ingat, menu ini cuma tersedia buat makan di tempat dari jam 10.00-17.00 saat weekdays aja ya!

Ini Cheese Experience-ku. Tertarik nyoba?



[reaction_buttons]